
Tok... Tok... Tok...
" Evan... Makan malam udah siap... " ucap Sea mengetuk pintu ruang kerja Evan yang masih tertutup rapat itu, sengaja memanggil Evan karena Evan adalah Tuan Rumah.
" Ayo ajak turun Eric sama Raka. " lanjutnya berucap sembari menunggu pintu itu terbuka.
" Aku sama yang lain tunggu di bawah, ya... " teriak Sea dengan nada yang sengaja di naikkan satu oktaf karena tak juga mendapatkan jawaban dari dalam, setelah berdiam sejenak Sea pun langsung kembali turun.
Trap... Trap... Trap...
Hiks... Hiks... Hiks...
" Apa aku salah kalau aku mencintai, Nicky? " tanya Zeevanea dengan terisak, Rayne dan Zeevanea kini tengah berpelukan setelah beberapa saat lalu Zeevanea pulang diantarkan oleh Kakeknya, Sea yang baru saja sampai di lantai bawah pun langsung diam setelah mencium punggung tangan Ayah Rudi.
" Nicky bukan anak kandung Papih Dygta, Momm... Nicky bukan Nitinegara. Tapi kenapa Daddy masih tak mau juga merestui kami, Mommy??? " lanjutnya merasa sangat bersedih dan terluka atas penolakan keras Daddy-nya.
" Mommy yang salah, Sayang... Ini semua karena kesalahan Mommy. Maafin Mommy ya, Nak... " jawab Rayne dengan berderai air mata sembari terus mengusap lembut kepala Zeevanea, ia tak mau jika Zeevanea terus menyalahkan dirinya sendiri karena memang penolakan keras dari Evan ini berasal dari kesalahannya dahulu.
" Mommy tidak berani menjanjikan untuk bisa membujuk Daddy-mu, tapi Mommy akan selalu berusaha untuk membujuk Daddy-mu. " lanjutnya, Zeevanea pun hanya mengangguk lemah.
" Evan mana? " tanya Ayah Rudi yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan Rayne dan Zeevanea.
" Masih di ruang kerjanya, Yah... " jawab Rayne setelah melihat Sea yang hanya kembali turun ke lantai bawah seorang diri.
Biarkan saja dulu, amarahnya pasti masih membara. Kalau Evan sudah tenang saja baru ajak bicara soal mereka. tegas Ayah Rudi, Rayne pun mengangguk.
Trap... Trap... Trap...
" Kakek... " teriak Raynevandra heboh sembari berlari menuruni tangga untuk mendekat kepada Kakeknya kala melihat keberadaan Kakek Rudi-nya disana, anak - anak yang lain pun juga terlihat berjalan menuruni tangga secara beriringan.
__ADS_1
" Udah mau jadi Bapak! Jangan kaya anak kecil! " sindir pelan dan tegas dilontarkan oleh Rudiansyah Armaya kepada Cucunya yang langsung menghampirinya dan memeluknya dengan gemas, anak - anak yang lain masih berjalan di tengah tangga jadi tidak mendengar ucapan ini.
" Udah mau jadi Kakek Buyut jangan resek! " balas Raynevandra pelan penuh penekanan sambil mencebikkan bibirnya dan berlagak sok kesal padahal hanya bercanda, Zeevanea semakin trenyuh melihat tingkah santai Raynevandra yang jelas melakukan kesalahan besar tapi tetap mendapatkan restu dari Evan, Rudiansyah Armaya pun langsung menjitak kepala Raynevandra tapi tidak sampai kena karena Raynevandra langsung menghindar dengan cepat, tatapan penuh permusuhan dari Kakek dan Cucu ini pun beradu.
Trap... Trap... Trap...
Setelah anak - anak mencium punggung tangan Rudiansyah Armaya bergantian, mereka pun langsung duduk tenang di kursi makan masing - masing.
Tuuut...
Rudiansyah Armaya :
Turun!
Jangan sampai Ayah melemparkan piring kotor ke ruang kerjamu!
hardikan tegas Rudiansyah Armaya kepada Evan yang dihubungi melalui ponsel pintarnya kemudian langsung mematikan panggilan tersebut tanpa menunggu jawaban dari Evan.
Tak lama kemudian, nampak Evan dan Eric beserta Raka juga terlihat berjalan menuruni undakan anak tangga secara beriringan. Zeevanea yang melihat sekilas langsung menundukkan kepalanya karena memang masih merasa takut dengan Evan. Rayne yang sengaja berpindah tempat duduk ke sebelah Zeevanea langsung memeluk Zeevanea yang sangat terlihat ketakutan.
" Maaf, lama... " ucap Eric yang langsung membuka suara kala sudah berada di ruang makan dan baru saja mencium punggung tangan Rudiansyah Armaya, Raka pun juga ikut salim, tapi Evan hanya diam dan langsung duduk di kursinya.
" Marcello pimpin doa. " ucap Rudiansyah Armaya tegas sambil bersidekap di dada menatap tegas kepada Evan yang hanya diam tak menghiraukannya sama sekali.
" Baik, Kek. " jawab Marcello kemudian langsung melafalkan bacaan doa sebelum makan dengan suara lantang, yang lainnya pun terlihat khidmad.
Setelah doa sebelum makan selesai diucapkan, Rayne dan Sea langsung berdiri dari duduknya untuk meladeni Suami dan anak - anaknya. Rayne terlebih dahulu mengambilkan makanan untuk Ayah Rudi kemudian baru mengambilkan untuk Zeevanea. Evan pun menatap Rayne dalam diam karena Rayne seperti mengabaikannya.
" Kamu mau makan sama apa, Van? " tanya Sea dengan tak enak hati kepada Evan karena Rayne langsung duduk kembali setelah meladeni Ayah dan anak - anaknya, Sea sendiri masih berdiri setelah mengambil makanan untuk dirinya sendiri, Raka pun tadi juga diladeni oleh Sea, Evan hanya diam dan terus menatap Rayne semakin tajam, kemudian menggelengkan kepalanya, Eric pun langsung menginterupsikan kepada Sea untuk duduk kembali, dengan langkah gontai Rayne pun akhirnya kembali berdiri dan akan meladeni Evan.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
Tak...
Dengan tetap mendiam seperti semula, Rayne pun akhirnya mengambilkan sepiring makan malam untuk Suaminya kemudian langsung meletakkannya sedikit kasar di atas meja di hadapan Evan.
Trap... Trap... Trap...
Pyaar!!!
Saat Rayne berbalik badan dan baru saja melangkah untuk kembali ke samping Zeevanea, Evan langsung menghempaskan piring makan yang baru saja disajikan oleh Rayne di meja itu ke lantai. Evan seolah tak perduli meski ada Ayah Mertuanya disana. Evan tersulut emosi karena Rayne mengacuhkannya hingga meladeninya dengan kasar di depan banyak orang. Tanpa kata, Rayne pun langsung berbalik badan dan dan langsung berjongkok kemudian mengambil serpihan piring yang berserakan di lantai tersebut dengan pelan dan hati - hati agar pecahan piring tersebut tidak sampai melukai tangannya. Jika tangannya sampai terluka, Rayne tak mau Evan menganggapnya mencari perhatian kepada Evan. Ayah Rudi menatap Rayne dengan perasaan tak tega tetapi tetap diam selama Evan tidak sampai main tangan di hadapannya.
" Panggil pembantu saja untuk membersihkannya... Perutmu akan terhimpit jika kamu terus berjongkok lama seperti itu. " ucap Ayah Rudi membuka suara dengan suara pelan dengan terus menatap kepada Rayne.
" Tidak usah, Yah... Aku masih bisa melakukannya. " jawabnya pelan dan terus memunguti pecahan piring serta memunguti makanan yang berserakan itu untuk diletakkan di atas piring yang sudah pecah, Rayne pun akhirnya duduk bersimpuh sambil melanjutkan apa yang dilakukannya, ia merasa ucapan Ayahnya benar maka dari itu ia merubah posisinya.
" Silahkan dilanjutkan makan malamnya. Maaf aku selesaikan ini sebentar. " ucap Rayne sungkan kepada Ayah serta kedua Kakaknya dan juga Raka, Raynevandra dan Stevano nampak saling tatap seiring dengan tatapan mata yang terus menatap tak tega kepada Perempuan yang telah melahirkannya, sementara Devandroe dan Nala nampak menatap pada Evan, dan yang lainnya hanya diam tanpa berani berucap.
Trap... Trap... Trap...
" Kak Rayne makan malam dulu saja. Biar saya yang selesaikan. " ucap Raka yang langsung berdiri dari duduknya, merasa tak tega juga dengan Rayne.
" Kamu lanjutkan makan malam saja, Raka. Ini sudah selesai. " tolak Rayne yang memang sudah selesai memunguti serpihan piring bercampur makanan tersebut meski masih ada juga yang tercecer dan harus dibersihkan menggunakan sapu.
Rayne yang merasa kakinya kebas jadi kesulitan untuk berdiri, Raka mengulurkan tangannya dan langsung membantu Rayne untuk berdiri.
" Lanjutkan makan malam mu. " ucap Rayne sambil tersenyum kepada Raka saat sudah berdiri sempurna sembari memegangi serpihan tersebut di sebelah tangannya, Raka pun mengangguk dan beranjak ke tempat duduknya setelah dirasa Rayne dalam posisi aman.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
" Maaf jadi menunggu... Kalian lanjutkan saja makan malamnya. " ucap Rayne kepada yang lainnya, setelah itu Rayne langsung bergegas ke dapur.
Trap... Trap... Trap...