
Hari ini pagi - pagi sekali Evan sudah bangun, ia meninggalkan Rayne yang masih terlelap bergulung dengan selimut tebal mereka. Setelah gogok gigi dan mencuci muka, tak lupa menenggak segelas air 0utih juga, Evan pun langsung berganti pakaian dan beranjak turun.
Trap... Trap... Trap...
Setelah pemanasan juga beberapa kali berlari mengelilingi rumah megahnya, Evan pun mengambil perlengkapan basket dari gudang tempat penyimpanan atribut - atribut olah raganya dan langsung kembali ke lapangan basket. Bapak lima anak ini pun langsung bergerak mengitari lapangan basket dengan mendrible bola basket dengan santainya. Dari geraknya dapat disimpulkan bahwa Evan tetap terlihat piawai mengendalikan pantulan bola basket tersebut meski usianya sudah tidak bisa lagi dibilang usia muda.
Trap... Trap... Trap...
" Rajin bener, Capt... " seru Eric yang baru saja turun ke bawah dan tak sengaja menjumpai Evan di lapangan basket ketika ia sedang berjalan - jalan di area belakang rumah Evan.
" Lagi pengen aja... " jawab Evan santai, Eric pun turut bergabung disana.
Trap... Trap... Trap...
" Ya elah, Gue keduluan Aki - Aki. " celetuk Nala yang baru saja kesana dengan pakaian basket lengkapnya.
" Aki - Aki yang mana, Bang? " tanya Evan sembari mencoba merebut bola basket yang kini tengah dikuasi Eric.
" Daddy, lah! " pekiknya santai dengan wajah bengal kemudian mendekat ke arah Papi dan Daddynya yang masih berebut bola basket lalu ikut merebut bola basket tersebut.
" Kalau Daddy Aki - Aki, lalu Papimu apa? " tanya Evan tak mau kalah, tapi Nala dan Eric hanya diam tak mau menanggapi pertanyaan Evan.
Brak!!!
" Yazzz!!! " teriak Evan heboh kala ia berhasil merebut bola basket tersebut dan memasukkannya ke dalam ring basket, Eric yang lebih dekat dengan arah gelinding bola basket itu langsung mengambilnya.
" Masa yang muda kalah sama Aki - Aki? " ledek Evan dengan seringai menyebalkannya, Nala pun langsung mencebikkan bibirnya.
" Kebetulan aja sombong! " ledek Nala.
" Nantangin ini? " sungut Evan sambil terkikik dan merasa tertantang.
" Boleh... " jawab Nala santai.
" Ayo Nala jabanin. " jawab Nala antusias, Eric pun langsung menyerahkan bola basket tersebut kepada Putranya.
Trap... Trap... Trap...
" Eh, udah pada ngumpul disini... " celetuk Stevano yang baru beranjak ke lapangan basket dengan pakaian basket lengkap.
" Wasitin, Kak! Abang nantangin Daddy maen basket nih. " teriak Evan.
__ADS_1
" Papi aja Wasitnya. " jawab Steve karena ia masih akan melakukan pemanasan, dan setelah meletakkan botol minumnya di meja yang berada di pinggir lapangan, Stevano pun segera melakukan pemanasan.
Trap... Trap... Trap...
" Mas Evan!!! " teriak Zeevanea heboh sembari berlari ke arah lapangan basket.
" Hwakakaka... " tawa Nala pecah seketika ketika ia mendengar suara Zeevanea memanggil Daddynya seperti itu, Eric dan Evan pun terkikik bersama dan langsung menggelengkan kepala bersamaan.
" Mommy! Anakmu kurang ajar, nih!!! " teriak Evan tak mau kalah dengan menahan tawanya, meski Rayne tak berada disana.
" Ngadu! " cibir Zeevanea, Nala pun semakin terbahak.
Cup...
" Apaan? " tanya Evan setelah Zeevanea mengecup singkat bibirnya.
" Kunci mobilku dimana? " tanyanya sembari menengadahkan tangan ke arah Evan.
" Di tempat kunci, lah! Ngapain juga Daddy bawa kunci mobilmu. " jawab Evan dengan wajah menjengkelkannya.
" Nggak adaaa Daddykuuu, Sayangkuuu... " rengek Zeevanea dengan mengerucutkan bibirnya sembari menggoyang - goyang lengan Evan.
" Kamu ke galeri kemaren pakai mobil siapa? " tanya Evan.
" Pakai mobil aku, lah... " jawabnya sambil mecucu, wajahnya terlihat menggemaskan.
" Ya terus sekarang kunci mobilnya nggak ada, Mas Evan! " kesal Zeevanea karena Evan malah bertanya dengan santainya, Evan langsung menggelengkan kepalanya sembari menahan tawa.
" Lo pulang dari galeri kemaren dianter sama siapa? " celetuk Stevano tiba - tiba, mereka semua yang beberapa saat lalu menghentikan basketnya langsung menatap Stevano.
" Sama Arkana sama Aunty Noela. " jawabnya santai.
" Hwakakaka... " Stevano, Evan, Nala, dan Eric langsung terbahak bersamaan, Zeevanea hanya tolah - toleh oon dengan semakin mengerucutkan bibirnya karena tak sadar akan yang dilakukannya itu.
" Anaknya Mas Evan satu ini ternyata bukan cuma barbar, tapi ternyata oon juga! " celetuk Nala sambil memegangi perutnya yang terasa kaku karena kelamaan tertawa terpingkal.
" Abang, ih! " ketusnya sembari menghentak - hentak kaki.
" Lo anak didiknya. " timpal Stevano pelan, Nala pun semakin terbahak, Evan hanya melirik kepada Nala dan Steve.
" Lagian mau kemana pagi - pagi gini udah nyari kunci mobil, anak cantik? " tanya Eric.
" Aku mau nyuruh Pak Herman nyuciin, Pi... Soalnya nanti siang mau aku pakai. " jawabnya dengan masih mengerucutkan bibirnya, Evan dan Eric saling pandang sambil menahan senyum.
" Mobil di garasi banyak jangan kaya orang susah Lo, barbar! " ucap Nala dengan santainya dan dengan wajah menjengkelkannya.
" Btw, Lo mau kemana emangnya? " lanjut Nala bertanya.
__ADS_1
" Bukan urusan Lo! " ketusnya karena Nala baru saja menggodanya jadi Zeevanea masih kesal.
" Serah Lo dah! " jawab Nala dan langsung kembali ke lapangan basket diikuti oleh Stevano.
Trap... Trap... Trap...
" Mommy nyembunyiin kunci mobil aku? " tanya Zee berpindah pada Rayne yang sedang berjalan ke arah mereka bersama Sea.
" Buat apa Mommy nyembunyiin kunci mobil Adek? " tanya balik Rayne, Sea hanya tersenyum melihat ekspresi Zee.
" Mommy bawa mobil aja nggak bisa. " lanjutnya, Zee masih saja terlihat melipat wajahnya.
" Belajar dong, Momm! " celetuk Nala.
" Udah dari dulu kali Bang kalaupun Mommy mau belajar, tapi yang ada Daddymu bakalan mencak - mencak. " jawab Rayne sembari mendaratkan bokongnya di samping Evan duduk, Sea pun turut duduk disana tapi di kursi yang lain.
" Nggak bisa bawa mobil aja kaburmu ke luar negri, apa lagi bisa bawa mobil pasti malah malah kabur ke luar angkasa. " celetuk Evan tak mau kalah dengan wajahnya yang menjengkelkan.
" Wah, wah... Ini nih... " celetuk Nala lagi, mereka semua langsung menatapnya.
" Ternyata titisan Bapaknya kalau Zee jadinya oon begini. " lanjut Nala dengan santainya.
" Nala... " lirih Eric, Nala hanya mencebik, sementara Evan menatap Nala penuh tanya.
" Kalau ke luar angkasa itu yang dibawa bukan mobil, Mas Evan... " jelasnya logis, mereka semua langsung terbahak.
" Hahaha... " tawa mereka semua menggema kecuali Evan yang menatap sinis pada Nala.
" Mulai kapan sih Steve, Astronot ke angkasa naik mobil? " tanya jahil Nala, Stevano tak berani menjawab tapi ia terlihat menahan tawanya.
" Mulai sekarang! " ketus Evan dan langsung beranjak dari duduknya.
" Eh, eh... Aki - Aki ngambekan. Kebanyakan micin, ya... " ledek Nala pada Evan, Eric terlihat menggelengkan kepalanya.
" Bodo amat! " ketus Evan dan langsung meraih tangan Rayne, ingin membawanya pergi dari sana, Rayne hanya menurut saja.
Trap... Trap... Trap...
" Loh mau kemana? " celetuk Nala lagi.
" Mau ke bulan bikinin Adek Zeevanea. " pekik Evan sembari tetap melangkah bersama Rayne yang digandengnya, Eric dan Sea langsung geleng kepala, sudah menduga Evan akan mengajak Rayne untuk menbuat Adik untuk anak - anaknya.
" Daddy!!!!! " teriak Zeevanea geram, malah sekarang Daddynya menyinggung soal Adik lagi.
" Kenapa? " tanya Sea sambil menarik Zee ke pangkuannya.
" Aku nggak mau punya Adik lagi, Mi. Malu tau nggak. " jelasnya sembari mengerucutkan bibirnya, Sea dan Eric hanya tersenyum.
" Aku udah segede gini masa iya Daddy sama Mommy mau kasih kita Adik bayi lagi. Nanti kalau aku nikah dan punya Anak malu banget lah kalau Anak aku nanti sepantaran sama Adik aku. " jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
" Emang Lo punya Pacar pakai ngomongin begituan? " sahut Nala jahil.
" Emang Lo aja yang bisa gonta - ganti Perempuan? " sinis Zeevanea tak mau kalah, seketika itu juga mereka semua terdiam, Nala dan Zeevanea nampak beradu pandang dengan tatapan yang sama - sama sulit diartikan.