
Setelah usainya acara ini, Eric dan Ben langsung kembali e tempat Accellio sementara Evan keluar terlebih dahulu untuk menjemput si kembar. Karena memang para krucilnya tidak akan bisa masuk ke dalam tanpa orang dari dalam juga meski para krucil itu mempunyai tiket VIP. Sementara Evan bisa saja mengajak mereka arena kedatangan Evan di acara ini dengan undangan bukan dengan tiket masuk.
Evan berdiri di depan pintu undangan dan melambaikan tangannya sembari menatap para krucilnya yang masih menolah - noleh mencari keberadaannya. Dan setelah beberapa saat, para krucil pun melihat keberadaan Evan dan langsung beranjak menghampiri Evan.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
" Daddy mau ngapain sih, aku tuh mau main sama mereka... Aku mau nonton... " rengek Zeevanea memanja sembari memeluk Evan dari samping.
" Daddy mau ajak kalian ketemu Accellio di dalam. " jawab Evan sembari mengecupi kepala Zeevanea, teman - teman mereka nampak terpereagah ketika melihat Evan dan Zeevanea yang terlihat sangat mesra.
" Ya elah, Dadd... Aku ini Cewe, lagian aku mana ngerti soal otomotif beginian. " sanggah Zeevanea yang memang enggan untuk ikut.
" Aku main sama mereka aja boleh, ya... Nggak ikut ketemu Lio. " lanjutnya.
" Ketemu sama Lio kan belum tentu ngomongin otomotif, Sayang... " sanggah Evan.
Cup...
" Udah lah Dadd biarin aja si Barbar ini main... Nggak mungkin jauh juga mainnya. " sela Nala, Zeevanea langsung mencebik kerena dipanggil Barbar.
" Gue kan nurut sama Daddy... Gue nggak bengal kaya Lo. " sewot Zeevanea, gantian Nala yang mencebik.
" Ya sudah kalau gitu, jangan pulang malam. " pesan Evan pada Zeevanea, Zeevanea pun langsung sumringah dan langsung menghujani Evan dengan kecupan bertubi - tubi di seluruh wajah Evan, Nala dan Steve juga Anya langsung geleng kepala sementara para Sahabat mereka masih tampak melongo terperangah.
" Tambahin uang jajan dong, Mas Evan... " ucap Zeevanea sambil menengadahkan tangannya, Evan lah yang kini mencebikkan bibirnya tapi ia tetap merogoh dompetnya dan memberikan uang jajan untuk Putrinya meski tak banyak karena memang ia selalu membawa uang cash secukupnya.
" Bawa mobil mereka aja. " sela Stevano, Zeevanea pun mengangguk.
" Udah panggil Mas Evan, minta duit lagi anaknya Rayne... " umpat Evan sembari menyerahkan uang pada Zeevanea yang nyengir santai.
" Thanks My First Love... Aku pergi main dulu... Bye Daddy, bye Kakak Steve, Kakak Nala... " pamitnya setelah mencium sekilas bibir Evan dan mencium punggung tangan Evan kemudian langsung menarik tangan Valerie, mengajaknya berangkat.
Trap... Trap... Trap...
" Lo gila Zee, masa iya cium Bokap Lo di bibir... Kalau gini ceritanya nggak salah kalau ada yang nganggep Lo itu Sugar Baby. Secara Lo Barbar gini dan Daddy Lo masih kelihatan muda banget. " ucap Aluna yang masih tak percaya.
" Enak aja Lo bilang Gue Sugar Baby! " ketus Zeevanea tapi Aluna seolah masih tak percaya meski melihat fakta di depan matanya.
__ADS_1
" Udah biasa kali, Lun... " timpal Anya sementara Zeevanea kembali santai.
" Biasa gimana maksud Lo, Nya? " tanya Aluna heboh pada Anya.
" Daddy itu family man banget... Sayang banget sama kita - kita meski orangnya keras dan arogan kaya gitu. Gue juga malah lebih deket sama Daddy sama Mommy daripada sama Papi Gue sendiri. " jelas Anya.
" Terus kenapa Lo tadi nggak cium bibirnya Daddy Zeevanea juga? " tanya Aluna lagi.
" Kalau sama Zee atau Steve sih emang udah biasa dicium di bibir karena mereka anaknya. Kecil Gue dulu juga iya sih, tapi kalau sekarang Gue malu juga lah kalau pun iya. " jawabnya santai, Aluna pun manggut - manggut dan mereka pun langsung bergegas tancap gas.
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
" Loh, Nic... " sapa Nala pada seseorang yang sepertinya juga Pembalap karena ia memakai pakaian Pembalap.
" Woi, Man... " sapa balik sembari berdiri dan menghampiri Nala, Nala dan Steve pun langsung berpelukan dengan seseorang itu.
Trap... Trap... Trap...
" Kalau Gue tau kalian berdua lagi di Indo Gue pasti kasih undangan buat kalian. " ucap seseorang bernama Nicholas itu pada Nala dan Steve, Nicolas pun langsung mencium punggung tangan Evan juga setelah berpelukan dengan Nala dan Stevano, kemudian baru berjabat tangan dengan Arka yang juga ikut meski lainnya menunggu di luar.
" Ini Bokap Lo yang dulu pernah ketemu Gue? " tanya Nico pada Nala dengan mimik wajah ragu sembari menatap Evan sungkan.
" Kayanya keihatan lebih muda. " jawab Nico dengan terkikik tipis juga.
" Bokap Gue... " sela Stevano.
" Eh kirain kalian berdua ini Saudara kandung. " jawab Nico sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena sungkan dengan Evan.
" Bokap Gue itu Kakaknya Bokapnya Steve. " jawab Nala, Nico pun mengangguk.
" Ayo. " sela Evan, Steve dan Arka mengangguk bersamaan.
" Gue cabut dulu. Berkabar aja barangkali bisa main basket atau ngeceng bareng. " ucap Nala, Nico pun mengagguk, Evan dan ketiga krucil ini pun beranjak.
Trap... Trap... Trap...
Sesampainya di tempat Accellio, mereka pun langsung berbaur dan mengobrol santai. Evan juga membicarakan perihal balap mobil ini dengan Stevano meski kini terlihat wajah Stevano yang sudah tak berminat untuk terjun di dunia balap mobil.
" Mobil Daddymu banyak... Gabung sama clubnya Lio kalau minat. " ucap Axelle menawari pada Steve.
" Dulu sempat kepikiran ikut balap Uncle, tapi sepertinya sekarang udah enggak. " jawabnya ragu, Evan pun dapat melihat keraguan itu meski ia hanya diam memperhatikan.
__ADS_1
" Kamu nggak pengen juga, Bang? " timpal Eric bertanya pada Nala.
" Enggak, Pi... " jawab Nala, Eric pun mengagguk.
" Arka nggak minat? " tanya Evan pada Arkana, Arkana langsung menggeleng sembari tersenyum pada Evan.
" Lo nggak minat, Ka? " tanya Nala pada Arka.
" Enggak, Bang... " jawab Arka.
" Itu udah ditanyain sama Mas Evan, mau disponsorin tuh roman - romannya. " ucap Nala jahil.
" Kalau iya kenapa? " sungut Evan yang tak terima dipanggil Mas Evan oleh Nala.
" Kenapa cuma Arka yang mau disponsorin... Nala kan juga mau disponsorin bikin sekolah basket. " ujarnya jujur.
" Kode keras Papi... " jawab Evan sambil melirik Eric yang hanya diam memperhatikan.
" Kerja dulu yang bener, bantu Papi kerja baru disponsorin sekolah basketnya. Gimana pun juga kamu sama Steve itu penerus Kalandra. " jawab Eric, Nala langsung mencebikkan bibirnya.
" Daddy setuju. " timpal Evan, Nala langsung melengos.
" Lo anaknya Evan apa anaknya Kak Eric sih, Bang? " tanya Ben pada Nala sambil terkikik karena melihat perangai Nala seperti Evan.
" Mau nunggu Papi mati dulu baru mau bantu di perusahaan, iya? " tanya Eric pelan pada Nala.
" Kok Papi ngomongnya gitu... Ya enggak, lah. " jawab Nala.
" Kali aja kamu kaya Daddymu... Cuma ongkang - ongkang kaki sama main Perempuan. Terus nunggu Opa nggak ada dulu baru mau bantuin kerja. " jawab Eric seadanya.
" Takut juga ditinggal mati Papinya... " sela Evan sembari menahan tawanya.
" Daddy apaan coba, beginian dipake bercanda. " sungut Nala.
" Cewe boleh banyak, Bang... Puas - puasin gonta ganti pacar selama belum nikah. Tapi Istri tetep satu. " canda Evan membahas ucapan Eric sebelumnya.
" Aku juga nggak punya Cewe. " sungut Nala tak terima.
" Cewe nggak punya tapi calon Mantu buat Papi udah ada... " sindir Evan.
" Mas Evan nggak asik! " umpat Nala dan langsung beranjak ke tepian pembatas area balap.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...