
Hasil tes DNA yang dibawa Sandra memang menunjukkan jika 99% sama dengan DNA Stevano. Bukan Stevano tidak mau mengakui darah dagingnya, tapi Stevano merasa marah dan kecewa dengan Sandra karena membicarakan hal ini pada waktu yang tidak tepat. Sebenarnya kalau ditanya soal cintanya kepada Maura jelas rasa cinta itu masih ada walaupun sejak mengetahui perselingkuhan Maura beberapa waktu lalu Stevano langsung mengenyahkan rasa cintanya kepada Maura. Meski terasa berat tapi menurut Stevano mencoba melepaskan memang lebih tepat dibandingkan jika harus menggenggam bara api di dalam buncahan rasa cinta yang telah terkoyak oleh perselingkuhan.
Tuuut...
Evan :
Ke rumah Gue sekarang juga.
tegasnya sebelum yang ditelepon sempat berucap.
Tut... Tut... Tut...
" Gue bener - bener nggak nyangka Lo tega khianatin Steve padahal Lo tau gimana cintanya dia sama Lo selama ini. " ucap Nala kepada Maura yang masih disana bersama Sandra dengan deraian air mata yang masih menderas.
" Abang... " lirih Eric menahan Nala agar tidak semakin memperkeruh suasana.
" Maaf, Pi... Aku nggak bisa diem aja lihat Steve diginiin. " sanggah Nala yang memang sangat dekat dengan Stevano.
" Apa Lo lupa waktu kita di Bali Steve sampai ngelawan Daddy dan sampai mau bunuh diri demi perjuangin Lo? " lanjutnya kembali berucap pedas kepada Maura.
" Punya kaca nggak sih, Lo? Hah? Ngaca! " bentak Nala geram.
" Diam! " bentak Evan kepada Nala, Nala pun langsung diam meski masih emosi melihat Maura yang hanya diam sok lugu di depan semua orang.
" Emosi-mu dikontrol, Van... " sela Papi Ardi kepada Evan, sungguh Papi Ardi merasa trenyuh melihat banyaknya masalah yang tengah mendera keluarga Evan.
" Terus gimana sekarang? Kasihan Maura kalau nggak cepet dinikahin sama Stevano. " tanya Mama Rosa ikut bingung, Zeevanea nampak tertawa sinis meski tanpa suara, seolah menertawai Evan yang salah karena mendukung hubungan anak - anaknya yang lain tanpa mendukung hubungan Zeevanea dengan Nicholas yang jelas tidak macam - macam.
" Kita tunggu Teo... Dia yang akan dihadapi Stevano. " tegas Evan menjelaskan siapa sosok yang baru saja dihubunginya.
" Jangan bawa - bawa Teo, Van! " sela Sandra memekik.
" Bagaimanapun juga Teo itu Bapaknya Maura. " jawab Evan nyolot.
" Evan... " panggil Eyang Alam kepada Evan.
" Kontrol emosi-mu, Nak... " lanjutnya mengucapkan kekhawatirannya kepada Evan, Evan pun nampak langsung mengatur nafasnya.
" Panggil Adikmu, Bang... " perintah Evan kepada Nala agar memanggil Stevano, Nala pun langsung bergerak tanpa membantah.
Trap... Trap... Trap...
" Kamu beneran selingkuh, Maura? " tanya Evan kepada Maura, Maura semakin menunduk bersimbah air mata meski tak sampai terdengar isak tangisnya, sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk menatap Evan.
" Kalau boleh Daddy dan kita semua tahu, apa yang membuatmu berpaling dari Stevano? Katakan apa kekurangan Stevano. " lanjutnya bertanya meski Maura tidak menjawab pertanyaannya sebelumnya.
" Aku yang salah, Dadd... " lirih Maura yang akhirnya berucap dengan tetap menundukkan kepalanya, air mata Sandra kian menderas mendengar ucapan Putrinya.
__ADS_1
" Oke kalau kamu nggak mau ngomong tentang kekurangan Stevano. " potong Evan cepat.
" Diselingkuhi itu sakit, Nak... " lanjut Evan berucap kepada Maura.
" Seharusnya kamu putuskan hubunganmu dengan Stevano terlebih dahulu daripada kamu harus berselingkuh di belakangnya. Hal itu tidak akan semenyakitkan ini untuk Stevano. " tegas Evan membela Putranya yang memang tersakiti karena perselingkuhan Maura.
Trap... Trap... Trap...
" Aku udah nggak papa, Dadd... Daddy nggak usah khawatirin aku. " ucap Stevano menyela yang baru saja kembali bergabung bersama Nala.
" Aku minta maaf karena telah mencoreng nama baik Daddy dan seluruh keluarga kita. Aku juga minta maaf karena aku harus memberikan Cucu untuk Daddy dan Mommy dengan jalan yang salah. " lanjutnya berucap sambil memeluk Evan.
" Apa keputusanmu sudah bulat? " tanya Evan mempertanyakan lagi tentang keputusan Stevano tadi.
" Aku siap menjadi Orang Tua tunggal untuknya. " jawab Stevano dengan bibir bergetar menahan tangis, bukan Maura yang ia tangisi, tapi Stevano merasa bersalah karena membuat malu keluarganya.
Trap... Trap... Trap...
" Assalamualaikum... " ucap Teo yang baru saja masuk ke rumah Evan.
" Waalaikum salam. " balas mereka semua dengan suara pelan karena masih merasa terkejut dengan situasi masalah baru ini, Evan dan Stevano pun langsung mengurai pelukannya.
" Loh, kalian disini... " ucap Teo sembari menatap Sandra dan Maura bergantian, Sandra dan Maura mendongak menatap Teo yang baru saja tiba disana.
" Anak Lo hamil... " ucap Evan langsung sambil mengkode Teo untuk duduk dengan isyarat matanya meski sebenarnya masih malas berurusan lagi dengan Teo.
" Anak Stevano. " jawab Evan tegas, Teo nampak terdiam terperangah karena memang masih terkejut.
" Gue yang salah, Van... Tolong restui mereka. " ucap Teo kepada Evan dengan penuh sesal.
" Mereka pasti ngelakuin kaya gini karena Lo nggak mau ngerestuin mereka karena kesalahan Gue. " lanjutnya memohon kepada Evan, Evan nampak terkikik sinis sambil menatap wajah panik Teo.
" Ini bukan soal restu Daddy, Pa... " sela Stevano angkat bicara, Teo yang semula menatap Evan pun langsung menoleh pada Stevano.
" Anak Papa sudah tidak menginginkan aku lagi... " lanjut Stevano yang mulai menjelaskan kepada Teo, wajah Teo nampak kembali bingung karena ucapan Stevano.
" Kalau kaya gitu kenapa bisa sampai hamil, Kak? " tanya balik Teo dengan wajah bodohnya.
" Anak Papa selingkuh. " jawab Stevano datar, mata Teo pun langsung membola seketika.
" Sekarang aku jadi merasakan bagaimana kesakitan yang dulu pernah Daddy rasakan saat Mommy menjalin hubungan dengan Papi Dygta... " lanjutnya berucap datar dengan tatapan nanarnya.
" Jangan bawa - bawa Mommy-mu, Nak... " sela Evan, Rayne pun langsung menatap Evan.
" Aku sudah memutuskan untuk membesarkan anakku sendiri tanpa anak Papa. " tukas Stevano tegas.
" Jangan, Kak. Kasihan anak kalian kalau kalian sampai berpisah... " tolak Teo kebingungan.
__ADS_1
" Itu akan lebih menyakitkan untuk anak Papa yang sudah tidak mengharapkan aku lagi. " jawab Stevano tegas tanpa goyah, Teo langsung mengusap kasar wajahnya yang mulai dibanjiri oleh keringat dingin.
" Demi memperjuangkan anak Papa aku berani menumbalkan nyawaku, demi anak Papa juga aku sampai berani melawan kepada Daddy demi memperjuangkan hubungan kami, itu semua demi memperjuangkan anak Papa. " ucap Stevano datar, langsung menusuk relung hati rasanya saking dalamnya ucapan Stevano.
" Tapi ini kah balasan dari anak Papa buat aku? " lanjutnya bertanya kepada Teo, wajah Teo semakin terlihat menegang penuh kebingungan.
" Kalau saja anak Papa mengatakan untuk berpisah sejak awal, pasti kesakitan yang aku rasakan tidak akan semenyakitkan ini. " tukasnya tegas.
" Bantuin Gue bujuk Stevano, Van... " ucap Teo kepada Evan, perseteruannya dengan Evan sebelumnya dikesampingkan demi memohon untuk Putrinya.
" Ya emang nyatanya diselingkuhi itu sakit. " tegas Evan dengan wajah menjengkelkannya, Evan sungguh masih malas berurusan dengan Teo yang tidak tegas sebagai seorang kepala keluarga.
" Nikahi Maura, Kak... " lirih Teo memohon kepada Stevano.
" Keputusan aku sudah bulat, Pa. " jawab Stevano tegas.
" Bantu Papa, Sayang... Bantu Papa bujuk Stevano. " ucap Teo kepada Maura yang sedari tadi hanya diam menangis disana.
" Tangis darahnya pun tak akan membuat keputusan Steve berubah. " tegas Stevano dengan tatapan nyalang kepada Maura.
" Jangan seperti ini, Kak... Baby kalian membutuhkan Orang Tua yang lengkap. " lirih Sandra ikut berucap juga untuk membujuk Stevano.
" Apakah Papa dan Mama tidak merasa kalau Anak Papa dan Mama sendiri saja tidak berniat untuk membujukku? " tanya balik Stevano dengan sinis, Sandra dan Teo pun langsung menatap Maura bersamaan dengan perasaan yang tak karuan.
" Papa sama Mama nggak usah khawatir... Aku akan tetap bertanggung jawab atas anakku meski tanpa menikahi Anak Papa dan Mama. " lanjutnya tegas.
" Tolong beri tahu anak Papa dan Mama untuk tidak menyakiti anakku dan tetap melahirkan anakku kalau tidak ingin nyawanya sebagai gantinya seperti aku dulu yang bersedia menumbalkan nyawaku kepada Daddy-ku. " tegasnya.
" Kalau saja anak Papa dan Mama tidak berselingkuh, aku pasti akan menikahinya dengan senang hati dan memberikan kebahagiaan yang berlimpah untuknya meskipun aku harus keluar dari rumah ini. " imbuhnya tegas kemudian langsung beranjak pergi meninggalkan tempat.
Trap... Trap... Trap...
" Lo jangan diem aja, Bangsat! " pekik Teo murka kepada Evan.
" Anak Lo harus tanggung jawab! Anak Lo harus nikahin anak Gue! " lanjutnya dengan berapi - api.
" Hahaha... " tawa Evan menggelegar seketika dan membuat Teo semakin emosi.
" Lo bisa ngomong kaya gini karena Lo gurunya anak Lo yang doyan selingkuh. " lanjutnya mencibir Teo dan Maura.
" Jangan mimpi! " pekik Evan dengan sinisnya.
" Lo boleh hina Gue, tapi Gue nggak terima Lo hina anak Gue! " tegas Teo semakin emosi.
Harga diri harga mati. tegas Evan sambil tersenyum sinis.
" Sebaiknya kalian bicarakan lagi sekeluarga tentang masalah ini. " sela Eyang Alam berucap kepada Teo dan Sandra yang terlihat geram dengan Evan.
__ADS_1