
Trap... Trap... Trap...
" Mas... Mas Evan... " teriak Rayne memanggil nama Suaminya sembari berjalan cepat masuk ke dalam kediaman utama Keluarga Kalandra, rumah nampak sepi, anak - anak pun nampak membuntuti Mommynya dalam diam, Rayne langsung berjalan menaiki tangga setelah melihat suasana di lantai bawah itu sepi.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
" Mas... " panggil Rayne cepat sembari membuka pintu kamarnya dengan Evan, kepalanya langsung celingukan karena kamar mereka nampak sepi, ranjang pun tetap rapi, hanya saja Rayne melihat sepatu bekas pakai Evan yang tergeletak asal di bawah meja.
" Oma tadi bilangnya Daddy bobo kan, Momm? " tanya Zeevanea yang juga ikut celingukan, Rayne hanya mengangguk makin resah.
" Kamar ini nggak ada ruang rahasianya kaya di rumah, Momm? " sela Raynevandra yang dari tadi sudah terlihat menekan - nekan dinding di dalam kamar, Rayne langsung menggeleng.
" Di kamar mandi sama walk in closet juga nggak ada. " timpal Stevano yang sudah mengeceknya terlebih dahulu, Rayne langsung beranjak keluar menuju kamar Mama Rosa, anak - anak pun langsung mengukutinya lagi.
Tok... Tok... Tok...
" Mama... Ini Rayne, Ma... " ucap Rayne sambil mengetuk pintu kamar Mama Rosa.
" Mam... " panggilnya lagi, Zeevanea nampak tak sabar dan langsung bergerak membuka pintu kamar Omanya lalu masuk tanpa permisi.
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Oma... " liirh Zeevanea yang langsung membangunkan Mama Rosa yang tengah tertidur.
Eumhhh... Mama Rosa melenguh sembari mengerjap, lalu mentap barisan mereka satu - persatu dengan menajamkan perlahan pandangannya.
" Daddy mana, Oma? " tanya Zeevanea tak sabar, sementara yang lainnya nampak bergantian bercipika - cipiki dengan Mama Rosa.
" Daddymu ke rumah Eyang... Jalan kaki kesana tadi kata Pak Satpam. " jawab Mama Rosa pelan sambil mengumpulkan kesadarannya, dan memang tadi Mama Rosa juga mencari Evan yang tak ada di dalam kamar ketika Raka hendak berpamitan untuk pulang.
" Maaf ya Ma kalau kita jadi bangunin Mama... " lirih Rayne sungkan.
" Nggak papa, Sayang... Lagipula ini juga sudah sore. " jawab Mama Rosa.
Mommy tunggu sini aja, aku mau panggil Daddy dulu di rumah Eyang. ucap Zeevanea, Rayne pun mengangguk lalu Zeevanea pun bergegas, sementara Raynevandra langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengirim pesan kepada Alexandra yang tadi juga sudah diantarkan pulang terlebih dahulu.
Trap... Trap... Trap...
" Kalian baru pulang? " tanya Mama Rosa pada mereka semua, mereka mengangguk.
" Iya, Mam... Abis itu langsung kesini. " jawab Rayne kikuk, ia merasa Mama Rosa sudah mencium gelagat tidak beres pada mereka.
" Ya sudah kalau mau mandi ya mandi, kalau mau istirahat dulu juga silahkan. " jawab Mama Rosa, Rayne pun mengangguk.
__ADS_1
" Ini hapenya Daddy, Oma? " tanya Devandroe yang akan ikut rebahan bersama Raynevandra tapi tak sengaja melihat ponsel Evan tergeletak di atas nakas.
" Iya. " jawab Mama Rosa, Devandroe pun langsung memberikan ponsel tersebut kepada Rayne.
" Pantesan ditelponin nggak bisa, baterainya habis. " ucap Rayne, Mama Rosa langsung tersenyum.
" Mama mau mandi dulu... Kalian kalau mau istirahat ya istirahat dulu sana, kalau mandi ya mandi baru istirahat. " ucap Mama Rosa mengulang ucapannya semula.
" Aku mau tidur disini aja, males mau jalan ke kamar lagi, capek. " sahut Raynevandra, mereka semua pun langsung bubar jalan ke kamar masing - masing kecuali Raynevandra.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
Rayne yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan Evan langsung duduk di sofa yang ada di dalam kamar. Matanya yang menerawang tanpa sengaja menatap pada sebuah bingkai pigura berisikan sebuah foto pernikahannya yang pertama dengan Evan, dan peenikahan itu adalah perhelatan sederhana yang diberlangsungkan di rumah susun tempat dulu Rayne tinggal, sebelum pernikahan ulang mereka digelar ketika anak - anaknya sudah ada. Masih ada potret diri sang Papa Mertua disana.
Setelah beberapa saat terdiam di dalam kamar, Zeevanea masuk kesana setelah kembali dari rumah Eyang Alam.
Trap... Trap... Trap...
" Daddy pergi... " ucap Zeevanea dengan wajah sendu, ia langsung duduk di samping Rayne tanpa Rayne sadari.
" Astaga, Zeevanea! " pekik Rayne terkejut sambil memegangi dadanya, keduanya pun langsung bersitatap.
" Tapi tadi Daddy kesana, kan? " tanya balik Rayne penasaran, Zeevanea langsung mengangguk.
" Kesana cuma bentar terus pergi lagi katanya ada yang kelupaan. " jelas Zeevanea menirukan ucapan Kakeknya tadi.
" Ya sudah, nggak papa... Mungkin Daddy ada urusan mendadak. Kita tunggu saja Daddy pulang. " jawab Rayne yang ikutan menyendu.
" Kamu mandi dulu gih, abis itu istirahat sambil nunggu waktunya makan malam nanti. " ucap Rayne, Zeevanea pun langsung kembali keluar dari dalam kamar Rayne dan Evan menuju ke kamarnya sendiri, sementara Rayne sendiri pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk bebersih, tak lupa sebelumnya mencharger ponsel Evan.
Trap... Trap... Trap...
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian juga berias tipis, Rayne pun menyalakan ponsel Evan sambil duduk berselonjor di atas tempat tidur untuk membuka isinya. Dan tanpa disangka, tak lama kemudian ponsel itu berdering dan menampakkan nomor asing disana. Nomor dengan kode area Jakarta berkedap - kedip di layarnya.
Rayne :
Ya, halo...
ucap Rayne.
Evan :
Kamu sudah di rumah Mama?
__ADS_1
pekikan tanyanya langsung menguar setelah mendengar suara si Pengangkat panggilan di ponselnya yang diyakini masih tertinggal di dalam kamar sang Mama.
Rayne :
I...ya, Mmm...masss...
ucap Rayne terbata, panggilan itu pun langsung terputus begitu saja, tapi Rayne masih termangu bingung di tempatnya.
Tut... Tut... Tut...
Rayne kembali termenung dalam diam di dalam kamar hingga beberapa saat. Tapi kemudian ia merasakan sedikit nyeri di bagian perutnya. Lamunan itu pun buyar seketika apa lagi ketika ia tersadar bahwa kini ada janin di dalam perutnya. Ia langsung meletakkan kembali ponsel Evan dan mengusap perutnya yang terasa bergejolak.
" Sayangnya Mommy... Baik - baik di dalam sini ya, Nak... " lirih Rayne sambil mengusap lembut perutnya, juga mendesis pelan merasakan nyeri yang dirasanya.
" Daddy sebentar lagi pasti pulang, Sayang... Adek kangen Daddy, hmmm??? " lanjutnya terus berbicara pada janin di dalam perutnya juga menahan rasa nyeri itu yang nyatanya masih tetap terasa, sebenarnya Rayne juga mulai merasa khawatir tapi Rayne terus berusaha menenangkan dirinya.
Ceklek...
" Makan malam dulu, Sayang... " ucap Mama Rosa yang langsung masuk ke dalam kamar Rayne dan Evan.
" Iya, Mam... Ssshhh... " jawab Rayne sambil mendesis pelan.
" Kamu kenapa? " tanya Mama Rosa yang terlihat khawatir.
" Perut aku rasanya nyeri, Mam... " jawab Rayne sambil meringis juga memegangi perutnya.
" Cucu Oma cari Daddy ya, Sayang? " ucap Mama Rosa dan langsung ikut mengusap lembut perut Rayne yang masih rata.
" Daddy sebentar lagi pasti pulang... Sabar, ya... " ucap Mama Rosa lagi, Mama Rosa juga sudah diberitahu oleh Zeevanea jika Rayne tengah mengandung kembali.
" Apa mungkin efek naik pesawat tadi? " tanya Mama Rosa pada Rayne.
" Mungkin, Mam... " jawab Rayne lirih.
" Evan ini kemana juga belum pulang sampai sekarang. " lanjut Mama Rosa menggerutu sendiri merasa kesal dengan Evan.
" Udah tau Istrinya hamil muda malah pulang duluan dari Bali. " lanjutnya kian kesal, Rayne hanya menatap Mama Mertuanya dengan tatapan yang kian menyendu.
" Ayo makan malam dulu, kasihan Cucu Mama... " ucap Mama Rosa lagi.
" Aku nunggu Mas Evan aja, Mam... Kayanya udah pulang, barusan nelepon. " jawab Rayne yang sebenarnya takut untuk bergerak karena kini perutnya terasa semakin nyeri.
" Kamu harus cepat makan, Sayang... Kasihan ini Cucu Mama. Apa lagi kamu baru saja tiba dari perjalanan jauh ditambah sekarang perutmu terasa nyeri. " ucap Mama Rosa khawatir.
" Kali ini Mama akan memaksa, biar Bibi antarkan makan malam untukmu kemari. " tegas Mama Rosa sambil mdnatap dalam, Rayne pun mengangguk barulah Mama Rosa beranjak keluar.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1