Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 142 - Daddyku... Idolaku...


__ADS_3

Setelah Raynevandra pergi, Rayne terus saja menanangis. Evan membiarkannya begitu saja, dan Evan malah meninggalkan Rayne sendirian di dalam kamar. Setelah Evan keluar, Rayne pun bergegas cepat untuk membersihkan dirinya meski tangis itu tak hentinya membanjiri wajah ayunya. Setelah kegiatannya di dalam kamar selesai, Rayne langsung bergegas turun untuk makan malam.


Trap... Trap... Trap...


Rayne kembali tertegun kala melihat kursi makan yang biasanya ditempati oleh Raynevandra kosong tanpa Raynevandra. Rayne pun melanjutkan kembali langkahnya.


Trap... Trap... Trap...


Saat Rayne baru saja duduk di kursi makan, Raynevandra terlihat baru turun dengan membawa dua tas ransel yang terlihat penuh sesak di jinjing dengan kedua tangannya. Raynevandra pun langsung menuju ke ruang makan.


Trap... Trap... Trap...


" Ini kunci mobil Ray sama kartu yang Mommy kasih... " ucap Raynevandra menyerahkan kunci mobil serta kartu ATM miliknya kepada Evan, Raynevandra meletakkan kunci mobil dan kartu ATM tersebut di hadapan Evan.


" Bawa aja, Sayang... Kamu nggak perlu seperti ini. " sela Rayne kembali panik sambil menatap Evan dan Raynevandra bergantian.


" Lagian Lo mau kemana pakai bawa dua tas penuh gitu? " sela Stevano bertanya, Devandroe yang sebenarnya penasaran dengan sakitnya Alexandra yang didengarnya dari percakapan Rayne dan Zeevanea tadi tetap menahan diri untuk tidak mempertanyakan.


" Ray minta maaf kalau selama ini Ray benyak salah sama Kakak semua... Doain Ray, ya... " ucapnya tulus dengan menatap ketiga Kakaknya secara bergantian, ketiga Kakaknya pun saling melempar pandang penasaran.


" Ray minta maaf ya, Momm... Ray tau Mommy juga pasti sama kecewanya dengan Daddy. Terima kasih sudah menjadi Ibu terbaik untuk Ray, dan terima kasih juga Mommy masih mau memaafkan Ray. " ucapnya tulus dan berlutut di samping kursi yang diduduki oleh Rayne.


" Ini ada apa, sih? Lo kenapa sih, Ray? " sela Zeevanea bertanya dengan perasaan tak enak.


" Mommy udah maafin kamu, Sayang... " ucap Rayne penuh kesedihan dan langsung menarik Raynevandra ke dalam dekapannya, air mata Rayne pun kembali menetes.


" Tapi Mommy nggak mau kamu pergi, Ray... Kamu harus tetap tinggal disini. " tegas Rayne dengan berderai air mata, ketiga anaknya yang lain semakin bingung dengan keadaan ini.


" Doakan Ray ya, Momm... Doa dari Mommy adalah bekal terbaik untuk Ray. " jawab Raynevandra sambil mengusap lembut air mata Rayne, pelukan itu pun telah terurai oleh Raynevandra.


" Mommy nggak boleh nangis lagi, kasihan Adik bayi kalau Mommy sedih... " lanjutnya, air mata Rayne kian tumpah ruah setelah mendengar si kecil calon Ayah itu mengucap kata Adik bayi.


" Enggak, Ray! Mommy nggak akan izinin kamu pergi! " teriak Rayne frustasi.

__ADS_1


" Maafin Ray ya, Momm... Tapi Ray tetap harus pergi seperti apa yang sudah Ray katakan tadi... " jawabnya penuh rasa bersalah.


" Terus kamu mau tinggal dimana? " teriak Rayne kian histeris.


" Nanti Ray akan pikirkan dulu mau tinggal dimana. Mommy nggak usah khawatir. Ray pasti akan baik - baik aja dimanapun Ray berada asalkan Mommy selalu doakan yang terbaik buat Ray. " jawab Raynevandra sok tenang meski kini rasanya ia sudah ingin menangis saat melihat kesedihan Mommynya, Raynevandra pun membalik tubuhnya ke kanan dan kini ia berlutut di samping kursi yang Evan duduki.


" Daddyku... " panggil Raynevandra pada Evan, Evan tetap duduk tenang dan tetap mengacuhkan Raynevandra.


" Aku tau kesalahanku begitu besar dan tak termaafkan olehmu... Tapi aku Putramu tak akan pernah putus asa untuk selalu meminta maaf dan memohon doamu. " ucap Raynevandra pada Evan, untaian kata yang diucapkan Raynevandra kepada Evan bagaikan bait dari sebuah puisi meski ucapan itu spontan keluar dari bibir Raynevandra.


" Maafin Ray, Dadd... Ray mohon dengan sangat, sudilah kiranya Daddy untuk mau mendoakan Ray... Terima kasih sudah menjadi Ayah terbaik sekaligus idola untuk Ray. " ucapnya dengan air mata yang tak bisa lagi ditahan, air mata Raynevandra akhirnya luruh di hadapan Evano Gamya Kalandra si kepala Keluarga.


" Ray pamit. " tukas Raynevandra sambil mengusap cepat lelehan air matanya, Raynevandra paham jika Evan akan tetap mengabaikannya, Raynevandra kembali berdiri dan langsung mengangkat kedua tas punggung yang dibawanya dari kamar.


Trap... Trap... Trap...


Srek!!!


Trap... Trap... Trap...


" Mommy saja yang simpan. " jawabnya pelan, menolak secara halus.


" Mommy akan suruh Bram dan Bisma untuk mengurungmu di dalam kamar kalau kamu tetap bersikeras tak mau membawanya! " tegas Rayne menggebu - gebu.


" Baiklah... Ray akan bawa. " jawabnya pasrah kemudian mencium punggung tangan Rayne dan langsung beranjak tanpa menoleh sedikit pun.



Trap... Trap... Trap...


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


Hiks... Hiks... Hiks...

__ADS_1


" Kejar Raynevandra, Mas! "teriak Rayne histeris bersimbah tangis kala deru mobil Raynevandra sudah terdengar, tubuh Rayne yabg semula berdiri langsung luruh ke lantai, Evan berdiriil dari duduknya dan menghampiri Rayne.


Trap... Trap... Trap...


" Ayo makan malam dulu. " ucap Evan tenang seolah tanpa masalah.


Kejar Raynevandra, Mas... Kalau dibiarin pergi Raynevandra nggak akan pernah pulang lagi. " jawab Rayne dengan terisak dan ambruk dalam pelukan Evan.


" Dia nggak akan kemana - mana... Kita juga tau harus kemana untuk menemukannya. " jawab Evan tenang dan tanpa tunggu lama lagi langsung membopong Rayne, membawanya duduk di kursi semula.


Trap... Trap... Trap...


" Ray kenapa sih, Momm, Dadd? " tanya Zeevanea penasaran.


" Waktunya makan bukan waktunya bicara, Zeevanea. " jawab Evan tegas sembari mengambil nasi dan lauk pauk serta sayur, sementara Rayne masih saja menangisi kepergian Putra Bungsunya, Zeevanea pun mendiam meski rasa penasarannya masih terlampau tinggi, begitupun dengan Stevano dan Devandroe yang juga memilih diam ketimbang mempertanyakan kejadian ini yang membuatnya kebingungan, ketiga anak ini pun langsung mempersiapkan makan malamnya.


" Sini, aaak... Makan sepiring berdua sama aku. " ucap Evan pada Rayne setelah Stevano mengucapkan doa sebelum makan dengan lantang, Evan tau Rayne tidak akan bisa makan sementara kekecewaan yang mereka hadapi kini teramat berat.


" Kamu mau buat aku marah lagi, hmm? " hardik Evan pelan tapi tegas juga dengan tatapan tegasnya karena Rayne nampak menunjukkan gelagat yang menolak untuk makan.


" Makan dulu, Momm... Mommy harus makan... " sela Zeevanea takut, tapi ia juga lebih takut lagi kalau sampai Rayne tak mau makan lagi dan Evan kembali murka.


Dengan berat hati dan dengan susah payah Rayne mengunyah makanan di dalam mulutnya yang disuapkan oleh Evan. Anak - anak mereka khususnya Zeevanea pun terlihat sedikit lega karena Mommynya tidak lagi menolak untuk makan. Setiap kali tatapan mata Evan mengarah kepadanya, bayangan tatapan Raynevandra lah yang hadir disana. Jelas saja karena memang cara menatap antara Evan dan Rayneandra memanglah sama. Acara makan malam di keluarga Evan pun berjalan dengan penuh keheningan seperti biasanya, dan kali ini benar - benar tanpa si Bungsu bengal fotokopian Evan.


" Ayo langsung naik, ada yang mau aku omongin sama Mas. " ucap Rayne ketika mereka semua sudah selesai makan malam, Evan yang baru selesai membersihkan mulutnya dengan tisu langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya, Evan berjalan mendahului Rayne dan Rayne pun langsung menyusulnya.


Trap... Trap... Trap...


" Gue ngerasa Ray ngelakuin kesalahan besar, deh... " ucap Zeevanea setelah kedua Orang Tuanya sudah tak lagi berada di ruang makan.


" Iya tuh anak... Bikin penasaran aja. Kenapa coba, tadi pakai acara minta maaf segala sama kita, kaya mau pamit kemana aja. Udah gitu bawa tas penuh dua. " jawab Stevano.


" Mungkin nggak sih karena Ray salah Ray jadi diusir sama Daddy? " tanya balik Devandroe.

__ADS_1


" Mulutmu jangan asal ngomong! Nggak mungkin lah semarah - marahnya Daddy sama Ray sampai tega ngusir Ray. Ray juga anaknya Daddy. " potong Zeevanea cepat.


" Andru kan cuma tanya, Kakak... " jawab Devandroe kesal.


__ADS_2