
Seminggu berlalu pasca pertengkaran helm milik Raynevandra waktu itu. Kini, bocah yang duduk di bangku SMA itu tengah merengek kepada Daddynya untuk mengizinkannya kembali ke sekolah dengan membawa motor sportnya. Ray dan Andru berselisih usia hampir tujuh tahun dengan Steve dan Zee. Tapi kini mereka sudah duduk di bangku kelas satu SMA karena mereka mengikuti program percepatan ketika berada di tingkat pendidikan sebelum - sebelumnya.
" Dadd... " rengeknya kepada Evan karena sedari tadi Evan sama sekali tak menjawab ucapannya, malah Evan nampak asik sendiri dengan rokok yang sedari tadi dihisapnya.
" Ayolah, Dadd... Helm Ray beneran jatuh, Ray nggak bohong. " jelasnya dengan wajah memelas, mengiba kepada Daddynya.
Trap... Trap... Trap...
" Berangkat sekolah sana. Pagi - pagi udah bikin drama aja. " cibir Nala yang sedari pulang waktu itu terus tinggal di rumah Evan, ia tak ikut pulang bersama Papi Mami dan Adiknya, Ray pun menatap sekilas pada Nala sembari mengerucutkan bibirnya, Nala berpindah ke halaman samping sembari memainkan ponselnya.
Trap... Trap... Trap...
" Daddy bareng Steve apa gimana? " tanya Steve yang sudah siap berangkat ke kantor karena beberapa hari ini keduanya selalu berangkat dan pulang bersama - sama.
" Kita ada meeting jam delapan. " lanjutnya menjelaskan sembari menatap Daddynya.
" Kamu duluan aja... " jawab Evan, Stevano pun menganggukkan kepalanya, Evan pun bangkit dari duduknya.
Cup...
Steve mengecup singkat bibir Daddynya kemudian mengecup juga bibir Ray yang masih mengerucut itu sembari terkikik melihat Adiknya memelas meminta pengampunan dari sang Daddy. Sementara Rayne dan Zeevanea sudah berangkat ke galeri sejak pagi tadi sebelum sarapan karena Queen Fashion Model Management akan menyelenggarakan peragaan busana pada beberapa hari ke depan. Sedangkan Andru sudah sejak tadi diantarkan oleh Bram ke sekolahnya. Dan Ray, meski sedari tadi ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya tapi ia masih saja di rumah, merengek kepada Daddynya.
Trap... Trap... Trap...
" Daddy... " ucap Ray yang terus saja membuntuti Daddynya kemanapun melangkah demi mendapatkan kembali izin dari Daddynya untuk membawa motor ke sekolah.
" Daddy jawab, dong... Aku mau sekolah, Dadd... Udah siang nih, nanti kalau telat nggak dibukain pager sama Satpam... " lirihnya yang masih saja terus merengek pada Evan, Evan melihat arloji mahal di pergelangan tangannya sembari tetap melangkahkan kakinya tanpa menyahut sama sekali.
Evan masuk ke dalam kamarnya dan mengambil tas kerjanya. Setelahnya, Evan pun kembali bergegas turun ke lantai bawah dengan masih tanpa menghiraukan rengekan Raynevandra sama sekali. Tapi Raynevandra tetap saja membuntutinya tanpa lelah.
Trap... Trap... Trap...
" Ganti bajumu, ikut ke kantor. " ucap Evan yang kini berpindah menghampiri Nala, mata Nala membola seketika.
__ADS_1
" Males, ah. " jawab Nala dengan nada sedikit meninggi.
" Mau dihukum kaya Raynevandra juga? " tanya Evan pada Nala, Nala mencebikkan bibirnya tapi ia tetap beranjak berganti pakaian, Raynevandra nampak menunduk menyembunyikan tawanya, dan Evan pun duduk di tempat yang semula diduduki Nala sembari menyulut rokoknya.
Trap... Trap... Trap...
" Dadd... Boleh ya Ray bawa motor? " rengek Ray lagi sembari berjongkok di bawah kaki Daddynya yang duduk angkuh dengan menyilangkan kakinya sembari menghembuskan asap rokoknya ke arah wajah Ray.
" Daddy! " pekik Ray yang langsung gelagapan setelah terkena kepulan asap rokok Evan di wajahnya, Evan tetap tak bergeming.
Trap... Trap... Trap...
" Ayo. " ucap Nala datar yang sudah kembali menghampiri Evan dengan setelan kantornya, Evan pun langsung berdiri dan beranjak bersama Nala, Ray tetap membuntutinya meski Evan sama sekali tak menghiraukannya.
Trap... Trap... Trap...
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
" Nggak usah nyetir sambil cemberut... " cibir Evan karena sedari tadi Nala masih saja mengerucutkan bibirnya kesal dengan Evan tapi tak bisa membantah, jujur saja Nala sangat malas untuk ikut ke kantor, sementara Ray tetap duduk di kursi belakang masih dengan seragam sekolahnya.
" Daddy nggak asik. " jawabnya sinis, Evan nampak mengangkat sebelah bibirnya.
" Emang kamu mau ngapain sih di rumah sendirian? " tanya Evan pada Nala.
" Ya nggak ngapa - ngapain juga. Palingan nonton film di atas sama main game. " jawab Nala malas dengan memberengut kesal.
" Daripada kamu sendirian nggak ngapa - ngapain di rumah kan mending ikut Daddy ke kantor. " jawab Evan santai, Nala langsung melengos.
" Lo bolos, Ray? " ucap Nala beralih menatap pada Ray yang diam saja di kursi belakang dari kaca spion di atasnya.
" Gara - gara Daddy aku bolos. " jawabnya kesal juga asal.
" Hahahaha... " tawa mengejek Nala menggema seketika dan Evan pun langsung menoeh ke belakang.
" Enak aja! " sungut Evan tak terima dituduh sebagai penyebab bolosnya Ray sembari menatap Ray dengan tatapan penuh intimidasi.
__ADS_1
" Nanti kalau Mommy tau pasti marah - marah... Hahaha... " ucap Nala sambil tertawa.
" Anterin dia sekolah dulu baru kita ke kantor. " ucap Evan pada Nala.
" Udah nggak keburu kali, Dadd... Udah telat dia. " jawab Nala sembari melihat jam digital yang ada di dashboard mobil.
" Anterin aja. Nanti Daddy yang akan menghadap Kepseknya. " jawab Evan.
" Oke. " jawab Nala santai dan melajukan mobil yang dikendarainya menuju sekolah Ray.
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
" Ayo cepet turun. " titah tegas Evan pada Ray setibanya di halaman luar sekolah Ray, Nala kembali tertawa meski tanpa suara setelah melihat wajah Evan dan Ray.
" Tas aku ketinggalan di rumah. " ucapnya tanpa menatap Evan, Evan yang akan membuka pintu mobil pun berbelok menatap ke belakang pada Ray.
" Astaga Raynevandra! " pekik Evan frustasi sembari mengacak kasar rambutnya, Ray langsung melengos menatap ke luar jendela.
" Hahahaha... " Nala kembali terbahak sendiri.
" Langsung ke kantor sekarang. Biar ditatar sama Kakeknya disana. " ucap Evan, Nala pun langsung bergegas kembali menuju kantor Kalandra Group.
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
Dua puluh menit kemudian mereka pun sampai di kantor Kalandra Group. Ketiganya turun beriringan dan langsung masuk ke dalam gedung bertingkat tinggi tersebut.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Daddy mau meeting, tunggu disini jangan kemana - mana. " tegas Evan ketika mereka sudah masuk ke dalam ruang kerja Evan, Ray langsung beranjak keluar dan berdiri di balkon ruang kerja Evan, Evan pun menarik paksa tangan Nala agar ikut bersamanya.
Trap...Trap... Trap...
__ADS_1
Sesampainya di ruang meeting, ruangan tersebut nampam sudah ramai dipenuhi oleh jajaran para Direksi yang akan meeting bersama dengan Evan pagi ini. Meeting pun langsung dimulai dengan Stevano sebagai Notulennya sementara Evan sendiri sebagai Pimpinan meetingnya. Nala pun akhirnya duduk di samping Eric, Papinya. Wajahnya yang ditekuk - tekuk membuat Eric serasa ingin tertawa. Tapi ia juga bersyukur karena Nala bisa hadir pada meeting pagi ini meski sudah Eric ketahui jika semua ini pasti adanya faktor paksaan dari Evan.