
Cup...
" I miss you, Bee... " ucap Maura kala menjemput Kekasihnya di Bandara setelah Kekasihnya mencium bibirnya sedikit lama.
" Mee too, Baby... " balas Steve mesra dengan tetap menatap dalam mata indah Kekasihnya.
" Idih! Sama - sama tinggal di London nggak usah lebay! Baru juga beberapa hati nggak ketemu kaya nggak ketemu bertahun - tahun aja. " sungut Zee yang jengah melihat Kakaknya ******* bibir Kekasihnya di depan matanya tanpa rasa malu sedikitpun, Steve hanya diam sementara Maura nampak menahan tawanya.
" Sirik. " ketus Steve dan langsung menggandeng tangan Maura dan beranjak duluan.
" Kakak, ih! Kok Gue malah ditinggalin! " sungut tak terima itu terlontar kembali karena Kakaknya mengabaikannya dan malah melenggang santai bersama Maura, Kekasihnya.
" Awas ya, nanti Gue aduin Daddy baru tau rasa kalian! " teriaknya kesal sembari menyusul keduanya yang sudah terlebih dahulu beranjak, sementara yang diancam biasa saja tak menanggapinya.
Trap... Trap... Trap...
Setelah sampai pada mobil jemputan mereka, Zee nampak bingung karena ada dua mobil jemputan yang terparkir berjajar. Tapi ia tak pikir panjang lagi, ia langsung saja menaiki mobil yang jelas milik kedua Orang Tuanya.
" Kakak mana, Uncle? " tanya Zee pada Bisma, Bodyguard utusan Daddynya.
" Tuan Muda ikut di mobil Nona Maura, Nona Muda. " jawab Bisma, Zee pun langsung memelototkan matanya geram dengan Kakaknya.
" Ya udah, ayo jalan. " ketusnya, Bisma pun langsung melajukan mobil tersebut.
Brum... Whuuussszzzhhh...
Sementara Steve dan Maura yang kini tengah berada di dalam mobil van milik Maura nampak mulai semakin menghimpit satu sama lain. Maura sengaja memilih mobil van tersebut karena ia bisa leluasa melakukan apa saja di belakang sana tanpa diketahui oleh Sopir pribadinya. Karena diantara bangku belakang dan bangku kemudi sudah tertutup rapat. Aksen mewah pun nampak terlihat di dalam interior mobil van tersebut.
" Bee... " panggil Maura pada Steve, keduanya duduk berdampingan dengan saling memeluk.
" Hemmm... " gumam Steve menjawab sembari tetap mendekap hangat Maura.
__ADS_1
" Kenapa kita nggak terus terang aja sih soal hubungan kita selama ini? " lirih Maura bertanya.
" Kita Pacaran udah hampir dua tahun tapi diem - diem gini... " lanjutnya.
" Aku takut tau nggak tiap kali ketemu sama Daddy. " imbuhnya.
" Sebenernya aku juga nggak mau Pacaran diem - diem gini, Baby... Tapi kan kamu tau sendiri apa alasanku selama ini. " jawab Steve tenang sembari mengusap lembut kepala Maura yang bersandar di dadanya, Maura hanya diam karena memang ia sudah tau apa alasan Steve selama ini.
" Tapi kamu harus bener - bener janji untuk serius dengan hubungan kita ini. " ucap Maura.
" Kamu ini ngomong apa sih... Nggak perlu aku ucap janji manis kamu kan juga udah tau gimana aku selama ini sama kamu. " jawab Steve.
" Iya... Tapi aku tetep aja takut kalau tiba - tiba nanti kamu ninggalin aku. " ucapnya sendu.
" Aish! Udah nggak usah ngomong aneh - aneh. " ucap Steve.
" Biar Daddy sama Papa aja yang mantan Cassanova. Aku nggak ada niat sama sekali. " lanjutnya.
" Ya emang itu kenyataannya... Orang Daddy sama Papa sealiran, sama - sama doyan main Perempuan. " jawab Steve seadanya, Maura hanya mencebikkan bibirnya.
" Coba aja kalau kamu berani selingkuh dari aku, aku nggak akan segan hamilin kamu. " lanjutnya mengancam tegas tapi tangannya sudah bergerilya kesana kemari menikmati lekuk tubuh Maura.
" Ish! Mau hamilin aja pakai nunggu selingkuh. Hamilin gih sekarang. " tantang Maura dengan menahan tawanya dan ikut mengusap lembut benda berharga di sekitar pangkal paha Steve.
" Jangan dong... Sekarang cukup diincip - incip aja, ngerasainnya nanti kalau udah sah. " jawab Steve sambil tersenyum tipis.
" Jaga dia buat aku, ya... Buat malam pertama kita nanti. " ucap Steve lagi dan memasukkan tangannya ke dalam segitiga kecil yang menutupi surga dunia milik Maura dan mengusap - usap lembut biji kacang kecil yang menyembul di permukaannya, Maura hanya menganggukkan kepalanya.
" Kamu juga jaga dia buat aku, ya... " jawab Maura dengan semakin merasakan kenikmatan dari sentuhan mereka berdua.
" Pasti, Baby... Dia pasti akan bersarang di sarangmu ini untuk pertama kalinya nanti ketika kita sudah sah menjadi Suami Istri. " jawab Steve, Maura kembali menganggukkan kepalanya lemah dan mulai memposisikan dirinya agar Steve lebih mudah menjelajahi pelataran surga dunianya ini.
Cup...
__ADS_1
Sofa yang sedari tadi mereka duduki sudah berpindah menjadi tempat tidur setelah Maura menekan tombol disana. Ciuman keduanya pun langsung terpaut dengan indah dan dengan begitu rakusnya. Mereka berdua yang notabenenya hidup di London memang sudah sering kali melakukan hal ini sedari mereka berpacaran dan jelas tanpa sepengetahuan siapa pun juga kecuali mereka berdua yang memang Pemeran utamanya. Tapi hanya sebatas itu saja tanpa memasukkan burung itu ke dalam sangkar emasnya. Setelah keduanya sama - sama mengelurkan laharnya, kecupan Steve pun mendarat di kening Maura. Setelah selesai, Maura langsung membersihkan tangan juga milik Steve dengan tisu basah yang selalu disiapkan di dalam tasnya. Tak lupa juga mengusap lembit bibir Steve yang tadi juga digunakan untuk mencumbui liang surganya. Setelah selesai, barulah Maura membersihkan sendiri dirinya sendiri juga dengan tisu basah yang selalu dibawanya itu.
Maura langsung merapikan pakaian Steve, mengancingkan kemabali kancing celana jeans yang Steve kenakan. Setelah Maura selesai, Steve langsuny membantunya merapikan kembali pakaian Maura seperti tadi Maura melayaninya penuh cinta.
Dan tanpa terasa kedua mobil ini pun susah berhenti di pelataran rumah megah milik Orang Tua Steve dan Zee. Siapa lagi kalau bukan Evano Gamya Kalandra dan Rayne Ayyara Kalandra. Setelah pintu mobil dibuka, keduanya pun turun dan berjalan biasa saja seolah mereka hanya dekat sebatas sahabat saja. Dan pemandangan itu pun yang kembali membuat Zee merasa muak. Zee memang sudah didoktrin oleh Steve untuk tak memberitahukan hubungan Steve dan Maura kepada Mommy dan Daddynya. Dan tentu saja si barbar Zee mengiyakan karena ia mendapatkan imbalan besar dari sang Kakak yang memaksanya menutup mulutnya rapat - rapat.
Trap... Trap... Trap...
" Masuk dulu, yuk... " ajak Steve pada Maura, Maura pun menganggukkan kepalanya, keduanya pun berjalan berdampingan tanpa bergandengan tangan, sementara Zee sudah terlebih dulu beranjak masuk le dalam rumah.
Trap... Trap... Trap...
" Astaga, apa lagi ini! " teriak Zee frustasi, sesampainya ia di ruang keluarga rumahnya ia malah mendapati Daddynya sedang mngukung Mommynya di atas sofa, Daddynya sedang menciumi leher Mommynya dengan rakus, Rayne yang mendengar teriakan Putrinya langsung mendorong dada Evan yang sudah berada di atasnya.
" Salam dulu kenapa sih, Dek. " ucap Evan biasa saja seolah tak terjadi apa - apa dan langsung memeluk Putrinya dan menciuminya saking kangennya, sementara Queen langsung bergerak cepat untuk membenahi pakaiannya kemudian langsung menghampiri Putrinya jugameski sebenarnya menahan malu karena terpergoki oleh Putrinya.
Trap... Trap... Trap...
" Kakak mana, Sayang? " tanya Queen setelah mencium dan memeluk Putrinya, Zee hanya menjawab dengan menolehkan kepalanya.
Trap... Trap... Trap...
" Malem, Mom, Dadd... " sapa Maura dan langsung mencium punggung tangan calon Mertuanya itu, sementara Steve juga langsung memeluk Daddy dan Mommynya, tak lupa kecupan singkat di bibir seperti biasanya.
" Malaem, Sayang... " balas Queen sembari tersenyum, sementara Evan hanya mengangguk kemudian duduk.
" Papamu mana? " tanya Evan pada Maura.
" Papa di rumah, Dadd... " jawabnya kikuk, pasti pertanyaan Evan berbuntut panjang pikirnya.
Mereka pun akhirnya mengobrol hingga larut malam saking banyaknya yang anak - anak ini ceritakan kepada Orang Tuanya. Bahkan Steve dan Zee pun sampai membawa piring berisikan makan malamnya ke ruang keluarga agar tetap bisa mengobrol dengan Mommy dan Daddynya. Maura pun ikut juga. Dan ketika jam sebelas malam, mereka semua pun membubarkan diri.
__ADS_1