
Kini sampailah pada akhirnya di penghujung acara perayaan hari jadi Sandra... Doni selaku Pembawa Acara pun sudah memberitahukan sebelumnya jika puncak acara malam hari ini ditutup dengan pesta dansa sesuai catatan acara yang telah diterimanya. Semua yang datang disana dan berpasangan jelas tidak akan melewatkan acara penutup ini. Mereka semua pun perlahan beranjak ke tengah - tengah ruang kosong yang ada di dalam ballroom tersebut. Lampu - lampu yang semula terang benderang ini pun sudah berganti redup dan sedikit gelap untuk menimbulkan aura romantis di dalam sana. Sandra pun sudah bersiap dengan Teo, Maura juga sudah bersiap bersama Stevano.
Trap... Trap... Trap...
" Kamu nggak mau turun dansa, Pi? " tanya Kinan pada Dygta, Dygta yang nampak kurang fokus itu hanya menoleh sekilas sembari menggeleng samar, Kinan pun tak mau memaksa Suaminya, mereka semua yang tadinya berada di atas panggung pun sudah kembali ke kursi masing - masing.
" Papi kenapa? " tanya Joana yang seolah tidak tahan dengan kebungkaman sang Ayah.
" Papi capek, Princess... " jawab Dygta sambil memaksa tersenyum, tapi Joana masih menatap sang Ayah dengan berjuta rentetan pertanyaan di dalam otaknya.
" Turun, Pi... Mami mau dansa tuh kayanya. " timpal Nicholas, Dygta pun menoleh dan menatap Nicholas dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Papi capek, Abang... " jawab Dygta, Nicholas dan Joana langsung bersitatap.
" Turun dong, Pi... Biar semua orang juga tau kalau Papi itu sayang sama Mami. Selama ini kita lama di Aussie, biar Kolega Papi disini juga pada kenal sama Mami dong... " ucap Joana yang sengaja memancing reaksi Dygta.
" Rasa sayang kan nggak harus ditunjukin sama dansa, Princess... " jawab Dygta yang masih menolak untuk turut bergabung.
" Tapi kan biar Kolega Papi disini juga tau kalau Mami ini Istrinya Papi. Papi juga nggak pernah kenalin kita ke publik disini. " jawab Joana yang masih pantang menyerah.
" Ya sudah kalau kalian maksa. Ayo, Mi... " ucap Dygta yang akhirnya menuruti keinginan keluarganya dan langsung mengulurkan tangannya kepada sang Istri, Kinan pun langsung menyambut dan keduanya langsung beranjak turun dengan bergandengan mesra.
Trap... Trap... Trap...
" Ayuk... " ucap Evan yang mengajak Rayne untuk turut bergabung di lantai dansa disana.
Daddy kan tau aku nggak pernah dansa... jawab Rayne.
" Pelan - pelan aja, orang aku juga nggak pernah. Kita dansa sambil ngelihat yang lain, nyontek dari yang lain. " jawab Evan, ia tak akan melewatkan kesempatan untuk bermesraan dengan Istrinya di depan Dygta yang sudah terlebih dulu beranjak turun ke lantai dansa, masih saja jahil bukan si Evan.
" Aku mau ke kamar aja... " lanjut Rayne yang masih saja menolak.
" Mau ngapain? Baru jam segini juga udah mau bobo aja. Nggak enak sama Sandra kalau kita balik duluan. " jawab Evan.
" Baby kita pengen ditengokin. " bisik mesra Rayne di telinga Evan diakhiri dengan kecupan singkat di telinga Evan.
__ADS_1
" Udah mau ditengokin Daddy ini ceritanya? " jawab Evan antusias, Rayne langsung membekap mulut Evan dengan telapan tangannya.
" Malu, ih! " ketus Rayne, Evan langsung nyengir dan memeluk Istrinya.
" Iya, nanti setelah acara selesai aku langsung tengokin Baby kita... " jawab Evan semangat meski suaranya berbisik tapi sangat antusias.
" Sekarang Baby kita masih pengen ikutan dansa. " lanjut Evan beralasan, Rayne pun akhirnya mengiyakan lantaran Evan mengatakan jika itu adalah keinginan si jabang bayi yang dijadikan tameng oleh Evan, dan keduanya pun beranjak.
Trap... Trap... Trap...
Setelah tak ada lagi peserta yang terlihat beranjak, dan aba - aba dari Doni terdengar, acara dansa ini pun diberlangsungkan.
" Tahan, sebentar... " bisik Evan pada Rayne, alih - alih ikut berdansa dengan gerakan ala kadarnya, Rayne malah dengan sengaja menggesek - gesekkan perutnya yang menempel dalam pelukan Suaminya itu pada bagian berbahaya di tengah pangkal kaki jenjang Suaminya.
" Maaaaas... " rengek Rayne sambil terus bergerak pelan dan nakal.
" Aku buka disini, nih! " ancam Rayne karena Evan tak bergeming dengan rengekannya.
" Buka aja kalau kamu mau orang - orang disini ikutan ngelihat dan terkagum - kagum sama burung kesayanganmu yang bigsize ini. " jawab Evan membanggakan aset berharga itu sambil menahan tawanya, meski ia juga tau jika antena radarnya itu memang sudah mengeras sejak beberapa waktu tadi.
" Ya udah nanti harus diganti sampai pagi. " ucap Rayne sambil mengerucutkan bibirnya.
" Sssshhhhh... " Evan mendesis pelan kala Istrinya sudah beehasil membuka beberapa kancing kemeja yang dikenakannya dan memainkan lidahnya pada satu bulatan kecil di dadanya, beruntungnya kemeja itu tertutupi oleh jas yang dikenakannya.
" Stop it, Honey! " ucap Evan mencoba menghentikan pancingan nakal Istrinya.
" No, Honey! " balas Rayne tak mau kalah dan suara kecipakan kegiatan Istrinya itu pun mulai mengusik Evan, tanpa kata Evan langsung menarik Rayne dengan cepat untuk berpindah ke bawah kolong meja panjang yang tertutup kain berhias indah itu.
Trap... Trap... Trap...
" Eumphhh... Masshhh... Akhhh... Oughhh... " Rayne langsung mendesah tak karuan kala keduanya sudah berhasil merangsek ke bawah kolong meja yang ditinggalkan penghuninya untuk berdansa, keduanya langsung melakukan tanpa pemanasan sebelumnya.
" Tahan suaranya, Honey. " ucap Evan memperingatkan Istrinya yang sudah dikurungnya di bawah meja, Rayne pun mengangguk meski tubuhnya tengah bergoncang - goncang karena kungkungan Evan.
" Maaaassshhh... " Rayne kembali memanggil Suaminya sembari meremas rambut Suaminya yang kepalanya sedang berselancar di atas dadanya, dan masih terus mengukungnya di bawah kolong meja.
__ADS_1
" Ke bawah, Massshhh... Akhhh... Massshhhhh... " rintih Rayne menikmati sentuhan nakal itu, tapi ia juga menginginkan Evan untuk menyelamkan lidahnya di bawah sana.
" Diem, Sayangh. " pekik Evan dengan nafas ngos - ngosan karena khawatir suara rintihan Istrinya itu terdengar orang.
" Emutin dulu, Massshhh... Auhhhhmmm... " ucap Rayne yang juga dengan nafas tersengal, meminta Evan bermutasi ke bawah sana.
" Kelamaan, Yang. " jawab Evan jengah juga logis karena takut mereka belum selesai saat orang - orang selesai berdansa.
Rayne langsung meronta, ia bergerak - gerak menjauhkan tubuhnya dari Evan. Evan yang terusik pun akhirnya berhenti menghentak dan menatap penuh tanya kepada Istrinya.
" Aku mau keluar! " ucap Rayne kesal karena Evan tak menuruti kemauannya.
" Ya udah makanya diem, biar aku bantu. Kita keluar sama - sama. " jawab Evan yang tak paham akan maksud Istrinya tapi Evan juga terlihat bingung karena Istrinya itu kembali memakai underwearnya.
" Katanya mau keluar... " lirih Evan dan menahan tangan Istrinya yang akan menarik underwear ke atas paha.
" Aku mau keluar dari sini! " ketus Rayne dan langsung menghempaskan tangan Evan yang berada di atas paha mulusnya.
" Ya Allah, Sayang... Jangan gini, dong. Aku cuma khawatir kalau yang lain udah pada selesai dansa tapi kita masih disini. " sanggah Evan frustasi, takut terjebak di basah kolong meja.
" Bilang aja kalau kamu nggak niat nengokin anak kita. Kalau bakalan tau ginu mending kaya semula aja, mending aku mual deket kamu! " ketus Rayne dan langsung saja membuang muka.
" Padahal biasanya suka banget ngajakin main di tempat ekstrim. " lanjutnya protes, Evan langsung mengacak kasar rambutnya.
" Iya udah, sini... Mas turutin biar kamu sama Baby kita seneng, biar kamu puas. " jawab Evan mengalah dan langsung merobek gstring yang sudah melingkari paha bawah Istrinya itu.
" Akhhh!!! Oughhh!!! " Rayne langsung menjerit kala Evan langsung merambat turun dan bergerak cepat memainkan lidahnya untuk menyusuri liang kenikmatan miliknya.
" Jangan teriak, Sayang! " kesal Evan khawatir juga kesal.
" Aku kan menikmati, Mas! " ketus Rayne jujur, Evan langsung geleng kepala melihat Ibu hamil di hadapannya.
" Iya tapi jangan kenceng - kenceng teriaknya. Takutnya ada yang denger. " jawab Evan yang terpaksa harus menjelaskan sedetail mungkin di situasi segenting ini.
" Lanjutin! Jangan malah ngomel! " gerutu Rayne dengan nada kesal juga manja.
__ADS_1
" Oke aku lanjut, tapi jangan kenceng - kenceng teriaknya. Gigit tangan aku aja biar nggak sampai teriak kenceng. " ucap Evan, meski sedikit frustasi tapi sudah kepalang tanggung pikirnya, disudahi paksa pun sudah paati akan meresahkan dirinya sendiri.
Di luar ekspektasi Evan, Rayne malah memutar tubuhnya sehingga posisi keduanya saling berbalik atas bawah. Evan memainkan lidahnya di bawah Rayne sementara Rayne juga semangat memanjakan burung kesayangannya. Setelah merasa terpuaskan seusai pelepasan, Rayne pun meminta Evan kembali mengukungnya dan menghujamnya hingga terjadinya tumpah lahar.