
Serentetan acara lamaran malam hari ini pun akhirnya usai. Selain membicarakan perkara pernikahan yang harus digelar dengan cepat sebelum perut Alexandra semakin membesar, kedua belah pihak keluarga ini pun juga membicarakan banyak hal mengenai Raynevandra dan Alexandra. Tanggal dan tempat pelaksanaan pun sudah disepakati malam hari ini dengan serentetan perintilan - perintilannya perkara pernikahan yang tanpa diketahui oleh keluarga Alexandra jika ternyata Rayne telah mencicil mempersiapkannya semenjak mengetahui Alexandra mengandung benih dari Putra Bungsunya. Termasuk perkara katering yang sempat dibicarakan dengan Noela pun adalah salah satu bukti persiapan Rayne meski pernikahan Putranya akan digelar secara sederhana saja. Urusan pendidikan pun juga tetap dijadikan topik utama dalam pembahasan malam hari ini mengingat kedua remaja ini sejatinya memanglah masih sah berseragam abu - abu putih.
Mobil - mobil mewah milik keluarga Kalandra dan Armaya ini pun sudah beranjak kembali menuju kediaman Evan dan Rayne. Mereka memang memutuskan untuk kembali ke rumah Evan dan Rayne terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah masing - masing.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
" Assalamualaikum... " ucap para Ibu - Ibu sembari Nala membukakan pintu besar di paviliun belakang rumah Evan dan Rayne.
Trap... Trap... Trap...
" Any body home? " teriak Nala kencang karena suasana rumah nampak sepi.
" Ya Allah, Bang... Zeevanea pulang ke Menteng. Mommy lupa bilang sama Abang untuk nemenin Zeevanea disana. " jawab Rayne panik karena baru teringat jika Zeevanea sebelumnya sudah izin pulang ke rumah Evan yang lain.
" Halah nanti juga telepon kalau ketakutan... " jawab Nala santai, Rayne langsung menoleh menatap Evan yang sudah duduk dalam satu sofa yang sama dengan Ayah Rudi, dan keduanya pun sama - sama menikmati rokoknya.
" Stevano sama Devandroe kemana? " timpal Mama Rosa bertanya.
" Steve ke Bandung, Mam... Ada urusan kantor katanya. " jawab Rayne.
" Kalau Devandroe tadi pergi sama Arkana bilangnya mau beli buku. " lanjutnya, Mama Rosa pun mengangguk - angguk begitupun dengan yang lainnya.
" Eh tapi kok belum pulang juga ini tumbenan... " lanjutnya kemudian kembali menatap pada Evan lagi, tapi wajah Evan nampak sedang mendongak ke atas sambil memainkan asap rokoknya.
" Kalian yang belum siapin apa? " tanya Sea menyela.
" Undangan aja sih kayanya Kak yang belum... Itu pun juga nggak akan banyak tamu yang diundang. " jawab Rayne.
" Palingan juga cuma temen - temen deket sama keluarga aja yang diundang. " lanjutnya.
" Terus bingkisannya, udah? " tanya Vivian yang kini gantian menyela.
" Eh, iya... Itu belum. " jawab Rayne dengan wajah yang nampak berpikir.
__ADS_1
" Bantuin mikir kenapa sih, Lo! " timpal Richie sembari menendang kaki Evan.
" Serahin sama Raka, jadi tinggal terima beres. " jawab Evan sambil memijit keningnya karena sampai sekarang nyatanya kepalanya masih berdenyut nyeri.
" Iya loh, Rayne... Gimana bisa sampai nggak kepikiran sama Raka? " jawab Sea menggebu - gebu.
" Aku sih sebenernya bukan nggak kepikiran sama Raka... " jawab Rayne menggantung.
" Mas Evan sendiri sebenernya kan bisa, apalagi kalau cuma ngurusin pernikahan sederhana kaya gini. Dan lagi ini pernikahan Putranya sendiri. " lanjutnya.
" Kalau nggak mau Raka yang handle suruh Davi... " jawab Evan datar dan terlihat ia malas menjawab.
" Cari orang saja untuk mengerjakan. Pahamilah jika Suamimu masih belum siap menerima keadaan ini sepenuhnya, Gadis Hujan... Suamimu sepertinya masih berat melepas si Bungsu kesayangannya... " lirih Eyang Alam menyela, Tetua Armaya ini pun sebenarnya juga sangat memperhatikan keluarganya, tatapan sendu Rayne dan Evan pun bertemu.
" Iya, Eyang... Evan khawatir kalau bekal yang Evan kasih buat Ray belum cukup untuk membekali kehidupan barunya yang jelas akan lebih berat dari sebelumnya. " sahut Evan menjawab, Eyang Alam tersenyum teduh mengetahui kekhawatiran Evan yang memang sangat menyayangi anak - anaknya.
" Meski masih harus banyak belajar tapi Ray pasti bisa, Van... Yakinkan dirimu dengan untaian doa untuk Putramu. " jawab Eyang Alam, Evan hanya diam sembari mengangguk samar.
" Ya sudah, biar besok Eric suruh Davi kesini biar bisa ngobrol sama Evan dan Rayne, Eyang... " sela Eric.
" Lo rewel amat... Raka atau Davi itu sama saja. Pekerjaan mereka juga sama. " sela Richie.
" Tapi Raka lebih paham apa maksud Gue meskipun Gue nggak ngomong sekalipun. " jawab Evan.
" Yang mau nikah kan Ray... Kenapa Uncle Kaka yang harus paham sama maksud Daddy? " sela Nala berapi - api.
" Urus sendiri, Ray... Ini kesempatan menunjukkan kinerjamu kepada Daddy sebelum nantinya kamu benar - benar siap untuk mengambil alih Gamyaraa. " ucap Evan pada Raynevandra, Raynevandra langsung melongo tercengang.
" Kamu gimana sih, Mas? Masa iya calon Pengantin disuruh urus nikahannya sendiri. " protes Rayne pada Evan.
" Lagian Raynevandra mana bisa, dia juga belum pernah ngurusin beginian. " lanjut Rayne.
" Raynevandra punya EO... " jawab Evan datar tanpa menatap Raynevandra ataupun Rayne, Evan sedang berfikir sambil memainkan kepulan asap rokoknya di udara yang bersahutan dengan kepulan asap rokok Ayah Rudi.
" Kamu punya EO, Ray? " tanya Nala antusias, Raynevandra hanya mencebik dan langsung melengos, malas dengan Nala, sementara Rayne nampak tertegun dengan ucapan mengejutkan yang baru saja dilontarkan oleh Suami tercintanya.
__ADS_1
" Beneran, Dek? " timpal Ayah Rudi bertanya, Raynevandra langsung mengangguk sembari menatap kesal pada Evan yang membocorkan pekerjaan sampingannya sebelum ia benar - benar berkembang.
" Kerja sampingan sama temen - temen aja kok, Kek... Bukan punya Ray sendiri. Itu juga usahanya masih kecil - kecilan. " jawab Raynevandra pelan, mereka semua nampak haru juga bangga melihat Raynevandra yang bengalnya minta ampun seperti Evan itu ternyata sudah belajar mandiri sejak dini tanpa diketahui oleh mereka semua kecuali Evan yang memang sudah mendapatkan bocoran sebelumnya dari Raynevandra.
" Evan sekali... " lirih Mama Rosa dan langsung memeluk haru Cucu kesayangannya itu dengan mata berkaca - kaca.
" Ya sudah... Lebih baik kalian sekeluarga pikirkan dulu bagaimana nanti acara pernikahan Ray sama Alexa nantinya. Kita semua siap membantu. " sela Papi Ardi ikut berbicara.
" Makasih, Grandpa... " ucap Raynevandra, Papi Ardi langsung mengangguk dan tersenyum teduh pada Raynevandra.
" Ya sudah... Ayo pulang. Kasihan Romo kalau istirahat kemalaman. Kalian juga harus istirahat. " sela Mami Astri, mereka semua mengangguk dan kembali berdiri daei duduknya untuk mengantarkan keluarga Armaya yang akan bergegas pulang.
" Mama nginep sini, ya? Mama mau tidur sama Ray... " sela Mama Rosa.
" Makasih, Omaaa... " ucap Raynevandra berbinar, Raynevandra juga termasuk dekat dengan Mama Rosa.
" Kamu nginep juga apa gimana? " tanya Eric pada Nala.
" Mau pulang aja... Kasihan si Barbar nanti kalau tiba - tiba ketakutan tapi aku malah disini. " jawabnya.
" Ya sudah, mending kamu langsung ke rumah Adekmu aja... Mungkin Adikmu juga sebentar lagi pulang dari awasin pameran. " jawab Eric, Nala pun mengangguk dan mereka semua langsung beranjak ke depan untuk mengantarkan keluarga yang akan kembali pulang ke rumah masing - masing.
Trap... Trap... Trap...
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
" Andru kok belum pulang ya, Mas? Hampir jam sebelas ini. " ucap Rayne khawatir sembari melirik sekilas jam tangannya, Evan langsung merogoh saku celananya untuk menelepon Devandroe.
Bruuummm...
" Tuh, pulang... " ucap Raynevandra datar kala melihat mobil Devandroe mulai memasuki area parkir yang terlihat dari teras paviliun belakang rumah ini, Raynevandra langsung bergegas masuk meninggalkan Rayne dan Evan juga Mama Rosa yang masih menunggu Devandroe menghampiri mereka, Evan pun langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana semula.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1