
" Evan, duduk! " perintah tegas Mama Rosa yang sudah terlebih dahulu duduk di sofa yang ada di dalam kamar, Zeevanea beserta Stevano juga Devandroe nampak masih berdiri mengelilingi Evan, sementara Rayne dan Raynevandra juga masih saling berpelukan.
" Evan! " pekik Mama Rosa lagi karena Evan nampak tidak bergeming, Mama Rosa merasa harus ikut menengahi agar masalah anak - anaknya ini tidak berlarut - larut dan tidak membuat Rayne yang sedang hamil itu semakin bersedih.
" Mama bilang, duduk! Mama ingin bicara! " tegas Mama Rosa lagi sambil menatap punggung Evan yang masih membelakanginya.
" Evan duduk, Mama bilang! " bentak Mama Rosa yang semakin geram, Mama Rosa berpikir jika kediaman Evan tidak akan pernah menyelesaikan masalah mereka.
" Jika kamu masih keras kepala seperti ini dan tidak mau mendengar apa pun lagi, lebih baik tinggalkan perusahaan. Perusahaan tidak membutuhkan Pemimpin yang tidak mau mendengar apa pun dari orang - orang di sekelilingnya. " tegas Mama Rosa mengancam, Evan langsung tersenyum sinis kemudian langsung berbalik badan, melepaskan tangan Zeevanea yang melingkari pinggangnya sembari melangkah menghampiri sang Mama.
Trap... Trap... Trap...
" Dengan senang hati Evan akan angkat kaki dari Kalandra jika memang itu yang menjadi keinginan Mama. " ucap Evan tegas, nampak situasi disana kian memanas karena masalah yang diributkan pun kini semakin bertambah, ancaman yang semula dilontarkan oleh Mama Rosa nampaknya menjadi bumerang untuk Mama Rosa sendiri, Mama Rosa menatap Evan tajam dengan menahan geram, ancamannya berbalik dan malah Mama Rosa yang kini seolah tengah terancam oleh Evan.
" Ada lagi yang ingin Mama bicarakan? " lanjutnya bertanya pelan seolah tak terjadi apapun juga disana.
" Ada lagi yang ingin Mama minta dari Evan? " lanjutnya lagi bertanya lebih detail, Mama Rosa tetap diam menatap Evan.
" Oke kalau cuma Kalandra saja yang Mama minta. Mulai malam ini Evan akan menikmati hari tenang Evan sebagai pemilik G-Night dan Everic saja tanpa harus bersusah payah demi mengemban tugas berat sebagai Presiden Direktur dari Kalandra Group. " tukasnya tegas tanpa merasa keberatan sama sekali untuk melepaskan jabatan tertinggi pada Kalandra Group tersebut.
" Mulai sekarang tak akan ada lagi uang belanja dari Kalandra, cukupkan hasil dari Gamyaraa dan Everic untuk memenuhi kebutuhanmu dan anak - anak. " tegasnya berpindah kepada Rayne kemudian langsung beranjak keluar dari kamar.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
" Dasar keras kepala! " pekik Mama Rosa saat Evan beranjak keluar dari kamar dengan gayanya yang angkuh seperti biasa.
" Oma harusnya sudah tau kalau Daddy nggak bisa diancam... Kalau kaya gini, ujung - ujungnya kasihan di Papi... "ucap Stevano sendu, ia turut menyesal atas apa yang diperbuat oleh Mama Rosa kepada Daddynya.
" Oma harusnya nggak nambahin masalah yang belum selesai ini dengan perkara baru yaitu mengancam Daddy. " sela Raynevandra yang ikut menyalahkan Mama Rosa.
" Oma cuma ingin Daddymu segera menyelsaikan masalah kalian. Itu saja. " jawab Mama Rosa yang sebenarnya juga khawatir dengan mereka semua.
" Tidak baik untuk kehamilan Mommy kalian kalau amarah Daddy kalian tidak terkontrol terus seperti ini. " lanjutnya.
" Sudah, Mam... Biarkan saja. Memang Rayne yang salah. " sela Rayne yang akhirnya ikut bicara setelah sekian lama terdiam.
" Nanti kalau Mas Evan sudah tenang, Rayne akan coba ngomong lagi sama Mas Evan. " lanjutnya tak enak hati dengan Mama Rosa.
" Rayne yang salah, Mam... Rayne yang buat Mas Evan marah. " lirih Rayne sendu juga sebenarnya tidak enak hati dengan Mama Rosa.
" Memangnya ada apa sih, Sayang? Cerita sama Mama... Kalau Mama bisa bantu, Mama pasti bantu kamu untuk ngomong sama Evan. " jawab Mama Rosa bijaksana, tak tega melihat Rayne bersedih.
" Ini... " ucap Rayne menggantung, Rayne menatap Mama Rosa sekilas kemudian menatap Stevano dan Zeevanea yang berdiri sejajar, Mama Rosa nampak menanti penjelasan Rayne.
Rayne pun akhirnya menceritakan kronologi dari kemelut Rumah Tangganya kali ini kepada Mama Rosa. Mama Rosa yang awalnya juga ikut marah setelah mendengar Evan kepergok berciuman dengan Mantan Pacarnya juga menjadi miris melihat Rayne yang sekarang malah mendapat serangan balik dari kemarahannya sendiri yang awalnya mengarah kepada Evan. Nama dari sosok Istri seorang Hagata Rancaka Nitinegara ini pun kini mencuri perhatian dari Mama Rosa. Bagaimana bisa seorang Irish yang ketika masih duduk di bangku SMA sudah terlihat bergelimang kemewahan nyatanya juga terkalahkan oleh sosok Perempuan yang baru saja Mama Rosa ketahui latar belakangnya yang ternyata adalah Mantan Selingkuhan dari Putra Bungsunya. Bahkan Mama Rosa pun juga semakin penasaran dengan sosok tersebut, Mama Rosa pun sampai meminta Stevano untuk menunjukkan rekaman CCTV Lux Resort yang merekam kejadian itu. Setelahnya, Mama Rosa pun langsung mendekati Rayne dan memeluknya erat. Mama Rosa ikut menitikkan air matanya... Mama Rosa turut prihatin atas permasalahan lama yang kini kembali menghantam kebahagiaan Rumah Tangga Rayne dan Evan.
Hiks... Hiks... Hiks...
__ADS_1
" Aku berani bersumpah, Mam... Aku udah nggak ada perasaan ke Dygta sama sekali. " ucap Rayne yang nyatanya masih begitu ketakutan akan kemarahan Evan, Rayne sudah tak kuasa lagi menahan tangisnya, hingga akhirnya tangis penuh kepedihan itu pun kembali tumpah dalam pelukan hangat Mama Rosa.
" Jujur aku juga kaget waktu Dygta tiba - tiba peluk aku dan ngomong seperti itu." lanjutnya sangat merasa bersalah karena waktu itu ia terkejut sampai tak sadar untuk lekas bergerak melepaskan pelukan dari Dygta yang akhrinya mejadi bahan kecemburuan dan kemarahan Evan yang berujung seperti ini.
" Aku diem karena aku masih kaget... Rasanya kaku... Aku diem bukan karena aku menikmati pelukan itu seperti yang Mas Evan duga. " lanjutnya.
" Aku tau Mas Evan cemburu... Luka lama yang masih membekas akibat perbuatanku dulu itu kini tanpa sengaja kembali terkelupas. Tapi jujur, Mam... Aku berani bersumpah kalau aku memang sangat terkejut dengan pelukan itu. Aku nggak akan ngulangin perbuatan itu lagi. Aku cinta sama Mas Evan... " tukasnya dengan berderai air mata.
" Ya sudah... Sekarang lebih baik mau tenangin diri dulu, kasihan Cucu Mama yang masih di dalam perut ini. " ucap Mama Rosa menenangkan Rayne sembari mengusap lembut perut Rayne.
" Evan pasti pulang. Dan kalian bisa membahas masalah ini lagi saat Evan pulang nanti. " lanjutnya, terjawab sudah tanda tanya besar yang awalnya bersarang di kepala Mama Rosa, keduanya saling berpelukan sesaat kemudian Mama Rosa beranjak dari kamar Rayne dan Evan.
Trap... Trap... Trap...
Selepas Mama Rosa keluar, namapk seorang Bibi yang masuk ke dalam kamar setelah meminta izin kepada si empunya kamar tentunya. Bibi itu langsung membersihkan bekas pecahan piring yang masih berserakan. Sementara anak - anak Rayne juga masih tetap bersama dengan Rayne di dalam kamar.
" Maaf, Non... Ini masih dipergunakan apa memang sudah dibuang? " tanya Bibi kala melihat sesuatu benda lain yang berbaur dengan serpihan piring juga makanan yang sudah berhamburan itu sembari menyerahkannya kepada Rayne.
" Stevano cari Daddy! " pekik Rayne langsung dan kembali terlihat gusar, Stevano pun segera beranjak tanpa bertanya lagi setelah mata tajamnya menatap pada sesuatu yang berada di tangan Mommynya.
Trap... Trap... Trap...
" Gue ikut! " pekik Raynevandra dan langsung melompat dari atas ranjang dan langsung mengejar Stevano.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...