
Sementara Rayne yang tadi menyusul Evan keluar dari ruang perawatan Zeevanea, kini sudah berada di Everic Hotel bersama Evan. Everic yang tak lain adalah Hotel milik Evan. Beruntungnya ia di saat menyusul Evan keluar dari Rumah Sakit, tapi Evan belum sampai tancap gas untuk beranjak pergi dari tempat Rumah Sakit tersebut. Dan kini, keduanya tengah duduk berdua dalam diam di Restoran yang ada di dalam Everic.
" Mas... " lirih Rayne memanggil Evan yang sedari tadi diam tak berkata sepatah kata pun, keduanya saling bungkam, sesekali hanya saling menatap atau melirik saja, bahkan Rayne merasa jika Evan hanya sibuk dengan rokoknya saja seolaah tak memperdulikan keberadaan Rayne disana.
" Hmmm... " jawab Evan pelan malas dan menatap Rayne dengan mata sayunya setelah menghembuskan asap rokoknya ke udara.
" Udah dong jangan ngerokok terus... " protes Rayne sembari sedikit memanyunkan bibirnya.
" Cemburu kok sama rokok... " jawab Evan sekenanya dan bernada sewot.
" Aku tuh nggak cemburu sama rokoknya, ya! Aku kesel tau nggak liat Mas Evan dari tadi ngerokok terus nggak ada brenti - brentinya! " omel Rayne menggebu - gebu, Evan tetap santai menikmati rokoknya yang entah sudah batang ke berapa yang dibakarnya.
" Mati bakar, mati bakar! Nggak panas apa mulutmu itu dibakar terus! " lanjutnya sambil berkacak pinggang meski ia sedang duduk.
" Bawel amat! Padahal dulu pendiem banget. " ledek Evan sambil terkikik, Rayne semakin kesal dan semakin mengerucutkan bibirnya dan keduanya kembali terdiam hingga beberapa saat hingga akhirnya Rayne kembali bersuara.
" Ayo balik ke Rumah Sakit... Kasihan Zeevanea. " ucap Rayne sendu juga serius.
" Ayo. " jawab Evan dan langsung berdiri dari duduknya setelah mematikan putung rokoknya yang masih agak panjang itu, kemudian menggenggam tangan Rayne dan membawanya pergi dari Everic menuju kembali ke Rumah Sakit tempat Zeevanea dirawat.
Trap... Trap... Trap...
Ketika keduanya berdiri dan berjalan berdampingan untuk keluar, seluruh Karyawan yang ada di Everic pun langsung membungkukkan badannya tanda memberikan hormat kepada si empunya Everic tersebut. Rayne senantiasa tersenyum, tapi Evan tetap saja menampakkan wajah cueknya dan hanya sesekali menganggukkan kepalanya meski sangat terlihat angkuh dan arogan.
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
" Kamu tadi keluar dari ruangan Zeevanea gegara Nicholas nyinggung foto aku sama anak - anak, kan? " tanya Rayne serius ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju kembali ke Rumah Sakit.
__ADS_1
" Masa kecil Zeevanea dan Stevano udah lama berlalu, tapi Bajingan tengik itu masih aja nyimpen foto lama kalian. Bajingan tengik itu pasti masih memiliki perasaan sama kamu. " jawab Evan tegas dengan nada yang datar sembari menatap lurus ke arah jalan raya.
" Sudah bukan masanya lagi kita saling mengumbar kata cinta meski itu juga pemanis dalam hidup kita. Kita berdua sudah berjalan bersama sejauh ini, bersama - sama menapaki pahit getirnya lika liku kehidupan yang datang silih berganti. " ucap Rayne diiringi dengan desah nafas berat.
" Bukan urusan kita, dan itu hak Dygta kalaupun Dygta masih menyimpan foto lawasnya bersama dengan aku dan anak - anak... Mungkin itu hanya dianggapnya sebagai kenangan masa lalu. " lanjutnya.
" Yang terpenting untuk kita sekarang dan ke depannya adalah pembuktian kita akan lemah kuatnya cinta. Kuat lemahnya cinta kita hanya bisa dibuktikan dengan terealisasinya keluarga kita yang harmonis, bahagia, tetap kompak, tetap saling menyayangi dan saling menaungi satu sama lain. Dengan begitu, genggaman cinta yang erat pada keluarga kita ini tidak akan pernah tergoyahkan meskipun besarnya badai yang menerpa. Termasuk badai masa lalu yang kini kembali hadir ke tengah - tengah kita. " tukasnya.
" Masoook Bu Presdiiir... " pekik Evan sambil terkikik, setuju dengan pendapat Rayne dengan wajah serius dan sedikit senyum, tapi Rayne masih terlihat serius.
" Jangan pernah lagi meragukan cinta ini meski dulu aku pernah gagal menjaga kesucian cinta ini dengan sebuah kesalahan yang fatal. Sekarang dan seterusnya aku akan terus pastikan, aku tetap mencintaimu dan anak - anak kita, meski kini Dygta kembali hadir ke tengah - tengah romantika hidup kita. " ucap Rayne tegas.
" Aku tidak pernah meragukan cintamu, meski dulu kamu telah menyakitiku sedalam itu. Dan aku yakin, cintamu untukku tetap utuh tak tersentuh. Aku hanya tidak bisa menghilangkan kecemburuanku terhadap Bajingan tengik itu. " jawab Evan pelan dan tegas.
" Aku tau... Karena itu juga adalah termasuk bukti cintamu kepadaku. " jawab Rayne, Evan pun langsung merengkuh tubuh Rayne ke dalam pelukannya dengan sebelah tangannya karena Evan juga sedang mengemudi.
" Ray aku telponin nggak ada ngangkat sama sekali, Andru aja yang angkat telponku. " jawab Rayne pelan dan mengeratkan lingkaran pelukannya ke perut Evan.
" Tapi mereka berdua pulang ke rumah, kan? Aku nggak ada ngecek CCTV rumah sama sekali. " tanya Evan lagi.
" Pulang kok, Mas... Mereka di rumah, nggak ngungsi ke rumah Mama ataupun ke rumah Eyang. " jawab Rayne setelah menganggukkan kepalanya, Evan pun ikut mengangguk juga.
" Ya udah biar nanti aku yang telepon Raynevandra. Bungsu kita itu emang rada hot. " ucap Evan, gantian Rayne yang menganggukkan kepalanya lagi.
Dan tanpa terasa, mobil yang membawa keduanya menuju ke Rumah Sakit pun akhirnya sampai kembali di area parkir Rumah Sakit yang dituju oleh Evan dan Rayne, tempat Zeevanea dirawat. Keduanya turun dari mobil dan kembali bergandengan mesra menuju ruang perawatan Zeevanea.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
Ceklek...
Hahaha...
Tawa menggema terdengar mengalun memenuhi di dalam ruang perawatan Zeevanea. Masih tetap dengan formasi yang sama sebelum Evan dan Rayne keluar dari ruangan ini sebelumnya. Tapi seketika teehenti kala Evan dan Rayne masuk kembali ke dalam sana.
" Hahaha... " Nicholas dan Nala nampak terlihat terpingkal lebih parah dibandingkan dengan yang lain dan langsung diam setelah melihat Evan membuka pintu ruang perawatan Zeevanea.
Trap... Trap... Trap...
Evan dan Rayne pun langsung masuk kesana, Evan langsung duduk di sofa yang ada disana sementara Rayne menghampiro Zeevanea ke tempat pembaringannya.
Cup...
" I want to going home, Mumm... I' m fine, Mommy! I'm not sick. " ucap Zeevanea pada Rayne setelah Rayne mengecup keningnya.
" Sebentar ya, Sayang... Kita tanya sama Dokternya dulu, ya... " jawab Rayne, Zeevanea pun menganggukkan kepalanya.
" Mas... " panggil Rayne pada Evan.
" Hmmm... " jawab Evan tanpa menoleh.
" Panggil Dokternya gih, anak kamu minta pulang. " ucap Rayne.
" Itu tinggal pencet bel aja kalau mau panggil Dokter. " jawab Evan sambil megarahkan dagunya ke arah pencetan bel yang letaknya di atas ranjang Zeevanea, Rayne langsung menoleh dan merasa cengo sendiri, yang lainnya terlihat menahan tawanya.
Dan akhirnya, Rayne pun langsung memencet tombol penghubung tersebut untuk menanyakan hal ini. Sementara Richie yang kemarin datang ke Bali bersama Rayne, pagi tadi juga sudah bertolak kembali pulang ke Jakarta.
__ADS_1