
Malam hari pun kini telah berganti pagi... Setelah semalam Evan dan keluarga besarnya membahas serentetan perkara yang tengah menjerat keluarga inti Evan. Untuk Raynevandra jelas sudah menemukan jawaban dan titik terang dengan diberlangsungkannya pernikahan diantara Raynevandra dan Alexandra. Tinggal menunggu kepindahan Raynevandra dan Alexandra saja dari rumah Evan sesuai dengan kesepakatan yang dibuat. Stevano yang semalam juga mendadak disidang pun juga sudah mengucapkan keputusan tegasnya yang nampaknya sudah tidak dapat lagi untuk diganggu gugat. Tinggal permasalahan Devandroe yang mengutarakan keinginannya untuk berpindah ke London dan perkara Zeevanea yang meski sudah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari Evan semalam nyatanya tetap membuat Zeevanea tetap bungkam dan nampaknya masih enggan untuk menurut pada keputusan penuh ketegasan yang dilontarkan oleh Evan dengan sejelas - jelasnya.
Sementara Rayne jelas masih terlihat sangat bersedih karena perkara Devandroe dan Zeevanea yang terasa masih menggantung meski jawaban penjelasan Evan juga sudah sangat detail karena Evan juga menjabarkan serentetan alasannya mengenai penolakannya terhadap Nicholas. Dan untuk permintaan kepindahan Devandroe, Evan berniat membahasnya pagi ini. Menurut Evan, bagaimanapun juga Devandroe adalah seorang anak Lelaki yang jelas harus memiliki pondasi mental yang kuat. Maka dari itu Evan tidak mengizinkan Devandroe untuk bermutasi ke London... Dengan tujuan agar Devandroe bisa menempa dirinya ketika dihadapkan pada Raynevandra dan Alexandra yang tanpa sadar telah membuat hatinya terpatahkan. Rayne memang tidak tega untuk membiarkan Devandroe tetap tinggal di rumah bersama Raynevandra dan Alexandra dalam keadaan patah hati seperti ini meski Raynevandra dan Alexandra hanya akan tinggal untuk sementara waktu sampai keduanya mendapatkan tempat tinggal baru. Apa lagi sepasang sosok yang membuat Devandroe patah hati juga adalah orang terdekat Devandroe yang juga tinggal di dalam rumah mereka sendiri meski sejujurnya Rayne juga tidak setuju dengan keputusan Evan kepada Raynevandra dan Alexandra untuk berpindah setelah menikah. Jadi... Di saat kini beberapa orang nampak sudah menunjukkan kelegaan, tapi tidak dengan Rayne yang tetap gusar memikirkan semua anak - anaknya...
Trap... Trap... Trap...
" Selamat pagi... " sapa Stevano yang baru saja turun untuk bergabung sarapan bersama keluarga besarnya.
" Pagi... " jawab mereka yang sudah berada di sana secara beriringan meski masih ada juga anggota keluarga mereka yang masih belum nampak turun.
" Kamu nggak ke kantor, Kak? " tanya Rayne kepada Stevano yang nampak mengenakan pakaian santainya.
" Enggak, Momm... Aku mau ketemu sama Papa Teo. " jawabnya jujur apa adanya karena memang Stevano ingin berbicara berdua dengan Teo yang selaku Ayah kandung dari Maura.
" Kamu yang sabar ya, Sayang... " ucap Rayne yang sudah mendekati Stevano dan mengusap lembut kepala Stevano.
" Kalau hubunganmu masih bisa dipertahankan tolong dipertahankan... Ingatlah ada anak diantara kalian berdua. " lanjut Rayne.
" No problem... I'm fine... " jawab Stevano dengan senyum teduh penyamar luka hatinya, mereka semua pun larut dalam obrolan ringan sembari menunggu bergabungnya anggota keluarga mereka yang lainnya untuk sarapan, tak la kemudian Rayne nampak kembali ke lantai atas untuk melihat Suaminya.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
" Mas... " panggil Rayne saat membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
" Apaaa, Sayang... " jawab Evan setengah berteriak, Evan sedang berada di dalam walk in closet, Rayne pun langsung melanjutkan langkahnya menghampiri Evan.
Trap... Trap... Trap...
" Udah rapi kok masih umek disini? " tanya Rayne sambil membenahi kerah kemeja Suaminya.
" Jam tangan aku yang dulu titip Kak Ici dimana? Aku cari - cari dari tadi nggak ketemu. " jawab Evan sambil menghentikan aktifitasnya.
" Nanti coba aku carikan... Sekarang pakai yang lain dulu kan bisa daripada terlambat ke kantor untuk pertama kalinya lagi... " jawab Rayne sekenanya sambil menatap Evan dengan senyum teduhnya.
" Aku lagi pengen pakai yang itu, Sayang... Matching juga sama setelan kerjaku ini. " jawab Evan sambil merangkul pinggul Rayne.
" Eh... Palingan kalau nggak ada ditempatnya dipakai sama Ray, Mas... " jawab Rayne karena memang hanya Raynevandra yang berani menyentuh barang - barang Daddy-nya.
" Hufffhhhttt... Ya udah aku pakai yang lain aja. " jawab Evan sembari menghembuskan nafas kasar dan langsung mengambil salah satu koleksi jam tangan mahalnya yang lain, setelah Evan selesai keduanya pun langsung bergegas turun.
Trap... Trap... Trap...
" Ray sama Lexa aja belum turun... " jawab Nala dengan menatap Evan jengah, Evan pun langsung celingukan, Devandroe yang sudah berada disana pun terlihat menunduk kelu, sementara Zeevanea yang bar - bar itu jelas langsung mencebikkan bibirnya.
" Tapi ya nggak papa sih kalau mau ditinggal sarapan duluan... Palingan juga masih capek gegara semalem lembur Pengantin baru. " lanjutnya berucap sambil nyengir.
" Buruan nikahin, Ric... Iri sama Adeknya itu. " canda Richie menggoda Nala tapi berucap kepada Eric.
" Istrinya mau dikasih makan sendal jepit? " sahut Evan cepat sambil tersenyum jahil tapi juga nampak menahan tawa ngakaknya.
__ADS_1
" Hahahaha... " Ayah Rudi langsung terbahak paling kencang sementara yang lainnya nampak menahan tawa kecuali Devandroe yang tetap diam dan Zeevanea yang terlihat malas.
" Belajar kerja dulu bantuin di kantor... " jawab Eric pelan sambil tersenyum teduh dan mengusap lembut rambut Putra Sulungnya itu.
" Kan aku udah bilang kalau minta dimodalin buat sekolah basket. " jawab Nala sambil mengerucutkan bibirnya dengan memasang wajah sok memelas pula, Eric hanya tersenyum sambil mengusap lembut kepala Nala.
" Hahaha... " kali ini Evan dan Richie yang nampak tertawa paling kencang, Nala nampak menatap Evan penuh permusuhan.
Trap... Trap... Trap...
" Loh, Sayang... Kok sendirian? Suami-mu mana? " tanya Rayne yang melihat Alexandra turun seorang diri tanpa Raynevandra, Alexandra nampak canggung tapi sebisa mungkin ia tetap bersikap biasa saja berusaha melawan debaran di dalam dada, dan kata Suami yang diucapkan oleh Rayne tanpa sadar membuat hati Devandroe kian terasa perih.
" Ray habis muntah - muntah, Momm... Ini tadi masih lemes. Jadi aku mau ambilin makanan buat dibawa ke kamar sebelum aku berangkat sekolah. " jelas Alexandra dengan suara pelan dan tatapan sungkan karena baru pertama kali ikut makan bersama dengan keluarga besar Raynevandra tapi malah telat, Devandroe langsung mengalihkan pandangannya kala Rayne dan Alexandra sedang berbicara.
" Ya udah biarin aja Ray nggak sekolah dulu. " jawab Rayne.
" Kamu sarapan dulu aja... Biar nanti Mommy yang bawakan makanan Ray ke atas. " lanjut Rayne karena melihat Alexandra yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya.
" Nggak papa, Momm... Biar aku aja. " tolak Alexandra sungkan.
" Udah nggak papa... Nggak mungkin juga langsung mau makan dia kalau abis muntah - muntah begitu. " sela Evan, Alexandra semakin terlihat sungkan karena Ayah Mertuanya itu ikut berbicara.
" Daddy kaya udah pengelaman aja sok nasehatin... " sela Nala yang ikut nimbrung dengan maksud usil.
" Pengalaman, lah... Anak Daddy udah mau enam. " jawab Evan sambil menatap sinis kepada Nala, Nala langsung berkomat - kamit tanpa suara sambil menatap jengah kepada Evan.
__ADS_1
" Duduk dan ikut sarapan bersama. Daddy yang akan mengantarmu ke sekolah. " ucap Evan kepada Alexandra, Alexandra pun terpaksa menurut meski merasa semakin sungkan dengan mereka semua juga merasa khawatir dengan Raynevandra.
Sarapan di keluarga Evan pun akhirnya dimulai setelah Nala mengucapkan doa sebelum makan. Seperti biasanya, hanya keheningan yang tercipta di sela kegiatan makan keluarga mereka. Sesungguhnya Alexandra merasa sangat canggung apalagi Raynevandra juga tidak menemaninya pada makan bersama untuk pertama kalinya bagi Alexandra ini.