
" Perang lagi nih kayanya Kalandra sama Nitinegara... " celetuk Aga setelah Nicholas pergi entah kemana setelah tak mempercayai ucapan Dygta, wajah Dygta nampak sendu sejak Nicholas pergi tadi, kini Dygta dan Aga sedang duduk berdua di restoran yang ada di Lux Resort ini.
" Lo kenapa? " tanya Aga penasaran karena raut wajah Dygta berubah kian sendu dan matanya memerah berkaca - kaca.
" Lihat Zeevanea jadi kangen Queen, Gue... " jawab Dygta jujur sembari mendongak, menahan air mata yang sepertinya sudah mendesak keluar dari tepian matanya.
" Lo jangan gila! " pekik Aga yang langsung tersulut emosinya.
" Perkara Nicki aja belum apa - apa Lo udah bilang kangen sama Queen! Inget Kinan sama Joana, bego! Evan nggak akan tinggal diam sama tuduhan Nicki tadi. " tegas Aga.
" Gue bener - bener nyesel ribut sama Queen waktu itu sampai Gue buat Queen keguguran... Sampai sekarang dada Gue masih sesek Ga kalau Gue inget itu. Gue Ayah yang kejam, Gue yang bunuh darah daging Gue sendiri padahal jelas banget waktu itu Evan dengan suka rela donorin darahnya buat nyelametin darah daging Gue. " jelas Dygta dengan air mata yang sudah perlahan membasahi wajahnya.
" Mending Lo balik ke Sydney dan nggak usah pulang ke Jakarta! Nggak usah ketemu keluarga Kalandra juga kalau ujungnya Lo mau cari masalah lagi kaya gini! Lo cari mati tau, nggak! Evan sama Queen dan anak - anak mereka udah tenang, udah bahagia! Lo mau Niggar dibuat ancur lagi sama Evan?! Lo mau Mami sama Papi mendetita lagi kaya dulu gara - gara kesalahan Lo! Lo kaya nggak tau gimana Evan aja! " ketus Aga panjang kali lebar dan tegas.
" Kalau Evan ngizinin, Gue pengen ketemu Queen... Gue pengen minta maaf sama Queen. " lirihnya masih bersikeras.
" Mimpi! " pekik Aga berteriak, beberapa pengunjung yang ada disana langsung menatap ke arah Aga dan Dygta.
" Ayo masuk kamar! Udah malem jangan malah ngehalu! " ajak Aga sambil berdiri, Dygta menghapus kasar air matanya kemudian ikut berdiri dan beranjak.
Trap... Trap... Trap...
Berbeda dengan Dygta dan Aga, berbeda pula dengan Evan dan Zeevanea yang juga sedang bersama Stevano dan Maura.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
Brak!!!
" Daddy! Ampun, Dadd!!! " pekik Zeevanea menangis ketakutan karena Daddynya terus menyeretnya paksa dan menghempaskannya kasar di dalam kamar mandi, baru pertama kali ini Evan bersikap kasar kepada Zeevanea, Evan memang tak pernah sampai main tangan jika sedang marah karena anak - anaknya yang bandel itu membuat ulah, tapi kali ini Evan merasa sangat - sangat kecewa kepada Zeevanea, Putri cantiknya yang selalu dijaganya dan selalu dihujani dengan limpahan cinta dan kasih sayang tulus yang melimpah ruah.
Setelah tadi di Resort Evan menyeretnya paksa, kini setelah sampai di Everic pun Evan kembali menyeret Zeevanea saat mereka semua turun dari mobil. Evan menyeret Zeevanea dan membawa Zeevanea ke kamar yang ditempati oleh Evan. Stevano dan Maura yang mencoba mencegah pun tak digubris oleh Evan. Dan kini, Evan memasukkan paksa Zeevanea ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Zeevanea terus berteriak memohib ampun juga terus berteriak memanggil - manggil Daddynya tapi nyatanya juga nihil. Evan tak bergerak sama sekali... Malahan Evan sedang duduk di sofa sembari menikmati bakaran rokoknya.
Trap... Trap... Trap...
" Bukain pintunya, Dadd... Kasihan Zeevanea... Sakit nanti dia kalau kedinginan di kamar mandi malem - malem gini. " ucap Stevano pelan karena ia sebenarnya juga takut tapi juga kasihan dengan Zeevanea.
" Tidur disini sama Daddy, biar Maura tidur di kamar Zeevanea. " ucap Evan tegas dan tak membahas Zeevanea yang dikunci di kamar mandi.
" Aku ke kamar dulu... " pamit Maura langsung sigap, Evan pun langsung memberikan access card kamar yang ditempati Zeevanea kepada Maura, dan Maura langsung beranjak.
Trap... Trap... Trap...
" Tidur, Steve! Udah malem. " jawab Evan datar sembari mengepulkan asap rokoknya ke udara.
" Iya, tapi Daddy keluarin Zeevanea dulu dari kamar mandi... Kasihan... Nanti dia sakit kalau malem - malem gini dikurung di kamar mandi. " rengeknya.
" Nanti kalau Zee ngadu sama Mommy malah makin panjang urusannya. " jawab Stevano.
" Bodo amat! " ketus Evan, Stevano pun mendiam sembari tetap menatap dalam pada Daddynya yang masih terlihat asik dengan rokoknya.
" Daddy nggak nyangka bakalan ketemu Bajingan tengik itu lagi disini... " ucap Evan setelah sesaat tadi terdiam.
__ADS_1
" Dan Daddy malah nggak nyangka lagi kalau Zeevanea udah ketemu Bajingan tengik itu diem - diem tanpa sepengetahuan dan tanpa cerita sama Daddy. " lanjutnya.
" Kamu tau kan gimana kesakitan Daddy waktu itu... Selama hampir lima tahun lamanya Daddy terus berusaha cari Mommy dan kalian berdua kemana - mana sampai - sampai Daddy sendiri nggak nyangka kalau Daddy udah berantakan luar dalem sampai Daddy kaya orang gila dan bener - bener hampir gila. " lanjutnya lagi.
" Kehadiran Devandroe dan Raynevandra itu anugerah, penyelamat keluarga kita. Dewi Fortuna yang berpihak pada kita hingga sekarang kita sekeluarga bisa hidup tenang damai dan bahagia penuh cinta. " imbuhnya.
" Daddy kecewa sama Zeevanea! " tukasnya.
" Mungkin Zee takut mau cerita sama Daddy... " jawab Stevano logis.
" Daddy bener - bener kecewa sama Zeevanea... Zeevanea tega hianatin Daddy, Zeevanea hianatin kepercayaan Daddy. " ucap Evan menjawab.
" Daddy cuma denger dari Nico, Daddy belum denger penjelasan Zeevanea... Mungkin aja waktu itu Zeevanea nggak sengaja ketemu Papi Dygta dan memang takut mau cerita sama Daddy. " jawab Stevano yang terus berusaha meredam kemarahan Evan.
" Mulai sekarang nggak usah deket - deket lagi sama keluarga Nitinegara. " tegas Evan.
" Nggak usah deket - deket sama yang tua ataupun sama anak - anak mereka kalau kamu mau Daddy panjang umur nggak mikirin keluarga Bajingan tengik itu lagi. Andaikan saja waktu itu nggak ada kamu sama Zee mungkin Daddy lebih milih bunuh diri lagi darilada liat Mommymu mengandung anak dari Bajingan tengik itu. " lanjutnya mengungkapkan kefrustasiannya.
" Daddy jangan ngomong gitu, nggak baik... Kasihan Mommy sama kita kalau Daddy ninggalin kita secepet itu. Devandroe sama Raynevandra masih kecil... Aku juga pengen nemenin Daddy sampai Daddy dan Mommy tua nanti. Aku mau Daddy sama Mommy lihat aku sama adek - adek berhasil, aku mau Daddy lihat aku dan adek - adek semua nikah, Daddy gendong anak - anak aku dan anak - anak adek - adek aku nanti... " jawab Stevano sendu penuh harap.
" Nico juga kan nggak ada sangkut pautnya sama masa lalu itu, Dadd... Nico cuma anak angkat Papi Dygta. " lanjut Stevano memberikan penolakan halus.
" Nico emang pernah cerita sama aku kalau Nico pernah lihat Daddy sama Perempuan muda, dan itu sempet buat aku nggak percaya sama Daddy meski aku tau Daddy nggak akan menduakan Mommy. Tapi bukan salah Nico juga karena Nico juga nggak tau kalau Zee itu adek aku. " imbuhnya.
" Tidur sana! " tegas Evan dan kangsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1