
" Sulungnya Daddy udah punya Pacar nih rupanya... " goda Ayah Rudi atau Kakeknya Stevano, Ayah dari Rayne, Stevano dan Maura hanya tersenyum tipis saja tanpa menjawab.
" Siap mantu, Van? " lanjut Ayah Rudi bertanya pada Evan.
" Ayah apaan sih... Tapi kalau beneran ditanya, kalau boleh Evan bilang jujur, untuk saat ini Evan masih belum siap lepas anak - anak. " jawab Evan sembari menghembuskan asap rokoknya ke udara, Stevano dan Maura pun kembali terlihat mengobrol dengan Nala yang duduknya dekat dengan mereka, Anya juga.
" Kenapa belum siap? " tanya Ayah Rudi penasaran sembari menghisap kuat rokok di tangannya.
" Evan ngerasa belum cukup kasih bekal buat anak - anak khususnya Stevano sama Zeevanea. " jawab Evan, Ayah Rudi pun menganggukkan kepalanya, Papi Ardi, juga Eyang Alam terlihat setuju dengan penuturan Evan.
" Ya kali aja beneran jadi besanan sama Teo. " ucap Ayah Rudi sembari melirik sekilas pada Stevano dan Maura yang terlihat sedang bercanda dengan Anya dan Nala serta anak Richie bersama Vivian serta si kembar kecil.
" Mereka berdua cuma berteman. Dan Evan nggak pernah kepikiran sampai kesana meskipun Stevano dan Maura berteman dan Teo berniat jodohin mereka dari kecil. " jawab Evan, Stevano dan Maura yang tak sengaja mendengar percakapan itu saling melempar pandang sekilas, penuturan Evan seolah mematahkan hati dua insan yang diam - diam telah menyatu.
" Penganut anti jodoh - jodohan club ya, Van... " timpal Richie.
" Jodoh di tangan Tuhan, bukan di tangan Gue sama Teo. " jawabnya asal diakhiri dengan senyum smirknya.
Makan malam keluarga Evan berjalan lancar meski tanpa Zeevanea, meski Rayne juga masih tetap memikirkan Putrinya itu. Dan kini, setelah saling berbincang setelah makan malam, mereka masih terlihat duduk santai disana. Mereka sangat memanfaatkan momen kebersamaan keluarga besar mereka ini yang jarang bisa dilewati dengan anggota lengkap. Obrolan - obrolan mereka pun kian berlanjut dan terlihat sangat hangat.
" Anya gimana?" tanya Evan pada Richie.
" Gimana apanya? " tanya balik Richie.
" Kali aja Lo yang mau mantu duluan. " jawab Evan, Richie langsung tersenyum.
" Pacaran dia sama anaknya Aga. " jawab Richie akhirnya, Evan langsung melengos dan mencebikkan bibirnya setelah mendengar nama Aga disebutkan.
" Kok aku nggak tau, Ci... " ucap Sea kaget.
" Baru juga kemaren cerita... Mungkin belum sempet cerita sama kamu. " jawab Richie, Sea pun mengangguk kemudian menatap Putrinya yang terlihat tertawa bersama saudara - saudaranya.
" Bukannya anaknya Aga masih kecil? Seusia Andru kalau nggak salah bahkan di bawah Andru. " timpal Eric.
" Aga sama Istrinya kan punya anak angkat. Yang besar katanya diasuh Dygta, yang kecil sama Aga ini. Orang Tua mereka berdua ini meninggal karena kecelakaan pesawat. " jawab Richie.
" Terus Lo setuju? " tanya Evan.
" Kalau anak Gue cinta Gue bisa apa? " tanya balik Richie.
" Lagian juga masih Pacaran, belum tentu serius ke pelaminan. " lanjut Richie, Evan pun mengangguk dalam diam, anggota keluarga lainnya nampak mengobrol santai satu sama lain meski sesekali juga ikut menimpali obrolan mereka yang lain.
__ADS_1
" Perkara Nala udah beres, Ric? " tanya Eyang Alam pada Eric.
" Hasil tes DNA negative, Eyang... Senin besok Eric sama Sea dan Nala akan kembali ke London untuk merampungkan masalah ini. " jawab Eric, Eyang Alam pun mengangguk.
" Cukup bikin pusing rupanya si Nala... " ucap Papi Ardi.
" Anaknya Evan, Pi... " jawab Eric seadanya sambil nyengir.
" Enak aja! " sungut Evan tak terima, mereka pun tertawa melihat Evan yang tak terima disangkut pautkan atas kenakalan Nala.
" Terus Steve sama Zee anak Lo gitu mentang - mentang anteng? " lanjut Evan bertanya dengan membalik pertanyaannya.
" Anak Gue kali! Gue yang ngadzanin mereka berdua barangkali Lo berdua lupa. " potong Richie cepat.
" Paling seneng aja Lo kalau lagi nyudutin Gue soal itu. " jawab Evan malas, Eric dan Richie terlihat tertawa tanpa suara, para Tetua pun juga nampak tertawa.
" Nyatanya emang anak didik Lo kali, Dek... " ucap Eric, Evan langsung melengos.
" Mulai dari bengalnya sampai suka main Perempuan, sampai nggak mau ngantornya... Rasanya mau pecah kepala kalau mikirin Nala. " ucap Eric dengan tatapan nanar ke depan.
" Evan sekali... " timpal Ayah Rudi sambil menatap Evan, Evan langsung mencebik.
" Mas... Pulang, yuk... Kasihan Zeevanea. " celetuk Rayne setengah berteriak karena posisi tempat duduknya agak jauh dari Evan, Rayne sedari tadi mengobrol dengan barisan para Perempuan.
" Kamu nggak jadi ketemu Sandra dulu? " tanya Evan.
" Besok aja lah... Kasihan Zee. " jawabnya.
" Yang lain mau pulang sekarang apa gimana? " lanjut Evan bertanya pada keluarganya.
" Pulang, lah... Mau ngapain disini kalau kalian pulang duluan. " ucap Ayah Rudi.
" Ya barangkali masih mau ngobrol, Yah... " jawab Rayne, Ayah Rudi pun memggeleng.
" Bayar dulu, Momm... " ucap Evan, Rayne yang juga sudah berdiri langsung melangkah ke arah kasir dan membayar semua makan malam mereka.
Trap... Trap... Trap...
Setelah Rayne kembali ke tempat mereka, mereka semua pun langsung beranjak pulang bersama - sama.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
" Ci... Itu Teo bukan? " lirih Eric bertanya pada Richie, mereka berjalan di barisan paling belakang, Sea dan Vivian yang berada dekat mereka pun langsung celingukan juga.
" Kayanya emang Teo sih, Ric... " jawab Richie sambil menajamkan pandangannya.
" Terus yang Perempuan itu siapa? Kok kayanya deket banget. " timpal Sea.
" Masih muda juga. " timpal Vivian.
" Masa iya tu anak kumat lagi? " timpal Eric.
" Astaga, dicium keningnya! " ucap Eric lagi tapi dengan nada kaget, mereka berempat juga melihat itu dan nampak menganga.
" Selidikin coba... Kasihan anaknya udah segede itu masa Bapaknya kumat lagi. " ucap Richie.
" Kalau itu mending Evan aja. " jawab Eric.
" Cepetan foto, Pi... Kirim ke Evan. " ucap Vivian pada Richie.
" Udah Gue foto. " ucap Eric dan sudah juga mengirim foto tersebut pada Evan, Richie pun langsung memasukkan kembali ponselnya.
Saking lamanya mereka berempat mengamati Teo dengan Perempuan tersebut, mereka sampai tertinggal jauh di belakang dari barisan rombongan keluarga mereka. Dan rombongan keluarga itu juga baru menyadari ketika Evan sudah membuka pesan yang dikirimkan Eric tanpa memberitahukan isi pesan tersebut kepada anggota keluarganya, terlibih Maura karena Maura juga ada disana bersama mereka.
" Kakak sama Abang pulang dulu sama Mommy sama yang lain... Daddy mau nyusulin Papi Eric sama Papici. Sini kunci mobilmu, Daddy pinjam. " ucap Evan pada Nala dan Stevano, mereka berdua langsung mengangguk, Nala pun langsung menyerahkan kunci mobil Zeevanea yang tadi dipakainya.
" Kemana Richie sama Eric? " tanya Mama Rosa sambil celingukan.
" Iya, Mbak... Kenapa mereka nggak ada sama kita... " timpal Bunda Sekar.
" Kemana mereka, Van? " timpal Mami Astri.
" Ini, Mi... Ngajakin mampir ke tempat temen dulu katanya mau ngomongin tender. " jawab Evan berkilah, Rayne terlihat curiga dengan gelagat Evan.
" Kamu pulang dulu sama anak - anak. Kasihan sama Zeevanea kalau kamu ikut aku. " ucap Evan yang seolah tau akan pikiran Istrinya.
" Awas kalau alasan aja dan kamu macem - macem. " ancam Rayne tegas, mereka semua yang ada disana nampak tertawa tanpa suara.
" Kalau aku mau macem - macem masa iya ajakin Kak Sea sama Kak Vivian juga. " jawab Evan sambil terkikik dan geleng kepala.
" Ayo aja sih kalau emang kamu mau ikut. " lanjut Evan.
__ADS_1
" Ya udah, ati - ati... Jangan malem - malem kalau pulang. " ucap Rayne, Evan mengecup singkat bibir Rayne kemudian keluarga merek pun beranjak pulang tanpa Evan serta kedua pasangan tadi.
Trap... Trap... Trap...