
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
Perjalanan menuju Sekolah Raynevandra pun dimulai. Evan dengan tampang gagah nan garang tengah duduk tenang di sebelah jok kemudi dengan kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya karena Raynevandra lah yang mengemudikan mobil milik Daddynya ini atas perintah Daddynya. Sementara Rayne sudah jelas duduk sendirian pada bangku belakang. Sebenarnya baik Raynevandra maupun Devandroe sama - sama sudah bisa mengemudikan mobil sejak mereka duduk di bangku SMP. Tapi Rayne dan Evan memang masih melarang si kembar kecil itu untuk bepergian apalagi jika pergi sendirian menggunakan mobil sebelum mereka lulus SMA.
" Jangan kenceng - kenceng, Sayang... " ucap Rayne memperingatkan Raynevandra yang mengemudikan mobil dengan sedikit ngebut dan nampak terburu - buru.
" Keburu telat, Mommy... " jawab Raynevandra pelan dan logis karena memang ini sudah agak siang, dan seluruh anggota keluarga Rayne dan Evan pagi ini melewatkan sarapan mereka berjamaah karena kejadian pagi ini.
" Konsentrasi, hati - hati... " ucap Rayne khawatir, Raynevandra hanya mengangguk, sementara Evan yang sedang menatap ke luar jendela nampak tersenyum tipis tanpa ada yang melihatnya.
" Mommymu bawel, Ray... " celetuk Evan tiba - tiba, baru kali ini dia membuka suara setelah sekian lama tadi membungkam.
" Aku kan khawatir, Mas... " potong Rayne cepat, Evan pun terkikik.
" Alhamdulillaaah... " ucap Raynevandra ambigu, Evan dan Rayne langsung menatap Raynevandra dengan kening mengerut bingung.
" Kenapa Ray kok alhamdulillah? " tanya Rayne bingung.
" Ya alhamdulillah dong Momm buat Ray karena Daddy udah mau ngomong sama Ray... " jawab Raynevandra seadanya, Rayne dan Evan nampak tertegung mendengarnya.
" Tuh, Dadd... Dengerin. Anak bungsu kamu ini tersiksa didiemin sama Daddynya. " ucap Rayne serius.
" Kalau nggak mau tersiksa kaya gini terus ya jelasin lah helmnya kenapa! " jawab Evan tegas dan masih tak bisa dibantah, Rayne langsung menatap sendu pada Evan.
" Helm aku jatuh, Dadd... Aku kan udah bilang berkali - kali. " rengek Raynevandra memelas dan menoleh singkat pada Evan.
" Helm itu bukan helm abal - abal, Ray... Kalaupun cuma jatuh aja pasti nggak akan sampai kaya gitu bentuknya. " tegas Evan, Raynevandra dan Rayne pun mendiam.
" Kamu ikut balap liar? " tanya Evan lagi, sejujurnya Evan juga bosan membiarkan masalah helm milik Raynevandra ini berkarut - larut, tapi ia juga sadar jika Raynevandra adalah sosok seperti dirinya yang lebih memilih menyembunyikan sendiri apa yang tepah dialami daripada membaginya dengan orang lain, Rayne yang mendengar pertanyaan Evan langsung gemetar takut jika Raynevandra ikut balap liar.
" Big no, Dadd... " jawab Raynevandra jujur dan bernada tegas.
" Beneran nggak ikut begituan kan, Sayang? " timpal Rayne memastikan lagi dengan wajah cemasnya.
__ADS_1
" Beneran, Mommy... Aku nggak bohong. " jawab Raynevandra.
" Terus helm kamu kenapa sampai kaya gitu? " lanjut Rayne mendesak Raynevandra.
" Kan aku udah bilang kalau helmku itu jatuh. " jawab Raynevandra jengah, Evan nampak menahan tawanya melihat kembaran dirinya pada sosok si Bungsu Raynevandra.
" Iya, Ray... Terus jatuhnya itu jatuh gimana? Kok bisa sampai parah kaya gitu... " jawab Rayne dengan mendesah kasar.
Tapi kini mobil yang dikendarai Raynevandra sudah terlihat menepi di area halaman sekolah elite tempat Raynevandra bersekolah. Ketigaya pun langsung turun dan bergegas masuk ke dalam. Obrolan perkara helm ini pun menggantung lagi.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
Cup...
" Masukin dulu bajunya, Sayang... Biar rapih. " ucap Rayne pada Raynevandra yang baju seragamnya memang dibiarkan terurai keluar.
" Gerah. " jawab Raynevandra kemudian berpindah mencium punggung tangan Daddynya dan mengecup bibir Daddynya singkat, Evan yang baru saja akan menyulut rokoknya langsung mengurungkan niatnya karena Raynevandra sudah memegangi tangannya untuk salim.
" Ikut ke ruang Kepsek dulu, Ray... " ucap Evan, Raynevandra pun mengangguk dan menurut saja, Evan langsung menyulut rokoknya.
" Ke ruang Kepsek sekalian deh Momm mumpung kita sekarang disini. " lanjut ucap Evan pada Rayne.
" Ini masih akhir bulan, Mas... Nggak papa emangnya? " tanya Rayne.
" Nggak papa. " jawab Evan, Rayne langsung membuka pintu mobil dan mengambilkan jas Evan dan memakaikannya sekalian, kemudian keduanya pun beranjak masuk menuju ruang Kepala Sekolah bersama Raynevandra juga.
Trap... Trap... Trap...
" Eh... Masih ada tamu kayanya. " ucap Rayne kala ketiganya telah sampai di depan ruang Kepala Sekolah, Evan langsung membuang puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
" Eh... Bapak Ibu Kalandra... " sapa salah seorang Guru yang kebetulan melewati ruang Kepala Sekolah, Rayne pun tersenyum sementara Raynevandra langsung mencium punggung tangan salah satu Gurunya itu dengan khidmad, kemudian gantian Rayne dan Evan yang saling berjabat tangan dengan Bu Guru tersebut.
" Mau ketemu Bapak Kepala Sekolah Pak, Bu? " tanya Bu Guru tersebut sopan.
" Iya, Bu... Kebetulan tadi kami mengantarkan Raynevandra, jadi sekalian saja kami kesini juga. " jawab Rayne dengan senyum ramahnya.
" Tapi sepertinya di dalam masih ada tamu. " lanjutnya, Bu Guru ini pun menganggukkan kepalanya.
" Tidak apa - apa, Bu... Bapak dan Ibu bisa menunggu di dalam juga. Mari saya antar Pak, Bu... " ucap Bu Guru tersebut dan mengajak Rayne dan Evan beserta Raynevandra masuk ke dalam ruang Kepala Sekolah.
Tok... Tok... Tok...
" Permisi, Pak... Ada Bapak dan Ibu Kalandra disini. " ucap Bu Guru tersebut kala baru saja mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah yang sedikit terbuka itu kebetulan juga tempat duduk yang diduduki Bapak Kepala Sekolah menghadap ke arah pintu.
" Dipersilahkan masuk saja. " jawab Bapak Kepala Sekolah dan langsung berdiri dari duduknya untuk menghampiri Rayne dan Evan.
Trap... Trap... Trap...
" Selamat pagi Bapak, Ibu... Raynevandra... " sapa Bapak Kepala Sekolah dengan senyum ramahnya dan langsung berjabat tangan dengan Rayne dan Evan, terakhir Raynevandra mencium punggung tangannya.
" Saya tinggal dulu... " pamit Bu Guru tersebut, Bapak Kepala Sekolah pun mengangguk, Rayne hanya mengulas senyum sementara Evan dan Raynevandra hanya diam saja.
Trap... Trap... Trap...
" Mari, silahkan masuk... " ucap Bapak Kepala Sekolah, Evan dan Rayne juga Raynevandra pun mengikuti masuk ke dalam.
Trap... Trap... Trap...
Ketika Rayne dan Evan serta Raynevandra dipersilahkan duduk, sepasang Orang Tua yang sepertinya Orang Tua dari seorang Siswi baru itu tengah duduk disana karena memang mereka telah datang terlebih dahulu. Senyum dan saling berjabat tangan pun Rayne lakukan, tapi Evan hanya berjabat tangan saja seperi biasanya tanpa adanya senyuman karena senyuman Evan itu mahal, dan hanya diperuntukkan buat orang - orang tertentu saja, begitupun Raynevandra. Tapi kali ini wajah Raynevandra nampak terkejut setelah indera penglihatannya bersitatap dengan indera penglihatan dari sesosok Siswi yang sepertinya Siswi baru yang tengah duduk diapit oleh kedua Orang Tuanya ini.
" Pagi ini kebetulan saya sedang kedatangan Siswi baru... " ucap Pak Kepala Sekolah pada Rayne dan Evan, Raynevandra dan si Gadis ini pun masih saling bersitatap, Evan menyadari hal itu tapi Rayne dan yang lainnya tidak, Rayne pun kembali mengangguk sembari tersenyum ramah kepada mereka juga.
__ADS_1