Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 154 - Sakitnya Kekecewaan


__ADS_3

" Mas... " panggil Rayne pada Evan, keduanya masih berada di dalam kamar hingga sore menjelang, kini keduanya baru saja bangun tidur, makan siang tadi pun diantarkan oleh Pembantu ke kamar karena Evan mengharuskan Rayne untuk beristirahat, dan sepiring nasi yang diantarkan oleh Zeevanea pagi tadi pun menjadi sarapan sepiring berdua untuk mereka.


" Hmmm... " jawab Evan dengan tetap duduk di sofa dan menunduk membalas pesan wasaap dari Jeffry.


" Kok cuma hmmm aja? " protes Rayne yang sedang kumat manjanya.


" Apa, Sayangkuuu? " jawab Evan lagi mengulangi jawaban panggilan Rayne tapi tetap fokus menunduk menatap ponselnya.


" Taruh dulu hapenya, aku mau ngomong serius. " protes Rayne lagi.


" Bentar, Jeffry lagi ngomong serius. " jawab Evan dan masih menatap serius pada ponselnya.


" Mas Evan, ih! " pekik Rayne merajuk.


" Iya, iya! " jawab Evan cepat dan langsung meletakkan ponselnya meski Evan belum selesai mengetikkan pesan wassap balasannya kepada Jeffry, Evan pun berjalan menghampiri Rayne ke atas ranjang.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


Brughhh!!!


" Mau ngomong apa? " tanya Evan langsung dan sudah berpindah posisi ke atas tempat tidur bersama Rayne setelah melemparkan dirinya ke atas ranjang meski ada Rayne disana, kini keduanya duduk berdua dan Evan memberikan lengannya untuk Rayne bersandar meski sudah ada headboard ranjang yang kini disandari mereka, suara pintu kamar terbuka pun tak terdengar karena berbarengan dengan suara tubuh Evan yang terhempas ke atas ranjang.


" Apa nggak sebaiknya kita segera melamar Alexandra? Perutnya keburu besar, Mas... " ucap Rayne bertanya serius kepada Evan.


" Jadi semalem anakmu pulang karena ini? " tanya balik Evan, mata Rayne nampak berkaca - kaca setelah mendengar Evan masih menyebut Raynevandra anaknya saja.


" Ya udah tanyain anakmu mau dianterin ngelamar kapan. " lanjutnya menjawab malas.


" Mas! Raynevandra itu anak kita, bukan anak aku aja! " jawab Rayne memekik tapi wajahnya nampak sendu, Evan yang semula menatap Rayne langsung berpindah menatap lurus ke depan.


" Mas Evan nggak mau akui sekalipun Raynevandra Gamyara Kalandra tetap Bin Evano Gamya Kalandra. " tegas Rayne.

__ADS_1


" Iya terus mau ngelamar kapan? " tanya balik Evan dengan nada sedikit nyolot dan tetap enggan membahas Raynevandra, Rayne nampak menatap sedih kepada Evan yang tetap bersikap acuh perihal Raynevandra.


" Aku tau Mas Evan kecewa sama Ray... Aku pun juga sama... " ucap Rayne lagi memulai kembali membahas Raynevandra, Rayne menggenggam erat tangan Evan.


" Kalau Mas Evan bilang Ray bikin malu Mas Evan karena kesalahannya ini aku juga sama malunya dengan Mas Evan, aku Ibunya. " lanjutnya dan menolehkan wajah Evan agar menatap kepadanya.


" Tapi bagaimanapun juga Raynevandra tetap Putra kita... Putra kesayangan kita, Putra kesayangan Mas Evan tentunya kalau Mas Evan lupa. " lanjutnya lagi, Evan kembali menegakkan kepalanya dan menatap ke depan.


" Maafin Raynevandra, Mas... Aku mohon... Ampuni Putra kita. Bawa Putra kita kembali pulang ke rumah... Restui Raynevandra... Turunkan egomu, tolong mengalahlah demi Cucu kita. " lanjutnya lagi dengan menatap mengiba pada Evan.


" Rasa sakit karena kekecewaan itu lebih terasa menyakitkan apabila dibandingkan dengan rasa sakit karena dendam dan amarah. " jawab Evan datar.


" Itulah yang aku rasakan sekarang. " lanjut Evan pelan tapi penuh ketegasan, tatapan lurus ke depan itu semakin terlihat nanar.


" Dan kini Putra kesayanganku yang selalu aku banggakan di hadapan semua orang ternyata tega mengecewakanku hingga sedemikian dalam. " lanjutnya lagi, mata tajam bak elang itu mulai terlihat berkaca - kaca.


" Tahu kah kamu betapa hancurnya hatiku saat ini? " tanya balik Evan melanjutkan ucapannya, menoleh sekilas kepada Rayne kemudian kembali menatap ke depan.


" Tapi Raynevandra juga tetap harus melanjutkan hidupnya, Raynevandra harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya tentunya dengan dampingan dari kita. Dan mau tidak mau Raynevandra pun sekarang mempunyai tanggung jawab baru yang lebih besar kepada Alexandra dan Baby mereka. " lanjutnya.


" Setidaknya ayo dampingi dia... Raynevandra butuh kita untuk menguatkan dirinya. Ada Cucu kita juga di dalam rahim Alexandra. Di dalam darahnya mengalir darah Mas Evan juga. Kalau ada nekadnya Raynevandra hingga sampai berniat menggugurkan kandungan Alexandra kita pasti akan ikut merasa bersalah dan kita semua pasti akan berdosa. " tukasnya.


" Rasanya aku belum rela jika harus melepas Raynevandra secepat ini dan dengan cara yang seperti ini. " jawab Evan dengan suara yang bergetar parau.


" Aku masih tidak percaya jika Raynevandra akan menikah secepat ini disaat bekalku untuknya belum tercukupi. " lanjutnya, Evan melapaskan genggaman tangan Rayne dan mengusap kasar wajahnya.


" Ini semua sudah menjadi suratan takdir yang harus dijalani, Mas... " jawab Rayne.


" Tuntun Raynevandra kembali untuk menapaki babak baru kehidupannya. " lanjutnya.


" Jadilah idola sepanjang masa untuk Putra kita Raynevandra... " imbuhnya.


" Ikhlas, ya... Kita lepas Raynevandra bersama - sama dengan iringan semangat dan doa agar Raynevandra bisa berhasil menapaki babak baru kehidupannya. " tukasnya.

__ADS_1


" Aku nggak sanggup, Sayang! " pekik Evan berteriak, dadanya bergemuruh naik turun dengan cepat, air matanya pun langsung mengalir dengan begitu deras, Evan merasa tak sanggup jika harus membayangkan kehidupan Raynevandra selanjutnya yang dipaksa harus dewasa sebelum waktunya.


" Aku nggak sanggup jika nanti melihat Putra kesayanganku dihujat dan dicemooh banyak orang karena perkara ini! Hidupnya pasti akan tertekan meskipun aku punya kuasa untuk membungkam setiap mulut yang menghujat Putraku! " teriaknya bersimbah air mata.


" Aku nggak sanggup lihat Raynevandra yang harus bergelut dengan berbagai hal Rumah Tangga disaat banyak anak seusianya sedang asik - asiknya menjalani masa remajanya yang indah. " lanjutnya.


" Sampaikah kamu berfikir sepertiku? " tanya Evan frustasi.


" Aku diam, aku marah, itu semua karena aku tak kuasa ketika menatap Raynevandra! " tegas Evan berteriak.


" Hatiku hancur, Sayang! " teriak Evan meraung frustasi dengan bersimbah tangis yang tak lagi bisa ditahan.


" Putra kesayanganku harus merasakan kepedihan seperti ini! " lanjutnya merasakan sakit hati bukan karena kesalahan Raynevandra tapi karena memikirkan kehidupan yang akan dijalani Raynevandra ke depannya.


Trap... Trap... Trap...


" Daddy, ampun! Ampuni Ray, Dadd! Ray salah... Maafkan semua kesalahan Ray! " ucap Raynevandra yang langsung merangsek masuk ke dalam kamar Orang Tuanya dengan isakan dan air mata yang mengalir deras, Alexandra yang bersamanya ikut ditarik masuk ke dalam kamar tapi Alexandra hanya diam tak berani bergerak, Raynevandra lah yang sedari tadi membuka pintu kamar tersebut tapi tak berani masuk saat telinganya mulai mendengar percakapan penting kedua Orang Tuanya, air mata Rayne pun ikut memetes dan langsung menderas, ia tak menyangka jika Suaminya akan sampai berpikiran sejauh ini meski Rayne sendiri sebenarnya juga sudah memikirkan banyak hal.


" Sekarang kamu tahu bukan apa yang membuat sikap Daddy berubah keras kepadamu setelah mengetahui tentang kesalahanmu? " tanya balik Evan pada Raynevandra, Evan sudah langsung menduga jika keduanya mendengar obrolannya bersama Rayne, Raynevandra menganggukkan kepalanya perlahan.


" Jadi sekarang tetap mau kabur tidak mau pulang ke rumah dan terus berucap Daddy jahat, iya? Mau membunuh Mommy dan calon Adikmu pelan - pelan, iya? " lanjutnya bertanya tegas, Alexandra nampak kaget ketika Evan berucap kata tidak mau pulang ke rumah.


" Hati Daddy sakit, Nak... Daddy kecewa sama kamu... Tapi Daddy semakin kecewa sama diri Daddy sendiri. " ucap Evan dengan suara melemah tapi masih bergetar.


" Sosok yang kamu idolakan ini ternyata gagal mendidikmu dengan benar. " lanjutnya.


" Daddy malu karena tak bisa mendidikmu dengan benar, Sayang... " imbuhnya.


" Enggak, Dadd! Daddy nggak salah, Dadd... Daddy sama sekali nggak pernah gagal mendidik Ray. Raynevandra yang salah. " jawab Raynevandra tegas dan bersimbah air nata.


" Ampun, Daddy... " lanjutnya yang terus memohon ampunan kepada Evan dengan perasaan penuh sesal yang teramat mendalam.


" Maafin Ray juga yang telah berburuk sangka dengan sikap Daddy... Ray mohon ampun... " imbuhnya, mereka berempat menangis bersama, larut dalam kesedihan dan keharuan yang berbaur bersama menyayat hingga ke dalam tulang.

__ADS_1


__ADS_2