
Setelah semalam Evan dan ketiga bocah tampan ini mengobrolkan banyak hal, pagi ini mereka terlihat sedang berada di Pantai yang ada di Bali. Semalam Nicholas juga turut menginap di Everic bersama Stevano juga Nala dan lainnya.
" Mau kemana, Dadd? " tanya Zeevanea saat Evan menggandeng tangan Rayne mengajaknya beranjak dari kerumunan mereka.
" Mau surfing... " jawab Evan.
" Sama Mommy? " timpal Nala antusias juga penasaran.
" Iya... " jawab Evan.
" Mommy beneran mau surfing sama Daddy? " tanya Nala lagi, Rayne pun mengangguk sambil mengulas senyum pada Nala.
" Mommy bisa? " sahut Zeevanea tak percaya.
" Ya kan bisa belajar dulu, Sayang... Ada instrukturnya. " jawab Rayne, Zeevanea pun mengangguk meski sebenarnya merasa ragu.
" Dulu waktu Mommy lagi hamil Geeva, Mommy sempet ngerengek minta main surfing... Dan sekarang Daddy baru bisa kabulin. " ucap Evan, mereka pun mengangguk kompak.
" Ayuk kalau kalian mau main juga... " ajak Rayne, mereka semua para anak pun mengangguk dan mengikuti Rayne dan Evan ke tempat penyewaan perlengkapan Surfing.
Trap... Trap... Trap...
Rayne dan Evan pun bergegas menuju tempat persewaan peralatan Surfing yang ada disana. Setelah sampai disana langsung ada Instruktur yang ditugaskan untuk membantu mereka belajar ilmu dasar Surfing. Anak - anak pun akhirnya turut serta juga karena merasa tertarik, mereka para anak merasa tak mau kalah dengan yang lebih tua pastinya. Sementara menunggu ketiga Perempuan yang bersiap lebih ribet ini, mereka berempat menunggunya sambil mengobrol.
" Om Evan udah lama bisa surfing? " tanya Nicholas pada Evan, mereka sedang bersiap untuk melakukan pemanasan.
" Udah dari SMA. " jawab Evan, Nicholas pun mengangguk.
" Wah sepertinya Om Evan suka sekali olah raga sedari muda. " ucap Nicholas lagi mencoba mengakrabkan diri dengan Evan yang terlihat kaku tapi sebenarnya orangnya asik, Evan hanya mesem mahal.
" Daddy emang suka olah raga, Nic... " timpal Stevano membenarkan.
__ADS_1
" Iya tuh, hampir semua olah raga pernah dicoba sama Daddy dan kebanyakan bisanya. " timpal Nala antusias, Evan hanya tersenyum saja.
" Tapi yang lebih cinta itu sama basket... Dari kecil udah antusias sama basket sampai waktu SMA dan kuliah itu sempet jadi Captain basket. Tapi pas kuliah udah mulai jarang ikut kompetisi, udah mulai sibuk sama Gamyaraa sama nemenin Mommynya anak - anak Modelling juga waktu kuliah. " ucap Evan menjelaskan.
" Hebat banget, Om... Aku aja kadang kalau lagi jenuh sama balap paling cuma main basket atau nggak main bola sama temen - temen. Ya dulu waktu masih sekampus sama Nala sama Steve sering main juga sama mereka. Tapi setelah aku pindah ke Menchester udah jarang banget main basket sama mereka. " puji Nicholas pada Evan juga menjelaskan.
" Kesepian juga kadang kalau lagi di rumah malah nggak ada temen. Ke kantor juga malah tambah pusing dikasi tumpukan berkas yang tulisannya kecil - kecil kaya gitu. " lanjutnya sambil terkikik sendiri.
" Om dulu juga males ngantor kaya Nala... Dan waktu itu lah yang buat Om sering jalan sana sini sama temen - temen sampai akhirnya suka cobain macem - macem olah raga. " jelas Evan, Nicholas nampak memgangguk kagum, Stevano nampak menahan tawanya melihat ekspresi kesal Nala karena Evan menyebutnya malas ke kantor.
" Om Evan pasti jago main Mahjong dong secara kan ada keluarga yang masih asli Jepang... " ucap Nicholas lagi karena notabenenya keluarga Evan berasal dari Jepang dan pasti tak asing dengan permainan ini.
" Almarhum Papa saya dan Papinya Nala yang pinter main Mahjong... Nggak tau kenapa saya malah nggak minat dan males juga mau belajar. Main kartu pun saya juga nggak bisa, nggak minat juga sih. " jawab Evan jujur menjelaskan, ketiga anak ini nampak memperhatikan.
" Tapi bukannya kalau Pengusaha besar itu banyak yang suka main judi sambil bisnis di kapal pesiar, berarti Om Evan enggak dong? " lanjut Nicholas bertanya penasaran, Evan langsung terkikik.
" Pernah lah sesekali ikut, tapi yang main judi bukan saya... Asisten saya yang selalu maju kalau ada acara itu. " jawab Evan.
" Uncle Kaka yang biasanya main Mahjong. Pinter judi lainnya juga dia. " jawab Evan, mereka bertiga pun mengangguk berjamaah.
" Terus yang Daddy nggak bisa apa? " tanya Nala penasaran dan memiliki ide tengik untuk menjatuhkan Evan dengan kekurangan Evan yang coba ia gali ini.
" Judi... " jawab Evan jengah, Nala pun langsung mencebik juga terbahak, memang sebelumnya tadi Evan juga sudah menjelaskan jika Evan tidak bisa sama sekali bermain judi.
" Hahaha... " Nala langsung terbahak, sementara Stevano dan Nicholas nampak tersenyum saja.
" Padahal Eyang Buyut sampai sekarang jago main Mahjong tapi Daddy malah nggak bisa main. " lanjutnya mencibir sambil terbahak.
" Abang juga jago Mahjong loh, Dadd... Tapi aku juga nggak bisa sih meskipun sering liat Abang main Mahjong. " timpal Stevano, Evan langsung menatap sinis pada Nala, dan Nala pun langsung melirik sinis pada Stevano.
" Main Perempuan iya, judi iya, apa lagi yang jelek - jelek yang iya juga? " cibir Evan pada Nala, berawal dari permainan ini pasti ujungnya judi pikir Evan, Nala semakin mendengus kesal.
__ADS_1
" Kaya Daddy dulu nggak pernah mainin Cewe aja! " balas Nala kesal.
" Ya jelas pernah, lah... Kalau nggak pernah ya nggak mungkin juga julukan Cassanova itu ada sama Daddy. " jawab Evan santai dan itu semakin membuat Nala kesal karena Evan berhasil membela diri.
" Tapi inget... " ucap Evan menggantung sembari bersitatap dengan Nala.
" Meskipun julukan Daddy Cassanova, tapi Daddy nggak pernah sekalipun selingkuh. " tegasnya sambil tersenyum miring meledek Nala, seketika itu juga Nala langsung mencebikkan bibirnya semakin kesal dengan Evan yang selalu menang jika berdebat dengannya.
" Nggak usah bawa - bawa selingkuh! " timpal Stevano yang langsung sewot, khawatir Evan dan Nala membawa nama Rayne pada obrolan ini, Evan pun langsung diam.
" Bapaknya aja santai anaknya sewot. " ledek Nala, Stevano diam menatap datar.
" Om Evan tinggal dimana di Jepang? " tanya Nicholas mengalihkan topik perdebatan Stevano dan Nala yang menegangkan.
" Oma Opa saya dulu tinggal di Meguro, tapi mereka pindah ke Danenchofu setelah Papa saya lahir. " jelas Evan.
" Sepertinya Lo suka banget sama Jepang... " sela Nala pada Nicholas.
" Ortu kandung Gue dulu lama di Jepang meski mereka kelahiran Jakarta... Gue sama Brian juga kelahiran Jepang. " jawab Nicholas dengan tersenyum sendu, membayangkan kembali masa - masa indahnya bersama mendiang kedua Orang Tua kandung juga adiknya.
" Gue malah sering pulang kesana daripada ke Jakarta atau Sydney, apa lagi kalau pas kangen sama Nyokap Bokap Gue. Kebetulan Gue juga sering event balap di Jepang. " lanjutnya dengan mata yang berkaca - kaca.
" Ortu Lo sama Papi Dygta hubungan saudara gimana sih, Nic? " tanya Stevano.
" Nyokap Gue itu anak dari Adiknya Ortunya Mami Kinan... Tapi Papi kandung Gue itu sahabatan sama Papi Dygta. Grandpa sama Grandma dari Ortu Gue juga udah pada nggak ada semua sejak Nyokap Gue kecil. " jawabnya.
" Dan sayangnya kedua Ortu Gue juga ninggalin Gue sama Brian waktu Gue masih kecil. " imbuhnya dan langsung menundukkan kepalanya.
" Jangan sedih, dong... " sela Nala dengan wajah sok gahar, Nicholas yang semula sudah menyendu langsung mendongak menatap Nala sembari mengulas senyum sendu.
" Seenggaknya Lo beruntung... Papi Dygta dan Mami Kinan sayang sama Lo dan Adik Lo. " timpal Stevano, Nicholas pun mengangguk.
__ADS_1
" Meski pada kenyataannya Lo sama Zee yang lebih dulu dan sampai sekarang lebih berada di hati Papi... Gue yakin, dan seluruh keluarga Nitinegara tau itu. " jawabnya sambil tersenyum sendu, Evan yang semula diam mendengarkan langsung membuang muka dan meraup wajahnya diiringi dengan desah nafas kasar.