Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 49 - Harus Cetar


__ADS_3

" Lo dibilangin ngeyel banget sih, Ray! " teriak Zeevanea frustasi melihat Raynevandra ngotot ingin pergi ke sekolah meski masih terlihat pucat dan lemas.


" Gue ada ulangan Fisika, Kak... Gue juga udah janji jemput Alexa. Nggak enak nanti sama Alexa udah nungguin Gue. Dan Gue juga males banget kalau ulangan sendirian nantinya. " jawab Raynevandra.


" Ya tapi Lo lihat deh, keadaan Lo aja kaya gini. Kakak khawatirin Lo, Ray! Please deh nurut! " ketus Zeevanea khawatir, Raynevandra langsung menggeleng.


Trap... Trap... Trap...


" Gue aduin Daddy dipenggal baru tau rasa, Lo! " ketus Zeevanea lagi tapi Raynevandra tetap kekeh untuk memakai backpacknya.


" Ada apa sih, ini... " ucap Rayne yang baru saja kembali ke dalam rumah setelah mengantarkan Evan dan Stevano ke teras.


" Raynevandra nih, Momm! Masih lemes gini ngotot aja mau sekolah. " jawab Zeevanea memekik.


" Kakakmu bener, Sayang... Istirahat aja di rumah, besok baru sekolah. Biar nanti Mommy izinin sama Wali Kelas kamu. " jawab Rayne setuju dengan Zeevanea.


" Ray udah nggak papa, Mommy, Kakak... Ray udah nggak muntah. Lagian juga cuma masuk angin aja nggak usah dibikin ribet deh. " jawab Raynevandra kembali panjang lebar dengan bernada kesal.


" Yakin, udah nggak kenapa - kenapa? " tanya Rayne ragu melihat wajah Raynevandra yang masih saja pucat.


" Yakin, Mommy... Ray berangkat sama Uncle aja. Ada ulangam Fisikia dan Ray nggak mau nanti ulangan sendirian. Mau jemput Alexa juga, kemarin udah terlanjur janji nggak enak kalau nggak ditepati. " jawab Raynevandra kekeh.


" Kalau sampai Lo kenapa - kenapa awas aja Lo nyusahin kita! " pekik Zeevanea kesal karena Raynevandra keras kepala tapi Raynevandra tetap kekeh dengan pendiriannya.


Cup...


" Ray berangkat dulu, Mommy Sayang, Kakak Sayang... I love you... " pamit Ray setelah mencium punggung tangan Mommymya kemudian mengecup singkat bibir Mommynya seperti biasanya, Zeevanea setelahnya.


"Waalaikum salam... " balas Rayne dan Zeevanea bersamaan.


" Kabarin Mommy kalau ada apa - apa. " ucap Rayne khawatir.


" Siyap, Boss! " jawab Raynevandra dan langsung beranjak keluar, wajah Rayne terlihat khawatir sedangkan Zeevanea terlihat kesal meski juga khawatir.



Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


" Ampun deh kalau debat sama Ray pasti bikin gedeg! Keras kepala banget, nyolot juga, arogan kaya Daddy! " gerutu Zeevanea yang sebenarnya khawatir tapi juga kesal dengan Raynevandra.


" Namanya juga anaknya, Sayang... : jawab Rayne sambil terkikik.


" Btw, Momm... Zee mau ngomong sesuatu sama Mommy. " ucap Zeevanea, Rayne pun mengangguk sembari menatap Zeevanea.


" Tapi ngomongnya di kamar aku aja. " lanjutnya dan langsung menarik tangan Rayne, membawanya menuju kamarnya.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Mau ngomong apa sih Kak sampai bawa Mommy ke kamar segala? " tanya Rayne penasaran, keduanya sudah duduk di sofa yang ada di dalam kamar Zeevanea.


" Nih... Aku punya hadiah buat Mommy. " ucap Zeevanea sembari menyerahkan sebuah paper bag berisi satu box tas branded limited edition yang beberapa hari lalu dibelinya untuk sang Mommy.


" Masa Istri Presdir tasnya murahan. Nggak keren, dong. " cibir Zeevanea sembari mengerucutkan bibirnya.


" Gini aja tadi pakai acara ngeledekin Ray kaya Bapaknya. Ini sendiri juga sama kaya Bapaknya. Kalau nggak branded nggak mau. " cibir balik Rayne, Zeevanea yang semula mengerucutkan bibirnya langsung terkikik.


" Kalau lagi di rumah sih nggak papa kita pakai seadanya. Tapi kalau keluar rumah harus cetar dong. Mommy nggak mau kan kalau di luaran sana Daddy dicap nggak mampu beliin barang branded buat Mommy padahal pundi - pundi rupiah yang Daddy dapet itu nggak sedikit. " jawab Zeevanea antusias.


" Ditambah lagi Mommy itu Fashion Designer yang wajib wajib tampil sempurna. " lanjutnya masih dengan nada menggebu - gebu.


" Oke, oke... Mommy terima biar anak Gadisnya Mas Evan ini seneng. " ucap Rayne sambil tersenyum, Zeevanea pun tersenyum juga.


" Yeiiiy... Gitu dong. " ucap Zeevanea senang.


" Makasih ya, Sayang... Tapi nggak usah sering - sering belanjain Mommy. Mending uangnya di tabung aja. " ucap Rayne yang sebenarnya sangat terharu, Zeevanea mengangguk semangat.


" Mommy... " ucap Zeevanea tapi terlihat kikuk, Rayne yang sedang mengulik tas barunya itu langsung menatap Zeevanea.


" Ya, Sayang... " ucap Rayne.

__ADS_1


" Beberapa hari lalu aku ketemu Daddy... " lirihnya sembari meremas kedua tangannya yang tertaut, tas yang semula dipegang Rayne terjatuh begitu saja saking kagetnya.


" Daddy sama Istrinya. Daddy ketemu aku pas jemput Istrinya belanja. Daddy juga nyuruh aku panggil Istrinya Mami. Daddy juga tukeran nomer hape sama aku. " jelas Zeevanea tapi Rayne masih terlihat menatap menerawang.


" Jangan lagi panggil Daddy, Sayang... Kalau Daddymu tau pasti marah besar. Mommy takut Daddy marah. Sudah cukup Mommy menyakiti Daddymu seperti itu dulu. " ucap Rayne serius sembari menggenggam tangan Zeevanea, Zeevanea pun mengangguk.


" Papi nanyain kabar Mommy... Aku bilang Mommy baik - baik aja, tambah cantik. Terus aku juga cerita kalau aku punya Adek kembar. " ucap Zeevanea lagi, Rayne hanya mengangguk.


" Sudah... Jangan dibahas lagi. Mommy nggak mau tau soal dia lagi. Semuanya sudah selesai. " potong Rayne yang enggan membahas perihal ini, Zeevanea pun memahaminya, keduanya terlihat termenung bersama.


Cup...


Sementara Raynevandra yang sudah menjemput Alexandra nampak duduk bersandar pada Alexandra. Raynevandra juga mengatakan jika ia sedang tidak begitu sehat, maka dari itu Alexandra menarik Raynvandra untuk bersandar padanya. Sesekali Alexandra juga mengecupi puncak kepala Raynevandra penuh kasih. Tapi lama kelamaan Alexandra merasakan tubuh Raynevandra bergetar, Alexandra pun panik seketika.


" Are you oke, Baby? " tanya Alexandra khawatir, ia merenggangkan pelukannya agar bisa menatap Raynevandra.


Cup...


Bukannya menjawab, tapi Raynevandra langsung menarik tengkuk Alexandra dengan cepat dan menyambar bibir Alexandra dengan begitu rakusnya. Melu matnya, saling membelitkan lidah dengan begitu liarnya. Raynevandra dan Alexandra sendiri juga tak menyangka jika Alexandra juga berubah buas seperti ini.


" No, Baby! " pekik Alexandra saat tangan Raynevandra akan membuka kancing seragamnya.


" Please, Baby! Aku butuh kamu. " ucap Raynevandra serak.


" Ada Sopir kamu, Baby! " jawab Alexandra khawatir, nampak Raynevandra menoleh ke depan sejenak dan ia sudah melihat ternyata pembatas antara mobil bagian tengah dan depan sudah benar - benar ditutupnya.


" Uncle Bram nggak akan tau apa yang kita lakukan disini. Aman, Baby. " jawab Raynevandra dengan deru nafas menggebu, Alexandra pun akhirnya mengangguk patuh.


Meski sejujurnya ia juga merasakan sesuatu reaksi yang lain dari dalam tubuhnya saat memeluk Raynevandra tapi ia berusaha menahannya. Ia tak mau berfikiran yang tidak - tidak. Tapi tanpa disangka Raynevandra malah meminta izin untuk melakukannya di dalam mobil Raynevandra saat dalam perjalanan ke sekolah. Keringat bercucuran membasahi wajah Raynevandra yang juga seperti menahan kesakitan yang teramat sangat. Akhirnya Alexandra pun mengiyakan.


" Ough, Ray!!! Sakith... " rintih Alexandra kala Raynevandra baru saja menyatukan tubuh mereka dengan sedikit terburu - buru.


" Maaf, Baby... Aku juga nahan sakit. " jawab Raynevandra kian serak sembari mengarahkan perisainya menuju sarang tersembunyi milik Alexandra.


" Pelan - pelan, Baby... " lirih Alexandra khawatir, memang ia dan Raynevandra selalu main kalem tapi dalem Raynevandra mengangguk kemudian segera melaksanakan apel paginya di dalam mobil bersama Alexandra.


Bergoyanglah mobil yang sedang melaju itu. Membuat Bram yang sedang mengendalikan kemudi menjadi bingung sendiri karena merasakan gerakan mobil yang tidak biasa.

__ADS_1


__ADS_2