Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 170 - Hampir Saja


__ADS_3

Malam harinya seluruh keluarga Evan nampak berpindah tempat untuk berkumpul di kediaman Eric sejak sore tadi, kecuali Zeevanea yang memang masih belum pulang dari Puncak. Evan yang sebenarnya malas untuk ikut itu pun akhirnya terpaksa ikut karena Istri kesayangannya terus saja merengek untuk ikut pergi ke rumah Eric. Sebenarnya bukan tanpa alasan bagi Evan untuk menolak, diam - diam Evan sudah mengetahui perihal kediaman salah satu anggota keluarga Nitinegara itu berada di samping kediaman Eric yang tak jauh juga dari rumahnya di Menteng yang memang hampir tidak pernah disinggahi. Tapi apa boleh buat jikalau Istri kesayangannya yang tengah hamil muda itu sudah menunjukkan rengekan sedihnya selain mengalah dan menurutinya. Akhirnya Evan pun juga turut serta mengunjungi kediaman Eric.


" Kakak abis dari mana? " tanya Evan yang sedang duduk di ruang tamu sembari menikmati rokoknya, Rayne bersama Sea sedang menemani anak - anak yang sedang berkumpul dan bermain game dengan play station di ruang keluarga sembari menunggu Asisten Rumah Tangga di rumah ini menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


" Abis dari depan nyuruh Pak Satpam belikan rokok. " jawab Eric sok biasa saja, padahal sebenarnya ia merasa khawatir, ia baru saja pergi ke rumah Evan untuk melihat keberadaan Zeevanea tapi Eric juga memang memerintahkan salah seorang Penjaga rumah untuk membelikan rokoknya, Evan mengangguk tanpa curiga dan Eric pun langsung duduk bergabung bersama Evan.


" Lo kok nggak ngomong, sih... Tau gitu Gue nitip, rokok Gue juga tinggal dua batang tuh. " jawab Evan seadanya sambil mengecek ulang jumlah rokok yang tersisa di dalam bungkusnya.


" Ya mana Gue tau orang juga Lo nggak ngomong. " jawab Eric seadanya, keduanya pun hening kembali dan terlihat sedang sibuk dengan ponsel di tangan masing - masing.


" Kamu beneran nggak mau balik ke kantor, Dek? " tanya Eric memulai pembicaraannya dengan Evan, Evan langsung menggeleng tanpa menoleh, Evan juga nampak serius memainkan kepulan asap rokoknya di udara, Eric pun langsung nampak menghela nafas berat.


" Kakak rasa, lebih baik Kakak juga harus mundur kalau kamu tetap kekeh mau mundur. " jawab Eric seadanya, Evan tetap diam tak bergeming.


" Meski sebenernya Kakak sangat menyayangkan dan Kakak juga sangat - sangat berharap supaya para Pemegang saham kita benar - benar menolak keputusanmu agar perusahaan kita tidak jatuh ke tangan orang lain. " lanjut Eric datar juga tegas tapi terlihat penuh harap, Eric juga berharap agar para Pemegang saham di Kalandra Group tetap memihak Evan untuk tinggal, Evan nampak terkikik tipis sembari mengepulkan kembali asap rokok yang baru saja dihisap dalam, bagaimanapun juga Kalandra Group didirikan dengan susah payah oleh keluarga Kalandra, jadi menurut Eric tidaklah seharusnya persoalan jntern dari keluarga Kalandra membawa perpecahan juga di kubu Kalandra Group.


" Kakak aja yang pegang... Bagaimanapun juga Kalandra Group itu perusahaan keluarga kita. Kita sekarang bisa hidup enak semua juga dari sana. Kasihan Mama juga kalau kita berdua sama - sama pergi ninggalin Kalandra dalam waktu yang bersamaan. " jawab Evan santai seolah tanpa beban meski pikirannya pun kini juga tengah bergulat hebat mengelilingi otaknya, tetapi setidaknya jika tetap ada Eric yang menangani Kalandra Group tidak akan membuat Evan merasa berat untuk benar - benar melepaskan Kalandra Group.


" Orang Lo aja ogah, ngapain juga Lo pakai acara nyuruh Gue! Dan ngapain juga Gue harus susah payah pegang Kalandra Group sendirian sementara Lo santai ongkang - ongkang jadi Pengangguran kaya dulu lagi! " gerutu Eric ketus meski Eric juga merasa berat jikalau nanti pada akhirnya ia juga harus meninggalkan Kalandra Group, sebenarnya Eric juga tak akan sampai hati jika melihat Mamanya kembali bersedih karena Eric dan Evan yang sama - sama mengundurkan diri dari Kalandra Group, apa kata orang nanti pikir Eric, Evan hanya diam, dan tanpa kata Evan langsung berdiri dan berjalan keluar dari rumah, Eric pun langsung menyusulnya.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


Trap... Trap... Trap...


" Maaf, Tuan... Ini rokoknya. " ucap Pak Satpam kepada Eric, Eric pun langsung menerimanya dan langsung menyulutnya setelah mengambil korek dari dalam saku celananya.


" Kembaliannya bawa aja. " lanjutnya setelah selesai membakar sebatang rokok perdananya.


" Terima kasih, Tuan... " jawabnya, Eric mengangguk dan Pak Satpam pun kembali menjalankan tugasnya dan Eric pun langsung mengejar Evan kembali.


" Belikan punya saya sekalian, Pak... Punya saya juga habis. " sahut Evan sembari menyerahkan uangnya kepada Pak Satpam, Pak Satpam tersebut kembali berbalik badan untuk menjalankan perintah dari Evan, kemudian Evan dan Pak Satpam tersebut sama - sama berjalan keluar.


Kembaliannya ambil aja. teriak Evan karena Pak Satpam tersebut sudah bergegas mengendarai motor Ninja yang tadi dipakaikanya untuk membelikan rokok milik Eric.


Trap... Trap... Trap...


" Lo mau kemana? " tanya Eric kepada Evan yang nampak sedang duduk sambil berjigang di kursi kayu yang ada di depan pos satpam di depan rumah Eric.


" Nungguin tetangga sebelah keluar... Tangan Gue kaku udah lama nggak berantem. " jawab Evan sekenanya sambil menahan tawanya, Dygta lah maksud dari ucapan Evan.

__ADS_1


" Nggak usah aneh - aneh, deh! Inget noh, Istri Lo lagi bunting juga. " jawab Eric tegas sambil menggeplak kepala Evan dari belakang, Evan langsung tertawa meski tanpa suara.


" Untung Kakak Gue, bukan Kakak Gue habis juga deh Lo! " pekik Evan kesal juga karena kepalanya terasa sakit, bahkan Evan berucap sambil meringis dan mengusap kepalanya yang terasa sakit setelah dipukul oleh Kakaknya, sementara Eric hanya mesem santai tanpa dosa.


Bruuum...



" Gawat! " pekik Eric dalam hati kala melihat motor Nicholas sudah berhenti di depan rumah Evan, Eric langsung terlihat tegang meski ia tetap berusaha menyembunyikan ketegangannya di hadapan Evan, sementara Evan masih belum melihat dan belum mengetahui dikarenakN posisi Evan yang sedang duduk membelakangi rumahnya dan Evan sedang menghadap ke arah rumah Dygta.


" Masuk, yuk... " ajak Eric sambil menoleh sekilas menatap cepat pada Zeevanea dan Nicholas yang masih berdua di depan rumah Evan.


" Bentar... Biar sekalian abis rokok Gue. " jawab Evan santai setelah menghembuskan asap rokoknya yang sengaja dibentuk kan menjadi bentuk bulatan - bulatan lingkaran yang tercipta dari gerakan bibirnya yang sengaja dimonyong - monyongkan ke depan.


" Ayok... Dingin, nih... " ucap Eric lagi mendesak Evan agar mau segera diajak masuk ke dalam rumah karena Zeevanea malah terlihat sedang asik bermesraan dengan Nicholas tanpa melihat Eric dan Evan yang berada tak jauh dari mereka, Evan pun menurut meski sebenarnya memang sengaja menunggu Dygta keluar dari rumahnya.


Trap... Trap... Trap...


" Hampir saja... " gumam Eric pelan, syukurnya Evan tidak mendengar gumamanya.

__ADS_1


__ADS_2