Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 187 - Harapan Rayne


__ADS_3

Ketika waktunya makan malam tiba, seluruh keluarga Evan pun perlahan turun kembali ke lantai bawah untuk melaksanakan makan malam bersama. Zeevanea yang sebenarnya merasa malas untuk bertemu dengan Evan pun akhirnya tetap memaksakan dirinya setelah tadi Nicholas membujuknya saat keduanya tengah melakukan video call sebelum waktu makan malam tiba. Devandroe dan Raynevandra pun juga terlihat turun untuk makan malam meski keduanya masih sama - sama memasang wajah penuh permusuhan. Sementara Stevano, ia nampak tak terlihat batang hidungnya disana.


Trap... Trap... Trap...


Evan dan Rayne pun akhirnya turun juga. Seperti biasa, bergandengan mesra berdua meski segudang masalah tengah bertumpuk memenuhi jiwa raganya. Tapi keduanya tetap berusaha untuk terlihat tenang di depan anak - anaknya.


Trap... Trap... Trap...


Setelah menarik kursi untuk Rayne dan langsung diduduki oleh Rayne, Evan pun langsung menarik kursi untuk dirinya sendiri di posisinya seperti biasanya. Rayne nampak menatap satu persatu ketiga anaknya itu dengan tatapan yang teramat sendu. Melihat tatapan kesedihan itu terpancar dari sorot mata sang Ibunda, Raynevandra pun langsung memeluk Rayne saat itu juga. Si bengal romantis ini memang sangat menyayangi Mommy-nya. Evan pun akan dilawannya kalau sampai membuat Rayne tersakiti oleh Evan.


" Makan malam dulu, Sayang... " ucap Evan kepada Rayne yang masih dipeluk erat oleh Raynevandra.


" Mommy berharap keluarga kita bisa selalu rukun dan harmonis seperti sedia kala... Mommy nggak mau keluarga kita saling menyakiti apalagi sampai terjadi pertumpahan darah di dalam keluarga kita. " lanjutnya.


" Jadikanlah pembelajaran untuk pendewasaan diri atas segala cobaan kehidupan yang sedang menerpa keluarga kita saat ini. " lanjutnya lagi.


" Jangan pernah menganggap Daddy kejam karena memberikan keputusan terberat ini kepadamu, Zeevanea... " lirih Rayne yang kini berucap kepada Zeevanea, Zeevanea yang disebut namanya langsung menolehkan kepala menatap kepada Rayne.


" Mommy tau ini berat buat kamu dan Nico... Terlebih buat kamu... Tapi cobalah untuk memposisikan dirimu pada posisi Daddy-mu... " lanjutnya sembari menatap dalam mata sembab Putrinya, Zeevanea hanya diam, hatinya kian merasa teriris perih mendengar ucapan Rayne yang notabenenya si pembuat kesalahan atas penolakan Evan kepadanya sekarang.


" Devandroe dan Raynevandra... " lanjutnya dan kini memanggil nama sepasang kembar kecilnya.


" Mommy harap tidak akan ada lagi permusuhan diantara kalian berdua. " ucapnya penuh harap.


" Selain berdasar karena cinta, Alexandra dan Raynevandra akan menikah karena kesalahan mereka berdua memang harus dipertanggung jawabkan oleh mereka berdua yang sudah berbuat kesalahan... " lanjutnya, Zeevanea nampak menatap bingung kepada Rayne tetapi ia juga hanya diam, malas menanggapi meski biasanya ia selalu bersikap Barbar.


" Meski kini hatimu dipatahkan oleh Adikmu, Mommy yakin Tuhan sudah menyiapkan yang lebih membahagiakan untukmu. " imbuhnya, Devandroe pun hanya diam memperhatikan tanpa berniat menjawab.

__ADS_1


" Dan untuk Stevano... " lanjutnya mengucapkan nama sang Putra pertama meskipun Stevano tidak berada disana.


" Penolakan Daddy untuk memberikan restu atas hubungan Stevano dan Maura bukan hanya karena keegoisan Daddy semata... Daddy hanya menuruti apa yang Teo lakukan. Bagaimanapun juga Teo adalah Ayah dari Maura. Daddy tidak berhak untuk melangkahi Teo sebagai Ayah Maura. " lanjutnya yang tetap menjelaskan meski Stevano tidak berada disana.


" Dari pembicaraan ini Mommy harap keluarga kita kembali rukun dan harmonis seperti sedia kala... Kalian harus paham bahwa setiap Orang Tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak - anaknya. Tidak ada Orang Tua yang menginginkan anak - anaknya menderita. Itulah yang membuat Daddy dan Mommy selalu menceritakan apa saja tentang keadaan keluarga kita kepada kalian agar tidak sampai terjadi perselisihan di dalam keluarga kita ini. Dan meski Daddy tetap memberikan keputusan tegasnya yang terasa menyakitkan untuk kalian, itu semua Daddy lakukan karena besarnya cinta Daddy kepada kalian semua. " tegasnya yang tanpa terucap langsung jikalau Rayne menyetujui keputusan Evan meski sejujurnya Rayne juga merasa tak tega melihat anak - anaknya diberikan keputusan tegas oleh Suaminya.


" Zeevanea pimpin doa, kita mulai makan malam sekarang. " imbuhnya, dengan malas hati Zeevanea pun langsung mengucapkan doa sebelum makan.


Masih dalam keadaan hening mencekam... Setelah makan malam usai, anak - anak ini pun langsung meninggalkan tempat tanpa kata. Hanya Raynevandra saja yang menyempatkan untuk menatap sendu sekilas kepada kedua Orang Tuanya. Mata Rayne pun langsung berkaca - kaca melihat keadaan di dalam keluarganya yang kian terasa berbeda dari biasanya. Nampak tak ada lagi keharmonisan yang tergambar disana. Evan yang paham akan kesedihan Istrinya itu pun langsung memberikan pelukan mesra penuh kasih sayangnya. Keduanya nampak larut dalam pelukan untuk saling menguatkan.


Trap... Trap... Trap...


" Assalamualaikum... " ucap Stevano yang baru saja datang dan menghampiri kedua Orang Tuanya di ruang makan.


" Waalaikum salam. " balas Rayne dan langsung beringsut dari pelukan Evan sementara Evan hanya menjawab salam itu dari dalam hati saja.


Cup...


Cup...


" Makan dulu, Kak... " ucap Rayne sambil menatap Stevano, Evan mengambil sebatang dan menyulut rokok milik Stevano yang baru saja diletakkan di atas meja makan karena Evan lupa tidak membawa rokoknya.


" Aku udah makan di rumah Maura, Momm... " jawab Stevano pelan.


" Ngapain kesana? " tanya Evan setelah menghembuskan asap rokoknya ke udara.


" Aku nyari Papa Teo... Kebetulan tadi kata Maura kalau Papa Teo lagi disana. " jawabnya sedanya.

__ADS_1


" Stevano... " panggil Rayne pelan, Stevano pun langsung menoleh menatap kepada Rayne setelah sebelumnya menatap pada Evan.


" Mengertilah bahwa penolakan Daddy untuk memberikan restu atas hubunganmu dan Maura bukan hanya karena keegoisan Daddy semata... Daddy hanya menuruti apa yang Teo lakukan. Bagaimanapun juga Teo adalah Ayah dari Maura. Daddy tidak berhak untuk melangkahi Teo sebagai Ayah Maura. " lirih Rayne yang menjelaskan lagi ucapan ini yang kali ini diucapkan langsung kepada si empunya perkara, Evan hanya diam menikmati rokoknya, membiarkan Rayne yang mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Stevano, Stevano pun nampak diam dengan perhatian penuh kepada Rayne.


Trap... Trap... Trap...


" Maaf Tuan, Nyonya, Tuan Muda... " ucap salah satu Asisten Rumah Tangga yang tiba - tiba datang menghampiri mereka bertiga yang masih berada di ruang makan.


" Ada apa, Bi? " tanya balik Rayne kepada Asisten Rumah Tangga tersebut.


" Ada tamu di depan, Nyonya... " jawabnya pelan dan sopan.


" Tamu cari siapa? " tanya Rayne lagi.


" Tamu yang mencari Tuan, Nyonya... " jawabnya tetap dengan menunduk sopan.


" Siapa? " sahut Evan yang langsung penasaran.


Trap... Trap... Trap...


" Gue, Van... " suara itu tiba - tiba terdengar seiring dengan derap langkah kaki yang terdengar kian mendekat, mereka pun langsung menatap ke arah sumber suara yang tak asing lagi di telinganya, Rayne terkejut sekaligus takut kepada Evan setelah melihat siap sosok tamu mereka.


" Tolong ambilkan minum untuk kami, Bi... " ucap Rayne kepada Asisten Rumah Tangganya yang langsung diangguki.


" Baik Nyonya... Kalau begitu saya permisi. " ucap si Pembantu itu menjawab dengan membungkuk sopan, kemudian langsung bergegas membungkuk dan beranjak kembali ke belakang.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


__ADS_2