
Trap... Trap... Trap...
" Kalian semua kemana saja dihubungi tidak ada yang menjawab! " bentak Evan kepada anak - anaknya yang sedang makan malam bersama Mama Rosa Evan juga nampak melemparkan kresek minimarket yang entah berisikan apa, Mama Rosa meletakkan sendoknya dan langsung berdiri sementara keempat anaknya juga langsung berhenti makan kemudian menundukkan kepala serentak.
" Kamu dari mana? " tanya Mama Rosa.
" Evan ada keperluan di luar. " jawabnya berbohong.
" Dimana Rayne? " lanjutnya bertanya kepada sang Mama karena Rayne tak berada di ruang makan bersama mereka.
" Rayne di kamar... Tadi ngeluh perutnya nyeri, mungkin karena efek hamil muda dan terpaksa naik pesawat. " jawab Mama Rosa.
" Mama juga sudah suruh Bibi untuk antarkan makan malam Rayne ke kamar kalian. " lanjutnya menjelaskan, Evan menepuk pelan bahu sang Mama kemudian langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Mas... " lirih Rayne dengan tatapan sendunya, Rayne langsung berdiri meski menahan nyeri di dalam perutnya yang masih terasa.
" Hei... Daddy pulang... " ucap Evan lirih, Evan mendudukkan Rayne kembali di tempat tidur dan langsung berbicara di depan perut Rayne sembari mengecupinya, Rayne seolah masih kaku dengan Evan, Rayne menahan keinginannya untuk mengusap kepala Evan yang sedang menunduk mengecupi perutnya.
" Baik - baik di dalam sana, ya... Daddy mandi dulu. " ucap Evan lagi kemudian mengecup kembali perut yang masih rata itu kemudian langsung beranjak pergi ke kamar mandi.
Trap... Trap... Trap...
Piring berisikan makanan yang sedari tadi diantarkan oleh Bi Nani itu pun masuh terlihat penuh dengan nasi beserta sayur dan lauk pauknya. Rayne memang belum menyentuhnya karena Rayne masih kepikiran dengan Evan. Rayne pun memang sedang tak enak makan karena rasa nyeri di dalam perutnya. Sembari menunggu Evan mandi, dengan tertatih Rayne menyiapkan pakaian ganti untuk Evan. Setelah selesai, Rayne pun kembali duduk berselonjor di atas tempat tidur dan membawa pakaian Evan di pangkuannya.
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Ini baju gantinya, Mas... " ucap Rayne pelan saat Evan baru saja keluar dari dalam kamar mandi, Evan yang semula akan berjalan ke arah walk in closet pun berpindah menuju tempat Rayne duduk.
Trap... Trap... Trap...
Handuk pendek sebatas pertengahan pinggang hingga paha itu pun dilepaskan Evan di depan Rayne tanpa sungkan, Rayne pun langsung mengambil alih handuk basah tersebut dan Evan juga mulai mengambil satu persatu pakaiannya yang berada di atas pangkuan Rayne. Rayne yang baru saja mengambil handuk bekas pakai Suaminya langsung mengalihkan tatapannya ketika ia tak sengaja melihat antena radar yang menjadi ciri khas seorang Pria milik Evan itu yang ternyata tengah menegang di depan matanya karena posisi Evan memang berdiri di depannya yang sedang duduk di atas tempat tidur. Rayne semakin kikuk karena ternyata Evan juga masih mendiamkannya tapi Rayne juga tetap diam menunggu hingga Evan selesai berganti pakaian.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
" Momm, Dadd... Aku mau masuk. " ucap Zeevanea memanggil kedua Orang Tuanya dari balik pintu, Evan yang baru saja selesai meletakkan handuk bekas pakainya yang diambil dari tangan Rayne itu pun langsung beranjak membuka pintu, dan masuklah kembali ia ke dalam kamar bersama anak - anaknya.
Trap... Trap... Trap...
Setelah mereka semua masuk ke dalam kamar, nampak Evan masuk ke dalam walk in closet, dan tak lama kemudian Evan sudah keluar dengan memakai jaket.
" Daddy mau kemana? " tanya Zeevanea memberanikan diri.
" Daddy mau pulang. " jawab Evan datar.
" Mommy belum makan? " sahut Raynevandra pada Rayne setelah melihat sebuah piring makan di atas nakas itu masih utuh, Rayne hanya tersenyum kepada Raynevandra, mereka semua pun langsung menatap Rayne bersamaan.
" Ray suapi, ya? " lanjut Raynevandra dan langsung mengambil piring tersebut kemudian duduk di samping Mommynya, nampak tatapan Evan menajam kala melihat makanan yang sebelumnya diceritakan Mama Rosa itu masih penuh, Evan pun mendekat kepada Rayne dan Raynevandra, beriringan dengan itu Mama Rosa pun nampak masuk ke dalam kamar tersebut tanpa mengetuk karena pintunya terbuka.
Trap... Trap... Trap...
" Kenapa belum makan? " tanya Evan datar dan sekilas menatap piring di tangan Raynevandra itu untuk memastikan.
" Aku nunggu Mas Evan datang... " lirih Rayne menjawab dengan wajah takut.
" Katakan saja jika keberatan mengandung anakku! " sinis Evan, suasana kaku disana semakin terlihat tegang.
" Enggak, Mas... Aku sama sekali nggak keberatan. " jawab Rayne dengan mata berkaca - kaca dan langsung merengkuh tangan Evan untuk digenggam, tapi Evan langsung melepaskan tangannya dan memasukkan kedua tangannya itu ke dalam saku celananya.
" Aku pikir Mas Evan pasti belum makan, makanya aku nunggu Mas Evan datang. " jelasnya sambil menahan air mata, Evan langsung memgambil alih piring di tangan Raynevandra dan bersiap untuk menyuapi Rayne, Raynevandra pun naik ke atas ranjang agar Daddynya bisa duduk menyuapi Mommynya.
" Buka mulutmu! " ucap Evan datar, Rayne semakin merinding melihat tatapan Evan, membuka mulut untuk makan saja rasanya tercekat.
" Buka aku bilang! " teriak Evan murka, semua orang yang ada disana langsung menjengit saking kagetnya, tapi tetap saja mereka semua menahan untuk berucap karena takut, kecuali Mama Rosa yang semakin bingung tapi juga tetap menahan diri untuk tidak bertanya sekarang.
" Evan... " lirih Mama Rosa sambil menatap Evan dan menggelengkan kepalanya.
Pranggg!!!
Evan berdiri dari duduknya sembari melemparkan piring tersabut karena merasa kesal dengan Rayne yang mengabaikan makan mengingat kini Rayne juga tengah mengandung. Mereka semua kembali dibuat terkejut oleh tindakan Evan, tangis Rayne pun tumpah juga meski tanpa suara, Raynevandra langsung sigap memeluk Mommynya.
Hiks... Hiks... Hiks...
__ADS_1
" Tenang, Evan! " hardik Mama Rosa, Evan hanya diam sambil menatap keluar jendela kamrnya.
" Jangan seperti ini... Kalau ada masalah bisa dibicarakan baik - baik. " lanjut Mama Rosa khawatir.
" Apa maksudnya dia nggak mau makan kalau dia bukan mau bunuh anak Evan? " pekik Evan pelan penuh penekanan, seperti diremas rasanya hati Rayne mendengar Evan enggan menyebut namanya, dan malah menyebutnya dengan sebutan dia.
" Aku nggak kaya gitu, Mas... Aku cuma nunggu Mas Evan datang. " lirih Rayne mengiba, Rayne langsung beringsut dari pelukan Raynevandra dan tertatih menghampiri Evan meski perutnya masih terasa nyeri, Rayne pun langsung memeluk Evan dari belakang dan terisak di balik punggung Evan.
" Awas, Sayang... Pecahan piringnya berserakan. " sela Mama Rosa.
" Jangan sentuh aku! " bentak Evan yang kembali murka dan langsung melepas kasar pelukan Rayne di tubuhnya, Raynevandra langsung melompat dari atas ranjang untuk menangkap tubuh Mommynya yang terhuyung seketika ketika Daddynya menghempaskan Mommynya secara kasar.
" Nggak usah main kasar! " pekik Raynevandra pelan penuh penekanan sembari memeluk Rayne erat dan juga tetap menatap Evan yang kembali berjalan ke dekat jendela.
" Kalau kaya gini caranya sama aja Daddy juga yang akan bunuh Adik bayi. " tegasnya memberanikan diri, Stevano yang paling tua pun terlihat tak berani berucap sama sekali.
" Daddy... Aku tau kami semua salah. " ucap Zeevanea lirih, Evan masih diam menatap keluar jendela kamar lamanya ini, Mama Rosa nampak semakin bingung juga penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka.
" Maafin kami, Dadd... Apa lagi Zee yang udah salah Zee sampai maki - maki Daddy. " lanjutnya, Zeevanea bergerak perlahan mendekati Evan.
Trap... Trap... Trap...
Hiks... Hiks... Hiks...
" Daddy, jawab!!! " ucap Zeevanea sambil terisak, Zeevanea pun langsung memeluk Evan dari belakang, menumpahkan isak tangisnya di punggung Evan seperti Rayne yang tadi juga melakukan hal yang sama.
" Maafin Zee, Dadd... Maafin kami semua. Kami semua bersalah. " lanjutnya berucap dengan sungguh - sungguh diiringi dengan air mata yang kian menderas.
Trap... Trap... Trap...
" Maafin aku juga, Dadd... " lirih Stevano yang juga ikut mendekati Evan bersama Devandroe.
" Lebih baik Daddy teriak bentak kami daripada Daddy mendiamkan kami seperti ini. " sela Devandroe yang akhirnya ikut berbicara juga.
" Didiamkan oleh Daddy lebih menyakitkan dari apa pun. " lanjutnya, tapi Evan tetap saja tidak bergeming.
__ADS_1