
Beruntungnya Raynevandra dan teman - teman sekelasnya karena siang ini kelas mereka tiba - tiba dilewati oleh jam kosong dikarenakan Dewan Guru sedang melaksanakan rapat mendadak. Jadual ualangan pun jelas diundur mengingat siang ini adalah jam kosong di kelas mereka. Beruntungnya juga untuk Raynevandra yang tanpa sengaja bertengkar hebat dengan Anastasya di jam terakhir pembelajaran hari ini. Tapi juga masalah baru sepertinya mengingat Anastasya yang mengancam akan bunuh diri jika Raynevandra tetap menolak cintanya.
" Baby, hei... Are you ok? " panggil Raynevandra lirih, Alexandra nampak masih diam mematung, tertegun melihat pertengkaran hebat antara Raynevandra dan Anastasya.
" Baby... I love you... " ucap Raynevandra lagi, dengan pelan dan perlahan akhirnya kesadaran Alexandra kembali dan ia langsung menoleh menatap penuh kesenduan kepada Raynevandra.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Jangan pernah tinggalin aku. " lirih Alexandra yang langsung terisak dan langsung memeluk erat Raynevandra.
" Itu nggak akan pernah terjadi. " jawab Raynevandra tegas sembari memeluk Alexandra dan mengusap lembut kepala Alexandra untuk memberikan ketenangan.
" Do you love me, Baby? " tanya Alexandra lirih sembari mendongak agar bisa menatap Raynevandra.
" Yazz... I'm still loving you. " jawab tegas Raynevandra dan langsung memeluk Alexandra kembali.
Trap... Trap... Trap...
" Ray! Gawat, Ray! " ucap Hilman panik, salah satu teman sekelas Raynevandra, Raynevandra yang masih memeluk Alexandra langsung mendongak menatap Hilman.
" Tasya beneran mau bunuh diri, Ray! " jelas Hilman dengan nafasnya yang masih ngos - ngosan, pelukan kedua sejoli itu terlepas seketika dan keduanya pun langsung berdiri dari duduknya saking terkejutnya, teman - teman sekelas mereka mulai berlarian keluar mencari keberadaan Anastasya.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
" Ray! Please, Ray!!! Tolongin Tasya, Ray! Tasya mau lompat dari atas gedung sekolah, Ray! " jelas Amelia dengan tubuh gemetaran, ia adalah Sahabat Tasya yang baru saja mengabarkan kepada Raynevandra ke dalam kelas, dada kedua sejoli ini semakin berdebar tak karuan, teman - teman mereka yang masih di kelas langsung berhamburan keluar juga untuk menuju ke atap yang biasanya digunakan Raynevandra untuk menepi.
" Gila tuh anak! Kaya nggak ada Cowo lain aja selain Gue! " pekik Raynevandra frustasi sembari mengacak kasar rambutnya.
__ADS_1
" Gawat Bray kalau sampai Bokap Lo tau! " pekik Aaron takut.
" Kamu tenang disini sebentar... Aku urus Tasya dulu. " ucap Raynevandra pada Alexandra.
" Kamu janji nggak akan tinggalin aku, kan? " tanya Alexandra sendu, air matanya menetes membasahi pipi mulusnya.
" Apa pun yang terjadi, aku tetep cinta sama kamu. Dan kita berdua nggak akan pernah terpisahkan. " tegas Raynevandra, Alexandra tak menjawab, hanya menatap sendu pada Raynevandra, Raynevandra pun langsung mengusap lembut air mata Alexandra.
" Ayo, Ray! Urusin Tasya dulu! " ucap Hilman, Raynevandra mengecup singkat kening Alexandra kemudian beranjak keluar dari kelas.
Trap... Trap... Trap...
Aaron, Bradley, dan Brylee langsung mengikuti Raynevandra sementara Ghania langsung mendekat pada Alexandra dan memeluk Alexandra erat. Ketika Raynevandra sampai di atap gedung sekolah, sudah ada beberapa Guru yang nampak berdiri disana untuk membujuk Anastasya. Mereka semua langsung menoleh pada Raynevandra yang baru saja datang bersama Aaron, Bradley, Brylee, Hilman, dan Amelia.
Hiks... Hiks... Hiks...
Anastasya menatap kedatangan Raynevandra dengan terisak dan bersimbah air mata. Beberapa Guru yang sudah berada disana pun masih tak bisa membujuk Anastasya untuk kembali ke tengah. Anastasya bahkan mengancam akan segera melompat ke bawah jika ada salah satu dari mereka yang mendekat ke tempatnya berdiri. Anastasya berdiri di tepian atap tersebut sembari terus menangis terisak. Patah sudah hatinya... Hancur berkeping - keping tak bersisa karena harus kembali merasakan malu atas penolakan Raynevandra yang kesekian kalinya.
" Sadar, Tasya! " teriak Raynevandra sembari berjalan perlahan mendekat ke arah Anastasya berdiri.
" Masa depan Lo masih panjang! Gue bukan satu - satunya Cowo di dunia ini! Lo pasti bisa dapetin Cowo yang lebih dari Gue kalau Lo mau lapangin hati Lo dan buka hati Lo buat Cowo lain yang cinta sama Lo. " tegas Raynevandra sembari berjalan perlahan mendekatinya.
" Stop Ray! " teriak Anastasya histeris tapi Raynevandra masih tetap bergerak perlahan mendekati Anastasya.
" Gue bakalan lompat kalau Lo masih nggak mau terima Gue! " teriak Anastasya tanpa rasa malu lagi.
" Orang Tua Lo pasti sedih kalau sampai Lo nekad bunuh diri hanya gara - gara Gue nolak cinta Lo! " ucap Raynevandra lagi.
" Kesini, Tasya! Bunuh diri itu dosa besar, Nak! Jangan lakukan itu, Tasya! " timpal salah seorang Guru lainnya mencoba membujuk Anstasya juga.
__ADS_1
Tapi tak lama kemudian Alexandra seolah tak betah berada di dalam kelas beedua dengan Ghania saja sedangkan seluruh teman - teman sekelasnya sudah berhambur keluar menuju tempat Anastasya berada. Akhirnya, Alexandra pun mengajak Ghania untuk keluar menuju tempat Anastasya dan teman - temannya berada.
Trap... Trap... Trap...
Hiks... Hiks... Hiks...
" Sorry Ray... Gue cinta sama Lo! Gue nggak bisa lagi buka hati Gue buat Cowo lain selain Lo. " tegas Tasya dengan terisak dan berlinang air mata.
" Dan lebih baik Gue mati kalau Lo tetap nggak bisa nerima Gue! " teriak Anstasya kian frustasi.
" Kita masih bisa jadi Teman, Sya... Lo jangan nekad! Pikirin Orang Tua Lo! " ucap Raynevandra yang juga terus mencoba menenangkan Anastasya.
" Buat apa lagi Gue hidup Ray kalau Lo nggak mau terima Gue! " teriak Anstasya.
" Gue terima Lo sebagai Teman, Sya... " jawab Raynevandra, Anastasya nampak tersenyum miris dengan bersimbah tangis.
" Kalau Lo jatuh dan Lo langsung mati mungkin Lo bisa merasa bebas, Tasya. Tapi kalau Lo jatuh dan Lo nggak mati tapi Lo cacat, Lo bakalan tambah nyesel seumur hidup Lo! " tegas Raynevandra, Anastasya tetap tak bergeming, Anastasya menatap Raynevandra dengan deraian air mata yang semakin menderas.
" Ingat dosa, Tasya! " timpal Guru disana.
" Ray... Terima Tasya juga, Ray... Aku nggak papa, Ray. Asalkan Tasya nggak sampai bunuh diri. Selamatkan Tasya, Ray. " ucap Alexandra takut, berucap dengan bibir dan tubuh bergetar meski sejujurnya tak rela mengucapkan hal ini apa lagi jika benar - benar nantinya cinta Raynevandra terbagi untuknya dan Tasya, Raynevandra nampak tercengang dengan penuturan Alexandra yang mengejutkan, tapi seorang Guru Laki - Laki disana nampak melirik dan memberikan sebuah simbol kepada Raynevandra, beruntungnya Raynevandra yang masih terkejut dengan penutura Alexandra tetap sigap.
" Nggak usah jadi sok Pahlawan deh, Lo! " ketus Anastasya sembari menatap Alexandra penuh dendam dan kebencian, Raynevandra dan Bapak Guru itu pun mulai menjalankan strateginya diam - diam memanfaatkan konsentrasi Anastasya yang sedang terpecah pada Alexandra.
" Lo pasti seneng kan lihat Gue kaya gini, lihat Gue terus - terusan menderita karena Ray terus nolak Gue! " teriak Anastasya yang semakin menyudutkan Alexandra, Alexandra hanya menangis sembari menggeleng - gelengkan kepalanya, menolak asumsi dari tuduhan Anastasya kepadanya.
" Jangan begitu, Tasya... Kemarilah, Nak... " ucap Guru mereka tetap berusaha membujuk Anastasya agar tidak nekad.
Dhuar!!!
__ADS_1
Aaaakkkkk!!!