
Tibalah kini Sandra di Bali... Ia memang sengaja berangkat lebih awal untuk bisa berbicara dengan Evan dan Rayne sebelum acara birthday partynya digelar. Setelah Maura dan Stevano menjemputnya di Bandara, mereka pun langsung bertolak menuju Everic untuk menemui Evan dan Rayne. Setelah mobil yang dikendarai Stevano sampai di parkiran khusus Everic Hotel, ketiganya pun langsung menuju kamar Evan dan Rayne.
Trap... Trap... Trap...
Tok... Tok... Tok...
Rayne yang baru saja bangun dan sedang membuatkan kopi untuk Evan langsung bergegas membuka pintu kamar hotelnya yang baru saja diketuk dari luar.
" Siapa sih pagi - pagi gini udah ketuk pintu... " gumam Rayne sambil berjalan menunju pintu.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
" Hai, Sayangku... " sapa Sandra langsung sumringah kala Rayne baru saja membukakan pintu.
" Loh, kok udah disini aja... " ucap Rayne kaget dengan wajah yang juga terlihat terkejut.
" Masuk dulu, Ma... " sela Stevano mempersilahkan Sandra masuk ke dalam kamar Mommy dan Daddynya.
" Eh, iya... Sampai lupa. " timpal Rayne dan langsung mempersilahkan Sandra untuk masuk juga.
" Nggak cipika cipiki sama Gue, nih? " ucap Sandra dengan wajah sok merajuk.
" Aku belum mandi, San... " jawab Rayne sambil nyengir, mereka berempat langsung berjalan menuju ke ruang tamu.
Trap... Trap... Trap...
" Evan mana? " tanya Sandra sambil menatap berkeliling ke segala arah di ruangan megah dan mewah itu.
" Masih tidur. " jawab Rayne sambil tersenyum.
" Btw, kamu kok udah disini sekarang? " tanya Rayne penasaran akan kemajuan jadual kedatangan Sandra di Bali.
" Iya... Ada yang mau Gue omongin dulu sama Evan, sama Lo juga. " jawab Sandra sembari menghela nafasnya, Rayne pun mengangguk.
__ADS_1
" Bangunin Daddy, Kak... Bilang ada Mama Sandra datang, ada perlu sama Daddy. " perintah Rayne pada Stevano, Stevano pun langsung berangkat menjalankan tugas dari sang Mommy.
Trap... Trap... Trap...
" Maura tolong bangunin Kakak Zee ya, Sayang... Abis ini kita sarapan bareng Mama kamu. " perintah Rayne berpindah pada Maura, Maura pun langsung berangkat.
Trap... Trap... Trap...
" Teo disini... " ucap Sandra dengan wajah yang langsung berubah sendu, ia langsung berucap saat Maura sudah keluar dari kamar.
" Kok kamu bisa tau Teo disini? " tanya Rayne penasaran.
" Aku minta Arm Guard ngikutin Teo. " jawab Sandra dengan menatap nanar ke depan.
" Tapi ya aku beruntung juga karena Teo ada disini. Aku mau minta tolong Evan untuk ngajakin dia dateng ke partyku lusa. " jelasnya, tatapan sendu keduanya pun beradu.
" San... " panggil Rayne pelan, Sandra semakin menatap Rayne, menunggu Rayne meneruskan ucapannya.
" Mas Evan bilang nggak akan pernah mau nyetujuin Maura sama Stevano menikah kalau Teo masih main gila sama Perempuan di luar. " ucap Rayne langsung, ia bingung memikirkan nasib hubungan Stevano dan Maura yang ditentang Evan karena kelakuan bejat Teo.
" Kita semua tau siapa Evan, Rayne... " jawab Sandra sambil tersenyum sekilas.
" Gue rasa Evan juga udah tau kalau Teo disini... Secara Arm Guard dia yang pegang. " lanjutnya, Rayne hanya mengangguk pelan.
" Lagian mana ada Orang Tua yang mau Besanan sama Teo yang masih kaya gitu kelakuannya. " lanjut Sandra menjawab, dan Rayne tidak menyangka jika Sandra akan setuju dengan keputusan Evan.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
" Ya biar Teo ngerasain gimana menderitanya Putri semata wayangnya nanti jika dia tau kalau Evan tak mau memeberikan restunya untuk Stevano dan Maura. " lanjut Sandra diiringu dengan senyum miris.
" Jadi Daddy nggak mau ngerestuin hubungan aku sama Maura? " sahut Stevano cepat, ia baru saja keluar dari kamar bersama Evan dan menuju ke ruang tamu, dadanya langsung berdetak tak karuan, sementara Evan langsung mengecup singkat kening Rayne dan duduk santai di samping Rayne sambil menyulut rokoknya.
" Daddy tega banget tau, nggak! Kita berdua saling cinta, Dadd! Steve serius mau nikahin Maura! " pekik Stevano frustasi, Evan hanya melirik Stevano sambil menghisap dalam batang rokok di sela jarinya.
__ADS_1
" Daddymu ada benarnya, Kak... " sela Sandra berucap lembut pada Stevano.
" Disini Papa Teo yang salah... Papa Teo masih suka bermain Perempuan di luar sana. " ucap Sandra mulai menjelaskan.
" Tapi ini nggak adil buat aku sama Maura, Ma! " pekik Stevano dengan nada meninggi.
" Aku sama Maura serius jalanin hubungan ini, terus gimana sama aku dan Maura kalau akhirnya jadi begini! " lanjutnya kian frustasi, Evan kembali menatap Stevano tajam tapi Stevano tak menghiraukannya.
" Pelankan suaramu, Stevano! " hardik Evan pelan penuh penekanan, kembali menghisap dalam rokoknya.
" Memang Papa Teo yang berbuat salah... Tapi Mama yakin, Daddymu tidak mau begitu saja memberikan restunya untuk kalian menikah karena mempunyai alasan yang jelas. " tegas Sandra, mereka bertiga mengerti bagaimana perasaan Stevano sekarang, tapi tetap saja mereka juga sependapat dengan Evan, mata Stevano nampak berkaca - kaca sembari menatap penuh kecewa terhadap sang Daddy yang terlihat santai dengan rokoknya, Rayne menunduk sejenak untuk menghapus air matanya.
" Kalau kamu nanti menikah dan menjadi Kepala Keluarga, kamu harus paham sebelumnya jikalau tanggung jawab seorang Pria bergelar Suami yang jelas juga adalah sebagai Kepala Keluarga itu berat, dan itu tidak mudah. " ucap Evan santai tapi tegas.
" Kamu masih tanggung jawab Daddy sampai detik ini juga. Wajib bagi Daddy mengingatkan kepadamu tentang segala hal karena Daddy lah yang nantinya akan mempertanggung jawabkan kepada Sang Khalik perihal apa saja yang anggota keluarga Daddy perbuat. " lanjutnya tegas.
" Bagaimanapun juga, nanti Teo juga akan menjadi Papamu kalau nanti kamu menikahi Maura. Dan Daddy nggak mau kalau Teo masih kaya gini. Kelakuan Teo ini bisa jadi contoh buruk buat kamu yang nantinya juga akan menyandang gelar sebagai seorang Kepala Keluarga. " tukas Evan tegas dan jelas mengutarakan alasan penolakannya sembari menatap tegas pada Putra Sulungnya.
" Apa pantas seorang Ayah gila macam Teo dijadikan teladanmu saat nanti kamu menikahi Maura, hmm? " lanjut Evan bertanya tegas kepada Stevano dengan penuh ketegasan, Stevano hanya diam, terus memutar otaknya, berpikir keras akan nasib hubungannya dengan Maura.
" Selama ini Daddy diam karena kalian berdua masih sebatas berpacaran. " lanjutnya menggantungkan ucapannya.
" Tapi kalau untuk urusan menikah... Daddy tidak akan menikahkan anak - anak Daddy sembarangan. " imbuhnya tegas.
" Memang semua ini bukan kesalahanmu dan Maura... Penolakan Daddy ini murni atas dasar kesalahan Teo yang fatal. " ucap Evan lagi setelah menjeda sesaat ucapannya.
" Daddy sudah beberapa kali memergoki Teo bersama Wanita itu, dan Daddy juga sudah berkali - kali memperingatkan Teo untuk berhenti bermain gila dengan Wanita di luaran sana kalau Teo masih menginginkan kamu menjadi Menantunya. " lanjutnya dan tetap menatap tegas kepada Stevano.
" Tapi kembali lagi, keputusan juga tetap berada di tangan Teo. " lanjutnya.
" Kalau sekarang Daddy mengatakan tidak akan menyetujui pernikahan kalian berdua, jangan pernah salahkan Daddy yang terpaksa mengambil keputusan ini. Tapi salahkan Teo yang dengan begitu teganya mengorbankan Maura dan lebih mementingkan kelakuan bejatnya. " imbuhnya tegas penuh penekanan.
" Pikirkan ucapan Daddy! " tegas Evan lagi.
" Daddy tidak mau memberikan restu kepada kalian bukan karena Daddy tidak menyayangi Maura, tapi murni karena kesalahan fatal yang masih Teo lakukan. " imbuh Evan menegaskan.
__ADS_1
Rayne langsung menitikkan air matanya seketika itu juga kala melihat sang Putra menatap penuh kecewa kepada Suaminya. Begitupun Sandra yang juga memikirkan hal yang sama dengan Evan dan Rayne. Meski sejujurnya ia merasa tak tega kepada sepasang Kekasih ini tapi tetap saja, keputusan yang diambil oleh Evan juga sudah tepat menurut pemikiran Sandra. Meski Sandra tetap kekeh untuk tetap menggugat cerai Atreo Jarvis Mallory, tapi tetap saja kebahagiaan Maura di atas segalanya. Setidaknya, meskipun kelak Sandra dan Teo benar - benar berpisah, setidaknya Teo tetap bisa menjadi sosok Ayah yang bisa dibanggakan oleh Maura.