Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 203 - Tes DNA


__ADS_3

Setelah kepergian Devandroe, mereka semua nampak terdiam bergelut dengan pemikiran masing - masing. Mereka juga menjadi mengaitkan antara penyakit jantung Evan dengan serentetan masalah yang tengah mendera keluarga Evan. Dan keheningan itu pun terpecah karena ucapan Eric yang kembali memulai pembicaraan.


" Dek... " panggil Eric kepada Evan, tapi yang menoleh bukan hanya Evan tapi juga Raynevandra yang memang seringkali dipanggil dengan sebutan Adik, yang lainnya pun jadi menatap Eric secara bersamaan.


" Gue setuju sama Richie... " ucapanya kepada Evan.


" Kamu keberatan kalau Andru ikut sama kamu? " sahut Mama Rosa cepat, Eric langsung menghela nafas kasar.


" Sama sekali aku nggak merasa keberatan kalau memang Andru pengen tinggal sama aku. " ucap Eric serius.


" Tapi masalahnya kalau dia ikut aku ke London ya jadinya kaya yang Richie bilang tadi... Sama aja dia lari dari masalahnya. " jelas Eric mengutarakan maksud ucapannya.


" Dia Laki, Mam... Kalau sekali dia punya masalah dan dibiarin lari tanpa mengahadapi, dimana pondasi harga dirinya sebagai calon Pria dewasa yang bertanggung jawab? " lanjutnya kembali memperjelas maksud ucapannya.


" Sumpah Gue nggak keberatan kalau memang Andru pengen tinggal sama Gue. Anak Lo sama juga anak Gue. Tapi keputusan tetep ada di tangan Lo. " imbuhnya sungkan dengan Evan.


" Tumben Papi keren... " sahut Nala sambil cengengesan, mereka semua langsung geleng kepala.


" Gimana, Sayang? " tanya Evan kepada Rayne, saking seriusnya pembicaraan mereka sampai - sampai Evan tidak tahu jikalau Rayne sudah banjir air mata.


" Aku nggak tega, Mas... " lirih Rayne yang langsung berpindah duduk dan masuk ke dalam pelukan Evan.


" Izinin aja kalau Andru mau pindah ke London... " lanjutnya mengutarakan isi hatinya, Rayne membayangkan jikalau Andru tetap berada disini pasti akan semakin sering melihat kemesraan antara Alexandra dan Raynevandra, wajah Evan nampak tegang karena sejujurnya keputusannya sama dengan keputusan Eric dan Richie tapi ia juga berat dengan keputusan Istrinya.


" Dadd... " panggil Raynevandra, wajah tegang Evan yang semula menatap ke depan kini sudah menatap Raynevandra, yang lain pun ikut menoleh pada Raynevandra.


" Seperti yang kita bicarakan sebelumnya... Aku yang akan pergi dari rumah ini. " ucapnya tegas sambil menggenggam tangan Alexandra.


" Enggak, Ray! Kalian semua nggak ada yang boleh pergi dari rumah ini! " sahut Rayne dengan histeris, Evan nampak memijit pelipisnya, Zeevanea nampak menanggapi dengan senyum kecutnya.


" Izinkan Ray untuk mandiri, Momm... Layaknya Daddy dan Mommy dulu ketika baru menikah dan Daddy langsung memboyong Mommy untuk hidup berdua di apartemen lama Daddy. " jelas Raynevandra kepada Rayne.


" Good Boy... Belajarlah mandiri, belajarlah bertanggung jawab atas keluarga kecilmu. " ucap Evan tegas sambil melirik sinis kepada Zeevanea.


" Hanya kebutuhan pendidikanmu saja yang masih menjadi tanggungan Daddy dan Mommy hingga kamu lulus kuliah nanti. Selebihnya berusahalah sendiri. " lanjut Evan tegas penuh rasa bangga karena Raynevandra menunjukkan ketegasannya, Raynevandra pun menganggukkan kepalanya, tak masalah jika ia harus berjuang sendiri untuk keluarga kecilnya.


" Enggak, Mas! Kamu jangan gila nyuruh Ray pindah. Siapa yang nemenin Alexa kalau Ray lagi pergi! " sahut Rayne yang jelas tidak terima karena tidak tega.


" Biarkan Putramu belajar hidup mandiri... Dia sekarang seorang Suami. Sudah sewajarnya dia berdiri di atas kakinya sendiri. " jawab Evan pelan tapi tak bisa dibantah.


" Kalau Ray pergi bisa titipin Alexa disini. " jawab Evan santai, Rayne semakin kesal dengan Evan.

__ADS_1


" Terus kamu mau bawa Lexa tinggal dimana? " sahut Evan bertanya.


" Untuk sementara rencananya kami tinggal di tempat kerjaan anak - anak sambil nunggu aku nyari rumah kecil - kecil an. " jawab Raynevandra seadanya.


" Gimana, Alexa? Siap diajak susah sama Anak Daddy? " tanya Evan berpindah kepada Alexandra.


" Aku nggak masalah, Dadd... " jawabnya pelan juga sungkan tapi juga sadar jika kini ia adalah seorang Istri yang harus menuruti Suaminya.


" Buktikan kepada Mommy-mu kalau kamu sanggup mendampingi Raynevandra dari nol seperti Mommy-mu dulu yang mendampingi Daddy dari nol juga. " tegas Evan, Alexandra nampak menatap sekilas kepada Raynevandra kemudian menganggukkan kepala juga setelah Raynevandra menganggukkan kepala.


" Ya sudah kalau gitu aku mau langsung packing... " ucap Raynevandra yang merasa pembicaraan dengannya telah usai.


" Mau pindah sekarang, Ray? " tanya Mama Rosa kaget.


" Iya, Oma... " jawab Raynevandra.


" Sebaiknya tinggal disini dulu sampai kalian mendapatkan tempat tinggal baru. " ucap Mama Rosa.


" Gimana? " lanjutnya bertanya kepada Evan karena Raynevandra tidak menjawab.


" Daddy setuju sama Oma... " jawab Evan pasrah, Rayne nampak sedikit lega karena masih bisa memperhatikan Raynevandra dan Alexandra yang masih awam dalam menjalani pernikahan.


" Tapi ngomong - ngomong, kok kayanya tadi Mama nggak lihat Teo sama Istri dan Anaknya? " tanya Mama Rosa yang baru mengingat hal ini.


" Aku udah kasih undangannya sama Sandra kok, Mam... " jawab Evan seadanya.


" Sibuk kali, Mam... " sahut Eric menjawab kebingungan Mamanya.


Trap... Trap... Trap...


" Assalamualaikum... " ucap Sandra yang baru saja datang bersama Maura.


" Waalaikum salam. " balas mereka semua kecuali Evan, Stevano, Raynevandra, dan Ayah Rudi yang hanya menjawab dalam hati.


" Wah ini panjang umur baru dibicarakan sudah langsung datang... " sahut Mami Astri yang juga berada disana, Sandra nampak tersenyum.


" Sorry baru bisa datang sekarang. " ucap Sandra yang langsung berpelukan dengan Rayne kemudian dengan para Perempuan lainnya sementara Maura nampak diam mematung di tempatnya.


" Salim dulu, Sayang... " ucap Sandra kepada Maura, dengan langkah berat akhirnya Maura pun melakukannya, Stevano nampak mendiam malas.


" Selamat ya, Ray... Semoga pernikahan kalian berdua langgeng. " ucap Sandra yang langsung memberikan selamat kepada Raynevandra juga memberikan kado kepada Raynevandra.

__ADS_1


" Makasih, Aunty... " jawab Raynevandra.


" Lo dari mana, kenapa baru dateng sekarang? " tanya Evan kepada Sandra.


" Sorry baru bisa datang sekarang. " jawab Sandra dengan senyum canggung setelah menatap singkat kepada Maura dan Stevano, Evan semakin memperhatikan Sandra seolah merasa ada yang berbeda dari sikap Sandra.


" Van... " panggil Sandra, Evan yang baru saja akan menyulut rokoknya langsung menoleh, Stevano nampak berdecak malas merasa akan disidang sekarang.


" Hmm... " jawab Evan.


" Sebelumnya Gue minta maaf sama Lo sekeluarga... " ucap Sandra kikuk.


" Lo ngomong apaab, sih... " jawab Evan bingung.


" Jangan ngerokok lagi kenapa sih, Mas... " sela Rayne.


" Udah dikurangin, Sayang... " jawab Evan sambil mesem nakal, para Orang Tua langsung geleng kepala melihat Evan yang masih saja merokok.


" Kakak... " panggil Sandra kepada Stevano, Stevano pun langsung menoleh.


" Ini hasil tes DNA-nya. " ucap Sandra sembari menyodorkan sebuah amplop kepada Stevano, seluruh orang disana pun menjadi bingung dengan apa yang diucapkan Sandra, Stevano meraihnya dan membukanya dengan tetap diam.


" Tes DNA siapa, San? " tanya Rayne sambil celingukan, Sandra nampak bingung harus menjawab apa.


" Mama punya etika? " tanya Stevano datar sambil meraih amplop putih di meja itu dan menjawab tanpa menatap Sandra, semua orang langsung tercengang dengan ucapan frontal Stevano, begitupun Sandra dan Maura yang langsung menatap gusar kepada Stevano.


" Apakah Kakak juga punya etika dengan bertanya seperti itu kepada Mama? " sahut Maura bertanya dengan tatapan mata yang berkaca - kaca.


" Ada apa ini sebenarnya? " tanya Evan pelan penuh penekanan.


" Apakah pantas Mama membicarakan hal ini di saat kita semua masih berada dalam momen pernikahan Raynevandra? " lanjut Stevano yang kembali bertanya datar kepada Sandra.


" Aku akan tetap bertanggung jawab atas anakku. Tapi aku tidak akan menikahi Maura. " ucap Stevano lagi setelah beberapa saat mereka terdiam, Sandra pun seolah kelu untuk berucap mengingat suasana sekarang memang tidak pas untuk membicarakan perkara Stevano dan Maura.


" Jadi kamu menghamili Maura dan tidak mau bertanggung jawab, Stevano? " tanya Evan tegas sembari memijit pelipisnya yang kembali berdenyut nyeri, semua orang pun jadi paham karena yang dibicarakan Sandra adalah hasil tes DNA, air mata Rayne yang semula mereda itu pun kembali mengucur deras.


" Maura yang menginginkan kehadiran janin itu, Dadd... Tapi dengan seenaknya juga dia berselingkuh di belakang Steve. " jawab Stevano tegas dengan tatapan nyalang kepada Maura, Maura pun langsung menundukkan kepalanya saking malunya dengan keluarga besar Stevano diiringi dengan rembesan air mata Maura dan Sandra yang nampak menetes beriringan.


" Gila, anak sama Bapak sama - sama doyan selingkuh. " sahut Nala berapi - api, Eric langsung menatap Nala dan memberikan kode degan gelengan kepalanya agar Nala tidak ikut berbicara.


" Lahirkan anakku... Aku sendiri yang akan membesarkannya tanpa campur tanganmu dan keluargamu. " tegas Stevano kepada Maura.

__ADS_1


" Jangan coba - coba untuk berpikir melenyapkannya atau aku sendiri yang akan melenyapkanmu. " tukasnya tegas kemudian langsung beranjak pergi meninggalkan tempat.


Trap... Trap... Trap...


__ADS_2