Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 199 - Si Bengal


__ADS_3

Setelah malam beralih pagi yang mulai membumi, nampaklah raut wajah haru bahagia yang tergambar dari seluruh wajah keluarga Armaya dan juga keluarga Kalandra tentunya. Yap... Bagaimana mereka semua tidak merasa bahagia karena tepat setelah tadi adzan Subuh berkumandang, Evan nampak membuka matanya secara perlahan. Setelah Dokter kembali memeriksa keadaan Evan, Evan pun dinyatakan sudah berhasil melalui masa kritisnya meski keadaannya masih terbilang cukup lemah. Tapi setidaknya mereka semua sudah merasa sedikit lega karena kesadaran Evan telah kembali seperti sedia kala.a Dan setelah semua diperiksa dan dirasa normal, Evan pun langsung dipindahkan ke ruang perawatan VVIP terkhusus untuk anggota keluarga Armaya. Seluruh keluarga yang menunggui pun jelas turut berbondong - bondong berpindah tempat lagi layaknya Evan yang dipindahkan ke tempat lainnya. Dan kini mereka semua sudah berada di dalam ruang perawatan Evan.


Hiks... Hiks... Hiks...


" Kenapa melengos? " tanya Evan pelan kepada Rayne yang nampak membuang muka kala tatapannya beradu dengan tatapan mata sayu Evan, Rayne tidak menjawab dan malah menyembunyikan wajahnya pada pelukan Ayahnya dan membuat kedua Orang Tua-nya beserta Mama Mertuanya nampak menahan kikikan.


" Kamu nggak seneng aku siuman? " tanya Evan lagi karena Rayne masih diam tak menjawab.


" Sayang... " sela Mama Rosa memanggil Evan, Evan yang semula menatap Rayne sambil menahan tawa langsung menoleh menatap sang Mama.


" Kami semua sebenarnya kecewa karena kamu menutupi kesakitanmu itu dari kami. " jelas Mama Rosa pelan, Ayah Rudi nampak menggelengkan kepala sambil menatap Mama Rosa dengan maksud agar Mama Rosa tidak membahas perkara berat saat ini dengan Evan tapi Mama Rosa sudah tak sabar untuk tidak memarahi Evan.


" Udah lah, Mam... Nggak usah dibahas lagi. " jawab Evan pelan bernada malas.


" Aku nggak papa. " lanjutnya berucap sambil menatap Rayne yang masih terus mengabaikannya.


" Enteng benget ya kamu ngomong kalau kamu nggak papa! " sahut Rayne yang langsung berucap dengan penuh kekesalan.


" Kamu pernah mikir nggak sih Van gimana khawatirnya aku lihat kamu kritis kaya gitu? " lanjutnya membentak sambil melengos menatap ke arah lainnya bahkan tak segan untuk memanggil Evan dengan sebutan nama saja.


" Itu tau... " jawab Evan enteng dengan menatap Rayne yang masih melengos enggan menatapnya.


" Tapi nyatanya apa? " bentak Rayne lagi dan tetap tak mau menatap kepada Evan.


" Sini... " panggil Evan sambil menepuk sebelah ranjangnya yang kosong, meminta Rayne mendekat kepadanya.


" Sayang, hei... " panggil Evan lagi karena Rayne tak bergeming, Ayah Rudi nampak melepaskan pelukan Putrinya dan mengkode Putrinya untuk menghampiri Menantu kesayangannya, meski dengan langkah malas akhirnya Rayne pun beranjak.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


" Aku cuma nggak mau kamu khawatir... " lirih Evan sambil memeluk Rayne yang sudah ditarik paksa ke atas ranjang pasien yang tengah ditidurinya.


" Tapi nyatanya tetep aja bikin aku dan semua keluarga khawatir! " jawab Rayne kesal, Evan hanya diam sambil menikmati pelukannya kepada Rayne.


" Kamu bayangin nggak sih gimana rasanya jadi aku pas tau kamu kritis bahkan sampai dua kali sedangkan sebelumnya kamu juga nggak ikut panggil aku masuk ke dalam seperti kamu panggil Ray sama Raka! " jelas Rayne mengungkapkan kekesalannya.


" Ya aku mana tega panggil kamu masuk ke dalam. " jawab Evan seadanya karena memang tak tega jika harus memperlihatkan kondisi dirinya yang tengah berbaring lemah dengan banyaknya kabel juga slang yang tengah ditancapkan pada tubuhnya.


" Keterlaluan kamu, Evan! " pekik Rayne frustasi sambil berdecak kesal tentunya, yang lainnya nampak saling pandang siaga karena Rayne terus saja memanggil Evan dengan sebutan nama saja dan biasanya pasti akan membuat Evan marah, maka dari itu mereka nampak was - was.


" Yang penting sekarang aku udah nggak apa - apa... Jangan marah - marah terus kasihan Baby kita. " bujuk Evan tapi Rayne masih menunjukkan wajah marah penuh kecewa.


" Daripada marah - marah panggilkan Dokter sana. " lanjutnya yang malah memerintah, meski berucap banyak tapi suara Evan masih terdengar pelan dan lemah.


" Gue aja yang panggilin. " sela Eric dan langsung bergegas keluar untuk memanggil Dokter, sementara yang lain pun langsung mendiam kembali takut jikalau Evan kembali merasakan sakit di tubuhnya.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Bagaimana, Tuan Muda? Apa ada yang dikeluhkan? " tanya Dokter tersebut dengan senyum ramahnya.


" Saya mau pulang. " jawab Evan pelan tapi tegas seolah tak bisa dibantah, seluruh keluarganya yang berada disana nampak membulatkan matanya secara berjamaah saking terkejutnya dengan ucapan Evan.


" Periksa kondisi saya secara menyeluruh. " tegas Evan lagi dan langsung membuyarkan lamunan keterkejutan Pak Dokter.


" Maaf, Tuan Muda... Anda masih harus di rawat hingga kondisi Tuan Muda membaik. " tegas Dokter tersebut dengan suara pelan dan penuh penyesalan.

__ADS_1


" Lakukan saja apa yang saya minta. " tegas Evan yang tetap tak bisa dibantah keinginannya.


" Kondisi Tuan Muda masih lemah dan masih dalam pemantauan kami. " tegas Dokter takut tapi menjawab yang sebenarnya sesuai dengan prosedural.


" Kalian saja yang setiap hari datang ke rumah saya. Saya tidak mau disini. " tegas Evan dan malah memerintah seenaknya, keluarganya pun kian terperangah dengan ucapan Evan.


" Turuti saja kalau masih terbilang aman. " sahut Ayah Rudi sembari melirik geram kepada Menantu kesayangannya yang memang sangat bengal dan sulit diatur.


" Saya khawatir jikalau sewaktu - waktu kondisi Tuan Muda kembali menurun dan saya juga rekan - rekan tim Medis tidak bisa segera melakukan tindakan dengan cepat karena Tuan Muda tidak berada di Rumah Sakit. " jawab Pak Dokter menjelaskan.


" Makanya cepat periksa kondisi saya sekarang juga. " sahut Evan yang kembali menegaskan permintaannya yang merupakan perintah kepada si Pak Dokter.


" Evan! " sahut Mama Rosa yang jelas ikut geram karena Putranya keras kepala, bisa jadi permintaan Evan ini jika dituruti akan membahayakan kondisi Evan selanjutnya.


" Banyak orang kurang mampu di luaran sana yang juga mengalami sakit jantung seperti saya terpaksa dirawat di rumah karena tidak adanya biaya dan tetap hidup lama. " jawab Evan yang masih ngotot meski suaranya juga pelan.


" Perbedannya disini hanya soal biaya bukan soal sakitnya. " tegas Evan lagi.


" Biar saja, Mbak... Biar si Bengal ini merasakan kalau nanti dia kembali drop dan harus menunggu lama untuk mendapatkan pertolongan Medis. " sahut Ayah Rudi dengan lirikan mata sinisnya kepada Evan tapi berucap kepada Mama Rosa.


" Kalau nanti sampai mati ya udah biar aja... Emang itu maunya Evan untuk ninggalin Istri sama anak - anaknya secepat ini. " tegas Ayah Rudi yang sebenarnya juga tak tega melihat Rayne bersedih karena kondisi Evan.l, Rayne sampai tidak bisa berkata - kata lagi, bingung menghadapi Evan yang memang keras kepala.


" Baiklah kalau Tuan Muda tetap memaksa... Dengan berat hati saya akan menuruti. " ucap Dokter penuh kepasrahan.


" Akan tetapi saya menyarankan untuk tetap membawa salah seorang anggota Medis kami dari Rumah Sakit ke kediaman Tuan Muda untuk memantau terus kondisi kesehatan Tuan Muda agar tidak sampai berakibat fatal dengan kondisi Tuan Muda jikalau memang nanti terjadi sesuatu nantinya. " lanjutnya menjelaskan secara terperinci dan panjang lebar.


" Lakukan saja. " jawab Evan dengan enteng tanpa beban sama sekali.


" Saya ingin pulang secepatnya. " imbuhnya tegas.

__ADS_1


__ADS_2