
Seperti pagi - pagi biasanya, Rayne terbangun dan langsung beranjak ke kamar mandi. Ia sudah tau jika suaminya semalam tak tidur bersamanya. Dan ia juga sengaja mengunci pintu kamarnya untuk berjaga - jaga jikalau Suaminya pulang larut malam.
Trap... Trap... Trap...
Trap... Trap... Trap...
Kurang lebih tiga puluh menit lamanya Rayne berada di dalam kamar mandi. Setelah selesai ritual kamar mandinya, ia pun melanjutkan untuk berganti pakaian kemudian bergegas turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
Trap... Trap... Trap...
9
Nampak sedikit lega rasanya setelah ia berada di undakan tangga untuk turun ke lantai bawah dan melihat tiga Pria tampan yang tertidur di karpet bulu yang ada di ruang keluarga tersebut. Rayne pun melanjutkan langkahnya menuju ke dapur tanpa berbelok menengok ketiga Pria tersebut yang sudah diketahui sosoknya itu.
Trap... Trap... Trap...
" Sudah siap semuanya, Bi? " tanya Rayne memastikan makanan untuk sarapan mereka sembari matanya berkeliling mengamati sekelilingnya.
" Sudah, Bu... Tinggal disajikan saja. " jawab Bibi tersebut sopan, Rayne pun mengangguk kemudian membuatkan kopi untuk Evan dan kedua Kakaknya, setelah selesai Rayne pun langsung membawakan tiga cangkir kopi tersebut ke arah meja yang ada di ruang keluarga.
Trap... Trap... Trap...
Rayne sengaja tak membangunkan ketiganya, dan Rayne pun langsung kembali ke lantai atas untuk mengambil tas dan ponselnya. Rayne terlihat merapikan sedikit tatanan rambut dan riasan wajahnya, barulah ia kembali turun ke lantai bawah.
Trap... Trap... Trap...
Setibanya Rayne di lantai bawah, tepatnya lagi di ruang makan, sudah ada Stevano dan si kembar kecil yang terlihat sudah rapi sedang menunggu anggota keluarga lainnya untuk sarapan. Kecupan mesra Queen pun mendarat di masing - masing bibir sang Putra seperti biasanya.
" Zeevanea mana? " tanya Rayne yang tak melihat Putrinya disana.
" Masih di kamar kali, Momm... " jawab Raynevandra.
" Daddy nggak dibangunin, Momm? " timpal Stevano bertanya.
" Daddymu ada meeting pagi ini? " tanya balik Rayne pada Stevano, Stevano pun mengangguk memang anak - anak Lelaki Evan tidak ada yang berani membangunkan Evan ketika Evan masih tidur, yang berani membangunkan hanya Rayne dan Zeevanea saja.
" Biar saja... Kamu urus meetingnya. " jawab Rayne sambil melirik sekilas pada Suaminya yang masih anteng terlelap bersama Kakak dan Kakak Iparnya.
" Nggak bisa, Momm... Itu Papi juga masih tidur. " jawab Stevano.
__ADS_1
" Mereka berdua harus ada di meeting penting pagi ini. " jelasnya, Rayne nampak menghela nafas panjang.
" Ayo kita sarapan dulu... Biar nanti setelah kalian berangkat Mommy bangunkan mereka bertiga. " jawab Rayne.
" Aku bawa motor ya, Momm... " pinta Raynevandra dengan menunjukkan pupoy eyesnya, kesempatan mumpung Daddynya lengah pikirmya.
" Kalian berdua bareng sama Kakak Steve. " jawab Rayne, Raynevandra pun diam tak bisa membantah, Andru dan Stevano nampak menahan senyumnya.
Sarapan pagi kali ini, Stevano yang memimpin doa. Setelah doa selesai, barulah mereka berempat menyantap sarapannya dalam keheningan seperti kebiasaan biasanya. Dentingan sendok dan garpu pun beradu dengan piring tatakan makanan mereka. Setelah dua puluh menit berlalu, sarapan mereka pun tandas.
" Ray sama Andru sekolah yang pinter ya, Nak... Nggak boleh tidur waktu pelajaran. " ucap Rayne setelah mengecup bibir Raynevandra dan Devandroe bergantian, keduanya pun mengangguk sembari mengulas senyum kemudian mencium punggung tangan Rayne bergantian.
" Tetap jalankan meetingnya. Handle semampumu. " ucap Rayne berpindah pada Stevano setelah Rayne mengecup bibir Stevano.
" Insya Allah mampu, Momm... Tapi kehadiran Daddy dan Papi diwajibkan pada meeting penting pagi ini. " jawab Stevano tegas.
" Kamu berangkat aja... Biar Mommy yang urus Daddymu. " jawab Rayne kekeh, mau tak mau akhirnya Stevano pun mengangguk lesu.
" Aku berangkat dulu, Momm... Assalamualaikum. " ucap Stevano sembari mencium punggung tangan Rayne dengan khidmat.
Trap... Trap... Trap...
Bruuum... Whuuussshhh...
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Loh... Udah rapi kenapa nggak turun sarapan, Sayang? " tanya Rayne yang menghampiri Zeevanea yang nampak berdiri di balkon kamarnya, Putri cantik itu pun langsung mengulas senyumnya kepada sang Mommy.
" Masih males aja sih, Momm... " jawabnya sok santai dengan senyum yang dipaksakan.
" Nggak boleh gitu dong, Sayang.... Kamu kenapa? " lirih Rayne sembari menggenggam tangan Zeevanea, Zeevanea hanya menggelengkan kepalanya.
" Ayo sarapan dulu... Nggak baik ninggalin sarapan. " lanjut Rayne berucap penuh kelembutan, akhirnya Zeevanea pun mengangguk dan Rayne langsung mengajak Putrinya ke ruang makan untuk segera sarapan.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
Sesampainya di ruang makan, Rayne langsung meladeni Zeevanea. Diambilkannya nasi serta sayur dan lauk pauk untuk Zeevanea.
" Thanks, Momm... " ucap Zeevanea tulus saat Rayne meletakkan piring tersebut di hadapannya.
" Sama - sama, Sayang... Ayo dimakan dulu. " jawab Rayne sembari mengusap lembut kepala Putrinya, Zeevanea pun segera berdoa kemudian langsung menyantap sarapan tersebut.
" Jam delapan! " pekik Eric terkejut, ia baru saja bangun lalu meihat jam di ponselnya dan langsung berusaha membangunkan Evan.
" Van, Van! Bangun, Van! Kita telat. " ucap Eric panik sembari menepuk - nepuk lengan Evan dengan kencang.
" Evan bangun! Kita ada meeting penting pagi ini! " lanjutnya kian panik karena Evan hanya bergerak tanpa berucap atau pun membuka mata.
" Lo apaan sih, Ric! Berisik aja! " sahut Richie yang terusik dengan keributan yang diciptakan oleh Eric, ia berucap kesal sembari mengucek mata karena masing ngantuk.
" Udah jam delapan, Ci! Gue sama Evan ada meeting penting pagi ini. " jawab Eric sembari terus menepuk lengan Evan, Richie pun terdiam sembari ia terus mengumpulkan kesadarannya, beruntungnya ia yang tak punya jadwal meeting pagi ini.
" Apaan sih! " kesal Evan yang langsung menggerutu dengan suara yang masih serak, Evan terpaksa bangun dan langsung duduk karena jelas teganggu dengan pergerakan Eric.
" Lo nggak lupa kan kalau kita ada meeting penting pagi ini? Ini udah jam delapan. " jelas Eric cepat, Evan yang sebenarnya masih setengah sadar memaksa langsung bangun dan berlari tanpa kata, dengan kesadaran yang belum sempurna.
Trap... Trap... Trap...
" Sialan! Malah Gue yang ditinggalin. " gerutu Eric kemudian tak kalah kalang kabutnya dari Evan lalu ikut berlari menuju kamarnya yang ada di rumah Evan.
Trap... Trap... Trap...
Richie berjalan perlahan menuju ruang makan. Nampak Rayne dan Zeevanea disana. Rayne masih menemani Zeevanea sarapan. Richie mengambil gelas berisikan air putih dan langsung menenggak sekali tenggak langsung tandas. Zeevanea dan Rayne menatap Richie dalam diam.
" Kenapa lihatin kaya gitu? " tanya Richie bingung karena Rayne dan Zeevanea menatapnya diam dari atas hingga bawah seolah tatapan itu penuh intimidasi, Zeevanea dan Rayne pun menggeleng bersamaan.
" Pulang jam berapa semalem? " tanya Rayne.
" Jam dua kalau nggak salah. " jawab Richie setelah ia mengambil air putih dan menenggaknya lagi.
" Sayang!!! Bajuku mana? " teriak Evan kencang dari lantai atas.
" Ambil sendiri di lemari. " teriak Rayne tak kalah nyaring sembari bersidekap, Richie dan Zeevanea nampak saling pandamg sembari menahan tawa yang seolah sudah tak bisa ditahankan lagi.
__ADS_1