
Setelah selesai dengan perjalanan wisatanya di Pulau Nusa Penida, rombongan Evan ini pun akhirnya kembali ke Pulau utama, Pulau Bali. Jika pagi tadi mereka berangkat dengan menggunakan Fast Cruise, kini mereka kembali dengan menggunakan kapal yang lebih besar. Ya... Mereka kembali ke Pelabuhan dengan menggunakan Kapal Pesiar.
Mereka semua nampak kembali mengobrol santai di atas Kapal Pesiar yang sudah mulai beranjak merambat membelah Selat Badung ini. Menceritakan banyak hal mengenai perjalanan mereka seharian ini. Setelah tadi mengunjungi Kelingking Beach, mereka juga mengunjungi Pantai Atuh, Angels Billabong, Broken Beach, juga Crystal Bay. Meski kini rasa lelah menghampiri, tapi mereka terlihat sangat bahagia.
" Oiya, Princess... Joana tadi cerita sama Mommy kalau dia mau kuliah di Paris, mau ambil jurusan Fashion Designer juga kaya jurusan kamu. " ucap Rayne pada Zeevanea.
" Barangkali kalian mau sharing soal itu. " lanjut Rayne.
" Iya, Momm... Kita udah ngobrol banyak kok soal itu sebelumnya. " jawab Zeevanea.
" Tapi kata Joana Papi susah ngasih izinnya... Papi anti Paris kaya Daddy. " lanjutnya dan sekilas menatap Evan yang berlagak sok tidak mendengar percakapan.
" Oiya, Joana... " ucap Rayne berpindah pada Joana, Joana pun menatap Rayne.
" Dulu Papimu pernah memberikan rumah di Paris untuk Tante, tapi rumah itu kosong setelah Tante dan Papimu pulang ke Jakarta... Sebaiknya sekarang Tante serahkan sama kamu saja, kalian sekeluarga lebih berhak atas rumah itu, karena itu rumah Papi kamu. " jelas Rayne, Joana dan Nicholas nampak terkejut demgan ucapan Rayne.
" Pap...pi kasih rum...ah di Par...is bu...at Tante? " tanya Joana terbata dengan menatap dalam kepada Rayne, Nicholas menatap Joana dan Zeevanea bergantian.
" Iya... " jawab Rayne dan langsung menggenggam tangan Evan meski ekspresi Evan tetap terlihat sok cuek.
" Awalnya memang Tante menerimanya karena rumah itu adalah kado ulang tahun untuk Tante dari Papimu... Tapi setelah kami kembali ke Jakarta, tak lama kemudian Tante berpisah dengan Papimu. Papimu juga menolak saat Tante mengembalikan rumah itu kepadanya. " jelas Rayne lagi dan tetap menggenggam erat tangan Evan meski Evan berlagak sok acuh.
" Emmm... Nanti Joana bilang sama Papi dulu ya, Tan... " jawab Joana kikuk.
" Joana nggak berani bilang iya ataupun enggak... Karena sampai sekarang, Papi sendiri juga sensitif kalau kita sekeluarga ngomongin soal Paris. " lanjutnya, Rayne pun mengangguk, sementara Evan nampak langsung melepaskan genggaman tangan Rayne dan beranjak dari duduknya.
" Ya udah kamu lanjutin ngobrolnya sama yang lain... Om Evan juga sensitif kalau Tante ngomongin soal Paris. " ucap Rayne dan langsung menyusul Evan.
Trap... Trap... Trap...
Saat Rayne beranjak menyusul Evan, Joana langsung merebahkan kepalanya di dada Nicholas, Nicholas pun mengeratkan pelukannya sembari mengusap lembut kepala Joana dan keduanya perlahan mulai kembali mengobrol dengan yang lain saat Joana sudah kembali terlihat tenang. Hingga akhirnya, Joana berdiri dan bergabung dengan Maura.
Trap... Trap... Trap...
" Sayang... " panggil Nicholas pelan pada Zeevanea, tinggal mereka berdua yang masih berada di tempat duduk mereka ini, Zeevanea yang tadinya menatap ke arah lain langsung menoleh.
" Kenapa bukan kamu yang tempati rumah itu? " tanya Nicholas menyinggung perihal rumah pemberian Dygta untuk Rayne.
" Ya nggak mungkin dong aku yang tempati... Bisa mencak - mencak si Daddy karena luka lamanya dikorek terus. " jawab Zeevanea jujur, Nicholas pun paham.
__ADS_1
" Bayangin aja seandainya Daddy masuk ke rumah itu dan tau dimana kamar Mommy dan Papi dulu... Aku nggak kebayang ngelihat sakitnya Daddy kaya apa. " lanjutnya.
" Lagipula Mommy ada rumah juga kok disana... Daddy juga udah beliin aku apartemen. " lanjut Zeevanea menjawab.
" Tapi kan Papi udah kasih rumah itu buat Mommy kamu... " jawab Nicholas.
" Terus mau dijual gitu maksudnya? Nggak pentes kesannya kalau dijual, dikasih juga rumahnya... " jawab Zeevanea.
" Ya menurut aku sih, aku setuju kalau Mommy serahin rumah itu sama Joana... " lanjutnya.
" Rumahnya masih terawat, kok... Mommy selalu suruh orang bersih - bersih. " imbuhnya, Nicholas hanya diam memperhatikan.
" Fotoin aku di dek depan, dong... " pinta Zeevanea setelah keduanya terdiam sesaat.
" Foto berdua boleh kok, Yang... " ucap Nicholas sambil tersenyum, Zeevanea langsung mencebikkan bibirnya kesal.
" Ya udah, iya, ayo aku fotoin... " ucapnya sambil merogoh ponsel di dalam saku celananya dan mengikuti Zeevanea.
" Pakai hapeku aja. " ucap Zeevanea sambil menyodorkan ponselnya.
" Udah, pakai hapeku aja, nanti aku kirim ke kamu. " tolak Nicholas dengan sebuah maksud, Zeevanea pun menurut tanpa menaruh curiga.
Trap... Trap... Trap...
" Bagus, sih... Cuma gelap karena siluet. " jawab Nicholas dan sekejap menatap Zeevanea kemudian beralih kembali menatap ponselnya.
" Bagus, kok... Nggak papa meskipun siluet. " jawab Zeevanea dan menerima ponsel Nicholas yang diserahkan kepadanya agar ia bisa lebih leluasa untuk melihat hasil fotonya.
" Kirimin ke hape aku, dong... " pintanya sembari menyerahkan kembali ponsel Nicholas, setelah menerima ponselnya kembali, Nicholas nampak tersenyum jahil sembari menjentikkan jari telunjuknya di satu sisi pipinya, memberi kode kepada Zeevanea jika ia meminta imbalan kecupan di pipi.
" Modus! " pekik Zeevanea sambil melengos dan langsung beranjak duduk kembali di tempat duduknya semula, meninggalkan Nicholas begitu saja.
Trap... Trap... Trap...
Nicholas tak henti tersenyum sambil menatap gemas kepada Zeevanea yang berhasil dikelabuhi olehnya tanpa curiga. Nnicholas pun langsung menghampiri Zeevanea yang menampakkan wajah kesalnya.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
" Jadi nggak mau cium pipi aku nih? Nggak akan dikirim ini kalau aku nggak dapet imbalanku dulu. " ledek Nicholas sambil menatap Zeevanea, keduanya sudah duduk berdampingan di tempat yang sama.
" Jadi maunya aku kiss kaya kemaren, nih? " lanjut Nicholas yang masih menggoda Zeevanea, dan mengungkit lagi perihal ciuman mendadaknya di bibir Zeevanea senja itu kala ia pertama kalinya menyampaikan niatnya untuk memacari Zeevanea, hingga akhirnya Zeevanea ngamuk sampai ke hotel dan Nala malah menjuluki mereka sedang shooting film India, Zeevanea semakin menatap sengit kepada Nicholas dan kembali membuang muka, menatap ke arah yang lain.
Cup...
Cup...
Cup...
" Sayang... " panggil Nicholas pelan setelah keduanya terdiam beberapa saat, Zeevanea tetap terlihat acuh.
" Sayang jangan ngambek, dong... Nanti cantiknya ilang, loh. " goda Nicholas lagi sambil menahan tawanya.
" Bodo amat! " ketus Zeevanea dan tetap tak mau menatap Nicholas, Nicholas yang sudah tak dapat lagi menahan tawanya langsung merengkuh tubuh ramping Zeevanea ke dalam pelukannya dan langsung mengecup mesra kening Zeevanea meski Zeevanea meronta dalam dekapannya.
" Apa kemarin itu cuman pertamamu, hmmm? " tanya Nicholas penasaran.
" Bukan, lah! " ketus Zeevanea, Nicholas nampak memperhatikan dengan seksama ekspresi wajah Zeevanea.
" Mommy, Kakak Steve, Daddy, Abang Nala, Ray, sama Andru sering ngecup bibirku. " sanggahnya dengan begitu polos.
" Hahaha... " Nicholas langsung terbahak seketika mendengar sanggahan konyol Zeevanea, wajah Zeevanea masih terlihat kesal.
" Itu cuma kecupan, Sayang... Kalau ciuman itu seperti yang aku lakuin ke kamu kemarin. " jelas Nicholas yang langsung membuat Zeevanea kelabakan karena ketahuan berkilah.
" Mau lagi, nggak? " tawar Nicholas sambil menolehkan wajah Zeevane agar Zeevanea mau menatap kepadanya.
" Mesum! " ketus Zeevanea angkuh, Nicholas kembali terkikik dan mengecupi gemas puncak kepala Zeevanea.
" Aku cinta sama kamu, Zeevanea... " lirih Nicholas serius.
" Aku tau itu. " jawab Zeevanea enteng.
" Meskipun aku pernah berpacaran sebelumnya, tapi ciuman kemarin itu adalah ciuman pertamaku... Aku sama sekali tidak pernah mencium Kekasihku sebelumnya di bibir. Dan aku rasa itu juga ciuman yang pertama bagimu. " lanjutnya menegaskan.
" Bener kan kalau kemarin itu ciuman pertamamu? " lanjutnya kembali pada topik pembicaraan mereka semula.
" Iya! " jawab Zeevanea ketus, Nicholas semakin tersenyum senang karena ia lah yang berhasil mencuri ciuman pertama Zeevanea meski akhirnya kemarahan Zeevanea membuatnya tidak tidur semalam suntuk.
__ADS_1
" Terima kasih, Sayang... " ucapnya tulus dengan tatapan yang kini sama - sama beradu dalam.