Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 18 - Hati Hello Kitty


__ADS_3

Seperti yang telah direncanakan pagi tadi, kini seluruh keluarga Kalandra sedang berada di makam Almarhum sang Papa, Harsaka Kalandra. Dan di sebelah makam sang Papa terdapat sebuah makam kecil. Makam Putra dari Evan dan Rayne, Adik dari Stevano dan Zeevanea tapi Kakak dari Raynevandra dan Devandroe, yaitu Geevandrio Gamyara Kalandra yang meninggal setelah beberapa saat terlahir prematur. Mereka pun mulai berjongkok mengitari dua makam tersebut sembari melantunkan panjatan doa - doa.



Keheningan menyelimuti, nampak suasana haru yang masih kental terasa meski sang Papa sudah tenang di alam sana bertahun lamanya. Kepergian sosok besar itu ternyata masih menyisakan rasa kehilangan yang begitu mendalam bagi keluarga besar Kalandra. Terlebih bagi Evan... Di saat semua orang terdiam tertunduk haru dalam lantunan doa - doa yang mereka panjatkan, air mata Evan sudah menerobos melewati mata tajamnya. Evan lah disini yang paling merasa bersalah atas kepergian sang Papa tercinta. Disamping itu juga yang semakin membuat Evan kian menyesal karena Evan juga tidak bisa turut serta untuk mengantarkan sang Papa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kenangan pahit pertengkaran hebatnya dengan Rayne kala itu tetap bersarang di benak Evan meski sudah berlalu berpuluh tahun lamanya. Dan yang semakin membuatnya sangat merasa bersalah hingga saat ini adalah perihal dari pertengkaran itu lah yang mengakibatkan penyakit jantung Papanya kumat hingga Papanya meninggal dunia meski telah dilarikan ke rumah sakit bersamaan dengan Evan yang kala itu juga berniat mengakhiri hidupnya dengan mengiris urat nadinya setelah Rayne tak mau lagi mempertahankan Rumah Tangganya dengan Evan.


Meskipun kini Evan juga sudah berhasil memimpin Kalandra Group dengan baik dan berhasil membawanya kembali naik bahkan semakin meroket setelah sempat berantakan ketika biduk rumah tangganya terguncang kala itu, tapi tetap saja sejarah kelam akan prosesi kepemimpinannya masih membuat Evan sangat merasa bersalah kepada sang Papa tercinta. Tetapi dari peristiwa besar ini lah kepemimpinan tegas seorang Evano Gamya Kalandra dapat terealisasikan dengan nyata sesuai permintaan sang Papa yang sudah sejak lama mengharapkan campur tangan Evan di dalam perusahaan yang memang sebelumnya sengaja diabaikan oleh Evan. Peristiwa besar ini lah yang membulatkan tekad kuat Evan untuk benar - benar memimpin sebuah perusahaan besar bernama Kalandra Group itu pun terlaksana. Dan kini, Evan benar - benar berhasil mengibarkan bendera kesuksesan di atas lambang Kalandra Group untuk mewujudkan cita - cita besar sang Papa.


Nala yang duduk berjongkok di depan Evan tanpa sengaja menatap ke arah Evan. Ia melihat jika bahu Daddynya bergetar. Sesaat kemudian tangan kekar Stevano sang Putra pertama nampak terulur dan langsung merengkuh tubuh Evan yang terlihat bergetar ke dalam pelukannya meski Evan hanya diam menunduk menatap pada sebuah batu nisan bertuliskan nama Harsaka Kalandra tersebut. Nala menatap sendu pada Evan. Stevano memeluk erat Daddynya... Ia paham jika Daddynya memang masih menyimpan kedukaan yang teramat mendalam atas kepergian sang Opa yang ia ketahui dari cerita kedua Orang Tuanya jika Evan memang sangat dekat dengan sosok Almarhum Papa Hasa. Hal ini pun disadari oleh mereka semua yang ada disana meski mereka hanya diam terlarut dalam kesedihan masing - masing.


Trap... Trap... Trap...


Dalam diam, Evan beringsut mundur dari pelukan sang Putra pertama. Ia berpindah mendekat pada makam Putranya, Geevandrio Gamyara Kalandra. Ia kembali diam... Digenggamnya tangan Rayne meski ia tetap diam tanpa berucap. Buku - buku jarinya sampai terlihat karena saking kencangnya ia menggenggam tangan Istrinya. Rayne pun langsung memeluk Evan dengan erat.


" Yang sabar ya, Dadd... Ikhlaskan, ya... " lirih Rayne yang juga sudah menitikkan air matanya.


" Aku yang salah, Mommy... Aku yang buat Geeva terlahir sebelum waktunya hingga akhirnya jadi seperti ini itu semua karena kebodohanku. " lirih Evan, Rayne menjawab hanya dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.


" Ikhlaskan ya, Mas... Ini semua sudah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa yang harus kita lewati... " lirih Rayne dengan semakin berderai air mata.

__ADS_1


" Maafin Daddy ya, Nak... Seharusnya sekarang kamu bisa bersama - sama dengan kami semua disini. Ampuni Daddy, Geeva... Daddy yang membuatmu seperti ini. " ucap Evan sembari terisak, Sea langsung memeluk Nala yang ada di sampingnya, sementara Mama Rosa nampak dipeluk oleh Raynevandra.


" Balik, yuk... " ucap Eric yang menghampiri Evan, Evan masih saja meringkuk menangis dalam dekapan Istrinya, sebenarnya Eric juga tak tega melihat Evan seperti ini, tapi jika berada disini lebih lama lagi Evan pasti akan tetap menangis dan lama berhenti.


" Pulang, Sayang... " timpal Mama Rosa, Evan pun mulai mengusap air matanya, Rayne pun juga mengusap air mata Evan, perlahan Evan pun mengangguk pelan dan mereka semua beranjak.


Trap... Trap... Trap...


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


Kini posisi kemudi beralih pada kendali Stevano. Evan duduk di sampingnya. Rayne dan Zeevanea duduk di kursi tengah, sementara Andru dan Ray duduk di kursi belakang. Saat mobil yang dikendarai Stevano sudah mulai melesat di jalan raya, Evan yang tetap mendiam langsung membuka jendela mobilnya. Kemudian mengambil rokok dari saku kemejanya dan langsung menyulutnya. Stevano menoleh sekilas saat melihat Evan merogoh saku kemejanya. Stevano pun ikut membuka jendela di sampingnya.


" Iya, Dadd... " jawabnya pelan, Evan mengangkat sebelah sudut bibirnya sembari tetap menatap ke luar jendela, dugaannya perihal bau rokok di dalam kamar Stevano tidak meleset.


" Berhenti ngerokoknya, Kak! Mumpung kamu belum kecanduan rokok kaya Daddy. " potong Rayne yang kaget mendengar penuturan Putranya.


" Jarang - jarang aja kok, Momm... Mommy tenang aja. " jawab Stevano santai.


" Kalau Daddy sehari bisa sampai tiga bungkus, aku satu aja kadang sampai tiga hari. " lanjutnya menjelaskan.

__ADS_1


" Daddymu dulu awalnya juga gitu... Awalnya satu bungkus sehari, sekarang kamu tau sendiri. " jawab Rayne tegas.


" Berhenti ngerokok pokoknya. Mommy nggak mau tau, Mommy nggak mau kamu ngerokok lagi. " tegas Rayne pada Stevano, Stevano hanya diam saja mendengarkan.


" Daddy juga harus berhenti ngerokoknya biar nggak ditiruin sama anak - anak. " lanjut Rayne menghardik Evan.


" Andaikan saja bisa aku juga pasti berhenti tanpa tunggu kamu ngomelin perkara itu tiap hari. " jawab Evan datar.


" Udah terlanjur tambeng juga jadi nggak bisa pisah sama rokok, kaya nggak bisa pisah sama kamu... " lanjutnya.


" Hahahaha... " tawa Zeevanea dan Raynevandra menggema kencang seketika, sementara Stevano dan Devandroe hanya tersenyum, sedangkan Rayne jangan ditanya lagi, bibirnya sudah mengerucut lima senti.


" Gitu dong, jangan sedih lagi... " ucap Zeevanea yang langsung memeluk Evan dari belakang kursi mobil yang diduduki Evan karena posisi Zeevanea duduk di belakang kursi yang Evan duduki.


" Males nyekar sama Daddy jadinya kalau sampai makam mesti lihat Daddy nangis - nangis kaya begitu. " lanjutnya, Evan hanya tersenyum tipis meski hatinya masih saja bersedih.


" Makanya kalau cinta itu jangan macem - macem biar nggak sampai menyesal di kemudian hari. " lanjut Zeevanea yang tanpa sadar menjadi sok menggurui Evan.


" Wajahnya aja garang, tapi kalau udah diajak nyekar pasti hatinya ganti hello kitty. " imbuhnya, sontak saja Evan langsung menggeleng - gelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Hahaha... " tawa mereka semua menggema kecuali Evan yang langsung menghembusakan nafas berat.


__ADS_2