
Zeevanea yang baru selesai mandi langsung beranjak menuju kamar yang ditempati oleh Daddynya. Meski rambutnya yang basah masih digulung menjulang ke atas dengan handuk putih tersebut, tapi Zeevanea cuek saja. Tapi juga kamar keduanya memang bersebelahan, mungkin itu yang membuat Zeevanea tetap terlihat cuek.
Trap... Trap... Trap...
Tok... Tok... Tok...
" Dadd... Buka, dong... " ucap Zeevanea berteriak sembari mengetuk dari luar pintu kamar sang Daddy.
" Daddy!!! " teriaknya lagi dan terus mengetuk pintu kamar tersebut.
Ceklek...
" Kamu udah selesai mandi? " tanya Evan dan langsung kembali masuk ke dalam kamar setelah membuka pintu untuk Zeevanea, Zeevanea pun langsung mengikuti Evan setelah menutup kembali pintu kamar Evan.
Trap... Trap... Trap...
" Udah, lah... Nih rambut juga masih basah. " jawab Zeevanea setengah heboh dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang Daddynya sembari memainkan ponselnya.
" Ya udah tungguin bentar, Daddy mandi dulu. " ucap Evan sembari menyambar handuk yang tergantung di salah satu sudut kamar.
Kriiing... Kriiing... Kriiing...
Bunyi suara ponsel Evan yang berdering langsung menghentikan langkah Evan yang akan beranjak ke kamar mandi. Zeevanea yang sedang rebahan di ranjang pun langsung meraih ponsel Daddynya karena ponsel Daddynya juga digeletakkan di atas ranjang.
" Mommy... " ucap Zeevanea setelah melihat tulisan Ratuku menyala kedap - kedip di layar ponsel Daddynya dan menyodorkan ponsel tersebut kepada si empunya.
" Angkat aja, Daddy mau mandi. " jawab Evan acuh dan langsung berbaik badan akan melangkah ke kamar mandi.
" Daddy... " panggil Zeevanea dengan wajah memberengut kesal, Evan pun tak jadi melangkah dan kembali menatap Zeevanea.
" Daddy belum kabarin Mommy kalau udah sampai sini dari tadi? " tanya Zeevanea, Evan langsung menggelengkan kepalanya, panggilan berdering itu pun terhenti tanpa mendapatkan jawaban Evan.
" Daddy marahan kan sama Mommy? " tanya Zeevanea sendu, Evan nampak menghela nafas kasar.
" Udah dong marah sama Mommy... Udah lama juga kejadiannya. " ucap Zeevanea, Evan masih diam menatap Zeevanea.
" Mommy pasti lagi nangis nih di rumah... Kasihan Mommy... " lirih Zeevanea.
" Daddy merasa bersalah sama kamu, Sayang... " ucap Evan lirih penuh rasa bersalah, Zeevanea masih menatapnya sendu.
" Daddy nggak nyangka kamu bakalan menyimpan trauma mendalam atas kejadian lama itu. " lanjut Evan.
" Dadd... Itu semua sudah berlalu. Nggak usah diperpanjang lagi. " ucap Zeevanea.
__ADS_1
" Memang kejadian itu tanpa sadar membuat aku trauma hingga sekarang... Tapi aku nggak mau kalau Daddy marah sama Mommy karena kejadian yang telah lama berlalu. Dan aku berpikir, kalau aku tetap kaya gini, aku nggak berani lawan pasti aku akan terus ketakutan sampai kapan pun. " ucap Zeevanea pelan tapi tegas.
" Please! Daddy nggak usah marah sama Mommy! Zeevanea baik - baik aja. " tegasnya, Evan masih menatap Zeevanea penuh rasa bersalah.
" Zee siap punya Adik bayi! " tegas Zeevanea, Evan nampak tercengang dengan kalimat ini karena sebelumnya tadi ketika di rumah Zeevanea masih menolak keras untuk mendapatkan Adik bayi.
" Daddy mandi dulu. " jawab Evan acuh dan langsung beranjak ke kamar mandi, Zeevanea pun kembali rebahan sembari memainkan ponselnya.
Trap... Trap... Trap...
Ketika beberapa saat berselancar dengan media sosial Instagram miliknya, kini ia kembali melihat ke laman beranda Instagramnya. Matanya menajam melihat sebuah akun bernama @LinggaPradygtaNitinegara yang baru saja mengunggah foto yang menunjukkan jika si pemilik akun sedang berada di sekitaran pantai. Di tambah dengan keterangan lokasi yang menunjukkan suatu tempat yang sama dengan keberadaan Zeevanea, yaitu di Bali. Berawal dari unggahan foto tersebut, senyum smirk Zeevanea pun terbit seiring dengan ide brilliant yang sudah bersarang nakal di otak cerdasnya. Zeevanea pun langsung beranjak dari rebahannya dan akan kembali ke kamarnya untuk bersiap menemani Daddynya.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
" Mau kemana? " tanya Evan yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan piyama handuk saja.
" Mau dandan lah, mau siap - siap... " jawab Zeevanea.
" Ya udah buruan, Daddy mau ganti baju juga. " jawab Evan, Zeevanea pun langsung beranjak kembali ke kamarnya setelah mengecup singkat bibir basah Daddynya.
Trap... Trap... Trap...
Trap... Trap... Trap...
" Loh, Kakak... " ucap Evan kaget ketika mendapati Stevano dan Maura baru saja tiba di depan kamar, Zeevanea langsung mencebik karena kesal dengan sang kembaran yang masih saja menyembunyikan hubungannya dengan Maura.
" Aku mau ngomong penting, Dadd. " ucap Stevano tegas.
" Kita ngomong di dalam saja. " jawab Evan, Zeevanea pun kembali membuka pintu kamar Daddynya dan masuk terlebih dulu.
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Kalian berdua duluan saja, nanti saya menyusul. " tegas Evan pada kedua Asisten kebanggaan Kalandra Group ini, Davi dan Jovanka pun mengangguk kemudian membungkukkan badannya dan langsung bergegas.
__ADS_1
" Ayo masuk. " ajak Evan pada Stevano dan Maura, ketiganya pun kembali masuk ke dalam kamar Evan.
Trap... Trap... Trap...
" Mau ngomong apa? " tanya Evan dengan menatap Stevano dan Maura bergantian setelah mereka duduk di sofa bersama Zeevanea setelah Evan menyulut rokoknya juga, Stevano nampak menatap sendu pada Maura, Maura terlihat berkaca - kaca.
" Soal Papa, Dadd... " ucap Maura sendu, Evan langsung menghela nafas kasar sembari mengepulkan asap rokoknya ke udara.
" Teo kenapa? Ketahuan selingkuh? " tanya Evan to the point dan menduga jika kedatangan Stevano dan Maura yang jauh - jauh menyusulnya ke Bali karena Maura sudah mengetahui kelakuan Teo yang kumat lagi, Zeevanea yang semula sandaran di sofa langsung menegakkan tubuhnya karena terkejut.
" Iya, Dadd... Mama udah menggugat cerai Papa. " jelas Maura dengan menitikkan air mata, Stevano langsung memeluk Maura dan mengecupi puncak kepalanya penuh rasa sayang, tatapan Evan terkunci pada pemandangan itu.
" Kalian Pacaran? " tanya Evan to the point tanpa tedeng aling - aling, Stevano menatap Maura sekilas kemudian mengangguk mantab sembari menatap Daddynya.
" Iya, Dadd. " jawab Stevano tegas, Evan hanya diam saja, Zeevanea nampak lega karena sang Kakak kembarnya akhrinya mempublikasikan hubungannya dengan Maura kepada Daddynya.
" Nanti kita bicarakan lagi. " ucap Evan, Stevano dan Maura nampak celingukan bingung.
" Ganti bajumu, ikut Daddy meeting. Biar Maura disini sama Zeevanea. " jelas Evan.
" Aku nggak bawa baju kerja, Dadd... " jawab Stevano.
" Pakai baju Daddy sama aja. " jawab Evan santai, Stevano pun langsung berdiri dari duduknya dan mencari koper milik Daddynya, Zeevanea langsung memeluk Maura sementara Evan terlihat santai dengan rokok yang masih menyala tersisa di sela jarinya sembari memainkan ponsel pintarnya.
Trap... Trap... Trap...
Tak lama berselang, Stevano pun sudah kembali setelah berganti pakaian. Ia yang semula sudah mengenakan celana panjang berwarna hitam hanya melepas jaket bombernya dan menggantinya dengan jas hitam milik Daddynya. Meski terlihat sedikit unformal dengan perpaduan kaos dan sepatu sneakers tapi tidak begitu masalah, dan tak juga mengurangi aura berwibawa dan ketampanan yang sudah melekat pada diri Stevano.
Trap... Trap... Trap...
" Ayo, Dadd... " ucap Stevano yang sudah kembali ke ruang tamu kamar Presidential Suits yang ditempati oleh Evan, Evan pun langsung berdiri dari duduknya.
" Nanti kalau aku bosen aku boleh nyusul, ya... " ucap Zeevanea sebelum Daddy dan Kakaknya berangkat.
" Nyusul aja, nanti Daddy shareloc tempatnya. " jawab Evan, Zeevanea pun mengangguk.
Cup...
Cup...
Zeevanea langsung mencium punggung tangan Evan dan Stevano, tak lupa mengecup singkat bibir keduanya seperti biasanya. Dan ketika tiba giliran Stevano yang akan mengecup bibir Maura, Evan langsung menarik Stevano dan menyeretnya keluar dari dalam kamar. Stevano nampak menghela nafas kasar karena sikap Daddynya. Zeevanea langsung terkikik sambil geleng kepala, sementara Maura terlihat wajahnya bersemu merah karena malu juga canggung, Maura pun tersenyum tipis di sela tangisnya yang masih terlihat.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...