Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 134 - Percobaan Bunuh Diri


__ADS_3

" Terima kasih atas nasehatnya, Om... Kalau saja tadi saya tidak bertemu dengan Om disini pasti saya akan benar - benar mengakhiri hidup saya. " ucapnya tulus dengan menatap sendu kepada Pria yang dipanggilnya dengan sebutan Om ini, si Om pun mengangguk sembari menarik sedikit ujung sudut bibirnya diiringi dengan tepukan penyemangat di bahu si Pemuda.


" Masa mudamu masih panjang. Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena menyiakan masa mudamu yang indah. " ucapnya sambil tersenyum, si Pemuda pun ikut tersenyum meski hatinya begitu trenyuh, si Om pun langsung beranjak pergi keluar dari dalam club malam ini, tapi tak lama kemudian si Pemuda pun menyusul keluar karena dia juga akan pulang, ia memutuskan untuk langsung pulang tanpa membawa si Gadis pujaan yang sebenarnya sudah sejak tadi ditunggunya.


Trap... Trap... Trap...


Evan yang sedang dalam perjalanannya malam ini, memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri meski ia tau jika Istri dan Pasukan anaknya masih berada di rumah utama keluarga Kalandra. Malam semakin larut, tapi jalanan Ibu Kota masih terlihat ramai lengang. Tapi tak lama kemudian, Evan pun sampai di rumahnya. Setelah memarkirkan asal mobilnya di depan paviliun belakang, Evan langsung beranjak masuk ke dalam.


Trap... Trap... Trap...


" Ya Allah, Ba...pak! " pekik Susi saking terkejutnya tapi juga terbata kala ia tanpa sengaja berpapasan dengan Evan di dalam rumah saat Evan baru saja masuk ke dalam rumahnya, Evan melepaskan kaca mata hitamnya kemudian menyalakan ponsel yang berada di genggamannya.


Susi nampak memegangi dadanya yang semakin berdegub kencang, apalagi kini Evan malah seolah menatap horor penuh selidik kepada Susi meski Evan juga nampak menatap pada ponselnya, Susi yang kini juga terlihat ketakutan langsung menundukkan kepala, jelas ia tak berani menatap Evan.


" Ngapain malem - malem dari paviliun depan? " kalimat tanya itulah yang seolah tergambarkan dari sorotan tajam mata Evan yang dapat ditangkap oleh Susi saat ini. Susi langsung menunduk sembari meremas asal ujung blouse yang dikenakannya, kemudian Evan melanjutkan langkahnya begitu saja, meninggalkan Susi yang masih terlihat shock setelah beberapa saat tadi bersitatap dengan Evan.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


Setelah beberapa saat terdiam di tempatnya semula untuk menetralkan deguban jantung yang seperti ingin melompat dari sarangnya, Susi pun kembali beranjak menuju kamarnya yang ada di belakang paviliun belakang rumah megah Evan dengan perasaan yang masih ketakutan meski kini Evan sudah tidak lagi menatapnya. Dengan langkah tergesa - gesa berbalut ketakutan, Susi pun beranjak.


Trap... Trap... Trap...


Sementara seorang Pemuda yang tadi baru saja menjumpai Kekasih hatinya di dalam sebuah ruang VVIP club malam elite di Jakarta itu kini tengah duduk termenung di dalam kamarnya yang gelap gulita tanpa penerangan yang memang dengan sengaja dimatikan. Hanya jam digital di tembok kamar lah yang terlihat menyala meski dalam kegelapan. Pemuda ini nampak bersedih juga frustasi. Ia sama sekali tidak menyangka jika Gadis pujaan yang selama ini dijaganya sepenuh hati nyatanya malah dengan penuh semangat bergoyang di atas pangkuan seorang Pengusaha besar kenamaan negeri ini. Memang awalnya si Pemuda ini kekeh berdiri di depan ruangan privat tersebut untuk menunggu Gadisnya keluar. Tapi setelah beberapa saat berdiri diam menatap ke dalam ruangan, hatinya menciut melihat Calon Istrinya sedang bergerak naik turun di atas pangkuan si Bapak yang sedang bermain gila bersamanya. Meski si Pemuda juga dari kalangan Pengusaha, tapi usahanya masih terbilang baru. Jadi ia juga masih kurang paham dengan siapa - siapa saja yang termasuk dalam jajaran Pesohor bisnis negeri ini.


Dan memang awalnya ia juga tidak mengenal sosok Pria matang yang baru saja selesai bercumbu dengan Pujaan hatinya. Akan tetapi ketika ia sedang berbagi cerita dengan seseorang yang baru saja ditemuinya sekaligus mencegahnya bunuh diri di dalam club malam tadi, tanpa sengaja ia mengetahui nama Pengusaha tersebut kala si Om dan Pelaku enak - enak yang tak lain adalah partner mesum Gadisnya tersebut berbincang. Karena merasa frustasi dengan kekecewaan yang dialaminya saat ini, Pemuda ini memang berniat mengakhiri hidupnya dengan menyayat jalur otot urat nadinya dengan pisau yang digunakan untuk memotong roti bakar pesanannya. Tapi kemudian adegan ini terlihat oleh seseorang yang duduk tak jauh bahkan bersebelahan dengan tempat duduknya. Pencegahan pun dilakukan, hingga akhirnya tanpa sadar mereka berdua pun terhanyut dalam obrolan sampai saling berbagi cerita disana.


Flashback On :


" Karin... " lirih seorang Pemuda dengan sejuta keterkejutannya melihat sang Kekasih tengah duduk mesra dipangkuan seorang Pria yang usianya lebih cocok untuk dipanggilnya dengan sebutan Bapak.


Trap... Trap... Trap...


" Yang tidak berkepentingan dilarang masuk! " tegas seorang berbadan kekar yang tengah berjaga di depan pintu di depan ruang kaca tersebut.


" Saya harus masuk! " tegasnya berapi - api, dan langsung terjadilah aksi dorong - mendorong di depan ruang VVIP club elite tersebut.

__ADS_1


Bagh! Bugh!!!


" Karin, keluar! " teriaknya kencang di depan ruang VVIP tersebut dengan nafas yang masih ngos - ngosan setelah atraksi dorong mendorong dengan penjaga pintu tersebut.


" Keluar, Karina! " lanjutnya berteriak meski percuma karena ruang kaca tersebut sudah didesain kedap suara.


" Cepat pergi! Jangan membuat keributan disini! " tegas si Bodyguard, tapi Pria muda ini nampak masih enggan beranjak.


" Tolong, Pak! Yang di dalam itu Calon Istri saya. Saya harus masuk ke dalam. " ucapnya jujur dengan tatapan mengiba, ia merasa lelah juga frustasi bersamaan.


" Saya hanya menjalankan tugas, Tuan! " jawabnya tegas.


" Tolong pahami pekerjaan saya! " imbuhnya, Pria berbadan kekar dengan seragam hitam bertuliskan Arm Guard ini pun terus memberikan pengertian sekaligus penolakan yang tersirat dengan sangat tegas, ya memang pemecatan lah yang nantinya akan diterima jika sampai Bodyguard ini mengizinka masuk si Pemuda.


Pemuda ini kemudian diam, dan tetap berdiri di depan ruangan tersebut untuk mengamati pergerakan Kekasihnya di dalam sana. Penjaga pun membiarkannya karena ia diam dan tak lagi berteriak membuat keributan. Hingga akhirnya mata yang menatap sendu dan sangat frustasi itu menangkap gerakan naik turun yang tercipta dari Kekasihnya. Setelah berdiam kembali beberapa saat untuk menenangkan diri juga menata hati yang tengah bersimbah lara dengan melihat live show 18+ yang tengah dilakukan oleh calon Istrinya, air matanya pun perlahan menetes membasahi wajahnya yang tampan.


Dengan langkah gontai yang terasa amat berat, ia pun memutuskan untuk beranjak menepi... Ia memutuskan untuk tetap berada di dalam club malam ini demi menunggu Pujaan hati keluar dari dalam bilik kaca tersebut tanpa berusaha untuk memaksa masuk ke dalam sana lagi, dan ia pun mencari tempat duduk disana. Tempat duduk di sebelah sudut pojok club lah kini yang ditempatinya. Meski tempat pojok itu berada sedikit jauh dari ruang kaca tempat Kekasihnya berada, dari tempat duduk pojok itu juga ia masih bisa melihat dengan jelas pada pintu ruang kaca tersebut jika sewaktu - waktu pintu ruangan itu terbuka. Hingga akhirnya ia bertemu sampai berbagi cerita dengan seorang Bapak yang sebenarnya sudah duduk bersebelahan dengan tempat duduknya sejak tadi, dan baru saja ia menyadari keberadaan si Bapak ketika ia akan berbuat nekad dengan menyayat urat nadinya.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


Flashback Off :


__ADS_2