Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 172 - Membuka Pikiran


__ADS_3

" Abang Nala kemana, Bang El? " tanya Zeevanea pada Marcello, kebetulan baru mereka berdua yang sudah duduk di ruang makan.


" Kemaren dijemput Tante Bianca... " jawab Marcello seadanya, Zeevanea pun mengangguk, Eric memang memerintahkan kepada anak - anaknya yang lain untuk memanggil Tante kepada Bianca.


Trap... Trap... Trap...


" Selamat pagi... " sapa Sea dengan senyum mengembang saat baru saja bergabung di ruang makan, Sea berjalan duluan sementara Ara dan Eric nampak berjalan di belakang Sea dengan bergandengan mesra.


" Pagi... " balas keduanya pelan, ketiga orang yang baru datang ini pun langsung menempati kursi masing - masing.


" Abang pimpin do'a. " titah Eric tegas, Marcello pun langsung mengangguk kemudian melafalkan do'a sebelum makan dan barulah mereka semua memulai sarapan bersama.


Pagi harinya sebelum seluruh anggota keluarga di rumah Eric melakukan aktifitasnya, mereka semua pasti akan sarapan bersama terlebih dahulu. Zeevanea pun turut sarapan di rumah Eric sebelum ia nanti juga harus berangkat ke galeri untuk membantu Mommynya. Setelah sarapan usai, mereka semua pun langsung bubar jalan untuk melanjutkan kegiatan masing - masing.


" Ara sama Cello anterin Mami ke rumah Daddy... Nanti Papi nyusul pulang dari kantor. " tegas Eric setelah melihat anak - anaknya selesai bersiap.


" Aku sama Papi aja deh Pi kayanya... " ucap Marcello menggantung.


" Kenapa memangnya? " tanya balik Eric.


" Aku janjian sama Steve di kantor soalnya Steve minta aku nemenin dia meeting sama perusahaan dari Makasar. " jawab Marcello seadanya.


" Ya anterin Mami sama Adikmu dulu kan bisa... " jawab Eric, Marcello hanya diam tanpa berani membantah lagi.

__ADS_1


" Telepon Steve dulu suruh nunggu kamu biar bisa barengan. Bilang juga sama Daddy, suruh tanda tangani surat resign Papi. " lanjutnya menjelaskan, Marcello pun langsung mengangguk, kemudian setelah Marcello dan Sea serta Asmarandhana yang dipanggil Ara ini berpamitan kepada Eric dan Zeevanea ketiganya pun langsung bergegas, jadilah hanya tersisa Eric dan Zeevanea saja disana, Zeevanea pun kembali merasa kikuk karena sekarang dirinya hanya bersama Eric saja, Zeevanea merasa bersalah juga karena kemarin sempat mengabaikan ucapan Eric.


Trap... Trap... Trap...


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


" Aku juga pamit ke galeri dulu ya, Pi... " ucap Zeevanea pamit kepada Eric.


" Duduk dulu, ada yang Papi mau omongin sama kamu. " jawab Eric pelan penuh ketegasan, Zeevanea mengangguk pelan kemudian kembali duduk di tempatnya semula.


" Sekali lagi Papi tegaskan... Papi tidak akan ikut campur dengan hubunganmu dan Nicholas. " ucap Eric yang langsung to the point dengan tujuan pembicaraannya, Zeevanea pun langsung diam mendengarkan.


" Papi hanya mengingatkanmu untuk segera berterus terang kepada Daddy-mu. " lanjutnya.


" Beban pikiran yang saat ini tengah dipikul oleh Daddy-mu sudah teramat banyak... " lanjutnya dengan menatap sendu kepada Zeevanea, mata Zeevanea langsung berkaca - kaca.


" Perkara Stevano dan Maura juga belum menemukan titik terang. Daddy-mu tidak mau merestui hubungan Stevano dan Maura bukan karena Daddy-mu tidak sayang dengan mereka, tapi Teo yang tidak bisa bersikap tegas sehingga membuat Daddy-mu tetap tak mau memberikan persetujuan kepada Stevano dan Maura. " lanjutnya lagi, Eric nampak merinci permasalahan yang tengah bersarang pada benak Evan.


" Lalu sekarang masalah Raynevandra... " lanjut Eric kemudian langsung menyulut rokoknya sembari menghembuskan asapnya ke udara diiringi dengan desah nafas berat.


" Ray kenapa, Pi? " tanya Zeevanea penasaran, ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya karena sebelumnya juga tidak mendapatkan jawaban ketika bertanya kepada Raynevandra, Eric langsung menoleh dan menatap Zeevanea.


" Kamu belum tau perkara Raynevandra? " tanya balik Eric, Zeevanea langsung menggeleng.

__ADS_1


" Aku cuma tau Ray sempet pergi dari rumah dan pamitan dengan minta maaf sama kita semua. Tapi aku juga nggak tau pasti itu semua karena apa. Dan begitu Ray udah balik lagi pulang aku tanya juga katanya masalahnya udah kelar. " jelasnya seadanya.


" Alexandra hamil... " jawab Eric lirih, Zeevanea langsung melongo, matanya yang semula berkaca - kaca itu nampak membola seketika.


" Raynevandra akan menjadi Ayah. " lanjut Eric yang menjelaskan perkara Raynevandra.


" Dan sekarang... " lanjut Eric menggantungkan ucapannya, menjeda sejenak dan saling bersitatap dengan Zeevanea.


" Bayangkan saja sekarang kalau sampai Daddy-mu mengetahui hubunganmu dengan Nicholas dari orang lain... " lanjutnya kembali berucap serius kepada Zeevanea yang masih mematung karena terkejut dengan kabar mengenai Raynevandra.


" Jadi Papi mohon dengan sangat... Papi harap kesediaanmu untuk berterus terang kepada Daddy-mu sebelum semuanya terlambat. Jangan menambah lagi beban pikirannya meski sudah jelas akan dampak dari kejujuranmu. Setidaknya Daddy-mu mendengar dan mengetahui sendiri dari pengakuanmu. " lanjutnya lagi, Zeevanea nampak mengangguk pelan dan perlahan.


" Daddy-mu sakit... Daddy-mu terkena serangan jantung ringan setelah mendengar kabar mengenai kehamilan Alexandra. Tapi Daddy-mu merahasiakan sakitnya dari kalian semua. " lanjutnya kembali menjelaskan, mata Zeevanea kembali berkaca - kaca, ia sangat tidak menyangka jika melihat dari kegaharan sosok Daddy-nya ternyata Daddy-nya juga tengah mengidap penyakit jantung.


" Papi tau dari mana? Papi juga kenapa tadi bilang mau resign? " tanya Zeevanea dengan perasaan yang kian tak karuan, air matanya nampak menetes tiba - tiba mendengar tentang keadaan Daddy-nya.


" Ray yang tau... Dan cuma Ray di keluarga kalian yang mengetahui. Daddy-mu menolak untuk dirawat di Rumah Sakit. Dan Papi juga diberitahu oleh Ray karena Ray sangat mengkhawatirkan Daddy-mu. " jawabnya menjelaskan tetapi tidak menjelaskan alasannya untuk resign karena topik pembicaraan mereka adalah keluarga Evan.


" Pikirkan baik - baik ucapan Papi... Papi tidak bisa membantumu untuk membujuk Daddy-mu dan kamu pun pasti sudah tau itu, kamu juga jelas tau bagaimana perangai Daddy-mu. Tapi setidaknya Papi sudah memberitahukan kepadamu tentang beratnya beban pikiran yang kini tengah diemban oleh Daddy-mu. " ucap Eric lagi.


" Raynevandra si Bungsu yang teramat sangat disayanginya sudah mengecewakannya begitu dalam. Daddy-mu merasa gagal mendidik Putra kesayangannya. Dan sekarang, kamu... Anak Perempuan satu - satunya kesayangannya juga apakah kamu juga tega membohonginya lebih dalam lagi? Bayangkan saja jika nanti Daddy-mu mengetahui tentang hubunganmu dengan Nicholas dari orang lain. Pasti akan semakin besar kekecewaannya kepadamu mengingat sejarah kelam masa lalu itu masih membekas di benaknya hingga saat ini. " imbuhnya tegas berucap panjang lebar mencoba membuka pikiran Zeevanea untuk berpikir lebih jauh lagi, Zeevanea dan Raynevandra memang anak - anak kesayangan Evan meskipun Evan juga sangat menyayangi Stevano dan juga Devandroe.


__ADS_1


Setelah pembicaraan ini usai, keduanya pun langsung bergegas. Eric langsung berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia benar - benar resign, dan Zeevanea pun langsung berangkat ke galeri. Sembari merenungi masih akan hubungannya dengan Nicholas, akhirnya pagi ini Zeevanea juga mengetahui tentang perkara Raynevandra yang sempat membuatnya penasaran. Dan kini Zeevanea juga mengetahui kebenaran lain perihal kondisi kesehatan Daddy-nya.


Trap... Trap... Trap...


__ADS_2