
Trap... Trap... Trap...
" Aku siap keluar dari rumah ini kalau memang Daddy tetap tidak mau merestui aku dan Maura! " tegas Stevano berteriak saat Evan akan beranjak pergi bersama Rayne, Evan langsung menghentikan langkahnya dan Rayne pun jadi ikut berhenti juga.
" Lebih berharga Maura kah dibandingkan dengan Daddy-mu sendiri, Stevano-ku? " jawab Evan yang malah balik bertanya kepada Stevano, tatapannya nampak tenang menghanyutkan dan malah membuat Stevano terdiam penuh gusar.
" Oke kalau itu maumu! " jawab Evan sok santai meski sebenarnya hatinya kembali dibuat hancur berkeping - keping akibat ucapan tegas yang terlontar dari mulut Putra Sulungnya itu.
" Kalian jahat!!! " teriak Zeevanea histeris dan langsung berlari kembali menuju kamarnya, kini Zeevanea merasa hanya dirinya saja yang tak akan terlepas dari peliknya masalah percintaan yang berbalut dendam masa lalu Orang Tuanya.
Trap... Trap... Trap...
" Sayang, tunggu! " pekik Rayne memanggil Zeevanea, tetapi ketika Rayne berniat untuk mengejarnya tapi Evan malah menahan tangan Rayne.
" Biarkan Zeevanea menenangkan dirinya. ' ucap Evan lembut, Rayne pun hanya bisa pasrah, setelah menatap sekejap kepada Stevano, Evan pun langsung membawa Rayne kembali ke lantai atas menuju kamar mereka.
Trap... Trap... Trap...
" Siapin bajuku... Aku ada urusan sebentar sama Ayah. " ucap Evan kepada Rayne kala keduanya sudah berada di dalam kamar.
" Kamu mau kemana? " tanya Rayne memastikan pakaian jenis apa yang akan dikenakan oleh Suaminya, meski tetap merasa kesal dengan Evan tetapi Rayne tetap melakukan perintah Evan.
" Armaya berniat membeli saham Kalandra. " jelas Evan sambil berjalan ke kamar mandi, Rayne pun mematung seketika.
Trap... Trap... Trap...
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
" Kenapa? " tanya Evan kala melihat Rayne menyusulnya ke kamar mandi, Evan sedang berendam di bathtub sembari menikmati sebatang rokok di tangannya.
" Balik lagi ke kantor, ya... " lirih Rayne kembali mengiba untuk mempertahankan Kalandra Group, Evan nampak mengangkat sedikit sudut bibirnya.
__ADS_1
" Aku harap kamu tidak membiarkan Kalandra diambil alih oleh pihak lain... Meski itu Armaya sekalipun. " jelasnya dengan tatapan sendu kepada Evan.
" Kamu nggak usah ikut mikirin soal Kalandra... Biar aku aja. Ini semua udah jadi tanggung jawab aku. " jawab Evan tenang, setelah menghisap dalam rokoknya Evan nampak menoleh ke arah lain untuk menghembuskan asapnya agar tidak mengarah kepada Rayne.
" Kamu cukup berada di sampingku dan terus ngedukung aku dengan apa pun keputusanku. " tegasnya dengan menatap semakin dalam kepada Rayne, Rayne hanya tetap diam dengan tatapan sendunya.
" Mau mandi lagi? " tawar Evan sekaligus menggoda Istrinya yang terlihat sendu tegang, Rayne yang semula menatap sendu langsung membelalakkan matanya.
" Udah sana siapin bajuku kalau nggak mau mandi lagi. Ibu hamil nggak boleh mikir yang berat - berat. Biar yang berat - berat aku aja yang pikirin. " tukas Evan lembut, Rayne pun kembali ke kamar dan langsung menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian Evan.
Trap... Trap... Trap...
Rayne yang sudah selesai menyiapkan pakaian ganti untuk Evan langsung membawanya ke kamar mereka. Rayne duduk di tepian ranjang sembari memangku pakaian Evan. Dan setelah beberapa lama menunggu, kemudian Evan pun keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri Rayne.
Trap... Trap... Trap...
Meski tetap diam tetapi Rayne juga tetap membantu Evan untuk mengenakan pakaiannya. Evan juga terlihat santai kala melepaskan handuknya di hadapan Rayne seperti biasanya. Rayne juga merasakan rindu saat membantu Evan mengenakan setelan kerjanya karena beberapa saat lalu Evan memutuskan untuk mengundurkan diri dari Kalandra Group. Dan Rayne pun membantu Evan hingga seluruh pakaian itu melekat sempurna dibtubuh Evan.
" Sini aku pakaikan dulu dasinya... " ucap Rayne yang hanya tinggal dasi yang belum melekat di tubuh Evan.
Setelah selesai, keduanya pun langsung turun bersama dan langsung menuju ruang makan karena Evan juga belum sarapan.
Trap... Trap... Trap...
" Aku makan buah aja, Yang... Perutku masih nggak enak. " ucap Evan kala melihat Rayne yang baru saja mengambilkan piring untuk diisi makanan untuk Evan.
" Adanya cuma pepaya... Buah - buahan di dapur abis, aku belum sempat belanja. " jawab Rayne.
" Iya nggak papa itu aja. " jawab Evan, Rayne pun langsung mengambil piring kecil untuk meletakkan pepaya yang Evan minta, setelahnya Rayne pun langsung menyodorkannya ke meja di hadapan Evan, Rayne duduk di sebelah Evan dan menunggu hingga Evan selesai menyantap pepaya segar di hadapannya.
" Gimana persiapan acara Ray? " tanya Evan kepada Rayne, Evan sudah selesai menyantap pepaya segarnya dan kini sudah merokok santai.
" Jauhan sana! " pekik Rayne yang langsung melengos, Evan nampak bingung dan mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
" Kamu kenapa? " tanya Evan polos tanpa dosa.
" Rokoknya, adoh! " bentak Rayne sambil menggelengkan kepala melihat kebodohan Suaminya yang tak paham juga akan maksudnya, Evan tertawa tanpa suara sambil nyengir dan langsung berpindah duduk agak jauh dari Rayne.
Trap... Trap... Trap...
" Terus gimana? " tanya balik Evan lagi.
" Gimana apanya? " tanya balik Rayne.
" Soal Ray, Adeeek... " jawab Evan malas karena kini gantian Istrinya yang mendadak lemot.
" Udah beres semua. Prewed-nya aja mereka urus sendiri. " jawab Rayne seadanya, Evan pun menganggukkan kepala.
" Kamu beneran mau suruh Ray pindah setelah nikah? " tanya Rayne lagi, wajahnya pun sudah kembali sendu.
" Ray memang sudah harus belajar untuk mandiri dan menanggung semuanya sendiri karena sebentar lagi statusnya berubah menjadi Kepala Keluarga. Jadi, jangan pernah sekalipun berpikir bahwa aku adalah Ayah yang kejam. Aku hanya tak mau Putra kesayanganku menjadi sosok Pemimpin Keluarga yang tidak bertanggung jawab nantinya. " jawab Evan menjelaskan alasannya.
" Ya tapi kan Ray masih bisa tinggal sama kita disini... Kita juga bisa bantu Ray awasin Alexandra yang lagi hamil. " sanggah Rayne yang masih saja tidak bisa menerima begitu saja alasan logis yang diucapkan oleh Suaminya.
" Jangan lebay... Ray bisa titipin Lexa disini kalau Ray pergi. " jawab Evan santai.
" Terus Ray mau tinggal dimana, Mas? Mereka juga belum punya tempat tinggal. " sanggah Rayne lagi.
" Ya itu urusan Ray gimana dia selanjutnya... Bukan urusan kita lagi. " jawab Evan yang tetap santai, Rayne pun malah bertambah kesal karena Evan terlihat sangat santai.
" Nggak baik kalau kita ikut campur sama urusan Rumah Tangga anak - anak. " lanjutnya telak.
" Kasih rumah buat Ray kalau gitu. " jawab Rayne kesal.
" Raynevandra punya pekerjaan... Nggak usah khawatir Ray nggak bisa beli rumah dan menghidupi keluarganya. " jawab Evan tetap tenang dan santai.
" Ya kalau pikiranmu beli rumah kaya rumah kita ini ya jelas nggak mampu... Tapi setidaknya aku yakin, Ray pasti mampu kalau hanya membeli rumah kecil - kecilan untuk tempat tinggalnya. " lanjutnya.
__ADS_1
Rayne pun terdiam dan semakin kesal dengan Evan. Tapi Evan hanya menanggapinya dengan santai. Evan sangat yakin bahwa Putra kesayangannya itu pasti bisa hidup dengan baik meski tanpa kemewahan yang selama ini melimpahi kehidupannya.