Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 31 - Aman


__ADS_3

" Mas... " panggil Rayne setelah ia selesai mandi setelah Evan mandi tadi, kini Evan tengah duduk berselonjor di atas ranjang dengan bersandar pada headboard ranjang sembari memainkan tab di tangannya.


" Hemmm... " jawab Evan sambil mendongak kemudian melepaskan kacamata minusnya.


Kenapa? tanya Evan sembari memijit pangkal hidungnya.


" Bukannya hubungan Kak Ici masih masih belum membaik dengan mereka? " lirih Rayne bertanya penuh kehati - hatian, Evan hanya menjawab dengan menggedigkan bahunya, Rayne dan Evan masih saling bersitatap tapi Rayne juga merasa takut jika Suaminya akan berpikir terlalu jauh jika ia bertanya lebih banyak lagi perihal keluarga tersebut.


" Anterin ketemu Sandra deh kalau gitu... " ucap Rayne kemudian.


" Mau ngapain? " tanya Evan yang memang kelupaan jika sebenarnya kemarin mereka akan menemui Sandra, Rayne langsung memutar bola matanya malas.


" Mau punya Anak lagi nggak? " tanya Rayne dengan nada kesal.


" Ayok. " jawab Evan sumringah kemudian langsung meletakkan tabletnya di atas nakas dan langsung memakai sandalnya.


" Tapi makan malam dulu di rumah baru ke rumah Sandra. " ucap Rayne lagi, Evan pun mengangguk kemudian keduanya bergandengan keluar dari kamar.


Trap... Trap... Trap...



" Terus Teo gimana, Mas? Beneran Teo yang semalem itu? " tanya Rayne kala mereka berjalan keluar dari kamar.


" Ya nggak gimana - gimana... Kita bertiga cuma buntutin aja nggak sampai nyamperin dia. Tapi emang beneran Teo kok. " jawab Evan.


" Abis dia dari mall itu dia ke club, pas kita bertiga pulang itu kita habis ngikutin dia sampai Teo masuk ke hotel yang di ujung jalan club kita. " lanjutnya menjelaskan, langkah keduanya sudah sampai di ruang makan, keempat buah hatinya sudah duduk manis disana bersama Anya juga, sedikit banyak kelima anak tersebut juga pasti mendengar obrolan Rayne dan Evan.


" Uncle Teo kenapa, Dadd? " tanya Zeevanea yang tak suka memanggil Teo dengan sebutan Papa meski Teo memaksanya dan Stevano juga memanggil Teo dengan sebutan Papa, Stevano langsung menoleh menatap Daddynya, Rayne langsung mengambilkan makan malam untuk Suaminya.


" Nggak kenapa - kenapa. " jawab Evan santai kemudian langsung menerima piring berisikan makanan yang baru saja diambilkan oleh Rayne.


" Kakak Anya pimpin doa. " ucap Evan, Anya pun menganggukkan kepalanya kemudian memimpin doa sebelum makan dan barulah mereka bertujuh makan malam dalam keheningan seperti biasanya.


" Oiya, Dek... Kenapa kemaren pulang gitu aja nggak nungguin Daddy sama Mommy dateng? " tanya Evan setelah mereka semua selesai makan malam, Evan bertanya sembari menatap Zeevanea.

__ADS_1


" Aku lupa kalau kita mau makan malem bareng disana. " jawab Zeevanea asal berkilah.


" Terus kamu tinggalin Maura juga kemarin... " timpal Rayne yang juga ikut bicara, baru malam ini mereka sempat membahasnya.


" Pas aku pulang Maura sama Kakak masuk ke dalam mall... Lupa juga akunya. " jawabnya dan tetap menyembunyikan kejadian memyakitkan dan memalukan itu dari keluarganya kecuali Nala yang kala itu berada disana sembari ia terus menahan geram kepada sosok Nicholas.


" Lagian juga Maura sama Kakak... Nggak papa juga kan? " lanjutnya, mata tajam yang menatap teduh pada Zeevanea itu terlihat melirik Stevano yang hanya diam mendengarkan tapi ia juga sedikit was - was jikalau Zeevanea sampai keceplosan dan mengatakan kepada kedua Orang Tuanya jika ia menjalin kasih sejak dua tahun belakangan ini dengan Maura.


" Ya udah, ayo... Katanya mau dianterin ketemu Sandra. " ucap Evan pada Rayne sembari berdiri dari duduknya, diikuti Rayne dan pasukan anak mereka.


" Aku ambil tas dulu di kamar... " ucap Rayne dan langsung beranjak, kelima anak tersebut pun langsung beranjak juga, sementara Evan yang sudah membawa kunci mobilnya langsung berjalan menuju keluar dari Paviliun belakang.


Trap... Trap... Trap...


" Yeiyyy... Zeevanea mau dibikinin Adek lagi... " teriak Stevano girang menggoda Zeevanea sembari ikut masuk ke dalam kamar Zeevanea, Anya juga mengikuti Zeevanea, Devandroe dan Raynevandra juga baru masuk ke dalam kamar Zeevanea.


" Jangan asal ngomong deh, Lo! " ketus Zeevanea sambil menonyor kepala Stevano.


" Terus Lo kira Mommy ngajak Daddy ketemu Mama Sandra mau ngapain coba? " tanya Stevano yang sudah menduga hal ini akan benar - benar terjadi karena beberapa saat lalu Daddynya dengan jelas mengatakan ingin memiliki anak lagi.


" Hahaha... " Raynevandra dan Devandroe menertawakan Stevano.


" Camer kali, Zee... " timpal Anya tenang, Zeevanea langsung mencebik sementara Stevano langsung nyengir kuda tanpa menjawab dan turut duduk di atas karpet bersama Raynevandra dan Devandroe, ketiganya pun bernain Mobile Legend bersama.


Kelima anak tersebut pun semakin larut dalam keasiank dengan kegiatan masing - masing di dalam kamar Zeevanea. Dan tak lama berselang, Evan dan Rayne pun akhirnya sampai juga di kediaman Teo dan Sandra. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, keduanya pun langsung menuju ke ruang keluarga bersama Sandra yang membukakan pintu untuk mereka tadi.


Trap... Trap... Trap...



" Teo mana? " ucap Evan sembari duduk menyilangkan kaki dan menyulut rokoknya, Sandra pun mendekatkan asbak puntung rokok ke depan Evan.


" Barusan aja keluar... " jawab Sandra tenang, Rayne dan Evan sekilas melempar pandang.


" Kemana? " tanya Evan yang penasaran dengan alasan Teo keluar rumah.

__ADS_1


" Ketemu klien katanya... Dari kemaren katanya kliennya ribet, dia sampai pulang hampir pagi. " jelas Sandra tanpa curiga sedikit pun.


" Uhuk... " Evan langsung tersedak asap rokok yang semula akan dihembuskannya sementara Rayne hanya memasang tampang biasa saja seolah tak tau apa - apa.


" By the way, ada apa ini? " tanya Sandra kemudian sembari menyajikan minuman hangat yang baru saja diantarkan oleh Pembantunya.


" Aku mau lepas KB, San... Mas Evan mau punya anak lagi. " jelas Rayne sambil menatap sekilas pada Evan yang tengah menuang kopi hitamnya di tatakan cangkir.


" Tapi kira - kira aman nggak kalau seusia kita gini hamil lagi? " tanya Rayne penasaran.


" Wah... Masih semangat aja Pak Presdir buat nyetak anak. " goda Sandra sambil tertawa.


" Itu tuh bukti kalau Gue cinta sama Bini. " jawab Evan sambil terkikik, Sandra dan Rayne pun langsung geleng kepala bersamaan.


" Aman aja kali Rayne kalau kamu mau punya anak lagi selama kondisi kesehatan kamu juga masih bagus. " jawab Sandra sambil tersenyum.


" Ya udah deh kalau aman, aku tenang jadinya. Kalau gitu besok aku pergi ke Dokter dan lepasin KB-ku. " jawab Rayne, Sandra pun mengangguk.


" Maura nggak dibikinin Adek, nih? " goda Evan pada Sandra.


" Enggak, deh... Maura aja cukup. " ucap Sandra sambil tersenyum.


" Tapi maen masih rutin, kan? " tanya Evan lagi karena semakin penasaran, pertanyaan itu langsung membuat mata Rayne membola dan melotot seperti mau lepas.


" Rutin, dong... Kan Laki Gue nggak jauh beda sama Lo yang pikirannya itu mulu. " jawab Sandra tanpa malu karena mereka sudah saling mengenal baik dan bersahabat sejak SMA, kembali lagi Evan dan Rayne saling pandang tanpa Sandra ketahui apa maksudnya pandangan mereka.


" Lo juga harus pinter - pinter ngimbangin dan nyari ide baru biar Laki Lo nggak bosen karena merasa tiap adegan kalian itu monoton. " ucap Evan, Sandra dan Rayne kembali geleng - geleng bersamaan.


" Sumpah, mulut Lo lemes banget kalau ngomongin dunia persilatan Suami Istri. " ucap Sandra sambil terkikik.


" Udah ah, Mas! Kamu itu Laki, masa iya ngomongin hal kaya gini sama Sandra dengan begitu santainya. Nggak malu juga, apa! " protes Rayne kesal.


" Ya ngapain juga malu... Sandra itu dulu Dokter Kandungan, udah makanan dia sehari - hari dong tentunya kalau ngobrolin seputar kehamilan dan ranjang sama Pasiennya. " jawab Evan, Rayne nampak menghela nafas panjang.


" Meskipun Sandra dulu Dokter Kandungan tapi bisa aja kan dia lupa caranya muasin Teo di atas ranjang. " lanjut Evan santai, sebetulnya Evan ingin melihat reaksi Sandra ketika ia mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


" Lo nggak usah khawatir, itu mah aman... " jawab Sandra, Evan pun mengangguk - anggukkan kepala sambil melirik Istrinya.


__ADS_2