Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 97 - Darah Lebih Kental Daripada Air


__ADS_3


Hari ini adalah hari keberangkatan Raynevandra dan Devandroe juga Alexandra menuju pulau Bali untuk menyusul kedua Orang Tua juga Kakak - Kakaknya yang hampir seminggu ini berada di Pulau Bali. Ketiganya berangkat bersama Richie dan Vivian menggunakan jet pribadi milik keluarga Armaya, serta berangkat dengan Anya dan buah hati Richie dan Vivian yang kini berusia sepantaran dengan Raynevandra dan Devandroe.



Setelah bertolak dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta dan menempuh perjalanan di udara selama hampir dua jam lamanya, akhirnya rombongan ini pun sampai di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Mereka semua langsung turun beriringan menuju arah pintu keluar. Tak lupa pengawalan anggota Arm Guard pun juga mengiringi perjalanan mereka munuju ke Pulau Bali.


Trap... Trap... Trap...


Sementara Evan yang sudah berada di Pulau Bali terlebih dulu langsung memerintahkan Stevano dan Nala untuk menjemput keluarganya yang akan tiba dari Jakarta dengan menggunakan dua mobil milik Kalandra Group yang jelas sudah berada di Everic Hotel.


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


Setelah kedunya sama - sama memarkirkan mobil di tempat parkir Bandara, keduanya pun langsung berjalan bersama menuju tempat kedatangan dalam negeri.


Trap... Trap... Trap...


" Lo kenapa sih dari kemarin Gue perhatiin kayanya murung terus? " tanya Nala pada Stevano, Stevano tak menjawab, Stevano hanya menggelengkan kepalanya, Nala pun tak lagi memperpanjang pertanyaannya setelah melihat ekspresi Stevano yang sepertinya sedang memikirkan hal yang penting.


Keduanya duduk berdua di kursi tunggu sembari menunggu rombongan keluarganya keluar. Nala juga sudah mengabarkan kepada Raynevandra jika ia dan Stevano sudah menunggunya ruang tunggu kedatangan, dan Raynevandra yang baru saja turun dari pesawat dan baru saja menonaktifkan mode terbang di ponselnya itu pun langsung membalas pesan wassap yang dikirimkan oleh Nala. Bergegaslah mereka menuju tempat Nala dan Stevano menunggu.


Trap... Trap... Trap...


Setelah mereka semua bertemu dan bercipika - cipiki semua, Richie dan Vivian beserta Devandroe dan Putri mereka berada dalam satu mobil dengan Stevano. Sementara Raynevandra dan Anya juga Alexandra jelas ikut di mobil yang dikendarai oleh Nala.


" Lo abis marahin Mommy, Ray? " tanya Nala kala mereka sudah dalam perjalanan menuju Everic Hotel, tempat Evan menginap.


" Iya... Gedeg, Gue! " jawab Raynevandra yang duduk di sebelah Nala yang sedang mengemudi, Alexandra dan Anya duduk di bangku belakang, Nala langsung terkikik sambil geleng kepala.


" Emang Mommy kenapa sampai Lo marahin? " sahut Anya ikut bertanya.


" Ya gimana nggak gedeg, mereka disini enak - enak jalan - jalan, seneng - seneng, posting foto liburan kesana - kesini, lupa apa kalau Gue berdua sama Andong di rumah sama Pembokat aja. Kaya anak terlantar tau nggak Gue sama Andong. " jelas Raynevandra dengan wajah yang terlihat kesal.


" Lupa juga kali kalau Gue sama Andong juga anaknya. " lanjutnya dengan wajah yang masih terlihat kesal.


" Hahaha... " Nala dan Anya langsung terbahak setelah mendengar jawaban Raynevandra, sementara Alexandra hanya diam menatap Raynevandra.


" Kaget nggak lihat Ray emosian kaya gini? " tanya Anya pada Alexandra, Alexandra langsung tersenyum malu - malu.

__ADS_1


" Enggak sih, Kak... Kebiasaan juga kalau di sekolah, kalau dia lagi sama temen - temennya dia suka teriak - teriak. " jelas Alexandra menjawab pertanyaan Anya.


" Kebal dong ini sudah... Hahaha... " jawab Anya sambil tertawa, Nala dan Raynevandra pun juga ikut tertawa.


" Lo nggak jaim apa Ray depan Cewe Lo suka masih nyolot aja? " lanjut Anya bertanya pada Raynevandra.


" Santai aja Gue... " jawab Raynevandra dan menoleh sekilas untuk menatap Alexandra.


" Gue ya gini adanya... " lanjutnya dan memang begitulah perangai Raynevandra yang keras dan suka berteriak meski tak berdebat.


" Gue gini aja buktinya dia cinta... " lanjutnya dan langsung menoleh kembali menatap Alexandra sambil tersenyum, tatapan keduanya pun beradu.


" Idih bocah pakai ngomongin cinta! " sahut Nala mencibir, Anya langsung tertawa, Raynevandra hanya menggedigkan bahunya acuh dengan wajah yang terlihat menyebalkan, Alexandra tersenyum melihatnya.


Dan akhirnya sampailah kedua mobil mewah yang berjalan beriringan ini di area parkir khusus Everic Hotel. Mereka semua langsung menuju ke restoran untuk menghampiri Rayne dan Evan yang sudah menunggu mereka disana.


Trap... Trap... Trap...


" Maafin Mommy ya, Sayang... Mommy nggak bermaksud nelantarin kamu sama Kakak Andru... " ucap Rayne tulus dengan mata berkaca - kaca, Rayne langsung berlari menyambut kedatangan kedua Putranya dan memeluk Raynevandra yang sedang berjalan ke arahnya.


" Ini pasti gara - gara Daddy nih Mommy jadi lupa kalau masih punya anak aku sama Andru. " sungut Raynevandra menyalahkan Evan dengan menatap sengit kepada Evan yang sedang duduk berjigang sambil menikmati rokoknya, Richie dan lainnya langsung terkikik.


" Kuwajiban Istri itu emang harus nurut apa pun kata Suami dan mengikuti kemanapun Suami pergi! " lanjut Evan berapi - api.


" Termasuk nelantarin aku sama Andru di rumah berdua aja sementara Daddy sama Mommy dan yang lainnya enak - enakan liburan disini? Iya? " jawab Raynevandra tak mau kalah dengan Evan, Evan nampak tercengang seketika, asap rokoknya keluar sendiri dari bulatan bibir Evan yang menganga, Richie pun langsung memegangi perutnya yang terasa sakit karena semakin tertawa, tak menyangka jawaban Raynevandra akan seperti ini.


" Kamu sekolah, Ray... Kalau kamu nggak sekolah gini juga udah diizinin nyusul. " sahut Rayne cepat menengahi dan perdebatan sengit antara Ayah dan Anak ini, dan benar adanya karena alasan sekolah itu lah sehingga Evan dan Rayne tak membawa si kembar kecil ke Bali juga.


" Lo lebay tau nggak, Ray! Orang Lo juga masih sekolah! " sela Nala sambil menatap Raynevandra, Raynevandra yang masih memeluk Rayne pun langsung menoleh menatap Nala.


" Bodo amat Lo bilang Gue lebay! Kalau mereka pergi karena kerja Gue nggak masalah, Bang! Gue tau Orang Tua Gue sama - sama sibuk. Lah ini mereka sibuk asik liburan sama Lo juga. " jawab Raynevandra jengah dengan suara agak meninggi.


" Gue dipanggil kesini sama Daddy buat dimarahin Daddy, Bego! Bukan liburan! " sanggah Nala berkata jujur sambil menonyor kepala Raynevandra.


" Udah dong, Dek! Kasihan Mommy tuh nangis terus. " sela Zeevanea tak tega melihat Mommynya masih menangis.


" Ya mungkin kita emang salah disini, kita malah liburan tanpa kalian berdua, tapi Lo jangan asal ngomong Mommy nelantarin Lo sama Andru, dong. Lo sama Andru juga masih sekolah sementara Kakak sama Kakak Steve emang libur. " lanjut Zeevanea.


" Ya emang iya kalian salah! Bukan mungkin lagi! " bentak Raynevandra pada Zeevanea, Raynevandra menyalahkan Zeevanea juga, Evan membuang rokokya yang sudah habis dan menatap serius pada Raynevandra.

__ADS_1


" Sekali lagi Lo teriak Gue hajar, Lo! " sahut Stevano cepat, baru kali ini ia berucap, Raynevandra malah menatap tajam pada Stevano, tapi Raynevandra terlihat tidak gentar sama sekali dengan Stevano.


" Kakak nyusul kesini nganterin Maura. Maura ada keperluan sama Daddy. " jelas Stevano emosi dan memang benar adanya, jika tujuannya dan Maura memang menyusul untuk menceritakan perihal rumah tangga Sandra dan Teo.


" Sesayang itu Kakak Steve sama Kak Maura dibanding sama Gue dan Andru yang jelas - jelas Adek Lo sendiri, hah? " cibir Raynevandra berapi - api dengan nada kembali meninggi, kini giliran Stevano yang ikut disalahkan juga oleh si Raynevandra, Maura dan Sandra saling pandang seketika, Stevano terlihat tercengang.


" Lo itu anak paling gede, harusnya Lo yang ambil alih tanggung jawab Daddy sama Mommy kalau Orang Tua kita lagi nggak ada! Bukan malah kabur seenak jidat Lo tanpa mikirin kita berdua! " teriaknya tanpa takut.


" Gimana pun juga darah lebih kental daripada air, Kak! " imbuhnya pelan penuh penekanan dengan tatapan begutu tegas.


" Stop, Raynevandra! " ucap Evan tegas melerai perdebatan kedua Putranya, sudah terlihat Stevano kalah telak dengan berondongan protes yang logis dan jelas masuk di akal yang dilontarkan oleh Raynevandra.


" Mommy aku laper... " ucap Raynevandra dengan wajah yang masih terlihat kesal, meminta makan kepada Rayne sambil merenggangkan pelukannya dan menghapus air mata Rayne.


" Ayo kalian semua makan dulu kalau gitu. " ucap Rayne dan langsung menarik tangan Raynevandra dan Raynevandra juga langsung menarik tangan Alexandra untuk mengikutinya.


Trap... Trap... Trap...


" Bawa Pacarnya, dia? " tanya Evan yang baru sadar akan keberadaan Alexandra.


" Lo kira? " sahut Richie sambil geleng kepala, Evan pun terkikik dan ikut geleng kepala.


" Ya udah pada makan dulu, gih... Abis itu istirahat. " ucap Evan lagi.


Mereka yang baru datang pun langsung beranjak untuk makan siang sementara Evan dan Zeevanea juga Maura, Stevano, Sandra, dan Nala hanya menunggu sambil mengobrol meskipun Stevano tetap terlihat lebih mendiam. Sementara Rayne masih sibuk meladeni Raynevandra yang masih terlihat merajuk.


Trap... Trap... Trap...


" Evan banget ya, Pi... " sela Vivian yang berjalan bersama Richie untuk makan siang.


" Banget... " jawab Richie sambil terkikik dan geleng kepala.


" Lo banget ya, Van... " ucap Sandra pada Evan, Evan pun langsung terkikik.


" Banget, Aunty. " sela Zeevanea menjawab.


" Tapi sayang banget juga sama Mommynya. Dia paling romantis juga. " timpal Evan.


" Emang Daddy kira kita nggak sayang Mommy? " sela Zeevanea menyanggah pernyataan Evan.

__ADS_1


" Ray marah belum kelar, sekarang Lo udah ngajakin Daddy debat... " sela Nala jengah, belum sempat Evan menjawab tapi Nala sudah menyela, Zeevanea pun langsung melengos sementara yang lain jadi tertawa kecuali Stevano.


__ADS_2