Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 20 - Sugar Baby


__ADS_3

" Aku duluan... " pamit Steve pada Evan saat hari sudah senja dan mereka masih berada di kantr karena baru saja selesai meeting dengan perusahaan asing.


Cup...


Evan mengangguk dan mengecup singkat bibir Putranya.


" Bawa Adekmu pulang, Kak... Daddy mau jemput Zeevanea dulu karena mobilnya tadi dipakai Mommymu sama Aunty Noela meeting di luar. " ucap Evan.


" Aku mau mampir ke tempat temen dulu, Dadd... Udah terlanjur janji. " jawabnya sungkan.


" Lagian mobil Zee sendiri kan juga masih ada di galeri. " lanjutnya menggerutu pelan.


" Udah, Lo jemput Zeevanea sana... Biar Nala sama Ray pulang sama Gue. " sahut Eric, Evan pun mengangguk dan mereka semua langsung bergegas menuju arah tujuan masing - masing.


Trap... Trap... Trap...


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


Sesampainya di depan galeri, Evan tak lantas masuk ke dalam. Ia menghubungi Zeevanea dan menunggunya di luar. Tak lama berselang, nampak Zeevanea berjalan keluar dari galeri dan langsung menghampiri Evan yang sudah menunggunya.


Trap... Trap... Trap...


Cup...


Setelah Zeevanea masuk ke dalam mobil, Zeevanea langsung mencium punggung tangan Evan serta mengecup singkat bibir Evan seperti biasanya.


" Lets go... " ucap Zeevanea, Evan tersenyum dan langsung melajukan mobilnya.


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


" Mampir makan dulu dong, Dadd... Aku laper banget. " ucap Zee kala mereka dalam perjalanan menuju pulang.


" Boleh... Mau makan dimana? " jawab Evan.


" Yang deket sini aja lah... Yang searah sama jalan pulang. " jawabnya, Evan pun menganggukkan kepalanya dan mulai mencari tempat makan di sekitaran jalan yang mereka lalui.


__ADS_1


Tak lama kemudian, Evan pun langsung membelokkan mobilnya menuju salah satu restoran yang berada di sekitaran jalan yang mereka lalui. Setelah memarkirkan mobilnya, keduanya pun langsung turun. Zeevanea bahkan tak segan menggandeng mesra lengan Daddynya.


Trap... Trap... Trap...


Tak jauh dari arah keduanya yang terlihat mesra, nampak beberapa orang Pemuda yang tengah memperhatikan mereka. Terlebih memperhatikan Zeevanea yang terlihat begitu cantik di matanya. Seorang gadis muda menggandeng mesra seorang Pria yang sepertinya pantas jika disebut Om - Om.



" Itu bukannya Bapaknya Stevano? " ucap salah seorang dari mereka yang sesaat lalu menatap kagum akan kecantikan Zeevanea, yang lainnya pun langsung menoleh mencari - cari sumber yang dibicarakan.


" Yang mana, sih? " tanya seorang lainnya.


" Itu yang sama Cewe muda tuh... " jawab si Pemuda yang bertanya tadi dengan berbisik, takut yang dibicarakan mendengar meski jarak mereka sedikit jauh.


" Beneran itu Bokapnya Steve? " tanya yang lainnya lagi seolah tak percaya sembari membelalakkan matanya, seseorang yang bertanya tadi pun menganggukkan kepalanya sembari tetap menatap pada kemesraan keduanya.


" Jangan - jangan itu Sugar Baby Bokapnya Stevano. " celetuk seorang lagi menebak.


" Bisa jadi... " ucap seseorang yang menjawab pertama kali tadi tapi seseorang yang bertanya tadi terlihat tak bergeming dan tetap memperhatikan ke arah Evan dan Zeevanea yang sedang membolak - balikkan buku menu dengan diiringi candaan.


" Udah lah biarin aja. " ucap si penanya awal tadi, tapi di dalam hatinya sedikit merasakan desiran berbeda ketika ia menatap ke arah Zeevanea.


" Bokap Gue nggak gitu, kali! " sanggah si penanya awal, teman - temannya langsung terkekeh menanggapinya.


" Hahaha... Bokap kita - kita juga nggak lah. " sanggah lainnya, mereka pun segera mengalihkan topik pembicaraannya.


Sesaat kemudian, tawa renyah Evan dan Zeevanea terhenti kala Pelayan menyajikan makanan yang telah mereka pesan. Mereka pun langsung melahap makanan lezat yang ada di hadapannya. Tak berselang lama, acara makan dalam diam itu pun selesai. Evan menyulut rokoknya setelah ia menandaskan segelas air putih yang juga ada di hadapannya. Zeevanea sendiri masih menikmati jus strawberry yang dipesannya. Sementara kopi hitam yan dipesan Evan nampak masih utuh karena ia masih menikmati rokoknya. Setelah acara makan Evan dan Zeevanea selesai, nampak Evan mengangkat tangannya dan melambaikan ke arah Pelayan. Pelayan pun datang dengan membawa nampan berisikan beberapa kotak makanan yang diletakkan di dalam palstik kresek berwarna putih. Pelayan itu pun nampak menyodorkan bill kepada mereka dan Evan langsung membayarnya. Setelahnya, Bapak dan Anak ini pun beranjak pulang.


Trap... Trap... Trap...


" Gue ke kamar mandi bentar. " pamit si Pemuda yang ternyata sedari tadi terus memperhatikan Zeevanea diam - diam tanpa disadari oleh teman - temannya, ia pun langsung beranjak setelah temannya mengangguk.


Trap... Trap... Trap...


Brugh!!!


" Auwww!!! " jerit Zeevanea yang kaget sekaligus kesakitan karena perutnya terhantam pojokan meja makan yang ada di restoran karena tubuhnya tertabrak seseorang, Evan langsung memperhatikan Putrinya dan mengusap lembut sumber kesakitan tersebut yang sudah terlebih dahulu diusap sendiri oleh Zeevanea.

__ADS_1


" Kamu nggak papa, Sayang? " tanya Evan yang masih fokus dengan Zeevanea.


" Sakit... " rengeknya manja sembari menatap manja pada Evan.


" Maaf, Om... Saya nggak sengaja. " ucap si Pemuda memotong pembicaraan Evan dan Zeevanea, Evan dan Zeevanea langsung mendongak dan menatap ke arahnya tapi Zeevanea menatapnya dengan wajah kesal.



" Sekali lagi saya minta maaf, Om... Saya benar - benar nggak sengaja. " ucapnya tulus dan memang tidak sengaja, Evan hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum tipis.


" Makanya kalau jalan jangan meleng aja, dong! " betak Zeevanea murka, Evan menatap Putrinya sembari menggelengkan kepalanya seolah memberi isyarat agar Putrinya tidak lagi berteriak.


" Maaf... Saya nggak sengaja. " ucapnya berpindah pada Zeevanea yang masih menampakkan wajah kesalnya.


" Sakit, Dadd... Nanti kalau perutku kenapa - kenapa gimana coba! " manja Zeevanea yang masih saja mengusap lembut pojok perutnya yang memang masih terasa sedikit sakit sembari menyandarkan kepalanya pada dada bidang Daddynya, Zeevanea memang tidak tahan sakit.


Cup...


" Udah, nggak akan kenapa - kenapa. " ucap Evan dan mengecup singkat bibir Zeevnea yang nampak mengerucut kemudian menatap Zeevanea dan Pemuda itu bergantian.


" Saya duluan. " pamitnya, Pemuda itu pun mengangguk dengan berjuta rasa yang membingungkan karena Evan dengan santainya mengecup si Gadis di depan mata kepalanya tanpa ragu meski mengetahui jika ia adalah teman Steve dan Nala, kemudian Evan langsung menggandeng tangan Zeevanea dan berlalu pergi.


Trap... Trap... Trap...


Setelah si Pemuda menyelesaikan hajat kecilnya di kamar mandi, Pemuda ini pun kembali ke tempat duduknya.


Trap... Trap... Trap...


" Gila, Man! Dicium bibirnya... " ucap salah seorang temannya ketika si Pemuda kembali ke tempat duduknya dan masih membicarakan yang tadi dilihatnya.


" Beneran Sugar Babynya Bokap si Steve tuh. Gue yakin seratus persen. " ucapnya lagi begitu antusias, si Pemuda tersebut nampak diam dan entah apa yang sedang dipikirkannya, teman - temannya yang lain juga terlihat antusias dengan pembicaraan ini dan tak menyadari raut wajah si Pemuda ini berubah diam.


" Tapi Bokapnya Steve emang cakep, ditambah masih muda banget. Cewe cantik mana aja pasti klepek - klepek kalau disodorin Om ganteng kaya gitu. " timpal yang lainnya.


" So pasti langsung bertekuk lutut lah si Cewe... " timpal satunya lagi.


" Langsung ngangkang kali bukan bertekuk lutut. " timpal teman satunya lagi dengan santainya.

__ADS_1


" Hahaha... " mereka semua tertawa kecuali si Pemuda satu tadi.


" Apa lagi coba yang dicari si Om sama Cewe cantik kalau bukan urusan bawah perut. " ucap seseorang dari mereka tadi, mereka duduk beremat disana termasuk si Pemuda, mereka bertiha kembali tertawa renyah.


__ADS_2