Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 149 - No And Never


__ADS_3

Setelah pembicaraan penting juga panas ini usai, Rudiansyah Armaya langsung bergegas pulang tanpa Richie karena Richie masih harus membahas perkara pekerjaan dengan Eric.


" Dygta tadi nyariin Lo ke kantor, Dek... " ucap Eric disela perbincangannya dengan Richie perihal pekerjaan.


" Udah ketemu, Gue. " jawab Evan.


" Mau ngapain Dygta nyariin Lo? " tanya Richie, Evan pun menceritakan kejadian siang tadi di galeri.


Flashback On :


Tok... Tok... Tok...


" Siapa sih, ganggu aja! " pekik Evan kesal karena pintu ruang kerja Istrinya tiba - tiba diketuk dari luar, bagi keduanya pembicaraan ringan tapi menenangkan seperti ini sudah cukup mengutarakan bentuk quality time mereka.


Ceklek...


" Ada yang harus saya bicarakan dengan Pak Evan. " ucap Dygta tegas dan menahan pintu yang akan kembali ditutup oleh Evan.


" Saya tidak punya urusan dengan anda. " jawab Evan angkuh.


" Saya hanya ingin meminta maaf soal kejadian tempo hari. " jawab Dygta langsung mengutarakan maksud kedatangannya.


" Sampai kapan pun kita tidak akan pernah berdamai meski berjuta kata maaf telah terucap. " jawab Evan.


" Rasa sakit yang saya rasakan akibat ulah anda sudah cukup membuat saya bersabar. " lanjutnya menyalahkan Dygta meski dalam masalah mereka pun sebenarnya Rayne juga bersalah.


" Siapa, Mas Sayang? " tanya Rayne dari dalam ruang kerjanya.


" Bukan siapa - siapa, Sayang... " jawab Evan dengan suara lembut tapi tetap saling bersitatap dengan Dygta.


" Keluar dari sini sekarang juga sebelum kesabaran saya habis! " tegas Evan.


" Saya mencari Pak Evan karena saya ingin meminta maaf kepada Pak Evan... " jawab Dygta jujur.


" Baiklah... Pak Evan memaafkan atau tidak itu bukan lagi kuasa saya. Meski saya juga berharap kita bisa berdamai atas semua luka di masa lalu yang pernah sama - sama kita rasakan karena mencintai Perempuan yang sama. " lanjutnya.


" No! And Never! " pekik Evan pelan penuh penekanan sambil mencondongkan wajahnya ke depan wajah Dygta.


" Dan saya pastikan, Niggar Company akan kembali hancur seperti dulu jika anda tetap bersikeras mengusik Rumah Tangga saya dan Istri saya. " imbuhnya sambil tersenyum smirk, Dygta nampak tersenyum juga, ia menyadari jika ia salah dan kini ia datang untuk meminta maaf meski Evan menolaknya setidaknya ia sudah menunjukkan itikad baiknya untuk meminta maaf penuh dengan ketulusan, meski tak dapat dipungkiri jikalau ucapan Evan sangatlah menyakitkan mengingat cintanya kepada Rayne masih bertahta indah seperti dulu kala.


" Saya permisi... " jawab Dygta dengan senyum ambigu kemudian langsung beranjak meninggalkan Evan yang sebenarnya penasaran dengan arti senyuman dari Dygta.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


Flashback Off :


" Jadi Rayne nggak tau Dygta datang ke galeri? " tanya Eric, Evan menggeleng, Eric dan Richie pun kembali serius dengan pembahasan pekerjaan mereka meski sebenarnya ini adalah tanggung jawab Evan yang memang sebagai Presiden Direktur Kalandra Group.


Keesokan paginya, Mama Rosa dan Bunda Sekar juga Mami Astri yang semalam baru mengetahui hal ini langsung meminta Rayne untuk membawa mereka bertemu dengan Alexandra. Rayne pun mengiyakan dan mereka pun bergegas ke Rumah Sakit bersama - sama setelah Evan dan Rayne menjemput mereka.


Bruuum... Whuuussszzz...


" Kamu nggak ngantor, Van? " tanya Mami Astri karena pagi ini Evan mengenakan pakaian tidak formal, Mami Astri adalah Istri dari Kakak kandung Ayah Rudi.


" Aku udah ngajuin resign, Mi... Ya meski belum di acc. " jawab Evan seadanya.


" Loh, loh... Memangnya kenapa? Mau kerjain project baru apa lagi memangnya sampai tinggalin Kalandra? Sayang banget Kalandrq kamu tinggal. " tanya Mami Astri tak menyangka akan keputusan resignya Evan.


" Mau jadi Bodyguarnya Rayne aja. " jawab Evan sekenanya tanpa menyangkut pautkan permasalahannya dengan Mama Rosa sebelumnya agar Mama Rosa tidak sampai malu dengan Besannya.


" Terus Kalandra gimana? Sayang banget loh, Van... Kalandra berkembang pesat tapi kamu lepas. " lanjut Mami Astri bertanya kian penasaran.


" Ada Kak Eric. " jawab Evan.


" Karena kamu hamil jadi kamu mau deket - deket Evan terus sampai nyuruh Evan resign, Dek? " tanya Bunda Sekar pada Rayne.


" Mas Evan yang mau... Aku sih terserah aja kalau Mas Evan mau jadi Pengangguran. Itu pun kalau Mas Evan nggak malu lihat aku kerja. " jawabnya setengah menyindir Evan.


" Ya udah kamu nggak usah kerja juga. Orang aku juga nggak pernah nyuruh kamu kerja. " jawab Evan enteng.


" Galerimu serahin sama Noela dan Moza... Beres. " lanjutnya tetap santai.


" Enak aja jadi Pengangguran ajak - ajak. " jawab Rayne sewot, sejak hamil kali ini Rayne memang menjadi cerewet dan lebih berani berbicara, berbeda dengan kebiasaannya sebelumnya jika Rayne adalah sosok pendiam.


" Orang aku juga nggak pernah nyuruh kamu kerja... Salah sendiri juga pakai acara bikin galeri segala. Dan meskipun aku nggak kerja, kamu juga nggak usah khawatir nggak bisa makan. " jawab Evan yang malah menyalahkan Rayne.


" Sudah, sudah... " sela Bunda Sekar melerai, sedari tadi Mama Rosa hanya diam, Mama Rosa tau jika Evan menutupi permasalahan mereka.


Tak lama berselang, akhirnya sampailah mobil yang dikendarai oleh Evan di area Rumah Sakit milik keluarga Armaya. Mereka semua langsung turun dan berjalan menuju ruang perawatan yang dihuni Alexandra. Ketika mereka semua berjalan, nampak semua jajaran Karyawan juga Dokter yang melihat kedatangan mereka langsung menundukkan kepala memberikan hormat kepada anggota keluarga Armaya yang memang pemilik dari Rumah Sakit ini.


Tok... Tok... Tok...


" Ada tamu, Mi... " ucap Alexandra yang baru saja selesai bebersih diri dibantu oleh Maminya.

__ADS_1


Mami buka pintu dulu. jawab Mami Alexandra dan langsung bergegas.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


" Asslamualaikum... " ucap Rayne memberi salam ketika Mami Alexandra membukakan pintu untuk mereka.


" Eh, waalaikum salam... " jawab Mami Alexandra sedikit salah tingkah karena Rayne tidak datang bersama Evan saja.


" Mari, masuk... " lanjutnya mempersilahkan mereka semua masuk ke dalam, setelah sampai di dalam barulah Mami Alexandra bersalaman juga bercipika - cipiki dengan para Perempuan, sementara Evan langsung duduk di sofa yang ada disana.


Trap... Trap... Trap...


" Ini Mama Mertua saya, ini Bunda saya, dan ini Mami saya Istri dari Kakak Ayah saya. " ucap Rayne memperkenalkan Mama Rosa, Bunda Sekar, juga Mami Astri.


" Saya Maminya Alexa. " jawab Mami Alexandra membalas perkenalan dirinya, mereka pun saling bertukar senyum ramah.


" Salim dulu sama Oma semua. " ucap Mami Alexandra pada Alexandra, Alexandra pun langsung mencium punggung tangan para Omanya juga punggung tangan Rayne juga.


" Ray sekolah? " tanya Mama Rosa sambil menatap Mami Alexandra.


" Iya, Bu... Ray sudah berangkat ke sekolah. " jawabnya seadanya.


" Jadi Ray nginep disini? " tanya Bunda Sekar menimpali.


" Ray ikut menjaga Alexa disini, Bu... " jawabnya, mereka pun mengangguk.


" Opa Baby anteng banget... Nggak disapa Cucunya... " ucap Mama Rosa mencibir Evan yang sedari datang langsung duduk di sofa tanpa menghiraukan mereka semua.


" Siapa juga yang mau dipanggil, Opa! " jawab Evan sewot dan tetap menatap pada ponsel di tangannya, Mami Alexandra dan Alexandra nampak saling pandang setelah mendengar ucapan Evan.


" Mas Evan nggak mau dipanggil Opa, Mam... Minta dipanggil Daddy aja sama Cucunya. Biar awet muda katanya. " sanggah Rayne meluruskan, Rayne juga terlihat tak enak karena Evan tak menghiraukan calon Besan juga calon Menantunya.


" Aku tinggal dulu, nanti kalau mau pulang telpon aja. " ucap Evan dan langsung beranjak setelah menyempatkan mencium kening dan mengusap lembut perut Rayne, lagi - lagi Mami Alexandra dan Alexandra sendiri merasa jika sikap romantis Raynevandra adalah turunan dari Evan.


Trap... Trap... Trap...


" Maaf ya Mami Alexa kalau sikap Evan seperti tidak menghiraukan... Tapi sebenarnya kalau sudah kenal sama Evan pasti tau kalau Evan itu sebenarnya sangat penyayang walaupun sejatinya Evan memang keras. " ucap Mama Rosa sungkan.


" Tak masalah, Bu... Saya paham, anak saya dan Cucu Ibu memang melakukan kesalahan. Wajar saja kalau Pak Evan juga kecewa dengan anak - anak. Saya dan Suami pun sebenarnya juga sangat menyayangkan kejadian ini. Tapi ya kembali lagi kami juga harus tetap memberikan semangat buat Lexa agar tidak terpuruk setelah mengetahui kabar kehamilannya. " jawab Mami Alexandra panjang lebar penuh ketulusan, kini gantian para Oma Tua ini yang menganggukkan kepala serempak.

__ADS_1


" Tolong dimaklumi sikap Evan ya, Mami Alexa... Kamu juga ya, Lexa... " lanjut Mama Rosa, Mami Alexandra kembali mengangguk bersamaan dengan Alexandra.


__ADS_2