Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 9 - Buktikan!


__ADS_3

Malam pun tiba, seluruh keluarga Evan sudah berkumpul di ruang keluarga karena sebentar lagi mereka semua akan segera makan malam. Stevano dan Zeevanea pun juga sudah sampai di rumah sejak sore tadi. Hanya Raynevan dan Devandroe saja yang belum pulang ke rumah.


Trap... Trap... Trap...


Sreeek!!!



" Aduh, Mas Evan! " teriak Zeevanea tak terima diturunkan paksa dari sofa oleh Daddynya, Evan turun dari kamar paling terakhir dan langsung menggeser Zeevanea yang duduk di sisi kiri Rayne agar Evan bisa duduk di samping Rayne.


" Minggir! " hardik Evan dengan wajah menjengkelkannya, kemudian dihisap rokoknya yang bertengger di antara capitan jarinya.


" Gangguin aku lagi kangen - kangenan sama Mommy aja. " ketusnya sembari mengerucutkan bibirnya tapi langsung menyibakkan sebelah tangan Evan ke atas agar ia bisa berpindah duduk di pangkuan Evan.


" Lo manggil Gue Mas Evan terus Gue masukin lagi ke dalem perut Emak Lo lagi baru tau rasa! " ketus Evan sok kesal, kepulan asap rokoknya menguar di atas kepala Zeevanea.


" Apaan sih ini kok malah ngomong kaya gitu sama anak. " ucap Rayne kesal sembari menatap Evan yang cengengesan saja.


" Zeevanea juga nih, manggil Daddy seenaknya sendiri. " lanjut Rayne yang berpindah menegur Zeevanea, hal yang sama pun terjadi, Zeevanea hanya cengengesan seperti Evan sementara Stevano hanya diam sambil tersenyum.


" Kakak Rayne marah... " bisik Zeevanea pada Evan sembari terkikik pelan, Evan pun semakin terkikik mendengarnya.


" Kompak tuh Steve mereka berdua kalau udah barengan. " adu Rayne pada Stevano, Stevano hanya tersenyum saja.


" Mommy kompakan sama aku aja. Aku sayang Mommy. " ucap Stevano sembari memeluk Rayne penuh kasih sayang.


" Duh... Mommy juga sayang banget sama gantengnya Mommy. " ucap Rayne dan menciumi gemas wajah Stevano.


" Gantengan juga aku. " sungut Evan tak mau kalah, Rayne langsung melengos, Stevano dan Evan saling pandang dan terkikik.


" Kakak aja nih yang disayang, Adek enggak gitu? " tanya Zeevanea dengan wajah sok merengut tapi terlihat lucu.


" Adek nakal, sih... Mommy nggak suka kalau Adek panggil Daddy kaya gitu. " jawab Rayne serius meski santai.


" Nggak sopan kaya gitu, Sayang... Apa lagi kamu Cewe. " lanjutnya.


" Mommy marah. " adu Zeevanea pada Evan dan membenamkan kepalanya di dada bidang Evan.

__ADS_1


" Emang kamunya juga resek, sih. " jawab Evan santai sembari mengusap lembut kepala Zeevanea, Zeevanea semakin memberengut kesal meski sebenarnya mereka semua hanya bercanda.


Ceklek...


" Assalamualaikum... " ucap Eric dan Sea, sementara Nala hanya diam saja.


Trap... Trap... Trap...



" Waalaikum salam. " jawab Rayne, Stevano, dan Zeevanea, sementara Evan hanya diam menjawab salam dalam hati, mereka semua saling berpelukan sekejap.


" Muke Lo kenapa lecek gitu? " tanya Evan ketika melihat wajah sang Kakak terlihat tegang sembari menikmati sisa rokoknya.


Brak!!!


Eric yang baru saja sampai bersama Nala dan Sea langsung melemparkan selembar foto ke hadapan Evan. Evan pun langsung mengambilnya.


" It' s a true? " tanya Evan datar dengan menatap datar juga pada Nala, Nala hanya diam saja tanpa berani menatap Evan, air mata Sea semakin berderai, sementara keluarga Evan hanya diam meski mereka juga melihat foto apa yang sedang dipandangi Daddynya.


" It' s a true, she is... " ucap Eric menggantung, Sea langsung menundukkan kepalanya, air matanya semakin tumpah.



" Byaktashaka Niscala Kailash Kalandra! " ucap Evan tegas memanggil nama lengkap Nala, Nala tetap duduk menunduk dan diam sembari meremas jarinya yang saling menaut dalam genggamnya.


" Angkat kepalamu! " hardik Evan lagi karena Nala masih diam saja dengan wajah menjengkelkannya seperti Evan.


" Angkat kepalamu! " teriak Evan yang sudah terlihat murka, mereka semua yang ada disana langsung menjengit karena saking kagetnya, dada Rayne berdegub kencang seketika setelah mendengar teriakan Suaminya.


" Jelaskan apa yang terjadi! " titah tegas Evan, Nala tetap diam saja tak mau menatap Evan meski ia sudah mengangkat kepalanya, ia malah menatap pada Stevano yang sedari tadi diam, pandangan itu pun tak lepas dari bidikan arah pandang mata tajam Evan.



" Kenapa diam saja? " tanya Evan sinis.


" Jawab! " teriak Evan lagi kala Nala tetap setia dengan kebungkamannya, mereka semua kembali dikejutkan dengan teriakan itu.

__ADS_1


" Nggak ada lagi yang perlu Nala jawab! " ucapnya datar dengan wajah menjengkelkan, Evan pun langsung mengangkat tangannya bersiap akan menampar Nala tapi seketika itu juga Rayne langsung memegangi tangan Evan yang sudah terangkat ke udara.


" Nala nggak mau ngakuin janin itu darah dagingnya. " suara penuh kegetiran yang Eric ucapkan semakin membuat Evan murka, Evan langsung melepaskan tangan Rayne dan berpindah mencengkeram dagu Nala.


" Mau jadi Pecundang? " tanya tegas Evan, matanya memerah penuh amarah.


" Percuma Nala ngomong kalau Daddy juga nggak akan percaya Nala! " teriak Nala frustasi dan menghempaskan cengkeraman tangan Evan, dadanya bergemuruh sampai terlihat naik turun karena ia merasa frustasi tak ada yang mempercayainya, seketika itu juga tatapan tajam Evan berpindah pada Eric yang terlihat menunduk penuh pilu.


" Jujur lah, Nak! Akui saja kalau memang janin itu adalah darah dagingmu. " ucap Eric tegas tapi bernada frustasi.


" Papi tau kehidupanmu di luar negri selama ini bebas, Papi juga tau jika selama ini kamu sudah seringkali bermain Perempuan. Papi memang kecolongan, nggak bisa mendidikmu dengan benar. Tapi Papi nggak mau kamu lepas tanggung jawab setelah apa yang kamu lakukan sampai dia hamil. " tegas Eric.


" Please, Pi! Harus berulang kali Nala jelaskan kalau memang janin itu bukan darah daging Nala! Tolong percaya Nala kali ini saja! " tegas Nala sambil meremas kasar rambutnya.


" Buktikan! " bentak Evan, Nala pun langsung menoleh menatap Evan.


" Aku udah cari bukti, Dadd... Tapi aku belum juga dapet buktinya. " ucap Nala frustasi.


" Bahkan aku nggak jadi makai dia waktu aku tau dia udah nggak virgin. " tegasnya dengan tatapan wajah mengiba, akhirnya ia mengaku di hadapan Evan jika ia memang bermain Perempuan.


" Tapi ternyata dia jebak aku lebih dulu. Dia ngerekam diam - diam kejadian malem itu tanpa sepengetahuanku meski setelah mengetahui dia tak virgin aku meninggalkannya begitu saja. Aku juga nggak tau gimana sampai ada foto - foto itu. Parahnya lagi dia berhasil ngarang cerita sampai semua orang percaya kalau aku Ayah biologis janinnya. " tegasnya bersungguh - sungguh dengan ucapannya.


" Dan yang paling buat aku nggak habis pikir, Papi dan Mami juga tak ada yang mempercayaiku. " imbuhnya.


" Daddy akan bantu kamu cari bukti. " ucap Evan tegas, wajah Nala sedikit terlihat seperti merasakan kelegaan meski ia masih diam tanpa mengangguk.


" Tapi jika nanti bukti yang Daddy dapatkan membenarkan jika kamu adalah Ayah biologisnya, jangan harap Daddy melepasmu begitu saja. " rasa lega yang baru saja singgah di dalam diri Nala kembali terkoyak karena ucapan Evan.


" Daddy bisa tembak kepala Nala kalau Nala bohong soal ini. " jawab Nala tegas.


" Hahaha... " tawa Evan menggema tapi tawa penuh kemisteriusan.


" Terus anakmu? " tanya Evan sinis, Nala kembali menundukkan kepalanya.


" Nala sudah lakukan tes DNA. Nala akan tanggung jawab kalau memang janin itu terbukti darah daging Nala. Meski Nala sadar, Nala tidak menyentuhnya sejauh itu. " jawab tegas Nala, Evan nampak menyunggingkan bibirnya, pemikiran tersembunyi Nala sudah terbaca oleh Evan.


__ADS_1


" Bahaya, Bang! " potong Rayne.


" Cuma cara itu yang bisa menyelamatkan Nala, Momm... " jawab Nala, Rayne dan Sea saling bersitatap penuh kesenduan serta keharu biruan yang dalam.


__ADS_2