Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 182 - Harga Diri Harga Mati


__ADS_3

Mas Rudi is calling...


Tulisan itu nampak menyala - nyala pada layar ponsel Evan. Evan tidak mengetahuinya karena Evan memang masih tertidur dan ponsel Evan pun memang diletakkan di atas nakas. Sementara Rayne sendiri sudah keluar dari kamar sejak tadi untuk menyiapkan sarapan keluarganya. Meski ada Pembantu tetapi tetap saja Rayne juga ikut bergerak. Rayne tak mau kepengurusan anggota keluarganya hanya dilakukan oleh Pembantunya saja. Terlebih untuk Evan yang memang selalu rewel jika bukan Rayne sendiri yang meladeninya.


" Kalian sarapan duluan saja... Daddy masih tidur. " ucap Rayne di ruang makan, sejak beberapa saat tadi anak - anaknya sudah nampak rapih dan sudah duduk rapih di kursi makan masing - masing, kecupan setiap pagi pun juga tak terlewatkan seperti biasanya, Zeevanea juga berada disana dengan mata yang terlihat sembab, Rayne sengaja tidak membangunkan Evan agar Zeevanea tidak merasa ketakutan seperti semalam.


" Nanti kalian terlambat kalau nunggu Daddy bangun. " lanjutnya, anak - anaknya pun langsung bersantap pagi meski tanpa Evan, suapan sendok pertama pun langsung masuk ke dalam mulut setelah Devandroe selesai memimpin doa sebelum makan, Rayne tetap ikut duduk bergabung disana dan hanya memakan irisan buah pepaya sembari menunggui anak - anaknya sarapan.


Kriiing...


" Lanjutin sarapannya... Mommy angkat telepon dulu. " ucap Rayne yang langsung menyudahi makan pepaya dan langsung berdiri untuk menjawab telepon rumah yang berdering, anak - anaknya pun hanya mengangguk tanpa bersuara.


Trap... Trap... Trap...


Kriiing... Kriiing... Kriiing...


Rayne :


Halo, Assalamualaikum...


ucap Rayne.


Ayah Rudi :


Waalaikum salam, Dek...


Evan mana?


jawab langsung Ayah Rudi, Ayah Rudi sudah hafal akan suara Rayne.


Rayne :


Mas Evan masih tidur, Yah...


jawabnya seadanya.


Kalau Ayah mau ngomong penting biar aku bangunin.


lanjutnya.


Ayah Rudi :


Pantesan Ayah telepon ke hapenya nggak diangkat.


jawab Ayah Rudi sambil mendesah kasar.


Biar aja, nggak usah dibangungin...

__ADS_1


lanjut Ayah Rudi menolak ucapan Rayne, Rayne hanya mengangguk.


Ya udah... Ayah tutup dulu teleponnya.


Assalamualaikum.


tukas Ayah Rudi.


Rayne :


Waalaikum salam.


balas Rayne, panggilan pun terputus dan Rayne pun langsung kembali kepada anak - anaknya.


Tut... Tut... Tut...


Trap... Trap... Trap...


Cup...


Cup...


Kedua Putra Rayne ini langsung mengecup singkat bibir Rayne setelah mereka selesai sarapan dan akan bersiap untuk beraktifitas. Tetapi Zeevanea masih terlihat duduk diam sambil memainkan sendok pada piring yang masih penuh akan makanannya.


" Aku berangkat dulu... " pamit Raynevandra kepada Rayne.


" Hati - hati di jalan, Sayang... " jawab Rayne, Devandroe dan Raynevandra pun mengangguk kemudian langsung bergegas setelah mengecup singkat bibir Stevano dan Zeevanea juga.


Trap... Trap... Trap...


" Sabar... ' lirih Stevano, Zeevanea langsung memeluk pinggang Stevano karena kini posisi Stevano tengah berdiri dan Zeevanea tetap duduk, Rayne pun langsung ikut memeluk Zeevanea meski tatapan Rayne nampak kosong.


' Kita nggak bisa ngomong grasah grusuh sama Daddy... Biar Daddy juga tenang dulu. " lanjut Stevano, Zeevanea pun kembali mengangguk lemah.


" Bagaimanapun juga Daddy itu Ayah kita... Kita sebagai anak harus tetap menaruh rasa hormat dan bakti kita kepada Daddy di atas segalanya. " lanjutnya.


" Kakak sama Maura juga belum mendapat restu dari Daddy... Perkara kita sama, yaitu restu Daddy. " lanjutnya lagi.


" Kita berjuang sama - sama... " tukasnya, dengan perlahan Zeevanea pun mendongakkan kepalanya untuk menatap Stevano.


" Ray beruntung ya, Kak... Nggak kaya kita. " lirihnya sendu, Stevano nampak mengernyitkan keningnya, Stevano bingung karena tiba - tiba Zeevanea malah membicarakan Raynevandra, terselip perasaan iri di dalam diri Zeevanea terhadap perlakuan Evan kepada Raynevandra.


" Memangnya Ray kenapa? " tanya balik Stevano.


" Alexandra hamil dan Daddy merestui mereka untuk menikah. " jelasnya lemah, guratan raut wajah penuh kesenduan itu pun kian kentara di wajah Zeevanea yang sembab, mata Stevano nampak membola seketika.


" Sementara kita berdua yang jelas nggak bikin kesalahan memalukan kaya Ray dan nggak ikutan buat salah malah ditentang keras kaya gini... " lanjutnya dan air matanya pun perlahan menetes membasahi wajahnya.

__ADS_1


" Momm... " panggil Stevano pelan, Rayne nampak diam dengan tatapan kosongnya.


" Mommy... " panggil Stevano lagi, kali ini semabari menepuk pelan pundak Rayne, Rayne nampak bergerak kaku.


" Eh, Kak... Kakak ngomong apa? " tanya balik Rayne dengan wajah bingungnya.


" Apa bener yang barusan Zee katakan? " tanya Stevano lagi, wajah Zeevanea semakin terlihat sendu kala menatap Rayne yang seolah sedang menanggung banyak beban berat di pundaknya.


" Zeevanea ngomong apa, Sayang? " tanya balik Rayne berpindah kepada Zeevanea, wajah Rayne masih terlihat bingung juga.


" Apa bener Alexandra hamil dan Daddy merestui Ray? " bentak Stevano menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rayne kepada Zeevanea, Rayne nampak kian gelagapan kala menatap percikan emosi yang tersirat dari tatapan mata Stevano, Zeevanea menggenggam tangan Stevano dengan maksud agar Stevano tidak emosi saat berbicara dengan Mommy-nya, air mata Rayne pun langsung terlihat lolos begitu saja.


Trap... Trap... Trap...


" Daddy memang mengizinkan Raynevandra menikah dengan Alexandra, tapi secara otomatis Raynevandra langsung tercoret dari keanggotaan rumah kita karena kesalahannya yang fatal. " ucap tegas Evan, Evan mendengar ucapan mereka semua karena sejak pembicaraan tadi berlangsung Evan sengaja menghentikan langkahnya dan mengamati ucapan mereka dalam diam.


" Tembak kepala Daddy kalau kalian berdua tidak percaya. " lanjutnya sambil terus melangkah mendekat kepada Rayne, tangis Rayne kian tumpah setelah menyadari restu yang diberikan oleh Evan kepada Raynevandra tidaklah cuma - cuma, Stevano dan Zeevanea pun nampak terperangah dengan ucapan Evan.


" Jangan, Mas... Kasihan anak - anak... " lirih Rayne mengiba, memohon belas kasihan dari Evan untuk anak - anak mereka.


" Kasihani anak - anak, Mas... Izinkan anak - anak kita bahagia dengan pasangan pilihannya... " lanjutnya yang terus memohon belas kasih Evan.


" Aku yang salah... Aku yang nggak bisa didik anak - anak kita dengan benar. " lanjutnya lagi kian memelas dan kian berderai air mata.


" Mereka semua sudah besar, Sayang... Mereka tau mana yang baik dan mana yang tidak. Mereka juga tau mana yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Harusnya mereka semua bisa belajar dari sejarah kehidupan keluarga kita yang selalu kita berdua ceritakan kepada mereka semua. " tegas Evan, Evan langsung memeluk Rayne yang tengah menangis terisak.


" Raynevandra salah dan dia juga harus menuai buah dari kesalahannya. Jangan mengira Raynevandra adalah anak kesayanganku maka aku akan membebaskan kesalahannya. Raynevandra tetap harus menebus kesalahannya sendiri. " tegas Evan membicarakan soal Raynevandra.


" Stevano... " panggil Evan kepada Stevano, Stevano langsung menoleh menatap Evan.


" Kamu anak tertua Daddy dan Mommy... Kamu adalah tangan kanan Daddy untuk keluarga kita. Bukan Daddy tidak mau memberikan restu kepadamu dan Maura. Tapi Daddy hanya mengikuti alur yang Teo ciptakan. Bersikaplah dewasa. Salahkan juga Teo, jangan hanya menyalahkan Daddy. " lanjutnya berucap tegas kepada Stevano, ingin rasanya Stevano menjawab dan membantah keputusan Evan, tapi mengingat keadaan masih teramat genting setelah ketambahan masalah Zeevanea maka Stevano pun mengurungkan niatnya.


" Kalau kamu tetap ngotot ingin bersama Nicholas... " ucap Evan berpindah kepada Zeevanea dan menjeda sejenak ucapannya, tatapan Evan dan Zeevanea pun beradu meski Zeevanea masih nampak ketakutan.


" Daddy rela berikan nyawa Daddy buat kamu... " tegasnya, tubuh Zeevanea langsung luruh ke bawah dan Stevano pun langsung menahannya.


" Bagi seorang Pria, harga diri itu harga mati! " tegas Evan, Rayne dan Zeevanea nampak kian menangis terisak bersimbah lara.


" Daddy memang mengizinkan Raynevandra menikah karena Raynevandra memang harus bertanggung jawab kepada Alexandra dan bayi mereka. Tapi setelah Ray nikah dia harus membawa pergi Alexandra dari rumah ini tanpa sepeser pun pesango dari Daddy dan Mommy. " ucap Evan lagi tentang Raynevandra.


" Kalau kamu Stevano tetap ngotot nikah sama Maura sementara keputusan Teo tetap sama, ikut angkat kaki bersama Raynevandra. " lanjut Evan berucap tegas kepada Stevano.


" Dan kamu Zeevanea... " lanjut Evan kembali berucap kepada Zeevanea.


" Kalau kamu ngotot ingin bersama Nicholas, nyawa Daddy buat kamu! " tegasnya.


" Daddy nggak adil! " teriak Zeevanea murka, si Barbar ini langsung berteriak histeris kala Evan memberikan keputusan yang lebih berat kepadanya ketimbang kepada Stevano dan Raynevandra.

__ADS_1


" Mommy yang salah! Bukan aku! " teriaknya kian murka dan langsung menyalahkan Rayne atas kesalahan Rayne terdahulu.


" Keluarga Nitinegara yang telah menginjak - injak harga diri Daddy! Cam kan itu! " pungkas tegas Evan dengan suara pelan penuh penekanan sambil menatap tajam kepada Zeevanea.


__ADS_2