Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 66 - Ada Dech!


__ADS_3

Selepas Subuh, Nicholas langsung berangkat ke Bandara Soekarno Hatta dengan diantarkan oleh Sopir Pribadi yang selalu stay di kediaman kedua Orang Tuanya. Siapa lagi kalau bukan Lingga Pradygta Nitinegara dan Asmara Kinantya Ardha Nitinegara. Sebuah mobil mewah itu pun sudah nampak bertengger dan siap di teras rumah megah milik Dygta meski hari masih sangat pagi untuk bepergian ke luar rumah. Jakarta itu macet, maka dari itu Nicholas memilih berangkat lebih awal dibandingkan nanti harus tergesa - gesa jika ia berangkat dengan waktu yang mepet. Dan kini Nicholas sudah terlihat segar dan rapih, Nicholas sudah siap untuk terbang kembali ke Bali. Meski sebenarnya ia juga baru kemarin tiba di Jakarta setelah menghadiri acara serah kerja di Bali bersama Papinya. Dan kini, ia harus kembali bertandang kembali ke Pulau Dewata Bali untuk menyelesaikan urusan yang belum terselesaikan disana.


Trap... Trap... Trap...


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


Meski keluarga Nitinegara juga memiliki pesawat Jet pribadi tapi Nicholas lebih senang menggunakan pesawat komersil. Karena Nicholas berpikir, jika untuk urusan pekerjaan boleh saja menggunakan pesawat pribadi karena soal pekerjaan itu sangat penting. Tapi jika bukan untuk urusan pekerjaan, ditambah dirinya juga berangkat seorang diri, maka penerbangan komersil pun juga sama saja pikirnya. Meski menggunakan pesawat komersil, tetap saja ia memilih kelas eksekutif. Setelah mobil yang mengantarkannya telah sampai di Bandara, Nicholas segera turun dan melakukan boarding untuk masuk ke dalam Bandara.


Trap... Trap... Trap...


Setelah duduk menunggu sesaat, pemberitahuan penerbangan menuju ke Denpasar Bali disiarkan. Nicholas langsung berdiri dan beranjak masuk ke dalam pesawat.


Trap... Trap... Trap...


Ketika pesawat sudah berada di atas langit dan beranjak meninggi meninggalkan Jakarta pagi ini, Nicholas nampak memikirkan apa - apa saja nantinya yang akan dibicarakannya. Jujur saja, kini ia merasa sangat gugup lantaran apa yang telah dilontarkannya dengan penuh keyakinan itu ternyata salah besar. Dan kini ia memang harus mempertanggung jawabkan ucapannya yang salah kaprah itu dengan meminta maaf secara langsung kepada si empunya maaf. Dan tanpa terasa, lama pemerbangan sekitar dua jam itu pun usai. Nicholas menenteng kembali travel bagnya dan beranjak turun dari Pesawat.


Trap... Trap... Trap...



Pemuda berperawakan tinggi tegap itu pun perlahan berjalan keluar dari Bandara. Setelan celana pendek dipadukan dengan sepatu dan kaos yang dilapisi dengan kemeja kancing terbuka itu membuat penampilannya terlihat santai tapi terkesan cool layaknya anak muda yang sangat terlihat fashionable. Ditambah dengan kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya serta balutan topi yang turut menutupi kepalanya membuat penampilannya semakin paripurna.


" Itu si Nico, Bang... " ucap Stevano kepada Nala, Stevano baru saja menjemput Nala di Bandara, dan ketika sedang menatap kesekitar matanya langsung bertemu dengan tatapan mata Nicholas yang juga tanpa sengaja mengarah kepadanya.


" Eh, iya... " jawab Nala sambil ikut menatap ke arah yang sama dengan Stevano, senyum ketiganya pun beradu, Nicholas langsung saja menghampiri Nala dan Stevano yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


" Lo dari UK langsung kesini, La? " tanya Nicholas pada Nala, Nala langsung menganggukkan kepalanya.


" Lo juga ada urusan apa disini? Kok jadinya barengan gini padahal nggak ada janjian sama sekali. " tanya balik Nala, Stevano dan Nicholas bersitatap sekilas sambil terkikik, seolah hanya keduanya saja yang paham apa maksud dari senyum juga tatapan itu.


" Ada dewh... " jawab Nicholas dan Stevano kompak dan masih terkikik, Nala langsung mencebik kesal seketika.


" Ya udah, ayo... Kita barengan aja. " ucap Stevano, Nala dan Nicholas pun mengangguk kemudian langsunh beranjak pergi menuju ke Rumah Sakit tempat Zeevanea dirawat.


Trap... Trap... Trap...



Bruuum... Whuuussszzzhhh...


" Lo nggak dapet makan di Pesawat? " tanya Stevano sambil mengemudi, Nala duduk di sampingnya, dan Nicholas duduk di belakang.


" Males... Nggak Gue sentuh tadi makanan Gue. Gue cuma makan roti yang Gue bawa dari rumah kemaren. Dan sekarang Gue pengen makan masakan Nusantara aja. " jawab Nala menjelaskan panjang lebar, Nicholas langsung geleng kepala melihat tingkah Nala, sementara Stevano jelas sudah hafal kebiasaan Kakak Sepupunya yang mirip Daddynya itu.


" Lo mau makan apa, Nic? " lanjut Stevano bertanya pada Nicholas.


" Gue udah makan tadi... Ngopi aja Gue. " jawab Nicholas, Stevano pun mengangguk dan mulai memperlambat laju kendaraannya untuk mencari tempat makan.


Tak berselang lama, Stevano langsung saja membelokkan mobilnya tak jauh dari area sebuah kedai makan dengan menu Nasi Pedas Khas Bali yang tertera di tulisannya. Ketiganya langsung turun dan masuk ke dalam tempat makan tersebut setelah mendapatkan tempat parkir.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


Terlihat disana lauk pauk yang ditata dengan rapi di kelilingi kaca bening. Lauk pauk semuanya halal. Tersedia seperti mie goreng, ayam sisit, perkedel jagung, hati ayam, semur daging sapi, ayam goreng, sate ayam, kulit ayam bumbu merah, teri goreng, kacang tanah goreng dan sambal andalannya yaitu sambal pedas. Setelah selesai memesan menu makan, ketiganya langsung mencari tempat duduknya. Hanya Nicholas yang tidak ikut makan, sementara Stevano pun langsung makan dengan lahapnya.


" Pedes banget, sumpah! " pekik Nala kala makanannya baru termakan baru beberapa suapan, keringatnya terlihat mulai bercucuran, Stevano dan Nicholas pun terkikik bersamaan.


" Nampol pedesnya, Bang... " ucap Stevano yang masih lebih bisa menahan rasa pedasnya makanan itu.


" Harusnya Lo tadi ngomong nggak doyan pedes biar nggak dikasi sambel. " timpal Nicholas, Nala masih nampak mendiam sambil kepedasan, air putih segelas milik Nala sudah tandas.


" Gue doyan pedes sih sebenernya... Cuma ini nih sambelnya setan banget, sumpah. " lanjutnya.


" Kulit ayamnya enak, Bang... " lanjut Stevano karena menu yang mereka pesan hampir sama.


" Cobain, sini... " ucap Nala dan langsung mencomot kulit ayam yang dibumbu merah itu dari piring Stevano.


" Iya, nih... Nyesel Gue tadi cuma minta nasi campur lauk ayam sama daging aja. " lanjut Nala.


" Udah, abisin dulu. Jangan ngomong aja. " potong Stevano, keduanya pun kembali makan dengan lahap dan tanpa suara seperti kebiasaan ketika makan di keluarga mereka hingga makanan itu pun tandas tak tersisa meski Nala terlihat sedikit kepedasan tapi ia juga menghabiskan sepiring makanannya.


" Eh... Ini udah ada harganya, ya? " tanya Nicholas yang tak sengaja memperhatikan piring makan Stevano dan Nala yang terbuat dari anyaman itu terselip secarik kertas bandrol harga makanan yang dipesan dibawahnya.


" Iya, nih... " jawab Nala dan Stevano kompak sambil mengambil kertas yang ada disela piringnya itu.


" Unik, nih... Bisa jadi referensi misal kita mau buka bisnis kulineran. " lanjut Nicholas semangat.

__ADS_1


" Lo itu sebenernya Pembalap atau apaan, sih? Semuanya mau lo jabanin. " dengus Nala sambil geleng kepala, Stevano dan Nicholas pun jadi cekikikan.


Dan ketiganya pun lanjut ngobrol santai sejenak sembari menghabiskan kopi hitam yang tadi mereka pesan sebelum kembali ke Rumah Sakit tempat Zeevanea dirawat.


__ADS_2