
Hari masih menjelang pagi... Nampak beberapa pasang anak manusia tengah berlarian menuju kamar asal yang ditempatinya. Raynevandra nampak berlari kembali ke kamarnya setelah setengah malam berbagi keringat dengan Alexandra di dalam kamar yang ditempati oleh Alexandra bersama Zeevanea. Raynevandra sendiri juga sebenarnya tidur sendiri di dalam kamarnya, tapi ketika ia menghampiri Alexandra, ia tak sengaja berbarengan dengan Nala dan Nicholas yang akan mengambilkan piyama untuk Zeevanea. Setelah Nala dan Nicholas beranjak, barulah Raynevandra tinggal. Dan selama beberapa hari berada di Bali ini, keduanya memang selalu curi - curi waktu saat malam untuk bersama meski ada Keluarga Raynevandra yang bersama mereka.
Berbeda Raynevandra berbeda pula dengan Stevano dan Maura. Keduanya juga nampak berbaring tanpa sehelai benang di ranjang yang sama. Hanya selimut tebal yang menutupi kepolosan keduanya. Tapi keduanya seolah mendiam bergelut dalam angan yang entah kemana.
" Jangan langsung menghakimi, Daddy tak akan mungkin tega melakukan hal seperti Papa... " lirih Maura sambil memiringkan tubuhnya dan menatap Stevano yang tengah menatap langit - langit kamar.
" Tak mungkin apanya lagi, Baby? Sudah jelas tadi kita semua ngelihat kalau Daddy ciuman sama Perempuan itu! " sanggah Stevano dengan nada sedikit meninggi dan menoleh miring agar bisa bersitatap dengan Maura.
" Tapi tadi kan Daddy udah berusaha ngomong sama kita semua kalau apa yang kita lihat itu nggak seperti yang kita duga... " jawab Maura menenangkan Kekaksihnya, tangan lentik itu nampak merambat pelan mengusap mesra di pipi Stevano.
" Kamu sama Zee sama Mommy yang keburu emosi tanpa tau pasti... Harusnya kalian dengerin dulu penjelasan Daddy. " lanjutnya.
" Daddy itu nggak jauh beda sama Papa! Pasti nggak jauh beda juga kelakuannya kalau udah ketemu sama ****** di luaran sana! " jawab Stevano yang kekeh dengan pendiriannya.
" Perempuan tadi Istrinya Om Aga, Bee... Setauku Tante Rere itu bukan Perempuan nakal. " ucap Maura menyanggah pernyataan Stevano yang mengatai Keyra ******.
" Uncle Aga maksud kamu? " tanya Stevano menggebu - gebu, Maura pun mengangguk, Stevano yang terkejut langsung membetulkan posisi duduknya dan duduk tegak bersandarkan headboard pada ranjang.
" Hagata Rancaka Nitinegara kan yang kamu maksud? " tanya Stevano lagi yang ingin memastikan dengan benar dengan nada bicara yang terlihat menggebu.
" Iya, Bee... Om Aga yang Adiknya Om Dygta. Kamu kan juga kenal sama mereka. " jawab Maura, mata Stevano nampak semakin membelalak sempurna saking kagetnya.
" Kalau memang Perempuan tadi Istrinya Uncle Aga dan dia bukan Perempuan nakal, aku bisa simpulin kalau Daddy pasti selingkuh! " tegas Stevano berapi - api dengan semakin terbawa emosi, wajah Maura semakin terlihat panik melihat Kekasihnya dilanda emosi tinggi.
" Jangan langsung menyimpulkan apa yang kamu tidak tau pasti! " tegas dengan nada sedikit meninggi, Maura semakin panik karena Stevano nampak sangat emosi.
" Daddy itu nggak jauh beda sama Papa, Baby! " tegas Stevano, Maura nampak menggeleng - gelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Jangan karena masalah Papa lagi panas kamu jadi nuduh Daddy kaya gitu. Nggak baik nuduh tanpa bukti yang jelas. " sanggah Maura.
" Setiap orang bisa saj berubah, Bee... " Buktinya selama ini Daddy berhasil membuktikan untuk selalu setia sama Mommy. lanjutnya.
" Daddy nggak adil, Baby! " pekik Stevano yang masih emosi.
" Daddy masih kaya Papa tapi Daddy juga egois nggak mau ngerestuin pernikahan kita. " lanjutnya fruatasi, ia keceplosan mengatakan hal ini tanpa disadari.
" Jangan ngalihin pembicaraan kita. Kita pagi bahas Daddy, bukan bahas soal kita. " jawab Maura yang merasa Evan tak bersalah.
" Ya terus aku harus gimana lagi, Baby? " tanya Stevano frustasi sambil mengacak kasar rambutnya.
" Ya kamu ngomong dulu sama Daddy... Pastikan dulu sebelum kamu menyimpulkan bahwa Daddy bener - bener selingkuh. " jawab Maura logis, Stevano nampak diam menimbang apa yang sedang berputar pada otaknya.
" Aku yakin sih kalau Daddy nggak selingkuh. " lanjut Maura penuh keyakinan, Stevano hanya diam dan terus bergelut dengan hati dan pikirannya tentang Evan.
" Tadi kamu ngomong kalau Daddy nggak ngerestuin pernikahan kita. Maksudnya gimana? " tanya Maura tegas, ia yang tadinya ngotot membela Evan langsung teringat ucapan Stevano, seketika itu juga wajah Stevano memucat, apa yang selama ini disembunyikannya tiba - tiba terkuak tanpa disadari.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Baby, jawab aku! " pekik Maura yang mulai terlihat setengah berteriak histeris, Stevano diam dan menatap sendu kepadanya.
" Baby, jawab! " pekik Maura lagi kian ingin tahu dan merasa sedih.
" Iya. " jawab Stevano pelan dan seolah masih tanda tanya samar untuk Maura.
" Daddy bilang nggak akan merestui pernikahan kita kalau Papa tetap seperti itu. " lanjut Stevano yang akhirnya terpaksa jujur saat ini, tangis Maura pun kian berderai seiring dengan ucapan Stevano yang sudah didengarnya.
__ADS_1
" Kita akan berusaha meluluhkan Daddy sama - sama, ya... " lirih Stevano yang langsung mendekap erat tubuh polos Maura.
Keduanya memang masih sama - sama polos tanpa sehelai benang yang membalut tubuh keduanya, di sisi lain Stevano yang merasa ada pergerakan di antara pangkal pahanya ketika kini ia sedang memeluk Maura yang tengah bersedih tak mau memikirkan ketegangan yang tercipta di bawah sana, Maura seolah kehilangan semangat, hancur sudah hidupnya dengan perpisahan mutlak kedua Orang Tuanya, ditambah kini ia kembali mendengar kabar mencengangkan dari mulut sang Kekasih yang keceplosan.
Kakak lakukan sekarang! pekik Maura sembari berderai air mata yang kian menderas, Stevano hanya diam menatap Maura karena sebenarnya ia seolah membeku ketika Maura mengatakan hal ini kepadanya, Maura yang sebenarnya malu untuk mengatakan hal ini dengan sengaja membuang jauh harga dirinya, rasanya tak ada lagi cara yang dapat dilakukan untuk meluluhkan kerasnya hati Evan.
Jleb!!!
" Akhhh!!! " teriak Stevano dan Maura bersamaan, nafas keduanya memburu bukan karena nafsu, tapi keduanya sama - sama memekik terkejut atas apa yang baru saja Maura lakukan.
Hiks... Hiks... Hiks...
Maura menangis sesenggukan, Stevano langsung merengkuh kembali tubuh polos Maura ke dalam dekap hangatnya yang selalu memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk Maura, dan tanpa disadari Stevano juga menitikkan air mata sembari tetap memeluk Maura erat.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Baby... " panggil Stevano lirih, ia merenggangkan pelukannya agar bisa bersitatap dengan Maura yang masih berderai air mata kesakitan jiwa juga raganya, tangan kekar itu pun langsung terulur untuk mengusap lembut lelehan air mata yang membanjiri wajah Kekasihnya.
" Aku milikmu seutuhnya, Bee... Dengan begini Daddy tidak akan bisa memisahkan kita. " lirih Maura yang makin terisak, Stevano menatapnya sendu dan juga berderai air mata, tangan keduanya sama - sama terulur untuk saling mengusap air mata yang membasahi wajah Pasangannya, ucapan peringatan Evan untuk Stevano kala itu pun semakin menyeruak mengusik Stevano.
" Jangan pernah tinggalkan aku apa pun yang akan terjadi, Bee... " lanjut Maura sambil menatap dalam ke arah mata Stevano.
Cup...
Setelah keduanya merasa cukup tenang, keduanya pun sama - sama mengangguk untuk saling meyakinkan diri satu sama lain. Keduanya pun sudah paham langkah apa yang kini harus keduanya hadapi. Ciuman - ciuman lembut yang tercipta dari peraduan bibir keduanya pun terlihat semakin menggelora, mengoyakkan jiwa dan raga yang tengah bersatu dalam besarnya cinta. Sembari terus saling menyatukan bibir dengan lu matan hingga beberapa saat, Stevano pun memulai pergerakan dengan memindahkan Maura yang semula duduk di pangkuannya. Merebahkan Maura di ranjang dengan pelan disela decitan saliva yang terus ditukarkan tanpa jeda. Dengan perlahan, untuk pertama kalinya, Stevano pun mulai bergerak untuk menggerakkan pinggulnya secara pelan dan perlahan. Ketika Stevano mulai bergerak, Maura nampak meringis dan mendesis merasakan sakit atas perbuatan nekadnya.
Ya... Maura yang semula mengobrol serius dengan Stevano langsung bergerak cepat setelah merasa ada pergerakan dari bagian tubuh Stevano yang bergerak mengencang menyentuh kulit mulusnya. Maura seolah hilang akal, ia langsung bergerak cepat dan langsung duduk di atas pangkuan Stevano. Tanpa pikir panjang lagi, saat akan mendudukkan dirinya di pangkuan Stevano, ia juga langsung mengarahkan dirinya untuk melakukan penyatuan sempurna dengan Stevano untuk pertama kalinya. Rasa nyeri dan juga perih yang bercampur dengan rasa ngilu itu diabaikannya, ia tak mau kehilangan Stevano.
__ADS_1