Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 84 - Banyak Anak Banyak Rejeki


__ADS_3

" Mommy sama Daddy mau kemana lagi hari ini? " tanya Nala kepada Rayne dan Evan setelah mereka semua selesai makan siang.


" Daddy sama Mommy santai... Mau cari oleh - oleh buat Adek kalian aja. " jawab Evan sambil menyulut rokoknya.


" Ya udah Daddy sama Mommy jalan berdua aja kalau gitu... Aku males ikutan belanja. " jawab Nala.


" Pasti lama. " lanjutnya malas.


" Kita jalan - jalan sendiri aja kalau gitu, Bang... " timpal Stevano yang juga ikut menyulut rokoknya, rokok yang sama dengan milik Daddynya tapi meskipun rokok Daddynya digeletakkan begitu saja di meja Stevano sungkan untuk mengambilnya.


" Eh, eh! Apa lagi ini ikut - ikutan ngerokok juga! " tegur Rayne pada Stevano yang ternyata menyulut rokok bersamaan, menyusul Daddynya.


" Lagi pengen aja, Mommy Sayang... " ucap Stevano sambil tersenyum kikuk, merasa sungkan karena Mommynya menegurnya di depan Daddynya, sementara Nala yang sudah terbiasa merokok di depan para Orang Tua hanya cuek saja.


" Awas kalau sampai kaya Daddy kalian! " ketus Rayne kepada Stevano dan Nala, Stevano pun mengangguk patuh sementara Nala tak menggubris sama sekali.


" Apa enaknya sih Dadd ngerokok? " timpal Zeevanea bertanya.


" Enak aja rasanya kalau habis makan terus dikasih rokok. " jawab Evan santai.


" Emang rokok ada rasanya? " tanya Zeevanea semakin penasaran.


" Rokok kan macem - macem, Dek... Ada yang nggak ada rasanya, ada juga yang ada aromanya atau rasanya. Kalau yang menthol kaya punya Daddy ini rasanya mint. Ada yang jenis kretek juga sih, tapi Daddy nggak kuat kalau yang kretek. " jawab Evan menjelaskan.


" Itu punya Kakak juga sama kaya punya Daddy, rasa mint... " lanjutnya sambil menatap sekilas sebatang rokok pada selipan jari tangan Stevano.


" Tapi kalau yang punya Abang itu nggak ada rasanya. " imbuhnya, Zeevanea pun mengangguk - anggukkan kepalanya.


" Tapi kenapa di belakang bungkus rokok ini ada warningnya? " lanjut Zeevanea yang kembali mempertanyakan.


" Ya itu cuma warning aja, cuma mengingatkan... Kalau si Perokok tetap maksa ngerokok ya terserah juga orang Perokoknya beli rokok pakai duit sendiri. Kalau soal urusan kesehatan setiap orang beda - beda. " jawab Evan sekenanya.


" Daddymu pengen mati muda makanya sehari bisa lima bungkus. " ketus Rayne sambil menatap jengah pada Evan.


" Ngarep banget jadi Jamu! " jawab Evan sambil menatap jahil kepada Rayne.


" Apaan Jamu?" tanya Nala tak paham.


" Janda Muda... " jawab Stevano sambil menahan tawanya.

__ADS_1


" Hahaha... " Nala dan Zeevanea langsung terbahak, Stevano dan Maura nampak menahan tawanya.


" Orang ngerokok apa enggak itu juga sama aja, Sayang... Endingnya mati. " ucap Evan santai pada Rayne.


" Kamu nggak ngerokok gini entar kalau udah waktunya juga pasti mati. " lanjut Evan dengan santainya.


" Tapi kan seenggaknya dengan tidak merokok itu bisa memperpanjang umur seseorang, Mas! Lebih sehat. " pekik Rayne menjawab.


" Emang kalau orang rebahan aja nggak pakai ngerokok udah pasti sehat? " tanya Evan, Rayne langsung menggedigkan bahunya, Evan pun tersenyum santai.


" Gini, deh... Dulu kamu pernah ngelihat Papa ngerokok nggak? " tanya Evan tetap santai sambil menatap Rayne, Rayne diam sekejap berpikir kemudian menggelengkan kepalanya, mencoba mengingat - ingat apakah Almarhum Papa Mertuanya itu dulu merokok atau tidak.


" Papa yang nggak ngerokok dan selalu jaga pola makan aja bisa sakit jantung... Sedangkan Ayah yang Perokok berat sampai sekarang sehat - sehat aja. " jawab Evan tetap dengan santai.


" Ya udah, pasrah aja... Yang penting olahraga kan sama aja. Yang bikin sehat itu olahraga sama jaga pola makan. " imbuhnya, Rayne pun hanya diam sambil mencebikkan bibirnya, sudah jelas kalah debat dengan Evan.


" Baru tau ini Gue kalau Emak - Emak bisa sampai kalah debat sama Bapak - Bapak... " ledek Nala sambil terkikik.


" Emang Papimu nggak pernah menang debat sama Mamimu? " tanya balik Evan.


" Papi ngomong aja irit, gimana mau debat sama Mami Sea. Paling cuma jawab iya enggak iya enggak aja. " jawab Nala yang masih terkikik.


" Papi bisa debat loh, Bang... " ucap Zeevanea setelah selesai terbahak.


" Emangnya kapan Papi menang debat sama Mami? " tanya balik Nala.


" Itu kalau lagi debat sama Mami Bianca... " jawab Zeevanea yang pernah melihat pertengakaran Eric dan Bianca.


" Itu sih bukan lagi debat... Tapi berantem beneran, Barbar! " pekik Nala sewot, Zeevanea pun langsung nyengir.


" Iya lah orang kalau debat dikit mesti langsung tawuran. Pasti pukul - pukulan. " timpal Evan, mereka semua pun kembali terkikik, Bianca selalu meluapkan emosinya kepada Eric dengan main tangan meski Eric juga tidak tinggal diam tapi juga tidak membalas permainan tangan liar Bianca ketika keduanya bersitegang.


" Abang nggak kangen Mami Bi? " tanya Rayne hati - hati.


" Kangen ya kangen sih, Momm... Tapi males aja kalau ketemu Mami. Bawaannya bikin emosi. " jawab Nala jujur, mereka semua mendiam karena obrolan ini lebih serius meski santai.


" Abang nggak boleh kaya gitu dong, Sayang... " ucap Rayne yang langsung mendekati Nala dan mengusap lembut kepala Nala.


" Bagaimanapun juga Mami Bi itu Mami kandung Abang... Perempuan mulia yang rela bertaruh nyawa untuk melahirkan Abang, Mami Bi yang berjuang sendirian untuk membesarkan Abang tanpa adanya Papi di sisi kalian. " lanjutnya berucap dengan sangat hati - hati.

__ADS_1


" Yang besarin aku itu Daddy sama Oma, sama Geandma Grandpa. " ketus Nala, Rayne nampak menghela nafas dalam setelah mendengar kalimat sanggahan Nala, karena dulu saat Nala kecil memang Bianca masih sibuk membangun bisnisnya sehingga seringkali Nala dibawa oleh Evan yang meski sibuk dengan Kalandra Group juga Gamyaraa tapi Evan kesepian karena saat itu masih berpisah dari Rayne dan kedua anaknya.


" Sebelum Mommy ngomong kaya gini sama aku harusnya Mommy juga inget gimana Mommy dulu yang tega ninggalin Daddy. " lanjutnya membalikkan ucapan Rayne karena saat kecil Nala merasa Bianca mengabaikannya, Rayne dan Evan pun bersitatap seketika.


" Mommy dulu memang pernah salah langkah, Nak... Tapi selama ini Mommy juga selalu berusaha untuk memperbaikinya. " jawab Rayne sendu.


" Dan hasil usaha Mommy berbuah manis, itu terbukti dengan kebahagiaan keluarga Mommy sama Daddy sekarang... " tegasnya pelan.


" Meskipun sekarang Abang bahagia sama Papi juga Mami Sea, dan Mami Bi juga udah punya kehidupan sendiri, bagaimanapun juga Abang tetap darah daging Mami Bi, Abang tetap anak kandung Mami Bianca. Seorang anak haruslah selalu menyayangi dan menghormati kedua Orang Tuanya, apa pun keadaannya. " jelasnya pelan memberikan wejangan kepada Nala yang selalu mengabaikan Bianca, Bianca adalah Istri pertama Eric tapi kemudian Eric dan Bianca berpisah, dan memang Bianca adalah Ibu kandung dari Nala.


" Kunjungi Mami Bi kalau pas pulang ke Jakarta, Nak... Mami Bi pasti seneng banget kalau Abang datang ngunjungin Mami Bi. " lirih Rayne, Nala hanya diam sambil menatap Evan yang juga sejak tadi terdiam.



" Udah, yuk... Jalan. " potong Evan tak mau membiarkan suasana sendu ini menjadi semakin berlarut, mereka semua yang beberapa saat lalu terdiam nampak mulai merenggangkan ototnya yang tegang.


" Kalau jalan hati - hati... Adek sama Maura jangan dilepas sendirian. " ucap Rayne yang kembali memberikan wejangan lagi, kedua Pemuda tampan ini langsung mengangguk.


Cup...


Setelah saling berbagi kecupan dengan anak - anak mereka, Rayne dan Evan pun langsung pergi berdua untuk mencari oleh - oleh.


Trap... Trap... Trap...


Bruuum... Whuuussszzzhhh...



" Kamu udah telat dateng bulan belum, Dek? " tanya Evan pada Rayne saat keduanya sudah dalam perjalanan mencari oleh - oleh.


" Masih belum ada satu bulan kita ke Dokter, Masku... " jawab Rayne sambil terkikik.


" Coba beli testpack gih nanti... " ucap Evan kian antusias.


" Kali aja udah isi. " lanjutnya dan kini dengan wajah nyengir.


" Kamu ngebet banget sih Mas buat nambah anak... Kaya belum pernah punya anak aja. " jawab Rayne sambil terkikik menatap Evan.


" Banyak anak banyak rejeki, Adek Sayang... " jawab Evan dan ikut terkikik juga.

__ADS_1


" Amiiin... " ucap keduanya bersamaan, Rayne pun langsung merebahkan kepalanya di sebelah pundak Evan yang tengah mengemudi.


__ADS_2