
Trap... Trap.. Trap...
" Come on, Momm... " ucap Zee kala ia sudah menghampiri Mommy dan Kakaknya di ruang makan.
" Come on, Girl... " jawab Mommynya, kecupan mereka pun bertemu dengan kecupan Steve sebelum mereka berangkat ke galeri, barulah Rayne dan Zee berangkat semenara Steve langsung beranjak menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Trap... Trap... Trap...
Bruuum...Whuuussszzzhhh...
Tak lama berselang setelah Rayne dan Zeevanea berangkat ke galeri, Stevano pun menyusul keluar dari rumah. Ia sudah berganti pakaian dengan pakaian kantornya. Meski wajahnya masih terlihat sangat muda tapi auranya yang besar membuat pola garis wajahnya menunjukkan ketegasan dan kewibawaan yang lekat. Sebelum ia berangkat, ia berfoto sendiri dan mengirimkannya kepada Kekasih hatinya sebagai laporan. Setelah selesai mengirimkan pesannya kepada Maura, Steve pun bergegas pergi ke kantor Daddynya.
" Aku ke kantor dulu, Beb... Kegiatan rutin selama di rumah sama Daddy. Jangan rindu, biar aku saja yang rindu. "
Send...
Trap... Trap... Trap...
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
Jalanan Jakarta pagi hampir siang ini kembali dinikmati oleh Steve sembari mengemudikan mobilnya menuju kantor Kalandra Group. Meski sedikit macet tapi tak begitu masalah baginya... Bagaimanapun juga Jakarta adalah separuh kota masa kecilnya hingga ia beranjak dewasa dan meski kini pun juga iya. Steve juga merindukan Jakarta meski setelah kuliah di London dan masih seringkali pulang ke Jakarta tapi tetap saja, rindu akan kota Jakarta pun terselip di benaknya.
Dan kini, sudah jelas Rayne dan Zeevanea yang telah sampai terlebih dahulu di galeri sementara Stevano masih menikmati jalanan Ibu Kota. Keduanya turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam. Terlihat sangat dekat dan hangat. Ibu dan Anak yang sama - sama terlihat cantik rupawan. Si Ibu yang masih sangat cantik dengan aura kalem serta keanggunan yang lekat, sementara sang Putri tercinta dengan aura kecantikan paripurna dan kearoganan seperti Bapaknya yang melekat erat di dalam dirinya.
Trap... Trap... Trap...
Ketika keduanya berjalan masuk menuju ruang kerja tempat Rayne berada, semua mata jelas tertuju kepada mereka. Dan itu bukan hal yang asing lagi bagi Zeevanea meski disana juga berkeliaran banyak Model cantik dengan tubuh yang semampai indah dipandang mata.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
" Uncle!!! " pekik Zeevanea girang kala melihat seorang Pria tampan seusia Daddynya dengan berpakaian jas rapih itu melintas ke arah lainnya dan tak menyadari keberadaan dirinya dan Mommynya, yang dipanggil Uncle pun langsung menghentikan langkahnya dan celingukan mencari sumber suara, sementara Rayne langsung tersenyum dan geleng kepala melihat Putrinya berlari menghampiri Unclenya.
Trap... Trap... Trap...
" Hei, Cantiknya Uncle kapan datang? " ucap si Pria sembari menerima pelukan Zeevanea.
" Kemarin, Uncle... " jawab Zeevanae sumringah sembari mengurai pelukan mereka.
" Uncle tambah ganteng aja... " selorohnya menggoda Unclenya, Rayne dan Uncle saling melempar pandang dan geleng kepala bersamaan.
" Gantengan mana sama Mas mu? " goda balik Unclenya sambil menatap Rayne dan terkikik.
" Gantengan Mas Evan dari dulu, dong... " jawab Zeevana dengan santainya memanggil Daddynya dengan sebutan Mas Evan seperti Mommynya, memang itulah salah satu kejahilan Zeevanea kepada Daddynya yang sebenarnya sangat dikaguminya itu.
" Hahaha... " tawa Unclenya pun pecah, sementara Rayne hanya tersenyum saja.
" Udah ah kangen - kangenannya. Uncle kerja sana. " potong Zeevanea santai tapi bernada menjengkelkan seperti Daddynya, Uncle dan Mommynya pun tertegun sambil geleng kepala lagi.
" Bener - bener titisan Mas Evan! " pekik Unclenya sembari mencubit gemas hidung Zeevanea.
" Kita duluan ya, Uncle... " pamit Zeevanea dan menggenggam tangan Mommynya, Unclenya pun mengangguk, ketiganya pun kembali melanjutkan langkah masing - masing.
Trap... Trap... Trap...
Ingatkah dengan sosok tampan, kalem nan tegas Argha Rahakzha Witjaksana? Yang dipanggil si kembar dengan sebutan Uncle Kaka. Yups... Ketika sampai di area galeri Queen Fashion Model Management, Zeevanea dan Rayne tak sengaja bertemu dengan Raka karena memang letak Queen Fashion Model Management yang searea dengan Gamyaraa Media, dan Raka tetap yang memimpin Gamyaraa Media hingga saat ini.
Rayne dan Zeevanea pun masuk ke dalam ruang kerja Rayne. Keduanya nampak duduk bersama sembari memilah beberapa lembar kertas - kertas desain yang sudah tertata rapih di atas meja kerja tersebut. Zeevanea yang juga sudah mulai ikut memberikan sumbangsihnya untuk galeri milik Mommynya pun terlihat sudah sangat luwes dengan pekerjaan ini. Dan Stevano, Pemuda tampan ini pun nampaknya baru saja terlihat memarkirkan mobil sport mahalnya di belakang mobil Mercedes Benz G Class berplat nomor B 24 YNE yang tak lain adalah mobil kesayangan milik sang Daddy.
Trap... Trap... Trap...
Lagkah lebar nan tegas mengayun seirama dengan pergerakannya yang perlahan menyusuri luasnya Perusahaan menuju lantai paling atas tempat ruang kerja Presiden Ditektur berada. Semua Karyawan yang melihat kedatangannya langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya memberikan sambutan juga memberikan hormatnya kepada Putra dari Presiden Direktur mereka. Sementara yang diberi hormat hanya menganggukkan kepalanya meski sama sekali tak terlihat angkuh seperti Daddynya ketika menganggukkan kepalanya ketika menjawab penghormatan dari Karyawannya.
__ADS_1
Meski masih terbilang sangat muda, tapi kharismanya sungguh terpancar. Aura kewibawaan dan ketegasan sudah melekat erat di dalam diri Pemuda tampan nan pendiam ini. Setelah sampai di lantai paling atas gedung pencakar langit ini, ia pun langsung menuju pada ruang kerja Daddynya.
Trap... Trap... Trap...
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
Evan yang sedang duduk menunduk menatap berkas - berkasanya pada kursi kebesarannya langsung mendongakkan kepalanya. Setelah pintu di ketuk, si pengetuk pintu pun langsung membukanya begitu saja tanpa menunggu perintah dari si empunya ruangan. Stevano lah yang datang... Jikalau bukan Putranya yang masuk begitu saja, sudah jelas pasti Evan akan langsung menegurnya. Tapi ketika melihat sang Putra yang masuk dan berjapan mendekat ke arahnya dengan penampilan kantoran rapih itu, seketika itu juga senyumnya mengembang. Senyum teduh Ayah dan Anak ini pun beradu.
" Selamat datang kembali, Tuan Muda... " canda Evan menyambut kedatangan sang Putra dengan senyum mengembang penuh rasa bangga, Stevano pun langsung memeluk Daddynya penuh rasa bangga yang juga menyeruak di dalam dadanya.
" Adikmu mana? " tanya Evan kala pelukan mereka terurai.
" Ke galeri sama Kakaknya. " jawabnya santai dan langsung beranhak duduk pada kursi kebesaran yang semula diduduki oleh Daddynya, Evan hanya tersenyum sambil geleng kepala melihat tingkah Putranya.
" Proyek apa ini, Dadd? " tanya Stevano tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas berkas yang semula dibaca Evan, Evan pun duduk di tepian meja kerjanya.
" Proyek pembangunan pabrik baru di Kalimantan. " jawab Evan sambil menyulut rokoknya.
" Daddy nggak ada niat berhenti merokok? " tanyanya sembari tetap membaca berkasnya.
" Kenapa? " tanya Evan.
" Bukannya kamu merokok juga Daddy nggak pernah melarang. " lanjut Evan.
" Tapi Daddy sudah berumur, Daddy harus hidup lebih sehat. " jawabnya.
" Daddy sudah tua maksudmu? " tanya Evan tak terima dikatakan tua secara halus oleh Putranya.
" Barusan Daddy sendiri yang bilang. " sanggahnya sambil menahan tawanya.
__ADS_1
" Dasar, Bocah! " jawab Evan sambil terkikik, Stevano pun tersenyum tipis sembari mengacak kasar rambut Putranya.