
Pagi - pagi sekali nampak kedua Orang Tua dengan rambut yang sebagian sudah memutih itu terlihat masuk ke dalam sebuah tempat dengan sangat tergesa - gesa. Sepasang Suami Istri ini nampak berjalan cepat dengan saling menautkan jari - jemari ke dalam sela - sela jari Pasangannya.
" Permisi, Mbak... Kamar atas nama Hagata Rancaka Nitinegara nomor berapa, ya? Bisa minta tolong ditunjukkan? " tanya Ibu tua ini pada Resepsionis di tempat yang ia kunjungi saat ini dengan sangat terlihat tergesa - gesa, sang Suami yang berdiri di belakang sang Istri hanya diam tapi juga nampak memperhatikan.
" Mohon maaf, Ibu... Berdasar pada peraturan dari manajemen Pengelola Resort, kami tidak diperkenankan untuk memberitahukan nomor kamar Pengunjung yang menginap tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dari Pengunjung yang bersangkutan. " jawabnya sopan juga jujur, menyampaikan dengan jelas berkaitan dengan silsilah pekerjaannya.
" Tolong, Mbak. Saya Mamihnya. Ini penting. " ucap si Ibu yang terlihat semakin menunjukkan wajah panik, sekilas menoleh ke belakang untuk menatap sang Suami, Suaminya pun langsung maju ke depan meja Resepsionis, si Resepsionis nampak tersenyum tapi juga tidak berani melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh pengelola Resort.
" Mbak bisa konfirmasikan ke kamar atas nama Putra saya terpebih dahulu. Kami akan menunggu disini. " sela si Bapak bijak, Resepsionis yang bertugas pun langsung mengangguk.
" Dimohon Bapak dan Ibu untuk menunggu sebentar. " ucapnya sopan dan bergegas mencari nama tersebut dalam daftar Tamu di Resort.
Trap... Trap... Trap...
" Mas, tunggu!!! " ucap Rayne yang terus berusaha mengejar Evan, Evan nampak berjalan cepat dengan tubuh yang masih basah selepas menyudahi kegiatan berenang di pagi buta, Evan terus saja berjalan dan mengabaikan teriakan Rayne yang juga terus mengejarnya.
Trap... Trap... Trap...
" Queen... " lirih Ibu tersebut memanggil Rayne, Rayne langsung menoleh dan tanpa sadar ia pun berhenti, sementara Evan nampak terus berjalan cepat tanpa perduli, kedua Orang Tua ini juga nampak tidak melihat Evan.
" Mam...mih... " lirih Rayne dengan tenggorokan yang terasa tercekat, keduanya pun saling mendekat kemudian berpelukan.
" Kamu apa kabar, Sayang? " tanya si Ibu kepada Rayne.
" Aku baik, Mih... Mamih gimana? Papih juga? " tanyanya sembari menatap bergantian dengan kedua Orang Tua ini.
" Mamih sama Papih sehat, Nak... " sela si Bapak dan pelukan Rayne berpindah kepadanya hingga beberapa saat.
" Mamih sama Papih kenapa berdiri disini? Mau pesen kamar atau mau ketemu...? " tanya Rayne ramah tapi ia juga rikuh untuk melanjutkan pertanyaannya semula.
" Mamih mau ketemu Aga, Aga telepon Mamih katanya ada hal penting yang akan disampaikan kepada kami berdua. " jelas si Ibu, kembali lagi Rayne merasakan tercekat.
__ADS_1
" Kamarnya nomer berapa, Mbak? Hagata Rancaka Nitinegara. " tanya Rayne pada Resepsionis, Resepsionis nampak menatap takit juga sungkan kepada Rayne yang sudah diketahuinya adalah Istri dari Pemilik separuh Resort ini.
" Maaf, Ibu... Tadi Ibu dan Bapak sudah bertanya kepada saya, tapi saya tidak bisa langsung memberitahu sesuai prosedur pekerjaan. " ucapnya menjelaskan sungkan kepada Rayne.
" Ya sudah tidak apa - apa, saya mengerti. " jawab Rayne bijak.
" Sekarang tolong beri tahu dimana kamar yang ditempati Aga. " lanjutnya.
" Nomor sekian, Bu... Mari saya antarkan... " ucap Resepsionis sungkan, kemudian ia pun langsung mengantarkan mereka menuju kamar yang dicari.
Trap... Trap... Trap...
Sepagi ini, Stevano dan Maura juga Raynevandra dan Alexandra langsung bergerak cepat meninggalkan kamar yang digunakan berpeluh keringat bersama semalaman. Mereka semua langsung bergegas dan mempersiapkan diri kembali untuk tetap bersikap biasa - biasa saja seperti biasanya. Sebenarnya banyak pasangan muda midi juga yang menyempatkan untuk saling berpeluh keringat bersama seperti mereka, termasuk pasangan Grace dan yang lainnya yang ternyata juga diam - diam tidur sekamar dengan Pasangan tanpa Orang Tuanya ketahui. Sandra dan Teo saja pagi ini masih bergelung di dalam selimut yang sama. Pasangan Suami Istri yang Rumah Tangganya sedang terancam bubar jalan ini pun akhirnya juga semalaman menghabiskan waktu bersama meski awalnya Sandra menolak. Tapi apalah daya, Teo tidak menerima penolakannya dan tubuh Sandra pun menerima sentuha Teo meski terus saja Sandra meronta untuk menolaknya.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
Maura yang baru saja kembali masuk ke dalam kamar yang semula ditempatinya bersama sang Maa tercinta langsung menangis terisak ketika melihat kedua Oramg Tuanya yang masih terlelap itu terlihat terlelap penuh damai dengan saling berpelukan mesra. Pakaian kedua Orang Tuanya nampak tercecer di lantai, bahkan underwear Teo dan Sandra terlihat tersampir nakal di atas sandaran sofa yang berada tak jauh dari ranjang. Maura yang sebenarnya susah berjalan pun tetap berusaha berjalan meski tertatih itu pun langsung terduduk di lantai dan menangis. Stevano bahkan ditolak ketika akan mengantarkannya kembali ke dalam kamar. Dalam tangis kepedihan Maura, ia sangat menyayangkan akan Rumah Tangga Mama dan Papanya yang kini semakin berada di ambang kehancuran.
" Ini kamar yang anda cari, Pak, Bu... ucap Resepsionis tersebut dengan wajah yang masih terlihat kikuk, ketika mereka beranjak menuju kamar yang dituju, Rayne dan sepasang Orang Tua ini nampak terus mengobrol ringan.
" Makasih ya, Mbak... " jawab si Bapak, Resepsionis ini pun mengangguk sopan.
" Kalau begitu saya permisi. Saya harus melanjutkan pekerjaan kembali. " pamitnya, ketiga orang di hadapannya ini pun mengangguk, Resepsionis pun langsung menundukkan separuh badannya dan langsung beranjak melanjutkan kembali tugas yang ia tinggalkan.
Trap... Trap... Trap...
" Mih, Pih... Aku pamit juga, ya... Nanti kalau ada waktu kita lanjut ngobrol lagi. " pamit Rayne juga yang nampak terlihat tak enak hati juga sebenarnya.
__ADS_1
" Iya, Sayang... Mamih titip salam buat dua Cucu Mamih, ya... Pasti mereka berdua sudah dewasa sekarang. " jawab si Ibu, Rayne mengangguk sembari mengulas senyum kikuk.
" Iya, Mih... Nanti aku sampaikan sama mereka. " jawab Rayne lalu bercipika - cipiki dengan sepasang Orang Tua ini sebelum ia beranjak kembali ke kamarnya yang sudah jelas tujuannya adalah untuk menyusul Evan.
Trap... Trap... Trap...
Rayne berjalan cepat sambil meremat ujung dress yang dikenakannya, wajahnya masih terlihat panik tapi ia merasa juga tidak enak hati jikalau tadi tetap mengejar Evan dan mengabaikan kedua Orang Tua ini. Akhirnya, Rayne pun langsung masuk kembali ke dalam kamar VVIP yang ditempati bersama Evan.
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Mas... " lirihnya dan menatap sendu pada Evan yang sudah nampak rapi, duduk berselonjor kaki di atas ranjang.
Evan yang semula sedang menatap keluar jendela besar di dalam kamar pun langsung menolehkan kepalanya dan menatap Rayne dalam meski ia hanya diam tak berucap. Evan sedang berdiam mengatur pikiran sembari menikmati siraman matahari pagi yang masuk langsung ke dalam kamar yang ia tempati. Paras tegas yang tergambar pada sosok seorang Evano Gamya Kalandra begitu kental terlihat ketika kini ia menatap lekat kepada Rayne yang seolah merasa ditelanjangi oleh tatapan tegas sang Suami. Dengan langkah berat karena ketakutan, Rayne pun memberanikan diri untuk mendekat pada Evan. Bagaimanapun juga mereka berdua memang harus segera bicara agar ketegangan yang sempat terjadi bisa segera diselesaikan.
Trap... Trap... Trap...
Dengan perlahan, Rayne duduk di tepian ranjang dan menatap ke depan ke arah Evan sedang duduk berselonjor di atas ranjang. Ia menempati ruang kosong di sebelah Evan. Ditatapnya sendu mata tajam sang Suami yang seolah terus saja memindainya tanpa henti. Jika Evan marah dan masih berteriak itu bukanlah hal yang paling menakutkan untuk Rayne. Tapi kediaman Evan lah yang paling menakutkan meski teriakan Evan ketika marah pun juga tak dapat disangkal keseramannya.
" Maafin aku, Mas... Aku sama sekali nggak bermaksud bikin Mas Evan sakit hati lagi. Aku juga kaget waktu tadi Dygta tiba - tiba peluk aku dan ngomong kaya gitu. " lirih Rayne dan langsung menggenggam tangan Evan yang disampirkan di atas headbord ranjang, membawa tangan kekar itu ke atas pangkuannya, menggenggamnya erat dengan tatapan yang saling beradu.
Evan tak melepaskan genggaman tangan itu, tapi Evan juga tetap diam tak berucap. Evan terus menatap Rayne dalam diam, Rayne pun juga sama. Bahkan mata indah Rayne kini mulai nampak berkaca - kaca. Evan melepaskan tangannya dan dipindahkan begitu saja. Tangan kekar itu pun berpindah mengusap lembut perut Rayne yang masih terlihat rata. Dengan cepat Evan pun menggeser sedikit posisi duduknya kemudian langsung membungkuk di atas pangkuan Rayne, menghadapkan kepalanya tepat di depan perut Ibu hamil yang masih terlihat rata itu.
Cup...
" Selamat pagi anaknya Daddy... " lirihnya berucap sembari mengecup perut rata itu dengan penuh penghayatan, Rayne yang biasanya dengan senang hati dan penuh kebahagiaan jikalau Evan melakukan hal tersebut nampak terlihat masih kikuk, biasanya Rayne tak segan membelai rambut Evan ketika Evan menyapa si jabang bayi di dalam kandungannya, tapi kali ini Rayne terlihat takut untuk melakukannya.
" Maafkan Daddy jika membuatmu ikut merasakan semua ini, Nak... " lanjut Evan terus berucap lembut di depan perut Istrinya, Rayne terlihat semakin gusar karena ucapan Evan yang ternyata masih menyinggung perihal perkara yang semalam mereka alami.
__ADS_1
" Anak Daddy pasti kuat... Selalu kuat di dalam sana, ya... Semoga Daddy juga terus kuat mendampingi anak - anak Daddy hingga kalian semua dewasa nanti. Sampai ketemu Daddy sembilan bulan lagi, Sayang... Daddy sudah tak sabar menantikan kelahiranmu. " ucap Evan panjang lebar berbicara lembut dengan janin di dalam perut Istrinya, setelah mengecupnya lama, Evan pun langsung beranjak dari atas ranjang dan keluar dari dalam kamar tanpa bertegur sapa kepada Istrinya.
Trap... Trap... Trap...