Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 174 - Yakinlah


__ADS_3

Trap... Trap... Trap...


" Loh... Nicky mana? " tanya Dygta kepada anggota keluarganya yang sudah bersiap untuk makan malam.


" Aku panggil sebentar... " ucap Kinan dan langsung beranjak dari duduknya untuk segera memanggil Nicholas kembali karena tadi sebenarnya juga sudah dilihat ke kamarnya oleh Kinan.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...



" Sayang... " ucap Kinan pelan sembari celingak - celinguk di dalam kamar Nicholas, Kinan langsung masuk setelah melihat pintu kamar Nicholas yang tidak dikunci.


" Aku disini, Mih... " jawab Nicholas pelan, Nicholas sedang berdiri di samping jendela kamarnya yang masih dibiarkan terbuka meski hari sudah malam.


" Loh... Kamu kok belum mandi, Sayang... Ini udah malem, loh... " ucap Kinan yang memang mengetahui jikalau setelah mandi pagi tadi Nicholas memang menggunakan setelan rumahan yang kini masih dikenakannya saat ini, jadi Kinan langsung menebak kalau Nicholas belum mandi sore.


" Iya, Mih... Bentar lagi. " jawab Nicholas dengan senyum yang dipaksakan agar tidak membuat Kinan curiga dan mempertanyakan apa yang sedang dipikirkannya.


" Kita semua udah siap mau makan malam, kamu gimana? " tanya Kinan kepada Nicholas.


" Mamih sama yang lain duluan aja. Aku masih mau mandi. Nanti lama kalian nunggunya. " jawab Nicholas dengan nada suara setenang mungkin.


" Ya sudah kalau gitu Mamih sama yang lain makan malam duluan... " jawab Kinan.


" Kamu cepetan mandinya, udah malem ini. Nggak baik mandi malem - malem. Cepetan nyusul makan malem juga. " omel Kinan melanjutkan ucapannya, Nicholas tersenyum sembari mengangguk, Kinan pun beranjak setelah mengusap lembut pundak sang Putra yang lebih tinggi darinya kemudian kembali ke luar dari kamar Nicholas.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


Setelah Kinan keluar dari dalam kamarnya, Nicholas pun langsung bergegas untuk membersihkan dirinya. Meski seharian berada di dalam kamar yang lengkap dengan AC tetapi Nicholas juga merasakan gerah, mungkin akibat dari beratnya masalah yang kini sedang diembannya. Setelah kurang lebih dua puluh menit berlalu, Nicholas pun sudah selesai dengan ritual mandinya. Setelah berganti pakaian, Nicholas langsung turun ke lantai bawah untuk menyusul makan malam.


Trap... Trap... Trap...


Nampak Dygta, Kinan, dan Joana sedang bercengkrama di ruang keluarga saat Nicholas turun. Setelah mengambil makan malamnya, Nicholas pun membawa piring berisi makanan itu ke ruang keluarga untuk turut bergabung bersama keluarganya.


Trap... Trap... Trap...


" Dikit banget makannya Abang... " ucap Joana yang melihat piring yang dibawa oleh Nicholas, Dygta dan Kinan pun sontak menoleh bersamaan.


" Kenapa? " tanya Kinan yang semakin paham akan perubahan Putranya.


" Nggak papa, Mih... " jawab Nicholas pelan kemudian langsung menyendok makanannya, Dygta hanya diam memperhatikan, setelah beberapa saat mereka terdiam mereka pun terlihat bercengkrama kembali, Nicholas juga terlihat sesekali menimpali.


Trap... Trap... Trap...


" Om Evan itu sekeras apa sih, Pih? " tanya Nicholas tiba - tiba, Nicholas sudah selesai menghabiskan makan malamnya dan kini kembali bergabung dengan mereka setelah meletakkan piring kotornya.


" Om Eric sudah tau hubungan aku sama Zee... Dan Om Eric bilang suruh cepet kasih tau Om Evan. " jawab Nicholas seadanya, Kinan pun akhirnya paham akan apa yang sedang dipikirkan oleh Putranya, sementara Joana hanya diam mendengarkan.


" Kata Om Eric kalau sampai Om Evan tau dari orang lain pasti Om Evan akan semakin marah. " lanjutnya.


" Ya udah buruan ngomong sama Evan... Kamu besok sore juga udah mau balik berangkat ke Jepang. " jawab Dygta sambil mengusap lembut kepala sang Putra, mendukung ucapan Eric yang dirasanya juga ada benarnya.


" Papih ada di belakang kamu kalau sampai Evan berbuat kasar sama kamu. " lanjutnya menatap serius kepada Nicholas.


" Aku rasa Om Evan nggak akan berbuat kasar sama aku meskipun nantinya Om Evan marah dan nggak setuju... " jawab Nicholas pelan dengan tatapan sendunya, Dygta hanya mengangguk pelan.


" Ya udah buruan ngomong sama Evan. " jawab Dygta mengulangi ucapannya.

__ADS_1


" Masalahnya Zee masih takut buat terus terang sama Om Evan, Pih... " lirihnya semakin sendu.


" Zeevanea takut sama Evan itu wajar, Nak... Evan Bapaknya, ditambah perangai Evan yang memang keras. " jawab Dygta setelah menghela nafas panjang.


" Apalagi Zeevanea pernah ketakutan sekali setelah melihat Evan marah besar sampai mau menembak kepala Queen di depan mata kepala Zeevanea sendiri. " lanjutnya dengan tatapan nyalang ke depan, Kinan dan Joana nampak terkejut, Nicholas yang juga terkejut pun langsung ikut membelalakkan matanya.


Om Evan sampai mau nembak kepalanya " Tante Rayne? Kenapa bisa gitu? " tanya balik Nicholas dengan suara sedikit meninggi karena saking terkejutnya, Dygta langsung menganggukkan kepalanya sembari menoleh kepada Nicholas.


" Gimana ceritanya? " tanya Nicholas lagi penuh rasa penasaran karena Dygta yang tak kunjung memberikan jawaban.


" Waktu itu kejadiannya di Paris... Setelah Queen keguguran anak Papih, Zeevanea terlihat sangat sedih karena tidak jadi memiliki Adik. Dan Zeevanea pun akhirnya meminta Adik sama Queen... Tapi Queen menuduh Evan yang menyuruh Zeevanea, dan ributlah mereka disana. jelasnya perlahan sembari mengingat kembali kejadian pahit itu, mata Dygta nampak berkaca - kaca kala membayangkan Rayne kesakitan saat keguguran anak mereka dulu.


" Buruan ngomong terus terang sama Evan kalau kamu memang serius dengan Princess-nya Papih. " ucap Dygta setelah beberapa saat mereka terdiam.


" Papih... " sela Joana memanggil Dygta, Dygta langsung menoleh kepada Joana.


" Aku suka iri kalau Papih panggil Kakak Zee Princess... " ucapnya jujur dengan bibir mengerucut, Dygta langsung menarik Joana ke dalam pelukannya.


" Anda saja kamu tau betapa beratnya masa kecil Stevano dan Zeevanea, kamu tidak akan berbicara seperti ini, Princess... " jawab Dygta sembari mengusap lembut kepala Joana juga memanggil Joana dengan sebutan Princess.


" Kamu lebih beruntung daripada Stephen dan Vava yang melewati masa kecilnya tanpa dampingan dari sosok seorang Ayah. " lanjutnya lagi memberikan pengertian kepada Joana.


" Kamu beruntung karena Papih dan Mamih selalu ada buat kamu sedari kamu kecil hingga saat ini. Kamu lebih beruntung daripada Stephen dan Vava. lanjutnya lagi.


" Coba tanya sama Abang, gimana rasanya melewati masa kecil tanpa adanya dampingan Orang Tua. Ya meski tak lama setelah Papi dan Maminya Abang meninggal ada Papih dan Mamih yang menemani Abang, menggantikan kedua Orang Tua kandung Abang yang tak akan mungkin tergantikan oleh siapa pun juga... " lanjutnya memberikan contoh kepada Joana dengan kisah hidup Nicholas dan Brian yang sudah ditinggal kedua Orang Tuanya sejak kecil.


" Berat, Sayang... Apalagi Stephen dan Vava dulu sampai pernah dihina oleh teman sekelasnya karena tidak memiliki Ayah. Bagaimana perasaanmu kalau kejadian itu juga terjadi kepadamu? " lanjutnya, Nicholas langsung menundukkan kepalanya sementara Joana masih terlihat mengerucutkan bibirnya.


" Stephen dan Vava yang sekarang terlihat sangat bahagia bersama keluarga yang lengkap pernah merasakan sakitnya dihujat karena tidak memiliki Ayah. Hingga akhirnya Papih datang dan mereka bisa merasakan sedikit bernafas lega karena Papih akhirnya menggantikan sosok Ayah mereka saat itu. " tukasnya.

__ADS_1


" Dan yakinlah! Papih menyayangimu melebihi rasa sayang Papih kepada Stephen dan Vava meski Papih juga sangat menyayangi mereka berdua. " imbuhnya.


" Kamu tetap Princess kesayangan Papih. " tukasnya, Joana pun kembali terlihat sumringah setelah mendengar penuturan Papihnya.


__ADS_2