
Saat ini nampak kebekuan menyelimuti ruangan meeting berukuran besar tersebut. Merting yang sudah dimulai ini nampak berjalan alot. Seluruh pemegang saham menolak keras atas pengajuan mundurnya Evan. Meskipun keluarga besar Kalandra adalah pemilik delapan puluh persen atau pemilik saham terbesar pada Kalandra Group tapi tetap saja masih ada orang - orang lain yang juga menanamkansahamnya disana. Mama Rosa yang mengajukan diri sebagai kandidat pengganti Evan pun langsung ditolak mentah - mentah oleh mereka semua meski Mama Rosa adalah keluarga Kalandra. Dan kini, Evan tetap kekeh ingin mengundurkan diri tapi para pemegang saham menolak untuk tetap menghendaki.
Raka juga Eric dan Mama Rosa sebenarnya merasa cukup lega dikarenakan pengajuan pengunduran diri Evan ditolak mentah - mentah oleh para pemilik saham. Dan semakin diberatkan karena seluruh jajaran Direksi petinggi Perusahaan juga tidak menyetujui pengunduran diri Presiden Direktur mereka. Raka yang disodorkan Evan pun juga mendapat penolakan dari mereka meski mereka semua tau siapa sosok Raka. Tetap saja mereka semua menginginkan Evan untuk tetap mengisi posisinya. Kinerja bagus Evan memang sudah tak bisa diragukan lagi. Maka dari itu mereka semua tidak ada yang mau menyetujui pengunduran diri Evan saat ini dan menolak mentah - mentah ketiga kandidat yang hadir untuk menjadi penerus Evan.
Oke kalau kalian tidak mau memberikan persetujuan atas pengunduran diri saya saat ini... Saya akan memberikan waktu, saya harap kalian semua mau memikirkan lagi dan segera mengadakan rapat susulan setelah mempertimbangkan juga keputusan saya. tegas Evan jengah kemudian langsung meninggalkan tempat begitu saja, Evan sudah tidak perduli lagi akan keributan yang sudah jelas pasti akan terjadi di dalam sana selepas ia meninggalkan tempat.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
Brak!!!
Ceklek...
" Maafin Evan, Pa... Evan akan tetap mundur. " ucap Evan tegas sembari menatap sendu pada foto sang Papa yang menggantung di tembok ruang kerjanya, ruang kerja Evan adalah ruang kerja bekas mendiang sang Papa dan Evan tetap membiarkan foto berbingkai besar milik sang Papa menggantung disana.
" Sedih kan kalau udah inget Papa... " ucap Rayne lirih, Rayne yang baru saja menyusul masuk kesana langsung mendekati Evan.
" Nggak usah dimasukin hati ucapan Mama, Mas... " lirih Rayne yang berdiri di belakang Evan, sebenarnya Rayne juga masih takut berhadapan dengan Evan.
" Mama ngomong kaya gitu karena nggak mau kita ribut. " lanjutnya.
" Tolong jangan dicampur sama urusan perusahaan... " imbuhnya.
" Nyekar, yuk... " imbuhnya lagi, Evan langsung berbalik badan kemudian mengangkat satu kardus barang - barang miliknya, keluar dari ruang kerjanya dengan tetap mengabaikan keberadaan Rayne disana, Rayne langsung menghapus cepat air matanya yang baru saja menetes kemudian menyusul Evan keluar.
Trap... Trap... Trap...
" Ngapain bawa begituan? " tanya Nala di depan pintu ruang kerja Evan, seluruh keluarga mereka nampak menunggu Rayne dan Evan di luar pintu ruang kerja Evan.
" Mau bawain? " tanya balik Evan pada Nala, senyum itu terbit kala menatap Nala.
" Nggak usah kaya bocah! Kalau marah sama Mommy nggak usah dicampur sama perusahaan. " tegas Nala.
" Anak kecil tau apa? " tanya balik Evan sambil terkikik dan geleng kepala.
__ADS_1
" Minggir, Daddy mau pulang. " ucap Evan lagi, bahkan anak - anaknya pun nampak tak ada yang disapa oleh Evan.
" Dadd... " lirih Zeevanea sambil menahan tangan Evan, Evan hanya melirik Zeevanea singkat kemudian langsung beranjak, tangan Zeevanea yang memeganginya pun terlepas begitu saja saat Evan beranjak.
Trap... Trap... Trap...
" Enak dicuekin? " tanya sinis Nala pada Zeevanea, Zeevanea langsung menatap tajam pada Nala, hanya saja Zeevanea berusaha meredam emosinya pada Nala.
" Kalian nyakitin Daddy sama juga kalian nyakitin Gue. " tegas Nala kemudian langsung beranjak pergi menyusul Evan.
Trap... Trap... Trap...
Brak!!!
" Stoppp!!! " teriak para Orang Tua beriringan seiring dengan hempasan kaki jenjang Raynevandra ke arah punggung Nala, Nala yang terhuyung dan jatuh langsung bangkit dengan cepat kemudian menatap Raynevandra yang sudah dipegang erat oleh Raka sementara Eric sendiri langsung memposisikan dirinya di depan Nala.
" Maju! " hardik Nala pada Raynevandra meski Papinya sudah berdiri siaga di hadapannya, Raynevandra menatap Nala tajam seolah tak ada takutnya sama sekali.
" Udah! " tegas Eric melerai, Eric menatap tegas kepada Nala.
" Kurang ajar dia, Pi! " pekik Nala menggebu - gebu sambil menatap Raynevandra, dua titisan Evan sedang beradu saat ini.
" Uncle Kaka tolong minggir, lepasin Ray. " ucap Raynevandra sopan, meminta Raka yang memegang erat dirinya untuk melepaskan.
" Jangan diteruskan. " jawab Raka menolak tegas.
" Kami memang bersalah sama Daddy, tapi Abang juga nggak bisa ngehina kami seenaknya seperti ini. " jawab Raynevandra penuh ketenangan dan mata tajamnya tetap mengarah pada Nala.
" Gue nggak akan pernah tinggal diam kalau ada orang yang nyakitin Daddy Gue! " teriak Nala memekik.
" Kalian semua sudah gila! Kalian tega menuduh Daddy seenaknya tapi malah Mommy yang menyakiti Daddy! " teriak Nala murka.
" Apa ini yang namanya keluarga, hah? " lanjutnya bertanya dengan semakin berteriak, beruntungnya lantai teratas itu hanya terdiri dari ruang kerja Eric dan Evan serta Asisten mereka, juga ruang meeting yang tadi digunakan, tapi beruntungnya lagi ruang meeting itu sudah kembali sepi.
Jawab Gue, Raynevandra! teriak Nala semakin kencang.
__ADS_1
" Kita tau kita salah. Tapi kita juga udah minta maaf sama Daddy... Tapi Daddy malah terus menghindar. " sela Stevano ikut angkat bicara.
" Gue nggak lagi ngomong sama Lo! " potong Nala cepat.
" Terus mau Lo sekarang apa? Mau ambil Bokap Gue, iya? " tanya balik Raynevandra dengan wajah angkuh juga menjengkelkan seperti wajah Evan yang biasanya.
" Gue tau Lo haus kasih sayang seorang Ayah! Tapi Lo tetep harus inget kalau Evano Gamya Kalandra itu Bokap Gue! " pekik sinis Raynevandra.
Bangsat!!! teriak Nala murka karena dihina haus kasih sayang, tapi Eric dan Raka pun masih sigap menangani keduanya.
" Lihat, Papi! Kurang apa Papi selama ini sama Lo! Papi ada tapi Lo bersikap seolah Papi nggak pernah perduli sama Lo! " teriak Raynevandra yang berbalik menyerang pada Nala.
" Papi itu Bokap kandung Lo! Tapi tingkah Lo seolah nggak pernah ngganggep Papi ada tau nggak! " bentak Raynevandra dan memang benar adanya jika Nala lebih dekat dengan Evan dibandingkan dengan Eric yang tak lain adalah Papinya Nala sendiri.
" Meskipun kami semua disini salah, tapi kami bukan pecundang yang tak mau mengakui kesalahannya, kami tetap berusaha meminta maaf sama Daddy. Karena kami semua tau, pentingnya arti Daddy buat kami. " lanjut Raynevandra.
" Tapi Lo sama Papi? " lanjutnya bertanya sambil menyunggingkan senyum sinis.
" Sekeras apa pun Papi berusaha untuk deket sama Lo tapi apa balesan Lo? " lanjutnya dan semakin memojokkan Nala.
" Apa ini yang namanya keluarga, hah? " ulang Raynevandra menirukan ucapan Nala.
" Kasih posisi Daddy di Kalandra buat dia, biar dia bisa mikir gimana beratnya perjuangan Papinya selama ini. Biar dia bisa menghargai Bokapnya sendiri sebelum melompat memuja Bokap Gue! " tukasnya kemudian mengibaskan tangan Raka dan beranjak pergi dari sana.
Trap... Trap... Trap...
Prok! Prok! Prok!
" Anak siapa ini pinter banget ngomongnya... Sakit tau nggak di hati. " ucap Evan sambil terkikik, Evan kembali ke atas setelah meletakkan kardus tadi di mobil, dan ketika ia kembali malah mendapati mereka yang di lantai atas sedang berdebat, Raynevandra pun berhenti dan langsung menghampiri Evan.
" Lari aja terus dari masalah! " pekik Raynevandra geram dengan tingkah Daddynya yang malah kabur - kaburan.
" Baru aja nyeramahin Nala sekarang mau ganti nyeramahin Daddy? " tanya balik Evan.
" Kalau udah nggak mau disayangin sama kita pergi aja sekalian! Jangan pernah balik lagi! " tegas Raynevandra tanpa takut.
__ADS_1
" Sumpe, Lu? " tanya balik Evan jahil sambil menatap Raynevandra, tanpa tunggu lama Raynevandra langsung mengapit jadi satu tangan Rayne dan Zeevanea kemudian tangan Devandroe dan Stevano di tanganya yang satu lagi, ditariklah tangan itu menuju keluar oleh Raynevandra.
Trap... Trap... Trap...