
Tuuut...
Evan :
Lo dimana?
tanya Evan langsung sebelum si penerima telepon sempat menjawab kala panggilan telepon itu tersambung.
Teo :
Kenapa, Man?
tanya balik Teo sok santai.
Evan :
Lo dimana, Bangsat?
Gue tanya tapi Lo malah tanya balik!
Gimana sih Lo, akh!
jawab Evan jengah.
Teo :
Di... Ba...li, Gue...
jawab Teo terbata.
Evan :
Ketemuan, yok...
Gue sama Kak Ici di Everic sekarang.
jelas Evan.
Lo dimana?
lanjutnya bertanya.
Teo :
Se...ka...rang?
tanya Teo terbata panik.
Evan :
Iya lah...
jawab Evan malas.
Udah nggak usah banyak bacot.
Gue jemput Lo sekarang.
ucap Evan kembali memaksakan kehendaknya, Teo yang di seberang telepon sana masih menganga kaget dan Evan pun langsunt mematikan panggilan teleponnya.
__ADS_1
Tut... Tut... Tut...
" Sudah beres, Bu Sandra... Target sudah di tangan. " ledek Evan pada Sandra yang masih duduk bersama dengan mereka, Sandra langsung mencebik sambil terkikik.
" Nggak usah minum banyak - banyak. Aku nggak mau Mas pulang - pulang mabok. " sambar Rayne tegas, mereka semua langsung terkikik melihat Evan yang belum beranjak tapi sudah mendapat ultimatum dari Istrinya.
" Enggak, kok... Nanti pulangnya aku mik susu aja biar langsung netral alkoholnya. " jawab Evan sambil terkikik dan menatap jahil kepada Rayne.
" Emang bisa? " tanya Rayne polos.
" Bisa, dong. " jawab Evan cepat, Rayne masih terlihat bingung.
" Apa lagi kalau mimiknya dari sumbernya langsung. Hahaha... " lanjut Evan menjelaskan dan langsung tertawa lebar.
" Evan!!! " teriak Rayne kesal, Evan tak marah dipanggil namanya saja karena kini mereka memang tengah bercanda, lainnya pun ikut tertawa juga.
Cup...
" Love you... " ucap Evan berpamitan dan tak lupa mengecup bibir Istrinya di depan mereka semua.
" Me too, Honey... " balas Rayne sumringah, Evan pun kembali mendaratkan kecupannya di bibir Rayne lagi.
" Udah, ayo! Keburu bangun senjata Lo kalau Lo ciuman mulu. " protes Richie dan langsung menarik paksa Evan, tinggal ketiga Ibu ini saja yang masih berada disana.
Trap... Trap... Trap...
" Lo kenapa diem lagi sih, Rayne? " tanya Sandra karena Rayne kembali mendiam.
" Aku kepikiran Stevano sama Maura, San... " jawab Rayne sendu.
" Aku juga takut kalau besok ketemu sama Dygta. " lanjutnya.
" Sorry ya Gue jadi buat Lo ikut kepikiran gara - gara Teo... " jawab Sandra sendu dan langsung menggenggam tangan Rayne, Vivian pun turut menatap sendu kepada Sandra dan Rayne.
" Tapi Dygta Gue undang sama Istrinya, kok... Lo nggak usah khawatir. " lanjut Sandra, Rayne pun mengangguk pelan.
Sementara Evan dan Richie yang tengah dalam perjalanan menuju Lux Resort nampak berbincang serius membicarakan perihal Stevano juga Teo. Tapi kemudian pembicaraan ini terhenti karena mereka sudah sampai di Lux Resort. Keduanya langsung turun dan beranjak masuk menuju ke meja Resepsionis.
Trap... Trap... Trap...
" Dimana kamar atas nama Atreo Jarvis Mallory Sekalian berikan saya access card cadangan kamarnya. " tanya Evan langsung pada Resepsionis yang bertugas malam ini.
" Maaf, Pak... Demi kenyamanan Pengunjung, kami dilarang memberitahukan hal itu. " jawab Resepsionis muda yang tak mengenal Evan tersebut.
" Panggil Managermu sekarang juga! " tegas Evan dengan tegas dan sorot mata yang tajam, dengan takut si Resepsionis pun mengangguk dan langsung menghubungi Managernya.
Evan dan Richie tetap berdiri menunggu Manager datang di depan meja Resepsionis. Penantian keduanya pun berakhir kala seorang Pria paruh baya yang berpakaian rapi datang menghampiri dan membungkukkan badannya memberikan hormat.
Trap... Trap... Trap...
" Ini tamunya, Pak... Bapak ini yang ingin bertemu dengan Bapak Manager. " jelas Resepsionis tersebut pelan, sopan, Manager Lux Resort ini langsung terlihat kikuk kala melihat Evan yang ternyata tamu tersebut.
" Maaf, Pak Evan... Ada yang bisa saya bantu? " tanya Pak Manager langsung kepada Evan.
" Saya mencari kamar atas nama Atreo Jarvis Mallory. " jawab Evan tegas dan datar, Pak Manager langsung menoleh kepada Resepsionisnya, meminta jawaban dari si Resepsionis.
" Maaf, Pak... Saya tidak berani memberi tahu. Saya hanya melaksanakan peraturan di Resort ini. " jawab Resepsionis.
" Pak Evan ini adalah pemilik Resort... Segera minta maaf dan berikan nomor kamar yang diminta oleh Pak Evan. " tegas Pak Manager tapi juga menjadi salah tingkah karena ketidak tahuan Resepsionis terhadap Atasannya.
__ADS_1
" Saya mohon maaf atas ketidak tahuan saya, Pak Evan... Saya Pegawai baru disini. " ucap Resepsionis muda itu sambil menatap takut pada Evan yang sedari tadi menatap tajam, kemudian dengan cepat mencarikan nama tersebut pada daftar tamu Resort.
" Saya mohon maaf atas ketidak nyamanan, Pak Evan... Dia memang Pegawai baru disini. " ucap Pak Manager pada Evan sungkan, Evan mengangguk tanpa bersuara.
" Kamar atas nama Atreo Jarvis Mallory berada di lantai lima nomor 5012, dan ini access card cadangannya. " sela Resepsionis tersebut sopan juga takut setelah mengetahui siapa Evan sebenarnya.
" Tapi sebenarnya sidik jari Pak Evan dan Pak Dygta saja sudah bisa dipergunakan untuk masuk ke dalam seluruh kamar maupun fasilitas lain di dalam Resort kita ini. " sela Pak Manager ini mengingatkan pada Evan, Richie nampak menunduk dan menahan tawanya, Evan mengangguk dan mengembalikan access card tersebut kemudian langsung bergegas cepat bersama Richie ke tempat yang disebutkan oleh Resepsionis.
Trap... Trap... Trap...
Setelah sampai di depan kamar yang ditempati Teo, Evan langsung menempelkan telapak tangannya pada kotak sensor di depan kamar, pintu kamar yang terkunci pun langsung berbunyi dan terbuka.
Tit... Tit... Tit... Tit...
Keduanya langsung masuk ke dalam tanpa permisi dan mencari keberadaan Teo di dalam sana.
Trap... Trap... Trap...
" Akh... Akh... Akh... " suara rintihan itu sayup - sayup terdengar dari luar kamar.
Brak!!!
" Aaaakkkk!!! " teriak si Perempuan yang kaget karena suara bantingan pintu yang dibuka kasar oleh Evan.
" Bangsat, Lo! " hardik Teo kesal setelah melihat siapa yang masuk tanpa permisi ke dalam kamar singgahnya dan langsung turun dari tubuh Wanitanya, seseorang yang berada di bawah kungkungan Teo itu pun langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, Teo langsung mengambil bathrobe dan memakainya cepat kemudian menghampiri Evan dan Richie yang menunggunya di depan pintu.
Trap... Trap... Trap...
" Lo beneran tega ngorbanin Maura? " tanya Evan tegas juga datar sambil melangkah menuju ruang tamu di dalam kamar itu.
Trap... Trap... Trap...
Teo hanya diam, ia tak berani menjawab ucapan Evan. Ketiganya pun langsung duduk di sofa.
" Stevano udah ngomong sama Gue kalau dia Pacaran sama Maura dua tahun belakangan ini, dan setelah lulus kuliah dia mau langsung lamar Maura dan langsung menikahi Maura. " jelas Evan datar setelah menyulut rokoknya, Teo semakin mematung di tempatnya melihat kedatangan Evan untuk membicaraka soal anak - anak mereka, Evan nampak menikmati rokoknya sambil menatap jengah pada Teo.
" Gue nggak gertak, Lo! Gue serius nggak akan pernah nyetujuin pernikahan Stevano dan Maura kalau Lo masih kaya gini. " jelasnya lagi.
" Keputusan ada di tangan Lo! Lo tau Gue... Gue nggak akan main - main soal kebahagiaan keluarga Gue. Apa lagi ini soal pernikahan. " jelasnya lagi dengan wajah datar dan garang tanpa senyum apa lagi cengengesan seperti saat ia sedang bersama Teo biasanya, Evan pun langsung berdiri dari duduknya, Richie hanya diam tak berani menyela pembicaraan serius ini, Evan langsung berdiri dari duduknya, Richie langsung mengikuti Evan layaknya Pengawal saja.
Trap... Trap... Trap...
" Gue sama anak - anak tunggu Lo besok malem di ballroom Resort ini jam tujuh malem. " ucap Evan tegas setelah berjalan beberapa langkah.
" Kalau Lo nggak dateng ataupun Lo coba - coba kabur, Gue sendiri yang akan cari Lo dan seret Lo ke ballroom. " lanjutnya dengan wajah angkuh sambil mengisap rokoknya, lalu kembali melangkah keluar kamar yang ditempati Teo dengan Richie yang masih membuntutinya dalam diam.
Trap... Trap... Trap...
" Bangsat!!! " teriak Teo geram, ia langsung emosi karena Evan ternyata mengetahui keberadaannya dan seenaknya masuk ke dalam kamar yang ditempatinya.
Trap... Trap... Trap...
" Papa... Marahin pihak Resortnya dong. " ucap Wanita terbut yang sedari tadi ternyata mengintip kegiatan Teo bersama Evan dan Richie.
" Mama malu tau nggak ada tamu tak diundang mergokin kita lagi asik - asikan. " lanjutnya, Teo hanya diam sambil meremat kepalanya yang langsung berdenyut, tapi tak lama kemudian Teo langsung kembali ke kamar dan memakain pakaiannya dan langsung beranjak keluar dari dalam kamar tanpa kata.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...