Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 57 - Syusyuuu


__ADS_3

Trap... Trap... Trap...


" Dari mana aja jam segini baru pulang, Ray? Mommy khawatir, kamu sama Bram nggak ada yang bisa dihubungi. " cecar Rayne pada Raynevandra yang baru pulang hampir jam sembilan malam, tadi Bram juga tak bisa dihubingi oleh Rayne karena sepertinya ponsel Bram mati kehabisan daya.


" Basket tadi Momm... Terus jalan, main... " jawab Raynevandra berbohong, baru kali ini ia berani berbohong kepada Mommynya, ia sudah menyiapkan jawaban ini sejak tadi sebelum ia pulang ke rumah, makanya kini wajahnya terlihat biasa saja meski sebenarnya ia juga sangat tegang juga merasa sangat berdosa karena selama ini tak pernah sekalipun Raynevandra membohongi Mommynya.


Ya sudah cepet mandi terus makan malam. jawab Rayne tegas, Raynevandra pun menganggukkan kepalanya dengan berjuta rasa lega.


Cup...


Raynevandra mengecup singkat bibir Mommynya kemudian keduanya sama - sama berjalan bersama menuju lantai atas ke kamar masing - masing.


Trap... Trap... Trap...


" Kok udah sepi, pada kemana yang lainnya, Momm? " tanya Raynevandra.


" Daddy sama kedua Kakak kembarmu ke Bali, Devandroe udah masuk kamar. " jawab Rayne, Raynevandra pun mengangguk, keduanya pun berpisah arah setelah sampai di atas anak tangga dan melanjutkan ke kamar masing - masing.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


Sementara Rayne langsung bebersih sekejap dan langsung tidur, Raynevandra masih duduk sendiri di sofa kamarnya. Ingatannya kembali berputar saat tadi ia berada di rumah Alexandra.


Flashback On :


" Japanese theme... " celetuk Raynevandra ketika sudah masuk ke dalam rumah Alexandra, semua desain interior di dalam sana bertema Jepang, perintilan perabotannya pun juga menyesuaikan dengan tema interiornya.


" Iya, Baby... Papiku suka Jepang... Papi dulu juga sempet kerja lama di Perusahaan orang Jepang sebelum Papi menikah dengan Mami dan mendirikan usaha sendiri. Meski tak besar tapi syukurnya semakin berkembang maju. " jawab Alexandra menjelaskan, keduanya duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, Raynevandra pun mengangguk sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah.

__ADS_1


" Kamu mau minum apa? " tawar Alexandra.


" Syusyuuu... " jawab Rayvandra jahil karena kini matanya tak sengaja menatap pada dua bongkahan dada Alexandra yang ukurannya segenggaman Raynevandra itu.


" Tunggu bentar, biar dibikinin sama Bibi. Aku tinggal ganti baju dulu sebentar. " jawab Alexandra yang tak paham maksud Raynevandra, Raynevandra pun hanya nyengir kuda.


Trap... Trap... Trap...


Sekembalinya Alexandra setelah berganti pakaian, Alexandra langsung duduk di samping Raynevandra yang tengah sibuk bermain game di ponselnya. Segelas es susu coklat sudah nampak bertengger di atas meja. Alexandra yang tadi sempat melipir ke dapur pun juga nampak meletakkan sepiring rujak buah di samping es susu Raynevandra.


Cup...


Alexandra langsung mengecup singkat dengan wajah malu - malu itu pipi Raynevandra. Sontak saja Raynevandra langsung meletakkan ponselnya dan fokus pada Alexandra, senyum Raynevandra teebit sembari ia menatap Alexandra.


" Makasih ya, Baby... Kamu udah selametin aku dari orang - orang jahat itu... " ucap Alexandra sembari menatap dalam mata Raynevandra.


" Aku nggak tau gimana jadinya aku kalau sampai waktu itu aku jatuh ke tangan mereka. " lanjutnya, Raynevandra langsung memangku Alexandra dan menyandarkan kepala Alexandra di dadanya.


" Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu... " jawab Raynevandra.


" Terima kasih telah memberikan dan mempercayakan mahkota berharga itu kepadaku... Aku janji aku akan selalu jagain kamu. Hingga nanti kita menikah dan menua bersama, itu harapanku. " lirih Raynevandra pelan dan tegas dengan saling bersitatap dalam penuh cinta dengan Alexandra.


" Aku terharu... " lirih Alexandra, ia langsung memeluk Raynevandra erat, merasa terharu dengan ucapan tulus penuh keromantisan yang diucapkan oleh Raynevandra.


Keduanya saling bercanda mesra dan Alexandra masih setia duduk manja di pangkuan Raynevandra. Hingga akhirnya kecupan - kecupan penuh bahagia itu berpindah menjadi kecupan - kecupan penuh gelora cinta yang kian membara. Tak lama kemudian, pakaian keduanya sudah mulai berantakan. Ruang tengah di rumah Alexandra itu pun menjadi saksi kemesraan keduanya yang seolah tak akan pernah terpisahkan.



" Boleh? " tanya Raynevandra meminta izin menyusu karena sudah kehausan, tatapan mata sayu penuh kobaran kabut menggairahkan itu pun beradu dengan tatapan lembut Alexandra yang juga berbalur dengan kabut asmara yang kian membara menyeruak di dalam dadanya, Alexandra pun menganggukkan kepalanya secara perlahan sembari tetap bersitatap mesra dengan Raynevandra.


Cup...

__ADS_1


Raynevandra tersenyum lembut, Alexandra pun menampilkan senyum malu - malu tapi maunya di hadapan Raynevandra. Langsung saja Raynevandra mulai bergerak menyatukan bibirnya dengan bibir merah muda Alexandra. Mengecupnya mesra diselingi dengan cecapan serta belitan lidah yang solah mengabsen ke seluruh isi penjuru rongga mulut keduanya hingga lidah liar tak bertuan itu menukik nakal di atas dua bongkahan dada yang menggiurkan siapa saja jika melihatnya sekencang dan sekenyal ini.


" Kok kayanya makin padet aja ini nya, Baby? " ucap Raynevandra yang langsung nyeletuk tanpa filter sembari menatap dua bongkahan kenyal nan menggiurkan itu terpampang nyata di depan kedua matanya, Alexandra langsung merona malu setelah mendengar Raynevandra mengucapkan hal tak berfilter itu.


" Sumpah, Baby... Ini lebih berisi dari pada waktu aku pegang pertama kali. Beda nih kalau dipegang. " ucap Raynevandra lagi bahkan tangannya langsung menggenggam objek menggiurkan itu tanpa ragu dan tanpa perduli dengan wajah Alexandra yang sudah semakin bersemu karena malu.


" Perasaan kamu aja paling... Emang tadi pagi sama kemarin - kemarin belum kelihatan apa? " jawab Alexandra sambil memalingkan wajahnya dan menggigit bibir bawahnya karena merasa geli dengan tangan Raynevandra yang menyentuh butiran choco chipsnya.


" Masa iya sih masih bisa ngembang? " tanya Raynevandra dengan polosnya, tapi ya memang keduanya masih sangat muda, dan masih terlalu kecil sebenarnya untuk memahami hal ini, Alexandra pun mengernyit karena memang tak paham juga.


" Ngembangnya karena mungkin sekarang kan sering di nen tuh sama kamunya... " jawab Alexandra malu - malu, Raynevandra langsung tersenyum, tatapannya yang semula berfokus pada dua bongkahan besar menghiurkan itu langsung berpindah menatap Alexandra yang kian bersemu malu karena Raynevandra seolah tak malu membicarakan hal itu.


" Sakit nggak kalau pas aku nen? " tanya Raynevandra ingin tahu, Alexandra langsung menggelengkan kepalanya sambil menahan senyumnya.


" Terus rasanya gimana? Enak? " lanjut Raynevandra kian penasaran.


" Geli, Baby... Yang sakit itu pas kamu lagi sengaja gigit. " jawab Alexandra malu - malu, Raynevandra nampak diam sejenak untuk berpikir, geli - geli nikmat batin Alexandra tapi yang jelas tak berani mengatakannya.


" Terus kalau burung elangnya nyangkar emangnya kamu ngerasa sakit kok sampai jejeritan gitu? Aku kan pelan - pelan... " tanya Raynevandra lagi, Alexandra pun mengangguk malu, jelas lagi ia tak akan mengatakan jika itu rasanya sakit enak.


" Sempit sih, emang... Ya jelas sih kamu ngerasa sakit. Sempit gitu dipenuhi sama burung elang yang udah mekar jadi berubah bentuk kaya sosis bakar jumbo. Burung elangnya aja rasanya kaya di spa, kaya dipijit - pijit. " ucap Raynevandra jujur mengutarakan isi hatinya.


" Hahahaha... " tawa Alexandra menggema seketika, ia menertawakan kalimat sosis bakar jumbo itu.


" Kok malah ketawa? " tanya Raynevandra, wajah Alexandra kembali bersemu malu.


" Memang sakit, Baby... Tapi nggak tau kenapa setelah kita ngelakuinnya pertama kali itu rasanya bikin aku jadi pengen terus. " ucap Alexandra jujur meski sangat malu.


" Ya udah, nih... Manjain gih elangmu. " jawab Raynevandra santai, keduanya terkikik sejenak kemudian langsung tancap gas tanpa menoleh lagi ke belakang dan berlangsung hingga beberapa babak.


Flashback Off :

__ADS_1


__ADS_2