Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 167 - Wejangan Eric


__ADS_3

Trap... Trap... Trap...


Tok... Tok... Tok...


" Sayang... " ucap Nicholas sambil mengetuk pintu kamar Zeevanea.


Tok... Tok... Tok...


" Sayang... Udah bangun belum? " ucap Nicholas lagi sembari terus mengetuk pintu kamar yang masih tertutup rapat itu.


Ceklek...


" Wow, wow, wow! " teriak Nicholas heboh kala ia melihat tampilan Zeevanea saat membukakan pintu hanya mengenakan bathrobe yang panjangnya sebatas pertengahan paha Zeevanea serta handuk yang membungkus rambut basahnya.


" Apa?! " ucap Zeevanea yang malah sok menantang Nicholas.


" Tarik nih tali bathrobenya kalau nggak cepetan ganti baju... " goda Nicholas sambil menahan tawanya.


" Tarik aja kalau berani... Aku bakalan lapor sama Daddy! " tantang Zeevanea sambil menahan tawanya juga.


" Ya udah buruan ganti bajunya. Aku tunggu disini. " ucap Nicholas sambil tersenyum, keduanya sama - sama mengangguk, Zeevanea kembali menutup pintu kamarnya dan Nicholas pun langsung duduk di tempatnya semalam.


Trap... Trap... Trap...


Zeevanea berganti pakaian dengan cepat mengingat Nicholas yang sudah rapih menungguinya di luar kamar. Dan setelah berdandan tipis pun dengan cepat juga, Zeevanea langsung bergegas keluar.


Trap... Trap... Trap...


Trap... Trap... Trap...


" Morning, Papi... " sapa Zeevanea kepada Eric yang baru saja pulang lari pagi mengelilingi komplek perumahan.


" Morning, Sayang... " balas Eric sambil mengusap kasar rambut Zeevanea tapi tatapan Eric kepada Nicholas nampak berbeda.


" Pagi, Om Eric... " sapa Nicholas, Eric mengangguk sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


" Kamu udah mau pulang ke Kemang? " tanya Eric melihat tampilan Zeevanea pagi ini yang sudah rapi.


" Mau jalan... " jawabnya kikuk, bagaimanapun sosok sabarnya Eric tapi Zeevanea juga merasa canggung karena Eric adalah Kakak kandung Daddynya.


" Ikut ke rumah Papi sebentar. " ucap Eric tegas, Zeevanea pun mengangguk meski sejujurnya ia kini merasa seperti akan disidang, Nicholas pun juga ikut menemani Zeevanea meski ia juga tak berucap apapun.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Mami... " teriak Zeevanea ketika masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Sea, sebenarnya ia juga merasa gugup tiba - tiba.


" Eeeh... Biang ribut dateng. " gerutu Marcello yang baru masuk dari taman belakang.


" Mamimu jalan sama Mommymu. " jawab Eric.


" Sepagi ini? Kemana? Tumben Mommy nggak sama Daddy? " tanya Zeevanea penasaran.


" Mandi dulu, El... Bangunkan Abang sekalian. Setelah itu kita nyusul Mami. " titah Eric tegas, Marcello pun mengangguk dan langsung beranjak tanpa membantah.


Trap... Trap... Trap...


" Kita berdua memang pacaran, Om... " jawab Nicholas pelan tapi tegas, Zeevanea yang masih menunduk semakin merasa takut dengan Eric, menghadap Eric sekarang bagi Zeevanea rasanya sudah bagaikan menghadap pada Evan saja.


" Zeevanea! " panggil Eric pelan tapi tegas, dengan perlahan Zeevanea pun mengangkat kepalanya.


" Daddymu tau soal ini? " tanya Eric pelan dan tegas, Zeevanea menatap Nicholas sekejap kemudian menatap takut pada Eric sambil menggelengkan kepalanya.


" Papi tidak akan ikut campur soal urusan kalian dan Papi juga tidak akan mengadukan perkara ini kepada Daddymu... " ucap Eric pelan dan tegas.


" Tapi Papi hanya ingin mengingatkan... " lanjutnya menggantung, perasaan Zeevanea kian berdebar tak karuan.


" Luka di dalam hati Daddymu itu masih menganga hingga sekarang meskipun kejadian itu sudah berlalu puluhan tahun lamanya... " ucap Eric lagi diiringi dengan desah nafas berat.

__ADS_1


" Bukan perkara kemarahan Daddymu yang sudah pasti akan meledak jika mengetahui hubungan kalian yang akan Papi bicarakan disini. Tapi, jikalau kalian tetap melanjutkan hubungan ini, Papi harap kalian juga memikirkan perasaan dan penolakan Daddymu. " tegasnya, Zeevanea kembali menunduk dengan matanya yang ikut berkaca - kaca, ia sungguh tak menyangka jika Papinya akan berbicara seperti ini.


" Aku tau Daddy masih membenci keluarga Nitinegara... Tapi kami berdua saling mencintai, Pi... Dan yang bermasalah adalah Daddy dengan Papi Dygta, bukan kami anak - anaknya... " lirih Zeevanea dengan matanya yang terasa semakin terpenuhi oleh air mata.


" Papi paham, Sayang... Papi berucap seperti ini bukan karena ingin membela Adik kesayangan Papi dan ikut - ikutan tidak menyetujui hubungan kalian berdua... Itu urusan pribadi kalian. Tapi Papi hanya mengingatkan kepada kalian akan besarnya resiko penolakan dan efek - efek dari Daddymu nanti ketika kalian berdua mengakui hubungan kalian di hadapannya. " jawab Eric dengan menatap dalam mata indah Zeevanea yang semakin membendungkan air mata di pelupuknya.


" Tolong Zee, Pi... Tolong bantu Zee bujuk Daddy... " lirih Zeevanea dengan air mata yang perlahan menetes, Eric langsung mengambil tisu di meja dan memberikannya pada Nicholas, Nicholas pun langsung mengusap lembut lelehan air mata Kekasihnya.


" Kita semua tau bagaimana kesakitan dan kerasnya Daddymu... " jawab Eric seadanya.


" Bilapun Papi bisa membantu, itu tidak akan berdampak banyak. Hanya kegigihan dan keseriusan kalian berdualah yang bisa meluluhkan Daddymu... " lanjutnya.


" Segera akui hubungan kalian sebelum Evan mengetahuinya dari orang lain. " tukas Eric tegas, pikirannya sudah melayang jauh membayangkan kemurkaan Adik kesayangannya yang teramat bengal itu.


" Aku masih takut, Pi... " lirih Zeevanea jujur.


" Menghadaplah secara baik - baik bersama Nicholas meskipun sudah jelas di depan mata jika penolakanlah yang nanti akan kalian dapati. " jawab Eric.


" Tapi setidaknya kalian sudah berusaha untuk berterus terang dan tidak membohongi Daddymu lebih lama lagi. " lanjutntya.


" Jangan menambah kesakitannya dengan memperlama hubungan diam - diam kalian yang akan semakin menikam perasaan Daddymu semakin dalam. " tukasnya, Zeevanea dan Nicholas saling pandang dengan tatapan yang sama - sama sendunya.


" Nicky siap Om... Tapi Nicky juga harus menunggu kesiapan Zeevanea. " ucap Nicholas tegas sambil menatap dalam pada Eric, Eric pun mengangguk meski pelan.


" Kalau memang kalian benar - benar saling mencintai, jangan lupa untuk saling menguatkan dan juga siapkan diri kalian beserta seluruh kegigihan kalian untuk menerima penolakan besar Daddy Zeevanea sebagai awal perjuangan cinta kalian yang sudah jelas kerumitannya. " jawab Eric dengan menatap Nicholas serius.


" Terima kasih, Om Eric... Nicky akan berusaha. " jawab Nicholas tegas.


" Kalian mau kemana? " tanya Eric sesaat setelah suasana hening menyelimuti.


" Kita mau ke Puncak, Om... " jawab Nicholas, Zeevanea masih mendiam bersama isak tangisnya yang perlahan mereda.


" Saya ingin mengajak Zeevanea jalan - jalan sebelum lusa saya kembali ke Jepang. " lanjutnya menjelaskan.


" Ya sudah cepat berangkat... Hati - hati di jalan. Setelah dari Puncak, Zeevanea pulang ke Menteng saja nanti. " jawab Eric tegas, keduanya pun mengangguk.

__ADS_1


Keduanya langsung beranjak menuju rumah Dygta dan Kinan yang ternyata dempet dengan rumah Evan ini setelah saling berpamitan dan berpelukan dengan Eric. Zeevanea masih terlihat mendiam meski kini ia sudah tak lagi menangis seperti semula. Keduanya langsung beranjak dan masuk ke dalam rumah Dygta yang langsung disambut dengan hangat oleh dua Orang Tua berambut putih di ruang keluarga.


Trap... Trap... Trap...


__ADS_2