
Rombongan Evan yang kini masih berada di Bali, malam ini sudah berangsur kembali ke kamar masing - masing. Nicholas dan Joana juga sudah kembali ke Resort hasil kolaborasi antara Kalandra Group dan Niggar Company. Mereka tadi juga menyempatkan makan malam bersama kemudian berjalan - jalan. Dan setelah selesai, barulah mereka kembali ke hotel.
Tok... Tok... Tok...
" Pakai baju dulu kenapa sih, Mas! " umpat Rayne karena Evan yang akan membuka pintu kamar yang diketuk itu hanya dengan mengenakan lilitan handuk di pinggang tanpa atasan, Rayne sendiri masih sibuk memakai krim malamnya di depan meja rias.
" Paling juga anak - anak. " ucap Evan santai dan langsung beranjak membukakan pintu.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
" Aku keluar dulu sama Maura ya, Dadd... " ucap Stevano yang mengetuk pintu kamar Evan, dan langsung berbicara setelah Evan membukakan pintunya.
" Mau kemana? " tanya Evan basa - basi.
" Mau cari kado buat Mama, Dadd... " sahut Maura setelah Stevano menatapnya.
" Ya udah, ati - ati. " jawab Evan, keduanya pun langsung mencium punggung tangan Evan bergantian, tak lupa Stevano mengecup singkat bibir Evan seperti biasanya, keduanya pun beranjak, dan Evan pun langsung menutup pintu dan kembali masuk ke dalam.
Trap... Trap... Trap...
" Siapa, Mas? " tanya Rayne yang sudah selesai dengan krim malamnya, sekarang ia rebahan santai sambil memainkan ponselnya.
" Steve sama Maura... " jawab Evan sembari melepaskan handuknya dan berganti dengan kimono tidur yang dipakainya tanpa dalaman.
" Kok mereka nggak masuk? " tanya Rayne sembari menatap Evan yang sedang menalikan tali kimono tidurnya.
" Orang mereka mau jalan... Mau cari kado buat Sandra katanya. " jawab Evan dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, di samping Rayne berbaring.
__ADS_1
" Aku bingung deh, Mas... Kenapa Sandra tiba - tiba bikin birthday party sementara dia sama Teo masih berseteru. " ucap Rayne, ia meletakkan ponselnya dan langsung masuk ke dalam pelukan Evan.
" Kesepian kali dia... Makanya bikin birthday party buat ngalihin sumpeknya sama Teo. " jawab Evan logis.
" Iya juga, sih... " jawab Rayne dengan wajah yang terlihat berpikir.
" Tapi Mas beneran setuju kalau Steve sama Maura? " tanya Rayne penasaran setelah beberapa saat ia terdiam.
" Mas nggak mau Besanan sama Teo kalau Teo masih suka main gila di luar sama Perempuan. " jawab Evan tegas.
" Terus Steve sama Maura gimana? Mereka jadi korban, dong... " ucap Rayne.
" Itu salah Teo bukan salah kita. " jawab Evan dengan begitu tenangnya.
" Mas sudah seringkali peringatin Teo. Tapi ya tetep aja keputusan ada sama Teo. " jawab Evan.
" Kalau dia tetep kaya gini berarti ya mau nggak mau Mas tetep nggak mau Besanan sama Teo. Maura dan Stevano nggak akan pernah menikah. " jelas Evan tegas tak terbantahkan.
" Mereka cuma pacaran... " jawab Evan datar.
" Kalau urusan nikah nanti dulu... Nggak bisa seenaknya aja. " lanjutnya sambil menatap tegas pada Rayne.
" Emang kamu mau Bapak gila macem Teo dijadiin telandan sama Stevano? " lanjutnya bertanya tegas kepada Rayne, Rayne pun akhirnya menggeleng meski terbata.
" Bagaimanapun juga Teo juga akan menjadi Papanya Stevano kalau Stevano menikahi Maura. Dan Mas nggak mau kalau Teo masih kaya gini. Itu bisa jadi contoh buruk buat Stevano yang nantinya juga akan menyandang gelar sebagai seorang Kepala Keluarga. " jelasnya lagi, Rayne hanya diam, memikirkan nasib hubungan Stevano dan Maura yang jelas tak sepenuhnya direstui oleh Suaminya jika keduanya melangkah ke jenjang pernikahan, tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Evan karena alasan penolakan tegas dari Evan memang masuk akal.
" Jadi Kepala Keluarga itu nggak mudah... Jadi Kepala Keluarga itu berat. Kesalahanmu sebagai Istri juga kesalahan yang anak - anak kita perbuat pun Mas juga yang akan mempertanggung jawabkannya di akhirat nanti karena kamu dan anak - anak kita adalah tanggung jawab Mas sebagai Kepala Keluarga. " tukasnya dengan wajah seriusnya, Rayne pun terlihat serius memperhatikan Evan.
" Seluruh dosamu termasuk dosa perselingkuhanmu dulu juga Mas yang akan mempertanggung jawabkannya nanti karena Mas lalai dalam mendidikmu. Dalam hal ini bukanlah karena dosamu Mas yang akan menanggung, tapi Mas sebagai Suami bertanggung jawab akan akhlakmu sebagai Istri Mas. " tegasnya lagi.
__ADS_1
" Ketika Ijab Qabul itu diucapkan maka tanggung jawab Suami adalah terhadap Istrinya. Tanggung jawab yang sebelumnya diemban Ayah kepadamu sudah berpindah kepada Mas yang telah mengucap Ijab Qabul untukmu. Segala yang kamu dan anak - anak kita lakukan, menjadi tanggung jawab Mas sebagai Suami dan Kepala Keluarga karena Mas yang telah mengucap janji suci Ijab Qabul kita. Jikalau Mas lalai dalam melakukan tanggung jawab itu, maka dosanya Suami pun ikut mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah dan begitu pula juga dengan calon anak - anak kelak yang berada dibawah Komandan seorang Lelaki dengan gelar Suami. " lanjut Evan menjelaskan dengan tegas.
" Mas... " panggil Rayne sambil mendongakkan kepalanya setelah keduanya terdiam beberapa saat tadi, Evan menyandarkan kepalanya pada headboard ranjang sembari memejamkan matanya meski ia tidak tidur.
" Hmmm... " jawab Evan menggumam dan tetap memejamkan matanya.
" Tapi kalau soal rumah pemberian Dygta itu nggak papa kan kalau aku serahin sama Joana? " tanya Rayne hati - hati, takut Evan tersinggung, tadi setelah berbicara dengan Joana dan Evan pergi begitu saja, Rayne mengejar Evan dan membicarakan hal ini, tapi Evan bungkam, enggan menjawab dan malah membawanya masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di dalam Kapal Pesiar yang tadi mereka tumpangi untuk kembali ke Pulau Bali.
" Kasih, aja... Daripada kamu kerepotan dan terus nyuruh Moza bayar orang untuk jaga dan bersih - bersih di rumah itu. " jawab Evan malas.
" Aku bisa saja saingan sama Bajingan Tengik itu dan belikan kamu rumah yang lebih besar dari rumah itu kalau aku mau. " lanjutnya berucap tenang tapi sebenarnya malas membahas perihal ini.
" Tapi sayangnya, hatiku sudah terlanjur terluka di kota romantis itu... " imbuhnya dan perlahan membuka matanya, saling bersitatap dalam dengan Rayne.
" Jadi jangan harap aku akan membelikanmu rumah di kota itu. " tukasnya serius.
" Maafin aku ya, Mas... " lirih Rayne dengan mata berkaca - kaca, ia sadar akan kesalahan fatal yang pernah dilakukannya di masa lalu itu meninggalkan bekas luka yang sangat dalam untuk Evan.
" Aku yang salah, aku yang telah menorehkan luka teramat dalam dan menyakitkan itu kepadamu sampai - sampai kamu membenci kota indah nan romantis itu... " lanjutnya, Evan langsung merengkuh kembali Rayne ke dalam dekap hangatnya, mata Evan juga terlihat berkaca - kaca meski sekuat tenaga ia mencoba untuk terlihat tetap tegar dan selalu berusaha keras untuk melupakan kejadian kelam di masa lalunya itu, meski kini Rumah Tangga mereka sudah sangat bahagia tapi mereka juga tak dapat memungkiri begitu saja jika luka dalam di diri Evan itu masih tetap menganga di dalam palung hati terdalam seorang Evano Gamya Kalandra hingga sekarang.
" Sudah... Jangan lagi membicarakan soal Paris selain tentang galeri dan study Zeevanea. " potong Evan yang tak mau terbawa suasana sangat tidak menyenangkan ini, Rayne pun mengangguk pelan sembari terus mendongak menatap Evan yang juga tengah membungkuk menatapnya.
" Sudah... Lebih baik sekarang kita lanjutkan membuat bakal Adik untuk anak - anak. " ucap Evan sambil cengengesan setelah sesaat tadi keduanya terdiam, Rayne pun jadi tersenyum setelah Evan mengatakan hal itu.
" Terus terang banget Pak Presdir... " ucap Rayne sambil tersenyum melihat sikap Evan yang memang selalu blak - blak an.
" Ya daripada Mas modus... Mending Mas terus terang. " jawab Evan enteng, Rayne semakin tersenyum sambil geleng kepala.
" Kamu juga nih... Jadi Istri udah bertahun - tahun masa iya yang di bawah udah kasih alarm tapi kamunya lempeng aja. " lanjutnya sembari menekan bagian yang mengencang itu yang kebetulan menempel dengan perut Rayne.
__ADS_1
" Mas Evan! " teriak Rayne kemudian keduanya pun beradu ketangkasan.